BAB VII
PENINJAUAN DENGAN MADILOG
Pasal 1. PERMULAAN KATA.
Kembali kita memandang kepada Madilog. Pada permulaan buku ini dia
masih satu barang yang kabur. Tetapi lama dia dapat sepuhan. Sekarang
dia kembali dari sepuhan dengan memperlihatkan cahaya yang lebih terang.
“Madilog” ialah cara berpikir, yang berdasarkan Materialsime,
Dialektika dan Logika buat mencari akibat, yang berdiri atas bukti yang
cukup banyaknya dan tujuan diperalamkan dan di peramati.
Madilog bukanlah barang yang baru dan bukanlah buah pikiran saya.
Madilog ialah pusaka yang saya terima dari Barat. Bukan pula
dimaksudkan diterima oleh otak yang cemerlang seperti tanah subur
menerima tampang yang baik. Saya akui kesederhanaan saya dalam
segala-galanya, pembawaan atau
talent, masyarakat, didikan,
pembacaan dan kesempatan. Maksud saya terutama ialah buat merintis jalan
teman sejawat saya, dengan buku ini, mempersilahkan mempelajari cara
berpikir dunia Barat dengan rendah hati sebagi murid yang jujur dan
mata terbuka.
Disini dengan jelas dan terus-terang saya mau mengatakan, bahwa
Madilog sama sekali tepat berlawanan dengan “ketimuran” yang
digembar-gemborkan lebih dari mestinya, semenjak Indonesia dimasuki
tentara Jepang. Lebih jelas pula saya mesti terangkan bahwa yang saya
maksud dengan ketimuran itu, ialah segala-gala yag berhubungan dengan
Mistika, Kegaiban, dari manapun juga datangnya di timur ini. tiada pula
saya maksudkan, bahwa sudah taka ada yang gaib di dunia, yakni sudah
semua diketahui. Pengetahuan tidak akan bisa habis dan tidak boleh
habis. Seperti juga “satu” kata tuan , “dua” kata saya. “Sejuta” sahut
tuan, “Sejuta ditambah satu” jawab saya pula. Dan seterusnya.
Demikianlah juga pengetahuan baru menimbulkan persoalan baru,
terus-menerus. Tetapi persoalan baru itu akan terus-menerus pula bisa
diselesaikan. Tidak ada batas pengetahuan dan tiada pula batas-batasnya
persoalan. Inilah bahagian dari kehidupan manusia dan bagian dari dunia
pikiran. Barang siapa mengaku, bahwa ada batas pengetahuan atau batas
persoalan, maka dia jatuh kelembah mistika terperangkap dogmatisme. Dia
akan berpangku tangan, memuncang hidungnya, membilang oum, oum
...............Dia tiada lagi akan mengeluarkan kritik atas pengetahuan
yang sudah diperoleh dan tiada akan mencari pengetahuan yang lebih
sempurna. Dia mati dengan pengetahuannya, karena pengetahuannya mati
pula. Semua barang yang hidup mesti berubah, karena semua perubahan itu
menandakan hidup. Tidak ada yang tetap, semuanya berubah. Yang tetap
cuma ketetapan perubahan, atau perubahan ketetapan.
Pasal 2. DARI TITIK TERKECIL KE ALAM RAYA.
Dari atom ke Alam Raya. Langkah kilat kita mesti pakai, melompat
dari atom ke Alam Raya. Dari atom, titik benda terkecil, marilah kita
melompat kekeluarga matahari kita solar sistem. Dari keluarga matahari
kita ada lagi keluarga matahari yang lain – ke Bintang kita,
stellar Universe
Alam Raya. Dari alam bintang kita ada lagi Alam bintang lain ke
sekalian Alam bintang. Universes, Awang-awang (space) dengan
Alam-Bintang didalamnya, baik yang sudah bisa diperiksa ataupun yang
belum lagi.
Zaman Demokritus, lebih kurang 2500 tahun dahulu, belum lagi punya
telescope, teropong raksasa, yang bermulut 100 inchi, yakni 2,5 meter, seperti terdapat di
Mount Wilson Observatory
di Amerika. Apalagi yang bermulut 5 M seperti sudah ada sekarang.
Dengan teropong raksasa 2,5 M sudah terang sekali bisa diambil gambaran
dari bintang Yupiter umpamanya, satu bumi, seperti bumi kita ini juga,
yakni Matahari yang sudah padam apinya. Bumi Yupiter, paling dekat
pada kita ada 367.000.000 mil (bukan KM) dan paling jauh 600.000.0000
mil teropong raksasa bermulut 2.5 M sudah bisa diperamati bintang yang
jauhnya 500.000.000 tahun sinar. Dalam satu detik, seconde saja sinar
bejalan 186.000 mil, jadi dalam satu hari ada 24 x 80 x 60 x 186.000
mil. Satu tahun sinar berarti 365 z 24 z 60 z 60 z 186.000mil ialah
+ 149.000 Km.
Zaman Demokritus belum lagi punya
Spectroscope, perkakas buat memeriksa
Spectra,
atau warna Sinar (radiatron). Cahaya, light, matahari yang melalui
kaca perisma dipisah jadi 7 jajar warna, kita lihat pada pelangi,
pengindraan, ialah putih, hitam, merah, hijau, violet, biru dan kuning!
Besi umpamanya mempunyai jajar yang berwarna terkhusus buat besi saja.
Jajar berwarna ini ada berhubungan dengan
wave-Light, panjang
ombak. Begitu jug elemen zat asli yang lain-lain. Kalau cahaya yang
datang dari matahari umpamanya yang dipisahkan oleh
Spectroscope
tadi, memperlihatkan warna terkhusus yang terdapat pada cahaya yang
datang dari besi, maka bisa dipastikan bahwa Sang Matahari ada mempuyai
besi. Begitulah
Stereoscope bisa periksa apa zat asli, elements, terdapat pada bintang dan bumi lain di Alam Raya ini.
Zaman Demokritus belum lagi melahirkan ahli Matematika yang bisa
mencuci kaki Newton, Laplace, Poincar, Gauss atau Einstein. Belum lagi
melahirkan Dalton, Avagadro yang karena teori mereka sebetulnya jadi
bapa Ilmu Kimia zaman sekarang. Apalagi seorang Sir Ernest Rutherford
yang bisa memberi “poto” dari “pertempuran atom dan atom”.
Demokritus dinamai si Gelap, karena gelap kalimat dalam tulisannya,
tiada dimengerti oleh teman sejawatnya! Dia tiada punya teropong
raksasa buat mendekatkan yang jauh dan membesarkan yang kecil. Dia belum
mengetahui Ilmu Matematika buat menghitung antar yang jauh, kodratnya
benda menarik benda dan cepatnya benda lari. Dia belum punya perkakas
buat mengambil poto dari mukanya sendiri, jangankan lagi dari atom,
ialah benda yang terkecil, tak bisa dipecah terus lagi itu tak bisa
dilihat dengan mata telanjang.
Tetapi dialah, Demokritus, bapanya benda terkecil itu. Dan
senjatanya buat memperoleh ini cuma Dialektika mentah, belum lagi
terpadu dan tersepuh, seperti pda zaman Hegel dan Marx. Dengan
Dialektika berdasarkan Materialisme bukan Dialektika berdasarkan
Mistika seperti terdapat di Asia! Demokritus memberi pemandangan
filsafat tentang Alam Raya yang banyak memberi petunjuk pada pemikir
sesudah zamannya.
Kembali ktia kepada titik terkecil tadi, kepada atom tadi! maka
sampai pada zaman Ruhterford, ialah zaman kita abad ke 20 ini sekarang.
Atom tadi masih dianggap
Hypothesis, persangkaan saja.
Pengeritan Dalton yang hidup pada permulaan abad yang lalu pun tentang
Atom itu masih jauh berbeda dengan pengertian sekarang. Tetapi sesudah
Rutherford dengan gambaran memperlihatkan “bombardement” penembakan
Atom dengan Atom itu, maka Atom itu tiadalah lagi satu
Hypothesis, persangkaan seorang ahli Dialektika Materialis, melainkan satu benda, satu bukti, satu kenyataan.
Benda terkecil inilah satu-satunya menjadikan Demokrtius salah satu
Filsafat Yunani yang terbesar dimata kita. Demikianlah kebesaran
Demokritus terdapat pada benda-terkecil itu.
Demokrtius, Si Gelap yang menjadi terang benda yang terkecil.
Keterangan dari benda terkecil ini sekarang melenyapkan kegelapan
tulisannya dan melenyapkan kegelapan Dunia Filsafat dan Ilmu Bukti.
Pasal 3. ATOM
Atom, oleh Ahli Bukti zaman sekarang dianggap sebagai batu tembok
pada gedung Alam Raya. Semua benda di Alam Raya di anggap berdiri atas
92 atomnya, zat-asli yang sudah dikenal, besi, perak, timah, dsb. Satu
rupanya dan satu sifatnya dengan atom yang diperoleh di Bumi kita, di
Matahari kita, di Alam Bintang kita dan sama di Alam Raya. Pendeknya
sifatnya atom undangnya berpadu atau berpisah pada bumi atau bintang
yang berjuta-juta mil jauhnya dari kita.
- Apakah Atom? 2. Apakah zatnya dan apa pulakah Kodratnya atom itu?
3. Ini cuma satu dua dari banyak pertanyaan yang timbul dari atom saja.
Tetapi jauh dari dua pertanyaan itu sudah sedikit sederhada memberi
penerangan pada benda terkecil yang tiada bisa dipandang dengan mata
telanjang itu.
Atom, walaupun tak bisa dipecah lagi sebetulnya satu alam sendirinya
pula, mempunyai bagian pula. Betul tak ada yang lebih kecil dari atom,
tetapi barang terkecil pun mesti punya bagian juga, ialah bagian dari
dirinya. Kalau masyarakat dunia ini kita pecah, maka pertama kita
peroleh umpamanya bangsa atau kelas. Kalau kelas itu kita pecah lagi,
maka kita peroleh golongan, keluarga, famili dan akhirnya kita peroleh
manusia. Si manusia ini tiada bisa dipecah lagi. Kalau dipecah lagi
kita tiada kaan memperoleh manusia dalam pengertian biasa lagi,
melainkan daging atau tulang atau bangkai. Tetapi satu manusia yang
tiada bisa dipotong-potong lagi itu, ada punya bagian, badan, kepala,
kaki, dan sebagainya. Persamaan diatas ini cuma buat gambaran saja,
buat penolong berpikir saja. Persamaan itu tidak dimaksudkan buat
diteruskan dalam segla hal.
Jadi ringkasnya, walaupun atom itu satu benda terkecil, dia ada mempunyai bagian.
Rutherford menyimpulkan, bahwa atom yang dia “tembak” itu mempunyai
badan yang dinamai proton. Proton ini pusat yang dikelilingi oleh
beberapa badan pula, yang dinamai electrons (ingat perkataan elektron
yang memang jadi, jiwa Ilmu Alam sekarang!). Proton yang dikelilingi
oleh elektron tadi banyak persamaannya dengan keluarga Matahari ktia.
Matahari kita ada dipusat, dan dikelilinginya beredar bumi kita dan
beberapa bumi yang lain-lain (Kelak akan diteruskan!).
Proton dengan elektron berkelilingnya itulah yang kita maksudkan
diatas dengan Alam Raya Kecil. Besarnya atom itu ialah besar seluruhnya
alamnya, yakni alam proton dan elektron dikeliling. Seluruh alam ini
jauh lebih besar dari badan pusat, ialah proton tadi. Tetapi badan
pusat, yakni proton ini memiliki hampir jumlahnya zat pada alam
terkecil ini.
Pusat bernama proton itu mempunyai kodrat menarik,
positive charge (+)
, masing-masing proton pada 92 zat asli dianggap sama. Tetapi banyaknya proton itu pada atom bermacam-macam zat asla tidaklah sama. Demikianlah zat asli
Hydrogen punya satu proton dan carbon 12 (1 dan 12 ini dinamai juga berat-atom, angka!). banyaknya proton = angka beratnya atom.
(Bumi-) elektron yang “bisanya” dianggap beredar mengelilingi (matahari-) proton itu, juga
sama pada masing-masing 92 zat asal itu.
Tetapi banyaknya elektron pada atomnya bermacam-macam zat asli tidak
sama. Demikianlah atom Hydrogen mempunyai 1 bumi elektron, atom helium
2, lithium 3 dan sampai kita berjumpa dengan atom terberat, yakni
uranium, yang mempunyai 92 elektron.
Elektron mempunyai kodrat menolak,
negative charge (-).
Diatas sudah kita terangkan, bahwa proton mempunyai kodrat menarik (+).
Kodrat menolak (-) dari 1 elektron sama dengan kodrat menarik (+) dari
1 proton. Hasil dari tolak dan tarik (+ dan -)pada dua arah
bertentangan, itulah netral setimbang (0). Seluruh atom-atom jadi
setimbang, aman netral, kalau tarikan dari proton kesatu arah sama
dengan tolakan elektron pada arah bertentangan. Jadi setimbang, aman,
kalau banyak proton yang menarik sama dengan banyak elektron yang
menolak.
Kecuali pada
Hydrogen, pada badan pusat, pada protonnya
atom yang lain juga kita dapati elektron. Jadi elektron tidak didapat
pada lingakaran belaka. Misalnya helium! (mulanya helium didapat di
Matahari, kemduian baru dibumi ini. pada hal Ilmu Bukti mendahului
mata!) Helium mempunyai 4 Proton pada pusat dan 2 elektron pada
lingkaran. Jadi tarikan proton dan tolakan dari elektron tiada
setimbang. Alam atom dalam hal ini jadi goyang, bergelora. Supaya
menjadi stimbang, mak perlu ditempelkan 2 elektron lagi. Dan 2 elektron
ini tertempel ditengah dipusat bersama-sama deegan protons.
Gambar No 1
Disini kita lihat 4 Proton dipusat, 2 elektron dilingkaran dan 2 menempel dipusat sama proton.
Sifatnya satu element, zat asli tiadalah bergantung pada badan pusat pada proton, melainan pada
banyaknya eletron.
Chlorine umpamanya dianggap satu zat asli yang aneh, lama
dianggap sebagai orang yang suka melanggar undang-undangnya Dr. Prout
umpamanya.
Sebabnya karena berat atomnya 35, 46 dan kita tahu bahwa angka
beratnya atom itu sama dengan angka banyaknya atom. Jadi tak bisa
dipikirkan banyak proton yang berpecahan, tiada genap itu yakni, 35, 46.
bisa dipikirkan 1,2 atau 12.
Tetapi ada dua macam
chlorine yang keihatan dengan mata
telanjang memang sama rupanya. Yang satu macam mempunyai 17 bumi
elektron. Dia mempunyai 35 proton. Jadi buat mengadakan seimbang mesti
ada 35-17 = 18 elektron menempel pada pusat. Macam chlorine yang kedua
juga mempunyai 17 elektron, tetapi cuma 37 proton. Buat menjadi
setimbang, maka mesti ada 37 – 17 = 20 elektron menempel kepusat.
Kelakuan kedua alam atom
chlorine tadi memang sama, sebab
banyak bumi elektron ayng beredar pada masing-masing lingkaran memang
sama, tetapi berat atomnya berlawanan. Karena
berat atom seperti dibilang diatas sama dengan
banyak proton pada atom itu. Jadi berat atom
chlorinet
macam pertama ialah 35 dan macam kedua 37. biasanya chlorine itu ialah
campuran dari dua macam chlorine yang berat atomnya tiada sama (37 dan
35) itu. Sebab itulah kita peroleh angka pecahan 35 – 46 tadi.
Persoalan diatas sekarang sudah bisa kita jawab.
Apakah atom? Walaupuan tiada sempurna dan memang
tak bisa sempurna sebab pengetahuan selalu mengembang, sementara kita
bisa menjawab: Atom ialah Titik Benda Terkecil, yang terdiri dari proton
dan elektron. (Dengan benda Terkecil, yang terdiri dari proton dan
elektron, dengan benda terkecil yang dimaksudkan benda yang tiada bisa
dipecah lagi, sepadan dengan tingkat majunya Ilmu Bukti; pada hari
depan boleh jadi atom itu lebih kecil lagi dari atom sekrang!). kita
sedikit tahu tentang listrik. Proton dan elektron ini banyak berkenaan
dengan Listrik yang bisa pakai dan lihat hari-hari. Bukan listrik
sebagai “Ding An-Sichnya”. Ahli Filsafat Kant atau Idealist yang
lain-lain: Kodrat? Juga terdapat pada listrik, menari (+) dan menolak
(-) dan bisa dihitung. Proton dan elektron pada atomnya 92 zat asli
yang terkenal di Alam Raya ini “sama”. Begitu juga hukumnya
bermacam-macam atom itu berpadu dan berpisah “sama” dibumi kita ini
dengan undang perpaduan dan perpisahan atom yang jauhnya 500.000.000
tahun sinar atau 10 x lebih!
Kita saksikan diatas cuma keseimbangan, kemauan satu-satu atom.
Tetapi kalau tiap-tiap atom dari tiap-tiap zat asli tinggal seimbang
aman, artinya tolakan sama dengan tarikan (+) = (-) maka kita tak akan
mendapat perpaduan, ialah perpaduan satu macam atom dengan atom yang
lain. Molecule dari air H2O umpamanya, ialah perpaduan hydrogen (H)
dengan Oxigen (O). Molekul dari garam-dapur (NaCI) ialah paduan
(compound, bukan campuran, yakni mixture!) dua zat asal
acdium (Na) dan
chlorine (Cl).
Bagaimana bisa terjadi perbedaan. Peramatilah gambaran
No. 2.
Dua lingkaran ini menggambarkan lingkaran yang diedari oleh elektron dari H yaitu
Hydrogen
dan He = Helim. Pada badan pusat ada proton yang tiada digambarkan.
Pada lingkaran dikiri da satu elektron (-) yang dengan proton (+)
mengadakan perdamaian setimbangan. Pada lingkaran kanan ada 2 elektron
(-), yang dengan dua proton (+) mengadakan pertimbangan pula. Setimbang
dua elektron helium ini, dianggap satu setimbangan yang tak mudah
diganggu.
Sesudah He, maka pada tiap-tiap 7 atom menurut
The Law of Octaves seperti pada noot dalam musik dan pada tiap-tiap 17 atom menurut Mendelief, elektron bertambah satu.
Satu barisan 7 atom itu menurut susunan Law of Octaves ada digambarkan dibawah ini.
Gambaran No 3.
Zat asli berikut 1º Li =
Lithium, 2º Be =
Beryllium, 3º B =
Baron, 4º C =
Carbon, 5º N =
Nitrogen, 6º O =
Oxigen, 7º F =
Fluorine.
Dibawah ialah 8º Ne = Neon. Masing-masing punya 2 lingkaran, dalam dan
luar. Pada lingkaran dalam ada tetap 2 elektron. (Proton tidak
digambarkan!) pdaa lingkaran luar dari 1 sampai 8, elektron naik dari 1
pada Li sampai jadi 8, pda Ne. Jadi Ne mempunyai 2 elektron pada
lingkaran dalam dan 8 pada lingkaran luar (2-8). Susunan 2-8 ini pada
Ne seperti susunan 2 elektron pada Ne, diatas tadi dianggap satu
setimbangan, kemauan yang tidak mudah diganggu.
Maka adalah 92
elements. Zat Asli itu boleh disusun 7 sejajar menurut
Laws of Octaves
(pendapatnya Newlands!) atau disusun 17 sejajar menurut “Periode
Table” dari pendapat Mendelief (susunan Mendelief pembaca bisa atur atau
pikirkan sendiri!).
Jadi dari Ne kita bisa memasang lagi 7 Zat Asli sampai kita
bertemukan Zat asli yang tak mudah, diganggu pula keamanannya. Sekarang
tiada lagi satu, melainkan dua lingkaran luar. Barisan seperti dibawah
ini dimulai dengan Ne, yaitu yang ber-elektron 2-8 tadi. Dengan dua
lingkarannya menjadi 2-8-0
Gambaran No. 4.
Ne 2-8-0 Na 2-8-1 Mg 2-8-2 Al 2-8-3 SI 2-8-4 P 2-8-5 S 2-8-6 Cl 2-8-7
Kembali pada pertanyaan bermula: Bagaimanakah atom berpadu?
Molecule
garam ialah NaCL, satu atom Na = radium kawin dengan satu Atom CL =
chlorine. Pada barisan diatas ktia jumpai Na itu pada tempat ke 2 dan
mempunyai elektron 2-8-1. Cl terdapat pada 7 tingkat lebih tinggi yaitu
tempat ke 8 dan mempunyai susunan elektron 2-8-7.
Diatas sudah kita terangkan, bahwa elektronnya He = 2 dan elektronnya
Ne = 2-8- atau 2-8-0 ada aman, tetap, tak bisa diganggu: Setia pada
atomnya. Tetapi yang lain-lain susunan dari 2-8-1 samapai 2-8-7 tak ada
yang setia pada sarangnya. Dia mau keluar, melmpat mencari jodoh,
supaya menjadi kembar mengadakan angka 8.
Demikianlah “1” pada Na yang 2-8-1 alau berjumpa dengan “7” pada Cl,
maka mereka berlaku seperti putera-puteri yang rela sehidup-semati,
meninggalkan rumah ibu, dan mengadakan perkawinan pada
molecule NaCl, ialah garam dapur.
Sang Garam bukan campuran, melainkan suatu paduan,
compound.
Benda baru bersifat lain dari kedua asalnya masing-masing ialah Na dan
Cl. Sedangkan kedua zat asalnya itu Na dan Cl itu masing-masing racun
yang jahanam sekali; dua sejoli, sang garam dapur, jadi benda yang
penting buat jasmani manusia dan hewan.
Perpaduan itu berlaku menurut undang yang tentu tak pernah undang itu
dilanggar, di bumi kita, di keluarga matahari kita, ataupun di Alam
Raya (menurut undang Valency, undang nilainya atom yang berhubungan
dengan teori Dalton). Mg umpamanya kalau berjumpakan Cl tiada
berpadukan satu dengan satu melainkan 1 atom Mg dan 2 atom Cl. Jadi Mg =
2-8-2, kehilangan elektronnya, yang tebrang menemui 2 elektronen Cl,
pada 2 tempat pada 2 alam terkecil, masing-masing 2-8-7. murid sekolah
menengah tahu, bahwa Mg bernama divalnet, bernilai 2.
P =
Phosphorus (2-8-5) boleh mendapatkan keamanan dengan 2
jalan. Pertama dia bisa lemparkan 5 elektron dan tinggal jadi atom yang
aman (2-8) atau seperti Arjuna yang dia bisa rebut 3 elektron dan jadi
alam yang aman pula. (2-8-8). Paduan pertama bernama phosphorus
pentoxyde (P2 O5) dan paduan kedua bergelar
phosphire PH3. Sekarang baru kita mengerti kenapa 11,1%
Hydrogen berpadu dengan 88,9 %
Oxigen
(O) seperti kita majukan pada permulaan buku ini. menurutnya hukumnya
Dalton, maka satu atom berpadu dengan yang lain menurut angka yang
tetap. 2 atom H berpadu dengan 1 atom O yang beratnya 16 atom H. Jadi
perbandingan berat dari kedua atom itu ialah: 2: 16 atau 1: 8 yakni
cocok dengan 11,1 % dan 88,9 %.
Begitulah penerbangan elektron dari satu alam atom ke elektron lain
pada alma atom lain berlaku menurut hukum yang pasti, yang benar
hakekatnya buat seluruh alam raya.
Laws of Octaves ataupun
Periodic table maksudnya
ialah mengusun atom yang 92 itu menurut elektron liar masing-masing.
Sesudah naik sampai mendapat 7 elektron liar menurut
Law of Octaves atau 17 menurut
Periodic Table, maka kita dapati atom yang banyak persamaan dengan tingkat pertama.
Menurut Law of Octaves, susunan itu:
Gambaran No. 5:
Li Be B
C N O F
Na Mg Al
Sl P S Cl
Demikianlah kalau kita naik 7 anak tangga dari Li kita sampai pada
Na, yang banyak bersamaan rupa dan sifat dengan Li tadi, kita naik dari
Be kita sampai pada Mg dan seterusnya, dan sebagainya. Sekarang kita
ingat pada para bapak Kimia Arab yang sebetulnya tiadalah begitu edan
atau gila, yang mencari “philosophers atene”, zat yang bisa menukar
(transmute) sesuatu logam menjadi emas. Pada tahun 1816 Dr Prout
memperingatkan, bahwa satu atom tidaklah begitu berbeda dengan atom
yang lain. Dan semuanya dibangun dari atom
Hydrogen (H). Laws
of Octaves atau Periodic Tablenya Mendelief memperlihatkan, bahwa satu
element (zat asli) bisa menjelma menjadi, zat-asli yang lain. Yang
penting pula akhirnya yang terpaksa diterangkan lebih panjang tadi
sudah bisa sekarang dimaklumkan, ialah:
Sedikit (banyak) benda, bisa diubah menjadi bukan main besarnya
kodrat (energy). Menurut perhitungan para ahli, maka proton yang (+)
itu dipertempurkan dengan elektron yang (-) itu, maka hasil pertempuran
itu adalah kodrat yang maha hebat. Proton dan eletron keduanya hilang
binasa, musnah. Atomnya 1 ounce (1/24 Kg) batu arang bisa dengan
pertempuran itu menghasilkan kodrat 180.000 kuda. Disini bisa
kelihatan, bahwa benda bisa ditukar dengan “kodrat”. Disini pula para
ahli kegaiban yang menarik napas itu mendapat undang baru. Nah katanya:
Disini nayta bahwa benda sama dengan kodrat dan dengan main sulap
seperti biasa dia membalikkan hakekat dengan membalikkan Logika:
“kodrat” itu sama-diri dengan “benda”. Tetapi buat bisa sebaliknya yang
nyata, ialah kodrat itu saja tak bisa menimbulkan benda, seperti
terjemahan mistikus. Benda mesti mengandung kodrat, tetapi sebaliknya,
kodrat sendirinya, tak berbenda yaitu tidak ada bendanya. Kodrat uap
yang menjalankan kereta, terpaut pada air, kodrat besi berani
(magnetisme) pada besinya listrik pada obat kimia atau besi beraninya.
PEMANDANGAN (MADILOG).
Peralaman yang bisa dilakukan dengan atom itu, sepeti bombardement
atomnya Rutherford, dan berhubung dengan atom juga, ialah “radio
activity”, yakni kelakuan atomnya “radium”, yang pertama diketahui dan
diperalamkan oleh Tuan-Nyonya dan sekarang diteruskan oleh Nona Curiw,
masih termasuk pada zaman turunan ktia ini.
Hegel dan Marx pada abad ke-19 belum bisa melihat radiumnya familie
Curie dan photo Rutherford yang menunjukkan pertempuran atom dan atom.
Atom pada masa itu masih dalam daerah hypothesis, persangkaan belaka,
walaupun sudah berubah dari bentuk Demokritus ke bentuk Dalton dan Dr.
Prout, yang hidup pada abad ke-19 juga. Pendeknya peredaran bumi
elektron mengelilingi matahari proton, belumlah masuk jadi bukti yang
bisa digambarkan dan disaksikan.
Dalam pembacaan dan peringatan saya yang terbatas sekali ini. saya
juga belum bertemu dengan tulisan Marx, ataupun Engels, Plechanoff dan
Lenin .......... atau lain-lainnya, yang menjatuhkan alam “atom” ini
kebawah
microscope Dialektika Materialisme.
Sebab itu saya sangsi mengambil kesimpulan! Tetapi kalau tak ada
keberanian, memanglah tak bisa didapat kemajuan, terutama dalam
pengetahuan. Kesilapan saya diharap boleh menjadi alat adanya hakekat
baru. Tak ada hakekat yang tidak didahului oleh kesilapan. Hakekat
ialah anak kesilapan. Dan kesilapan itu bisa jadi bapak sesuatu
hakekat.
Jadi atas pertanggungan saya sendiri, dan dimata saya sendiri, pada
Alam Terkecil inilah saya lihat perlakuan, pelaksanaan pertama dari
Dialektika Materialisme. Disinilah pertama sekali berlaku “wirkliche
Logik der wirkliche Gegenstandenya Marx” ilmu berpikir yang sebenarnya
dari pada Benda yang sebenarnya. (Maksud Marx tentulah: Wirkliche
Dialektik der wirkliche Gegenstande).
Pertama: Negation der Negation, pembatan kebatalan. Tidaklah
berlaku lebih dahulu pada Ide, dalam pikiran , seperti menurut Hegel,
melainkan pada Benda, walaupun benda itu tak bisa dipandang dengan
mata-tak-berpekakas.
Kedua: Quantity jadi quality, bukanlah berasal
dari dunia rohani, melainkan pada dunia benda, zat yang akhirnya, lambat
launnya membayag ke dalam cermin otak manusia.
PERTAMA: PEMBATALAN KEBATALAN.
Syahdan, bermula saya kenal proton sebagai thesis, yang pertama “ada”
sebagai kodrat penarik (+). Elektron (-) sebagai benda juga yang
membatalkan yang mempunyai kodrat menolak ke arah yang bertentangan,
sebagai (-). Kalau menolak dianggap (+), maka menarik mesti kita anggap
(-). Dari perjuangan thesis dan anti-thesis, proton dan elektron itu,
kodrat menarik dan menolak itu, + dan – itu dari kebatalan proton
seperti benda tunggal itu timbullah benda atom bulatnya, benda atom
seluruhnya yang mengikat proton dan elektorn itu. Timbullah pula
“setimbangan” keamanan, harmoni, timbullah pemabtalan dari kebatalan
“Negation der Negation”. Disini juga nyata, bahwa benda (proton atau
elektron) itu mengandung kodrat (+ atau-) dan kodrat itu tak bisa
bertambah dari benda.
Seterusnya: Menjadi thesis pula atom yang ingkar, yang mengganjil
dari atom teman sejawatnya yang mengandung sifat menarik (+). Dia
bertemu dengan anti-thesis, ialah atom tingkat pula dari jenis atom
yang lain yang berkodrat menolak pada arah bertentangan (-). Kedua atom
yang datang dari golongan berlainan itu sekarang mengadakan
setimbangan, keamanan yang baru pula. Mereka mengadakan benda yang
baru, bernama
Molecule. Benda
Molecul inilah bentuknya pembatalan kebatalan,
negation der nagation.
KEDUA: PERUBAHAN BILANGAN (BANYAKNYA) MENJADI PERUBAHAN SIFAT.
Kita perhatikan semua 92 zat asli yang sudah diketahui (sekarang)
itu! Semuanya boleh dibagi atas beberapa jenis (atau musim) yang
masing-masingnya mempunyai 7 atom menurut
Law of Octaves, atau 17 atom, menurut
Periodic Table
(daftar musim). Satu anggota dari satu jenis musim berbedanya dengan
anggota lain dari jenis musim itu juga, cuma dalam banyak angkanya
elektron. Jadi nomor 1 naik ke nomor 8 elektron. Tetapi sesudah sampai
ke No. 8, maka perbedaan banyak elektron tadi bertukar, menjadi
perbedan sifat: tidak lagi di atom yang mudah terganggu keamanannya,
melainkan menjadi atom yang setimbang, tak mudah diganggu
keamanannya.Dari sifat pelari menjadi sifat setia. Disini kita lihat
perlakuan:
Quantity berubah menjadi
quality, perubahan
banyak elektron tadi bertukar menjadi perubahan sifat yakni mudah
terganggu menjadi setimbang (demikianlah Be, B, C, N, O, F (lihat
gambar No. 5 (L .........) semuanya mempunyai eletkron yang
berkenaikan, dan semuanya mudah terganggu, lekas mau sarak! Tetapi
tiba-tiba kita sampai pada Na, ialah atom, yang tak mudah diganggu
(setia). (Dari Be kita sampai ke Mg, dari B ke Al dsb). (dalam Periodic
Table tadi kita juga melihat perlakuan pembatalan kebatalan. Kita
ingat akan contoh Engels, ialah gandum. Mulanya gandum dibatalkan oleh
pokok gandum. Kebatalan ini akhirnya dibatalkan oleh “buah” gandum.
Pembatalan dari kebatalan ini kembali pada asal, ialah gandum. Tetapi
gandum pada ujung, yakni pembatalan kebatalan, lebih banyak dari gandum
tampang. Begitu juga Li sebagai thesis akhirnya mendapatkan Na; Be
mendapatkan Mg; B mendapatkan Al dan sebagainya, dan atom yang baru
lebih banyak elektronnya dari atom tampang: Na lebih banyak dari Li, Mg
lebih banyak dari Be dsb).
Nyatalah sudah alam kita yang terkecil itu selalu dalam gelora, tarik
dan tolak, dalam gelora pergerakan dan pertentangan. Sebab itulah
tiada mengherankan kalau terutama sekali sebetulnya kita berada di
daerah Dialektika, yakni: Dialektika Materialisme. Tetapi sekarang
scientist
masih cukup mendapat lapangan dimana Logika bersimaharajalela.
Persoalan yang pasti, menurut Ueberweg, mesti dijawab dengan jawab yang
pasti, ya itu ya, A bukan non A. Cepatnya atom berlari dalam tempo
yang tertentu, kuatnya atom menarik, menurut berat atau massa (banyak
zatnya) yang tentu undangnya para atom berpadu dan berpisah dan 1001
persoalan yang berhubung dengan gerakan, banyak dan sifatnya atom atau
molecule, mesti dijawab dengan Logika atau Matematika. Tetapi bermula
jangan dilupakan, bahwa ada
moment, saatnya dimana A itu sama dengan non A “ya itu berarti tidak”.
Saya lihat disini bukanlah rohani tunggal itu yang mengadakan Yang-Nyata,
Absolute Idenya Hegel yang mengadakan
Reality.
Kalau ada yang tunggal, ke-Esaan, maka ke-Esaan itu terdapat pada
Benda, pada Alam terkecil, pada Atom. Disini sudah boleh diperalamkan
dan diperhitungan, bahwa proton pada Zat Asli manapun di Alam Raya in
ibersamaan, Elektron pun bersaman satu-satu dengan lainnya, begitu juga
hukumnya, Atom bertempur, berpadu, atau berpisah. Semua atom dari
semua Zat Asli boleh disusutkan pada
Hydrogen, di-esakan oleh
Hydrogen. Jadi benda, barang yang nyata,
Hydrogenlah yang mempersatukan semua zat dalam Alam Raya ini. boleh jadi sekali besok atau lusa ada Zat asli lain dari
Hydrogen,
yang dianggap pangkal dari zat. Dan mungkin, ya, boleh jadi sekali
proton atau elektron boleh dipecah lagi – semua thesis itu mengandung
anti-thesis dan semua anti-thesis itu mengandung thesis pula – tetapi
yang jadi pangkal tetap benda, berapapun juga kecilnya. Atom bersifat
menarik (+) bisa dipertemukan dengan benda berifat menolak (-).
Hasilnya ialah petusnya, pertempuran itu, ialah kodrat yang maha hebat.
Tetapi kodrat itu sendiri tak berbenda, tak ada di Alam Raya ini.
bagaimana benda itu bergerak, bertempur, berpadu dan bercerai, cara dan
aturan itulah yang menjadi undang, yakni yang dalam bahasa kita,
manusia, dinamai undang. Pada tingkat science sekrang ini,
Hydrogen itulah ke-esaan semua zat. Aturannya
Hydrogen
bergerak, berpadu, berpisah, menjelma pada atom yang lain diseluruh
Alam Raya inilah yang membayang di otak kita. Bukan Rohani atau Ide,
pikiran yang membikin Yang Nyata, melainkan yang Nyata, Benda dan
Hukumnyalah yang terletak diotak, mental, manusia.
Pasal 4. KELUARGA MATAHARI KITA
Dr. H. Spencer Jones menulis satu buku, bernama “LIFE ON THE OTHER
WORLD” (Hidup di Bumi lain). Dr. Jones menulis dalam bukunya itu,
apakah yang hidup dalam bumi lain-lainnya. Buku tadi ditulis ditahun
1940, jadi boleh dikatakan baru sekali. Lagi pula ditulis di Negara
Inggris; negara ini memasyhurkan dirinya, karena disana ada demokrasi
asli, ada kemerdekaan penuh buat berkata, menulis dan berkumpul.
Kemerdekaan mengeluarkan pikiran itu tidaklah memerdekakan pujangga
Jones dari Gereja Resmi, apabila ia meraba perkara yang begitu penting,
ialah yang Hidup. Perkara yang Hidup ini di Negara Merdeka,
demokratis, yang dianggap seperti monopolinya Gereja resmi. Agama
monotheisme, bertuhan Esa, sudah mempunyai kepercayaan “yang tak lekang
dek panas dan tak lapuk dek hujan” perkara yang Hidup itu. Teman
sejawat pengarang Dr. Jones, pula seorang ahi Bintang pun juga sudah
memeriksa perkara hidup dilain bumi itu. Teman Dr. Jones bernama
Fontenelle, sebelumnya memberanikan diri memeriksa perkara yang
mengenai kepercayaan tu mengucapkan sembah simpuh terlebih dahulu.
Sembah simpuh inilah yang terlebih dahulu dicatat oleh Dr. Jones dalam
bukunya tadi, sebagai sesuatu syarat minta izin kepada yang monopoli
atas perkara itu. Bunyi sembah simpuh itu, diantaranya: “Bahwa
menempatkan manusia didalam ini tempat dari bumi kita ini berbahaya
sekali buat agama”.
Lebih kurang 500 tahun dahulu, maka Antonio Bruno, Ahli Bintang
Italia dibakar hidup-hidup, karena ia memajukan teori tentangan gerakan
bumi yang bertentangan dengan kepercayaan resmi. Copernicus dan
Galilea dibelakangnya Bruno mesti bermain sandiwara dan mengaretkan
lidahnya supaya badannya dijauhkan dari api unggun.
Penulis ini kebetulan pula termasuk keluarga yang mempunyai kakek
yang terkenal dalam daerahnya, sebagai ahli falak. Walaupun kuburan
Sang Kakek dianggap sakti kramat, tetapi perkara ilmu bintang itu,
adalah perkara yang mesti dibisikkan diantara anggota keluarga saja.
Saya masih ingat pesan Sang Ibu yang selalu diucapkan kepada saya,
supaya berlaku “awas” sekali terhadap Ilmu Bintang. Entah karena Sang
Kakek mengandung faham yang berbahaya terhadap Ilmu Bintang, entah
karena sendiri memusuhi faham yang dianggap berbahaya, tiadalah saya
tahu ............wallahu Allam (Hanya Tuhan Yang Tahu,
ed).
Tetapi syukurlah sudah bukti, bahwa tiada didalam dunia Agama serani
saja, tetapi didalam dunia Islam pun Ilmu Bintang itu mengandung
beberapa perkara yang menyinggung kepercayaan resmi – Ilmu Bintang itu
didaerah monotheisme seolah-olah senantiasa berada dibawah pengawasan
sensor!
Tiadalah pula mengherankan kalau Ilmu Bintang itu mesti di buntuti,
dikempei-i saja. Memangnya faham tentang bumi dan langit saja, tentang
keadaan dan asalnya bumi dan langit itu pada Ilmu Bukti dan Agama
berbeda seperti siang dan malam.
Dua perkara saja yang amat menyolok mata.
Pertama, bumi dan bintang itu oleh Agama dianggap
sebagai firmannya Tuhan. Ilmu Bukti menyangka sebagai buahnya evolusi,
kemajuan menurut hukum sendiri, dalam juta-jutaan tahun: dari leburan
benda (molten masa), dari kabut menyala, kabut
Hydrogen, sampai ke Alam Raya kita sekarang ini.
Kedua: Bumi kita ini dianggap sebagai bumi yang
tunggal dan besar. Tetapi tiada bergerak. Bumi kita ini adalah pusatnya
matahari dan bintang yang mengedari bumi kita ini. matahari dan bintang
ini dianggap sebagai malaikat pada satu langit yang dianggap sebagai
salah satu dari bumi yang banyak.
Lagi pula bumi ini sangat kecil sekali kalau dibandingkan dengan
besarnya matahari saja. Matahari inipun cuma salah satu dari bintang
menengah saja, diantara juta-jutaan bintang di Alam Raya ini. bumi ini
bukan pula pusatnya Alam ini. bumi ini mengedari matahari, yang bukan
pusat pula di Alam Raya ini. matahari inipun sebetulnya tiada tetap,
karena ia berputar disekeliling sumbuya sendiri. ketika bumi mengedari
matahari, bumi itu berputar pula pada sumbunya sndiri. Sebab itu kita
melihat bintang yang mengelilingi bumi. Lagit yang dianggap padat itu
tak ada dalam Ilmu Bintang. Walaupun teropong bisa jauh memandang
sampai 500.000.000 tahun sinar, langit padat itu tak kelihatan. Yang
ada cuma awang-awang kosong, dan didalamnya ada berjuta-juta bintang,
bumi dan bulan (satlliet) yang sangat berjauhan pula satu sama lainnya.
Sangat jauh bedanya peranggapan ahli bintang zaman sekarang dengan
ahli agama. Walaupun begitu tiadalah perlu rasanya saya memperingatkan
amanat kakek saya kepada pembaca Muslimin ataupun Serani (Nasrani,
ed)
yang beriman teguh, yakni berlaku awas terhadap Ilmu Bintang.
Hendaknya pembaca anggap Ilmu Bukti tinggal Ilmu Bukti dan Agama tetap
Agama. sekarang marilah ktia pasang satu contoh, modelnya keluarga
matahari ktia (bukan keluarga matahari lain).
Ini perkara susah sekali dipraktekan. Karena kita mesti kecilkan
besarnya matahari dan beberapa keluargnya dengan satu angka yang mesti
kita pakai buat mengecilkan antara matahari dan keluarganya. Seorang
ahli Bintang Inggris yang termasyhur, bernama Sir James Joans sudah
mengecilkan matahaari itu sampai sekecil gandum. Tetapi antaranya
dengan keluarganya masih terlalu besar!
Jadi kalau kita mesti pakai ukuran, pasti pekerjaan itu susah kita
jalankan. Baiklah kita pakai ukuran semabarangan saja buat memberi
contoh yang sederhana sekali. Marilah kita bersama-sama pergi ketanah
Lapang Gambir ketika malam masih gelap-gulita. Dipusat tanah lapang itu
kita taruh boleh listrik menyala, sebesar bola raga. Dalam pikiran
kita andaikan bola listrik ini Sang Matahari: Kira-kira satu meter
jauhnya dari bola listrik menyala tadi, kita taruh benda kira-kira
bundar pula yang besarnya kurang dari 1/1000 dari bola listrik kita.
Bola ini adalah kita andaikan bumi – hari-hari disebut bintang! –
Mercury, kira-kira 2 meter jauhnya dari pusat bola listrik tadi kita taruh pula bolah lebih kurang 21 kali sebesar
Mercury tadi. Ini andaikan bumi
Venus. 3 Meter jauhnya dari pusat matahari, bola listrik tadi kita taruh satu bola pula sedikit lebih besar dari bola
Venus, sebetulnya 1/332 dari besarnya bola listrik. Ini
Bumi kita
ini. Kemudian 4 ½ meter dari pusat bola listrik tadi kita taruh bola
lagi 1/10 besarnya (isinya) dari bola bumi kita. Ini andaikan bintang
yakni bumi
Mars. 15 meter dari pusat bola listrik, 317 x sebesar bumi kita. Ini andaikan bumi (bintang disebut orang)
Jupiter. 28 ½ meter dari pusat, bola listrik kita taruh pula satu bola lebih dari seperempat bola listrik. Ini bumi
Saturnus. 57 meter jauhnya dari pusat, bola listrik kita, kita taruh bola
+ 15 x sebesar bola bumi kita. Ini bumi
Uranus. Sekarang 90 meter jauhnya dari pusat, kita pasang bola kecil pula 17 x sebesar bola bumi kita. Ini
Neptunus namnaya. Akhirnya 120 meter jauhnya dari pusat kita pasang bola 10 x sebesar bola bumi kita. Ini bumi
Pluto.
Jadi semuanya ada satu bola, sebagai
matahari dan 9 bola sebesar
bumi
yang berlainan besar dan jauhnya dari matahari tadi. Kini kita panggil
kodrat, buat memutar 9 bumi tadi mengelilingi matahari, dengan
kecepatan berlainan-lain. Inilah gambaran sederhana dari keluarga
matahari kita. Di pusat dengan berputar mengedari sumbuhnya sendiri
ktia dapati Sang Matahari. Berkelilingnya pada satu lapang yang
kira-kira datar beredar terutama 9 bumi dengan bermacam-macam
kecepatan. Kita boleh taruh pula pola besarnya 1/100 bola bumi kita, dan
suruh bola beredar mengelilingi bumi kita. Ini
Bulan! Sambil mengedari bumi kita.
Bulan itu bersama-sama dengan
Bumi mengedari
Matahari pula. Sebab itulah dia dinamai
satellite, pengikut, ialah pengikut bumi.
Satu edaran bumi kita namai 1 tahun. Begitulah lamanya bumi kita mengedari matahari yang = 265 hari itu kita namai
setahun.
Sebab cepatnya 9 bumi tadi beredar tiada sama, maka tahun masing-maisng
bumi itu tiada sama pula. Dan lingkaran yang diedari masing-masing
bumi itu bukanlah pula bundaran tulen “circle”, melainkan bundaran
picak “ellipse”.
Tetapi perkara cepat beredar, kekuatan tarik-menarik, lamanya tahun,
atau hari masing-masing bumi mengelilingi matahari itu, atau bumi
masing-masing mengedari sumbunya sendiri, adalah perkaranya ahli
Bintang dan Matematika. Kejituan menghitung dari tahun ke tahun, dari
abad ke abad, dari zaman Egypt sampai sekarag ada berubah-ubah menurut
kejituan perkakas mempermatai dan menurut kejituan Ilmu dan Matematika
pada berlainan abad. Perkara hitung-menghitung itu adalah di luar
daerah buku ini. tetapi semuanya banyak termasuk pada daerah Logika.
Yang sudah biasa kita saksikan pada gambaran yang segala sederhana itu ialah:
- Bumi kita ini tiadalah tunggal. Pada keluarga
matahari kita ini saja bumi kita cuma salah satu dari 9 bumi. Dia
tidaklah yang terbesar. Dia nomor 6 dari bumi Jupiter, Saturnus,
Neptunus, Uranu dan Pluto, yang berikut-ikut 317 x 94,3x 17x 14,65
x dan 10 sebesar bumi kita yang digembar-gemborkan ini.
- Sang bumi kita ini tiadalah berdiam tetap
dikelilingi oleh matahari dan bulan berjuta-juta bintang buat
meneranginya, mengabdi kepadanya: seperti Seri Paduka Yang Maha
Mulia bersemayam diatas singgasana kerajaannya, dikelilingi oleh
mangkubumi, perdana menteri dan hulubalang yang berhamburan
terbang dari magrib sampai ke Masyrik buat melakukan perintahnya
dari sudut mata atau telunjuknya saja. Melainkan ia satu bumi yang
amat kecil, yang puntang-panting mengedari matahari yang mesti
dijalankannya dalam tempo yang pasti. Pada saat dia mengedari
matahari itu dia tunggang langgang pula mesti berputar mengelilingi
sumbunya sendiri, 24 jam lamanya sekali berputar.
PEMANDANGAN (MADILOG).
Saya harap sekarang kita sudah dapat gambaran sederhana tentang
keluarga matahari kita. Sudahlah cukup buat mengadkan pemandangan yang
sekadarnya.
Pertama: Benda yang kita dapat pada alam-terkecil,
pada atom dahulu itu juga kita jumpai pada alam matahari ktia. Proton
yang menarik (+) dan elektron (-) terdapat pada 92 elemen yang
terkenal, juga terdapat pada zat yang ada pada matahari dan
keluarganya, ialah 9 bumi (sebetulnya lebih banyak dari pada itu!).
Nebula, kabut menyala, yakni zat-asli-menyala, sebagai asalnya matahari
kita dan keluarganya sudah diakui sahnya oleh peralaman zaman sekrang.
Matahari kita sekarang ialah neneknya bumi kita dan 8 bumi keluarganya
matahari yang lain itu. Matahari kita ini sekarang masih menyala
keras. Tetapi semua zat yang terdapat pada bumi kita yang kulitnya
sudah dingin dan beku ini, tetapi dalamnya masih menyala terus, sebagai
“magma”. Dengan memakai
spectroscope dan emmeriksa jajar-warna
(spectra) yang datang dari mtahari, maka Russell memeriksa jenis dan
banyaknya tiap-tiap jenis zat-asli (element) yang didapat di matahari
itu. Banyaknya tiap-taip 14 zat-asli yang terutama didapat dibumi ini:
besi, nikkel, tembaga dsb, tiada berapa bedanya dari banyaknya zat-asli
yang terdapat di matahari itu. Ini menunjukkan aslanya sama diantara
matahari dan bumi. Begitu juga spectra jajar-warna yang datang dari
bintang, yakni matahari – yang lain-lain di Alam Raya, menunjukkan
persamaan jenis dan banyaknya. Dengan jalan lain, teori lain dan
peralaman,
experiment lain, ahli Bintang juga kembali kepada
kebenaran ini, yaitu: semua bindang dan bumi diawang-awang ini asalnya
satu atom besar, jadi kabut menyala juga. Peralaman dengan perkakas
memperlihatkan, bahwa Alam Raya mengembang dengan tetap, seperti bole
permainan anak-anak yang dihembus. Dengan mengembangnya Alam Raya, maka
antara bintang dan bintang mengembang pula. Menurut perhitungan, maka
antaranya menjadi berlipat dua dalam 1.300.000.000 tahun. Jadi
1.300.000.000 tahun lampau antara satu bintang dan bintang lain
setengah dari antara sekarang. Makin lama kita kembali kebelakang makin
rapat kedua bintang tadi. Demikianlah pada satu tempo kedua bintang
tadi mesti berpadu. Begitu juga sekalian bintang matahari dan bumi dan
pengikut bumi di Alam Raya. Paduan itulah Atom Besar yang menyala.
Seperti pada pasal Atom lebih dahulu sudah kita lihat, bahwa asal
bermula sekali dari 92 alement yang dikenal itu ialah Atom dari
Hydrogen, yang terdiri dari proton (+) dan elektron (-). Ke-Esaan benda
di Alam Raya ialah keesaan Atom. Pada tingginya tingkat sience
sekarang ke-esaan Atom itu terdapat pada Hydrogen, “Maha Dewa Hawa Air”.
Kedua: Sudah juga kita kaji, bahwa berpaduan dan
perpisahan Atom berlaku menurut hukum-hukum “pembatalan kebatalan”.
Elektron membatalkan proton, dan hasilnya pada tingkat pertama sekali
ialah Atom. Inilah keamanan, inilah harmony, inilah pembatalan
kebatalan yang terdapat oleh pertempuran pertama itu. Menurut hukum
pembatalan kebatalan juga dari Atom kita naik ketingkat yang lebih
tinggi, ialah
Molecule.
Molecule ini dianggap benda yang bisa berdiri sendirinya.
Molecule air umpamanya terdiri dari atom
Hydrogen dan atomnya
Oxigen. Atom benda yang hidup seperti tumbuhan, hewan dan binatang didirikan berkeliling atom
Carbon
(C). Juga menurut undang-undang di bumi kita yang sudah berusia
3.000.000.000 atau 4.000.000.000 tahun ini, diatas kulit yang menyala
sampai beku seperti sekarang: Atom naik ketingkat, Molecule berpadu
jadi benda, benda naik jadi tumbuhan, tumbuhan naik ketimngkat hewan,
hewan akhinrya ketingkat manusia (manusia naik ketingat
.................?). Inilah keadaan bumi kita ini. pada bagian kelak
lain kita sekadarnya akan memeriksa perkara semacam ini pada 9 bumi
yang lain itu dalam keluarga matahari kita. Yang akan dikemukakan
disini, ialah undang Dialektika yang terus berlaku antara matahari dan
buminya. Kembali ketanah Lapang Gambir memperingati contoh keluarga
matahari kita. Lebih dahulu kita mesti lenyapkan dari mata kita tanah
tempatnya berhenti matahari dan keluagarnya. Semua bola kecil dan besar
dari 1 meter sampai 120 meter diantaranya ke pusat yang beredar dengan
bermacam-macam kecepatan pada lingkaran masing-maisng itu, mengelilingi
bola listrik tadi, kita impikan terjadi diawang-awang. Tak ada tali
yang mengikat satu bola dengan yang lain. Kodrat yang mengikat, tak
lain melainkan kodrat yang mengikat proton dan elektron juga. Kodrat
menarik (+) dan kodrat menolak (-). Kodrat inipun tak diluar benda,
melainkan dikandung oleh benda sendiri. tarik dan tolak ini terjadi
diantara matahari dan bumi kita diantara bumi kita dan bulan, diantara
matahari kita dan para bumi lain keluarganya.. diantara matahari ktia
dan matahari lain yang biasa kita namai bintang, ya diantara keluarga
mtahari kita dengan keluarga matahari lain dan seterusnya. Hasil
tarikan dan tolakan itulah yang dinamai keluarga matahari dan Alam Rya
kita. Jadi pada keluarga matahari kita terdapat matahari sebagai proton,
penarik (+) dan 9 bumi sebagai elektron, penolak (-) dan sebagai
hasil, sebagai harmony, ialah perdamaian setimbangan “pembatalan
kebatalan” ialah keluarga matahari kita. Dari Kant, Laplace sampai Sir
James Jeans, kebanyakan ahli bintang setuju, bahwa keluarga matahari
kita berasal dari kabut-atom-menyala. Kabut menyala itu (glowing gas)
masih ada pada Alam Raya atau bisa diperalamkan. Tetapi bagaiana
sejarahnya keluarga matahari ktia sekrang ahli bintang belum mendapat
kepastian. Semua hasil pemeriksaan para ahli mesti dicocokkan dengan
kodrat, kimia, mekanika, matematika, dsb. Berapaun pesat majunya
perkakas, tentulah kemajuan itu belum sempurna. Beberapa bumi keluarga
matahari kita, seperti Bulan, Mars, Venus dsb, memang bisa diambil
gambarannya, tetap Bumi dan Bintang yang lain belum dapat.
Matahari lain yang paling dekat saja ada 25.000.000.000.000 mil
jauhnya. Jadi keterangan yang sempurna atas bukti peralaman belum bisa
didapat. Selainnya kesusahan berpikir yang mesti dicocokkan dengan
semua cabang ilmu, kekurangan perkakas dan lain-lain kita jangan lupa,
bahwa sejarah keluarga matahari yang mesti diperiksa itu bukan kelamaan
beribu atau ratus ribu tahun. Sejarah Indonesia lebih dari 300 tahun
lampau saja sudah gelap diliputi kegaiban,. Sejarah manusia yang
sedikit pasti cuma kira-kira 5-6000 tahun, walaupun manusia lahir
+ 500.000 tahun dahulu. Sejarah bumi saja
+
3.000.000.000 tahun. Neneknya bumi ialah Sang Matahari, tentu
sekurang-kurangnya selama itu pula. Experimental Science (Ilmu Bukti)
yang diperalamkan masih muda sekali. Semua ini tiada mengherankan,
kalau para Ahli Bintang belum mendapa persatuan, persetujuan tentang
sejarah keluarga matahari. Tetapi yang sudah dianggap pasti, yang sudah
cocok dengan ebebrapa cabang itu dan bisa diperalamkan ialah “sejarah
kulit bumi kita”. Disini juga pada garis besarnya berlaku Dialektika.
Selainnya dari kebatalan-dibatalkan oleh kebatan juga bilangan
(banyaknya) bertukar menjadi sifat,
quantity menjadi
quality.
Dari hari ke-bulan, dari bulan ke-tahun, dari tahun ke-abad,
kabut-atom-menyala, ialah semasa bumi kita terpelanting dari matahari
sebab yang belumbisa dipastikan bertukar menjadi kulit keras, ialah
tempat kita diam sekarnag. Turunnya panas berangsur-angsur dari tahun
ke-abad. Keturunan angka panasnya benda (C) menukar sifat benda-uap
bertukar menjadi encer (cari) ialah encernya 92 elemen. Rubahan hawa
seterusnya, terus menukar perubahan sifat disertai perubahan nama. Zat
asli encer menjadi beku, menjadi tanah logam, ialah tanah logam kita
ini. semua masih panas. Pertukaran panas seterusnya mendinginkan tanah
kita dan menimbulkan gunung dan lembah seperti kulit jeruk yang lisut.
Perubahan uap di udara lama-lama menjadi samudra dan lautan. Semuanya
perubahan perlahan-lahan yang sekarang terus berlaku. Tanah dan pasir
yang dihanyutkan sungai kelaut lama-lama menimbukan pulau baru dsb.
Semua perubahan banyaknya menjadi perubahan sifatnya. Dan benda logam
dari sedikit kesedikit, dari tahun ke-abad berubah menjadi benda
setengah logam, setengah timbunan. Terus-menerus dalam ribuan, jutaan
tahun timbunan berubah menjadi benda, setengah tumbuhan, setengah
hewan. Dalam jutaan tahun pula akhirnya hewan rendah berubah menjadi
manusia.
Akhirnya dalam daerah disempitkan oleh Dialektika yang berdasarkan
Benda semata-mata itulah pula berlakunya tarikan dan pindahan, menurut
undang Dalton, Mendelief dll, yang digambarkan olah hasil pikiran
manusia, oleh Ilmu Mekanika, Ilmu Kodrat (pysika), Kimia, Matematika,
Ilmu Bumi, Ilmu Tumbuhan, Ilmu Bintang dll, sebagai yang terus
bertambah-tambah.
Pasal 5. ALAM BINTANG KITA DAN ALAM RAYA.
Seperti kilat kita sudah meloncat dari Atom, Alam terkecil kepada
keluarga matahari kita. Di luar Alam Matahari kita ini ada lagi
keluarga Alam Matahari tetapi tiada dekat pada kita. Matahari lain,
yakni bintang yang paling dekat, ialah 25.000.000.000.000 mil jauhnya.
Banyak diantara matahari yang lain-lain itu boleh jadi sekali mempunyai
keluarga bumi pula, keluarga mtahari kita bersama dengan matahari
(bintang) yang lain-lain berkumpul menjadi Alam lebih besar lagi, yang
dinamai
Universe. Saya terjemahkan dengan “Alam Bintang kita”. Ada banyak pula “Alam Bintang kita”. Ada banyak pula Bintang atau
Universe yang lain-lain. Maka semua “Alam Bintang” itu, semuanya Universe itu terdapat diawang-awang, kosong. Jumlah dari semua
Universe
dari Alam Bintang itu serta awang-awang yang jauh lebih besar dari pada
itu saya namai Alam Raya. Jadi Alam Raya itu berarti “semuanya”.
Supaya jadi pendek, maka Alam Bintang Kita,
Universe kita
dan Alam Raya itu, akan saya jelaskan dalam satu pasal ini saja. Pasal
ini akan diringkaskan pula, karena maksudnya lain tidak melainkan guna,
memperlihatkan kecocokan kelakuan Alam dengan undang Madilog.
William Herschel, dinamai bapaknya Ilmu Bintang
Modern,
karena cara dan perkakas Herschel, memeriska berlainan dan lebih jitu
dari teman sejawatnya yang sesudah dia meninggal. Namanya betul ialah
Wilhem Herschel, seorang Jerman pindah ke Inggris. Dari ahli musik ia
bertukar jadi ahli bintang. Dari si miskin bertukar jadi Raja dan
pemerintah Inggris. Dia hidup tahun 1738 – 1822 . Herschel dengan
teropong bikinan sendiri meneropong seluruhnya Alam. Dia simpulkan
bahwa Alam Bintang kita ini mempunyai bentuk seperti arloji bundar
pesek. Matahari ktia disangkanya tak berpaa jauhnya dari pusat Alam
Bintang Kita, arloji tadi. Yang dinamai Milkway, kabut berwarna susu
itu bukan kumpulan Bintang, melainkan “glowing gas” uap menyala. Tidak
semuanya Nebula (kabut itu uap) sangkanya Herschel. Beberapa Nebula
diantara Nebula yang banyak itu mestinya “kumpulan Bintang.
Berbagai-bagai kumpulan bintang itu dinamainya pula Kepulauan Bintang.
Island Universe”.
13 Tahun sesudah Herschel meninggal, Ahli Bintang betul-betul mulai
mengukur satu bintang dengan yang lain. Tetapi perhitungan dengan
mengkur dengan langsung (dengan perkakas!) ada batasnya. Kalau lebih
dari antara 500 tahun Sinar, hasil perhitungan ukuran langsung tiadalah
pasti lagi. Tetapi Ahli Bintang mempunyai jalan lain buat mengukur
antara yang tiada bisa dihitung dengan langsung itu. Jalan itu dinamai
“pulsation method” (nanti akan diuraikan seidkit).
Pemeriksaan baru dengan teori dan perkakas baru banyak sekali
membenarkan pendapat Herschel kini pada garis besarnya. Perhitungan
sekarang tentu lebih tepat dan gambaran Alam sekarang sudah betul-betul
gambaran, potonya Alam Bintang itu.
42 tahun sesudah Herschel meninggal, pemeriksaan dengan spetroscope
membenarkan persangkaan Herschell bahwa kabut susu itu memang gas, uap
menyala, bukan bintang. Warna sinarnya kabut susu itu memang sama
dengan warna gas-menyala “uap menyala”.
Pada Alam Bintang ktia kebanyakan bintang itu terdapat pada daerah
Milkway,
kabut berwarna susu itu. Kumpulan yang rapat sekali pada kabut susu
itu ialah dekat Bintang, berwarna Sagitarius dilangit Selatan. Rupanya
di mata kita saja yang rapat ialah sebab jauhnya. Sebenarnya walaupun
bintang itu semuanya bergerak antara satu bintang dengan yang lain,
amat jauh sekali. Menurut perhitungan kemungkinan buat satu bintang
menghampiri bintang yang lain atau bertempur dengan yang yang lain itu
ialah sekali dalam 600.000.000.000.000.000 tahun (6 x 10).
Keluarga matahari kita letaknya 30.000 tahun sinar atau
180.000.000.000.000.000 mil jauhnya dari pusat. Alam Bintang Kita ialah
arloji pesak kata Herschel tadi. Sedangkan diameter panjanganya sumbu
Alam Bintang kita, adalah 100.000 tahun sinar. (Herschel telah
membayangkan hal ini). Matahari kita ini cuma satu Bintang Menengah
besarnya. Dia cuma satu bintang menengah diantara kira-kira
100.000.000.000 matahari (bintang) di Alam (Unvierse) kita saja.
Matahari lain (bintang) yang plaing hampir dengan kita ada 25.000.000.000.000 mil jauhnya dari kita.
Selainnya dari kumpulan bintang pada Alam Bintang Kita didapat pula Nebula gas menyala,
luminous-gas.
Benda ini terdapat cuma dekat Kabut (berwarna) Susu, Orion, ialah
kabut menyala, paling permai dipandang mata. Beberapa bintang tak
kelihatan sebab ada
opaguedeust (debu hitam).
“Saya lihat bintang” kata Herschell yang sinarnya mesti memakai tempo
2.000.000 tahun buat melayang kebumi kita. 100 tahun lamanya sesudah
Herschel meninggal dipersoalkan: “Apakah beberpa kabut, Nebula yang
diluar Alam Bintang Kita itu kepulauan Alam Bintang Island Universe”,
seperti kata Herschel tadi.
Antara bintang dengan bumi kita sekarang, seperti dibilang diatas dihitung dengan jalan yang dinamai
PULSATING METHOD,
ialah menurut lama “hidup padamnya” satu bintang. Hidup padamnya
bintang itu yang jugad dinamai candle-power atau kodrat-cahaya,
lilinya satu bintang berlainan pada satu bintang dengan bintang yang
lain. Ada yang lamanya cuma beberapa jam saja, ada pula yang 30 hari.
Tetapi tetap buat masing-masing bintang. Terangnya bintang bergantung
(I) pda kodrat cahaya bintang itu sendiri, (II) pada antara. Kalau
satu bintang kita perjauh 2 x dari jauhnya sekarang, maka terangnya
menjadi seperempat. Kalau kodrat cahaya dan terang yang kelihatan di
mata (apparent brightness) keduanya diketahui, maka antara bisa
dihitung lebih lama, pulsation, hidup padam, lebih besar “kodrat
cahaya”. Sudah ditentukan, bahwa kalau hidup padam berlaku dari 2 hari,
maka kodrat cahaya = 260 x kodrat cahaya matahari kita. Kalau 10 hari =
1700 x matahari. Cara menghitung menurut hidup padam ini jitu dan
berguna sekali. Perhitungan menurut teori ini selalu cocok dengan
peralaman dengan perkakas.
Kalau sudah diketahui luas daerahnya Alam Bintang kita dan diketahui
antara bintang Bindang dengan kita, maka kelak kita bisa tahu apakah
bintang itu termasuk ataukah di luar Alam Bintang kita. Masuk Alam
Bintang kita ataukah Alam Bintang lain.
Begitulah Ahli Bintang modern, memeriksa salah satu sinar yang datang
dari salah satu Nebula, kabut; sesudah diketahui “lama
hidup-padamnya”, mak adiketahui pula jauhnya. Jauhnya diperoleh
1.000.000 tahun cahaya, (ingat 1 tahun cahaya = 6.000.000.000.000 mil)
sedang yang luas daerahnya Alam Bintang kita cuma 100.000 tahun Sinar.
Jadi bintang tadi mesti diluar dearah Alam Bintang kita. Disinilah
persangkaan Herschel seperti tersebut diatas sekarang dibenarkan. Juga
spectroscope yang memeriksa warna sinar yang datang dari beberapa
Nebula, menyaksikan, bahwa warna sinar ini tiadalah warna gas menyala,
melainkan warna sinar bintang.
Pendeknya ada lagi Universe, Alam Bintang diluar Alam Bintang kita.
Banyaknya pun Alam Bintang itu sudah bisa ditentukan dengan gambaran
(photo) yang diambil dengan pertolongan teropong bermulut 100 inchi,
ialah 2,5 M. Jauhnya teropong ini memandang sampai kebintang yang
sinarnya baru sampai kepada kita sesudah 500.000.000 tahun. Dalam
daerah bola awang-awang yang mempunyai radius antara dari pusat ketepi,
atau jari-roda 500.000.000 tahun sinar ini terdapat lebih kurang
100.000.000 Alam Bintang atau
Universe. Antara dari satu Alam
Bintang ke Alam Bintang yang lain ialah 100.000 tahun Sinar.
Awang-awang yang sudah bisa dilihat ini ditaburkan “Alam Bintang” yang
hampir sama bentuk, sama bintangdan antaranya satu dengan lainnya.
Sekarang ktia sudah mendapat gambaran yang sederhana dari Alam Bintang
kita dan Alam Raya. Keluarga matahari kita berada dalam daerah Alam
Bintang kita yang mempunyai 100.000.000.000 (seratus ribu juta
bintang). Alam Bintang kita ini berada pula dalam daerah Alam Raya yang
mempunyai awang-awang yang tak terbatas kabut menyala dan debu hitam
dan kurang lebih 100.000.000.000 (seratus ribu juta bintang) Alam
Bintang kita. Menurut perkiraan para ahli Bintang zaman sekarang,
banyaknya bintang pada tiap-tiap Alam Bintang yang 100.000.000 itu
dipukul rata sama. Jadinya kalau begitu kira-kira 100.000.000 x
100.000.000.000 bintang yang sudah bisa dipastikan, yakni:
10.000.000.000.000.000.000 bintang. Juga sudah bisa dihitung jumlah
besarnya (Mass) benda, yakni semua bintang, bulan dan pengikut Bumi
dalam Alam Bintang kita saja. Matahari kita ada 333 x sebesar bumi kita.
Besarnya jumlah benda dalam Alam Bintang kita bukan Alam Raya – ada
333 x 160.000.000.000 x sebesar bumi kita ini.
Camkanlah! Kagumilah Alam Raya kita! Dan jangan pula lupa mengagumi
Ilmu dan perkakas para ahli Falkiyah, yang laam dimusuhi sekurangnya
diawasi oleh kaum berlogika kegaiban.
PEMANDANGAN (MADILOG).
- QUANTITY MENJADI QUALITY, BILANGAN (BANYAKNYA) BERUBAH MENJADI PERUBAHAN SIFAT.
Tak ada barang yang tetap di Alam Raya ini! Kumpulan atom menyala
lambat laun dalam juta-jutaan tahun, turun panasnya seperti semua benda
yang bersinar. Nebula atau gas menyala yang sisanya masih berada di
Alam Bintang kita, lama-kelamaan bertukar menjadi bintang, yakni
matahari. Matahari ini, bintang yang berjuta-jutaan inipun, lambat-laun
berkurang-kurang panasnya sampai kulitnya beku menjadi tanah. Dengan
begitu matahari yakni Bintang Menyala menjadi bumi Panas. Bumi panas,
tetap akan berkurang panasnya dan boleh jadi akan menimbulkan tumbuhan,
hewan dan manusia, seperti bumi kita. Bumi kita kaan berkurang
panasnya dari hari ke hari dan lambat-laun boleh jadi pula akan menjadi
bumi yang penuh hewannya, dengan terus bertumbuhan. Demikianlah takluk
pada hukum Perubahan – banyaknya menjadi perubahan sifat. Semua bumi
dalam Alam Raya, yang seumur dan senasib dengan Bumi kita ini,
lambat-laun akan menjadi Bumi kekososngan manusia hewan dan akhirnya
kekosongan tumbuhan. Tetapi sebaliknya akan timbul pula Bumi dari
beberapa Bumi yang lebih muda dari bumi kita ini.
Demikianlah ringkasnya menurut hukum perubahan
banyak berubah menjdai
sifat
“gas menyala”, lama-kelamaan menjadi matahari, matahari menjadi Bumi
Panas, Bumi Panas menjadi Bumi Manusia. Bumi kita dan akhirnya Bumi
kita menjadi Bumi tak-bermanusia dan seterusnya, tak bisa berhenti
........... karena undang ini terus berlaku, dan lakonnya itu terus
cocok dengan undang ................ cuma lakonnya, lakunya,
pelaksanaannya itu, baru bisa disaksikan dengan pancaindera sesudah
terjadi. Betul itu bisa disaksikan dengan pancaindera, tetapi tiada
semuanya yang sudah terjadi di Alam Raya ini disaksikan oleh pancaindera
manusia. Karena manusia masih muda umurnya berbanding dengan umurnya
Alam Raya seperti satu detik dan jutaan abad.
- NEGATION DER NEGATION. PEMBATALAN KEBATALAN.
Setia pada kelakuan elektron menetang proton buat mengadakan
setimbangan, maka kita sebagai elektron kodrat penolak (-) mengelilingi
Sang Matahari sebagai proton, kodrat penarik (+), buat mengadakan
setimbangan: Keluarga Matahari kita.
Begitulah seterusnya takluk pada undang tolak dan tarik buat
mengadakan setimbangan. Keluarga Matahari kita beredar mengelilingi
Pusat Alam Bintang kita, pusat
Universe kita yang terletak
dekat bintang Sagitarius itu dengan kecepatan 170 mil sedetik selama
225.000.000 tahun (Bumi kita beredar mengelilingi Matahari kira-kira 18
mil sedetik, selama 1 tahun).
Demikianlah takluk pada hukum tarikan dan tolakan juga buat mengadakan “setimbangan”,
Negation der Negation.
Universe lain, Alam Bintang lain, seperti
Universe kita sendiri berputar mengelilingi sumbunya sendiri, laksana kembang Api-Raya, berputar mengeliling sumbunya.
Jadi tak ada yang tidak takluk pada undang “pembatalan kebatalan”,
dalam Alam bergerak dari Atom sampai ke Universe, dari Alam terkecil
sampai ke Alam Raya. Semuanya benda itu bergerak dan semua pergerakan
itu mesti takluk pada Dialektika Materialsme.
Cuma “kosong” yang tiada bergerak. Dan sungguh pula: semua yang tak
bergerak itu “kosong”. Otak yang tidak bergerak itu juga kosong, berisi
kekosongan adalah barang yang tak masuk diakal.
- LOGIKA A = A PERSOALAN PASTI DIJAWAB DENGAN PASTI PULA.
Dalam daerah yang sudah dibatasi oleh Dialektis Materialisme tadi
masih lebih dari cukup lapangan buat bergeraknya Logika. Lamanya satu
benda bertukar menjadi benda lain, perpaduan dan perpisahan benda,
tumbuh dan matinya benda, dan 1001 persoalan lain-lain alat adanya
pertukara itu, bisa dan undangnya kodrat tolak dan tariknya satu benda
terhadap benda lain mesti dihitung dengan Matematika dan dikenali oleh
Logikanya ilmu masing-masing cabang pengetahuan.
Senantiasa banyak peluh-peluh mesti keluar dan otak mesti
berputar-balik buat mengetahui yang belum diketahui. Cuma pemikir
mistikus yang tak perlu memutar-balikkan otak yang mengeluarkan peluh,
buat mengetahui sesuatu perkara. Cuma ahli kegaiban yang sudah
mengetahui semua perkara di Alam Raya ini. dan sungguh pula, yang
mengetahui “semua” perkara di Alam Raya ini ialah Ahli Kegaiban.
Satu
scientist tulen tak akan berkata: Saya mengetahui
semua yang bisa diperalamkan didunia, apalagi di ....................
akhirat! Demikianlah juga sikapnya seorang pemimpin masyarakat yang
jujur dan bertanggungan pada diri dan masyarakatnya, seperti yang saya
kenal di Asia Raya ialah: Guru Kung, di daerah Sungai Hoang Ho di
Tiongkok Utara. Kepada muridnya Guru Kung atau Kung Tju menjawab. Yang
di dunia ini saja engkau belum ketahui apalagi pula yang diakhirat itu.
Pasal 6. APAKAH YANG HIDUP DI BUMI LAIN-LAIN?
Satu persoalan yang berbahaya buat si penjawab. Karena pertanyaan
semacam itu sudah dimonopoli jawabnya oleh ahli-kegaiban. Si penjawab
pertanyaan semacam itu selalu berada disudut mata ahli-kegaiban, dan
penjawab boleh jadi sekali sekurangnya akan kehilangan
gaji,
kalau tiada berlaku licin. Pertanyaan semacam itu sebetulnya tiada
sukar dijawab kalau dua perkara sudah diketahui. Pertama mesti
diketahui alat-adanya Hidup (Life). Kalau keadaan di Bumi lain itu.
Kalau keduanya sudah diketahui oleh seseroang yang mempunyai
“commonsense” artinya pikiran sehat yang sederhana saja, bisa
menjawabnya. Pertanyaan semacam itu boleh dipakai buat latihan murid
sekolah menengah tinggi umpamanya.
Dr. Jones yang memajukan dan menjawab pertanyaan itu tiadalah
mengemukakan persoalan luar biasa dan tiadalah pula memberi uraian dan
jawab yang mengagumkan. Uraian dan jawab Dr. Jones Cuma satu ichtisar
dari pendapatan para ahli Bintang Terkenal pada beberapa abad
belakangan ini. yang menarik saya kepersoalan ini juga bukan karena
keulungan persoalan dan jawabnya. Semata-mata hanya buat menaruh
persoalan semacam itu dibawah suluhnya Madilog. Bagaimanakah bukti
persoalan yang berhubungan dengan persoalan semacam itu tumbuh, hilang
dan bersusun, ialah yang akan diperiksa dan menjadi pokok perkara.
Perkara: Alat adanya Hidup.
Dalam salah satu buku populer saja yang mestinya disebabkan oleh
pemerintah zaman sekarang kita bisa baca diantaranya tiga barang yang
perlu buat hidup kita manusia.: 1. Carbon-hydrates, seperti gula dan
tepung; 2. Gemuk, minyak dan 3. Protein, yakni putih telur. Ketiga
barang itupun sudah kita ketahui terdapat pada tumbuhan dan hewan. Kita
tahu bahwa tebu dan ubi banyak mengandung gula, padi dan ubi banyak
mendangdung tepung. Gemuk kita dapat pada kelapa, kacang, palm, dan
hewan. Putih telur kita dapati terutama pada telur.
Ketiga barang tadi yakni carbon-hydrates, yang kita contohkan dengan
tepung dan gemuk serta putih telur itulah yang menjadi satu tembok
pembikin segala macam bangunan Yang Hidup: tumbuhan, dan hewan dan
manusia.
Dalam Ilmu Kimia, yakni kimia bernama “Organic Chemistry”, kita bisa
pelajari bahwa zat-asli yang menjadi lantai 3 barangnya Yang Hidup itu
ialah
Carbon (arang). Zat-asli
Carbon (C) ini besar
sekali kecapannya buat bersusun dengan teman sejawatnya Carbon yang
lain dan dengan zat asli yang lain. Bukan satu bentuk saja Sang
Carbon
ini bisa bikin, tetapi ratus ribuan bentuk. Bentuk dan sifat
berlain-lain itu diperoleh dengan emngubah banyaknya Atom C dan
mengubah susunannya atom
Carbon itu saja. Tiga zat diatas yakni tepung, gemuk dan putih telur itu cuma beberapa susunan diantara ratus ribuan Sang
Carbon itu.
Dahulu disangka bahwa tepung, gemuk dan putih telur itu cuma Yang
hidup saja yang bisa membikinnya. Laboratorium disangka tidak cukup
membikin. Sebab itu Ilmu buat mempelajari susunan-
Carbon tadi dinamai
Organic Chmistry, Kimia yang Hidup. Nama ini, walaupun Laboratorium sudah bisa membikinnya masih terus dipakai.
Bagaimana kita mendapatkan
Carbon-arang yang bisa diperoleh
dari daerah dan tulang kita, animal charcoal dan boneblack, mudah
sekali menerangkannya. Kita manusia ambil benda tadi dari tumbuhan atau
hewan yang kita makan. Begitu jug ajalannya hewan mendapatkannya!
Tetapi tumbuhlah pabrik yang pertama membikin
Carbon. Dia tidak ambil
Carbon
itu, yakni tak langsung dari tumbuhan lain atau hewan yang digoreng,
direbus, disoto atau sotokan seprti dilakukan manusia. Dia mesti ambil
Carbon
mentah dari alam dan tukar menjadi paduan baru. Bagaimana daun kayu
menghisap CO2 (paduan C dan O, Carbon dan Oxigen dari udara) dan urat
menghisap H2O (air, yakni paduan H dan O) dari tanah. Dengan adanya
benda bernama
Chlorophy dalam daun yang hijau dan dengan memakai
energy yakni kodrat-cahaya (sinar) sang matahari, maka C-nya,
Carbonnya CO2 dipegang dan O yakni
Oxigennya dilepaskan, ia kembali melayang keudara.
Buat yang mau dan bisa tahu lebih dalam dibawah ini dijelaskan bagaimana Laboratoriumnya daun kayu bekerja OH:
H2O + CO = CH2O2 + O atau OH – C ------- O (melayang).
Disini nyata pula bahwa CO2 mestinya ada H2O (air) serta sinar
Matahari mestinya ada. Baru tumbuhan dengan daun hijaunya bisa mengambil
C dan udara melepaskan O ke udara. Udara (atmosphere) bumi kita ada
punya CO2. Pada tiap-tiap 1000 ada 3-4 bagian. Jadi
+ 0,3 –
0,4/100. Udara kita tak akan kekurangan CO2 itu. Hari-hari CO2 terbang
keduara, disebabkan pembakaran. Pembakaran itu ialah perpaduan C
(Carbon berupa arang) dengan O (Oxigen). Lihatlah bagaimana kersnya
nyala arang ditiup, lebih-lebih kalau ditiup dengan Oxigen sejati!.
Perpaduan C dengan O itu mengeluarkan panas. Panas itu ialah
energy, kodrat yang kita manusia dan hewan dan mesin pakai buat bergerak. Semua pergerakan memakai
energy,
memakai panas. Badan kita dan hewan selalu kerja, selalu bergerak,
selalu membutuhkan panas. Panas itu ialah satu bentuk dari kodrat itu ,
kita peroleh dari bakaran C yang ada dalam badan kita, manusia dan
hewan (combustin, tak ada nyala!). Bakaran itu ialah paduan C dengan O,
ini kita ambil dari udara. O ini seperti kita lihat diatas dilepaskan
(dinapaskan) oleh tumbuhan. Anggota (organ) terkhusus dari hewan dan
manusia mengambil O ini dari udara. Buat mendapatkan O untuk
energy
kodrat, hewan dan tumbuhan lama-kelamaan menjelmakan anggota terkhusus
redahan seperti cacing mengambil O dengan lubang kulitnya, ikan dengan
insangnya, kita dengan paru-paru. O yang kita ambil dari udara dengan
nafas kita itu berpadu dengan C yang ada dalam daerah kita. Dia
menimbulkan bakaran seperti kereta api membakar arangnya buat
menimbulkan kodrat bergeraknya: Uap, air, Paduan C dan O, yakni CO2 itu
kita lepaskan dengan nafas keluar, terbang keudara. Jadi dengan nafas
masuk kita ambil O, buat membakar C. Dan dengan nafas keuar kita
lepaskan CO2. Disini nyata kebutuhan bolak-balik antara kita dengan
tumbuhan. Tumbuhan mengambil CO2 dari udara: pegang C-nya dan lepaskan
O-nya. Kita manusia (dan hewan) ambil O yang dipelaskan tumbuhan itu,
pakai sebagai kodrat dengan perantaraan pembakaran, dan lepaskan CO2
ialah hasil pembakaran itu keudara buat diambil tumbuhan.
(Begitu juga zat lain yang ada pada tumbuhan kita pakai dan akhirnya
kalau kita kembali ke-ibu kita, ke-bumi kita, zat kita diambil pula
oleh tumbuhan itu! Demikian juga ada pertukaran rapat antara tumbuhan,
hewan dan manusia tentangan zat asli).
Pertukaran zat asli antara ktia dan tumbuhan itu berlaku pada hawa
yang cocok dan tepat buat semua yang hidup. Hawa atau iklim itu tak
boleh terlampau tinggi dan tak boleh terlampau rendah. Semua paduan
bisa dipisahkan pada hawa yang tinggi. Pada bintang yang paling panas
tak bisa ada paduan, seperti CO2 dan H2O (air). Paduan seperti tepung,
gemuk dan putih telur, ialah zatnya Yang Hidup sudah tentu sama sekali
tak bisa dipikirkan disana. Pada hawa yang tinggi panasnya itu terdapat
pada tingkat atom belaka. Pada matahari kita, yang berhawa lebih
kurang 6000º C, cuma sedikit paduan teradpat yang bisa menolak
perpisahan atom padanya. Disini cuma ada Silicon Fluoride (paduan pasir)
dan Cyanogen. Pada satu bagian bernama “Sunepots”, bopengnya matahari,
hawa itu turun sampai lebih-kurang 5.000 Cº. Disini terdapat paduan
sederhana, seperti:
Titanium Exide,
Carbon Oxiden dan lain-lain. Pada bintang yang hawanya lebih kurang 3000 Cº,
Spectra (warna sinarnya) membuktikan adanya paduan yang sederhana juga, seperti paduan dengan
Titanium,
Sirconium Oxide,
dsb. Paduan sederhana ini tak didapat pada tempat lain yang lebih
panas. Ringkasnya lebih sulit susunan molekulnya. Sesuatu benda lebih
mudah atomnya berpisah disebabkan panas yang tinggi. Susunan molekulnya
semua yang Hidup itu sulit sekali. Sebab itu tak perlu tinggi sekali
hawa, buat membatalkan adanya. Barangkali pada hawa lebih dari 655 Cº
tak ada lagi Yang Hidup.
Buat kita manusia hawa beribu Cº itu tentulah perkara mustahil buat
hidup. Pada 100 derajat C saja, air sudah mendidih! Walaupun pada hawa
semacam itu badan kita yang lemah ini belum akan lebur dan mendidih
seperti air, tetapi pasti akan berpisah dari rohaninya. Dokter kita
sudah menggeleng-geleng kepala kalau panas ditempatnya si sakit yang
dirawatnya baru sampai ketingkat 42 drajat C saja. Hawa Jakarta yang 31
drajat C itu saja sudah menyebabkan penduduknya keluh kesah
puntang-panting mencari lindungan, kipas dan air es, kalau teriknya
sampai kepuncak.
Terlampau dingin, juga memustahilkan Yang Hidup. Hawa dingin tidak
memisahkan paduan. Tetapi hawa sejuk itu menyebabkan jiwanya Yang Hidup
itu latent, tidur. Kalau begitu semua proses, pekerjaan dalam badan
Yang Hidup itu berhenti, seperti hewan yang hidup terus dalam musim
dengan dikedua kutub di bumi kita. Kemajuan Jasmani tiada akan didapat.
Kemajuan kerjanya (proses) anggota yang hidup itu memerlukan kodrat,
energi: Di bumi ini kodrat itu diperoleh dari matahari. Benda – 8 (38) .
hijaunya daun kayu (krolofil), seperti kodrat diatas dengan kodrat
matahari merebut Carbon (C) dari udara. Carbon ialah benda dasar kita
dan hewan buat mengadakan kodrat panas, buat segala-gala pekerjaan.
Panas itu berasal dari bakaran pula, yakni Paduan C tadi yang kita
ambil dari tumbuhan tadi (makanan) dengan O (Oxigen) yang dinapas
keluarkan oleh tumbuhan pula.
Ringkasnya kodrat kita manusia dan hewan berasal pada tumbuhan dan
kodrat tumbuhan berasal pada Sang Matahari. Dewa Ra dalam arti Ilmu
Bukti zaman modern. Kalau sinar yang diterima dari bumi lain dan bumi
kita kurang panas, maka disana tumbuhan tak bisa hidup. Seterusnya
hewan dan cucunya manusia itu, tak pula akan mendapat benda (C) dan
kodrat (O) buat hidup. Dewa Ra umpamanya bisa mengeluarkan 13 firman
dalam satu detik, pada matahari pastilah tumbuhan tak akan bisa timbul
dan terus hidup janganlah lagi hewan atau manusia dua diantara
beberapa.
Sekarang sudah kita ketahui zat-asli yang perlu buat Yang Hidup
disesuatu bumi, diantara C dan O. Sayhdan kedua benda ini walaupun ada
terdapat ditanah berpadu dengan zat asli lain-lainnya, cuma bisa
diambil oleh tumbuhan dari udara saja. (Yang saya maksud dengan duara
ialah atmoshere, bukan awang-awang, kosong, empty space!). Diudara C
itu berpadu dengan CO2 dan O itu ada yang berpadu dengan CO2 tadi dan
ada yang merdeka. Udara bumi kita pada tiap-tiap bulat 100, mempunyai
79 bagian Nitrogen (N). Lebih dari 20 bagian O (Oxigen), dan 0,3-0,4
bagian CO2, dan sedikit lagi zat asli lain seperti, Ozone, Helium,
Neon, Argon dll. Dan juga awan mengandung air.
Kita sudah mempelajari, bahwa tak ada barang yang tetap di Alam kita
ini. semunya dalam gerakan! Kalau ia berhenti, maka hal itu disebabkan
setimbangnya kodrat menarik dan menolak. Satu saja elektron lepas dari
setimbangannya itu, ida terus lolos dari alam atomnya yang terkecil
itu. Gas yakni uapnya sesuatu barang cair atau beku itu oleh ahli bukti
dianggap sebagai kumpulan molekul. Molekul ini walaupun “biasanya”
paduannya berlainan atom masih barang kecil, tak bisa dipandang mata.
Dalam satu kotak yang tiga sisinya masing-masing cuma 1 inchi, yakni 2 ½
cm, banyaknya molekul itu lebih kurang 500 juta milyar atau dengan
angka 500.000.000.000.000.000.000 (camkanlah!).
Sang Molekul ini terus bergerak: “terbujur lalu terbelintang patah”.
Artinya kalau tak ada yang menghambat dia terus jalan lurus menurut
hukum Newton. Kalau bertemu dengan yang lain, maka dia berpadu atau
terus menolak, cocok dengan hukumnya tarik tolak. Molekul yang dikurung
dalam satu botol, terus menghantam dan menerjang botol itu. Kalau
banyaknya molekul bertambah 2 x, maka kuat terjangnya juga 2 x.
Matematika yang mempelajari watak dan kuatnya molekul berkumpul inilah
yang jadi pokok perkaranya kinetik, Teori Gas yaitu Undang bergeraknya
uap. Menurut Ilmu ini, maka
Hydrogen lari dengan kecepatan 1,15
mil dalam 1 detik. CO2 0,25 mil 1 detik: O 0,29 mil 1 detik dsb.
(tetapi kecepatan itu tergantung kepada hawa-hawa, makin tinggi hawa
makin cepat larinya!).
Berhubung dengan gerakan terus-menerus itu, pada alam atom, antara
proton dan molekul, di dunia molekul yang selalu mau menerjang itu:
pada Keluarga Matahari dimana Sang Bumi kelungkang-pukang mengedari
Matahari, tentulah mestinya timbul pertanyaan dalam kepala kita: 1.
Mengapa udara,
atmosphere kita tak lolos dari bumi kita? 2.
Kenapa zat asli C dan O itu tak lolos, lari dari udara kita? (yang 1
perkenaan sekali dengan 2).
Pertanyaan ini penting sekali. Kalau kedua zat asli saja yakni C dan O
itu bisa lolos dari udara kita dan udara kita seluruhnya bisa lolos
pula dari bumi kita, maka semua kemungkinan hidup dan hidupnya semua
kemungkinan lolos pula.
Buat menjawab pertanyaan “kenapa udara kita tak lolos dari bumi kita”
kita mengingat lagi Newton, yang mendapatkan hukumnya “bumi menarik”,
sesudah hidungnya ditimpa buah apel yang kecil itu. Dengan kodrat bumi
kita menarik buah apel tadi, dengan kodrat itu pula bumi kita menarik
udara bumi kita. Pegang teguh udara itu, bawa lari mengedari matahari
pada lingkungan yang 337.000.000 Km panjangnya melalui awang-awang.
Bagi yang keluaran sekolah menengah sudah tak asing lagi persoalan
semacam ini.
Tetapi apakah di sekolah menengah sekarang sudah diajarkan “kenapa
CO2, O dan lain-lain zat asli tak lolos dari udara kita”, saya tak
tahu. Bagaimana juga tak ada salahnya buat diuraikan disini dengan
sekedarnya. Karena inilah yang jadi salah satu kunci persoalan: Kalau
pada satu bumi tak ada CO2 atau O, yakni kalau mereka
bisa lolos, maka semua perkara perhubungan dengan yang hidup itu
lolos
pula. Tetapi sebaliknya “kelolosan persoalan semacam itu dalam
pergaulan manusia” tidaklah menjadi tanggungan, bahwa tak ada CO2, O dll
dibumi lain. Persoalan semacam itu lolos dari kepalanya Kaum Kegaiban.
Meskipun begitu CO2 itu masih ada di dunia kita.
Sedikit diminta kesabaran para pembaca!
Andainysa satu batu yang jatuh dari atas yang “tak berbatas”
(infinitely) tingginya. Andaikan pula bumi ini, tunggal tak terpencil
diawang-awang. Tak ada bintang yang menariknya, mempengaruhi jalannya
dan kekuataannya menarik. Menurut hukum Newton maka batu tadi akan
jatuh dengan kecepatan yang tetap naiknya. Pada satu tempo dia akan
sampai ke tanah dengan sesuatu kecepatan (V). Kcepatan V ini akan
mendapat nilai yang berbatas” (finite), walaupun “ketinggian” dari mana
dia jatuh tak terbatas. “Para ahli menghitung” V dari formula:
V² = 2 CM/a
C = tarikan yang tetap oleh bumi.
M = massa jumlah zatnya bumi
a = radius antara pusat kelingkaran, seperti jari roda.
Jadi kalau sebaliknya batu tadi dilemparkan keatas dengan kecepatan
V, maka ia akan sampai ke atas yang tingginya tak berbatas pula. Karena
ia diandaikan jatuh dari ketinggian yang tak berbatas pula. Sesudah
sampai keatas yang tak berbatas tingginya tadi dilemparkan dengan
kekuatan kurang dari V, dia tak akan sampai ketempat tak berbatas tadi.
Dia akan berhenti sebentar seperti peluru ditembakkan dan “kembali” ke
tanah ditarik bumi. Batu tadi tak bisa lolos dari bumi. Sebabnya,
ialah semua macam kecepatan yang “kurang” dari V itu sama dengan (=)
atau “lebih” dari V (tak boleh kurang dari V). Sebab itulah maka V ini
dinamai “Kecepatan batu bisa lolos” (velocity of escape). Kecepatan satu
atom baru bisa lolos dari sesuatu bumi itu boleh juga kita namai
kodrat bumi itu memegang atau menarik atom.
Sekarang kita bisa hitung “kecepatan melangkah yang perlu buat sesuatu benda supaya bisa lolos dari bumi kita”.
Pada formula V² = 2CM/a, diatas kita tahu C yakni constant,
ketetapannya kodrat bumi kita menarik = 6,67: 10,8. Masa jumlah zatnya
bumi, yakni M = 5,97 x 10 gram, a yakni radius bumi kita = 6,37 kali 10
pangkat 5 cm.
Begitulah kita peroleh V = 1,13 kali 10 pangkat 6 cM (detik = 11,3 Km); detik = 7,1 mil dalam satu detik.
Perhitungan diatas tak perlu dipelajari para pembaca yang tiada
beruntung mendapat latihan cukup. Tetapi boleh dilupakan hasilnya
perhitungan Sir James Jeans yang dibawah ini: Kalau kecepatan baru bisa
lolos (V) itu pada satu bumi = 4 kali kecepatan molekul lari, maka
bumi itu akan kehabisan udara dalam 50.000 tahun. Kalau kecepatan baru
bisa lolos 4 ½ kali kecepatan molekul lari maka bumi ini akan
kehilangan udara dalam 30.000.000 tahun. Kalau kecepatan baru bisa
lolos = 5 kali kecepatan molekul lari perlu memakai tempo
25.000.000.000 tahun buat menghabiskan semua udara yang memalut bumi
itu. Jadi dalam hal itu tak perlu takut kehilangan udara. Menurut
perhitungan diatas maka kecepatan satu atom baru bisa lolos dibumi kita
ini (V) ialah 7,1 mil dalam 1 detik. Jadi jauh lebih dari 5 kali
kecepatan larinya O02 yang cuma 0,2 mil satu detik itu, ataupun O yang
cuma 0,29 mil, satu detik itu. (Buat hitung menghitung mesti
diperhatikan hawa). Pembaca tak perlu kekurangan tidur, takut Sang CO2
dan O yang mengandung zat dan kodrat yang hidup itu tak pula akan bisa
lolos, walaupun kita manusia cukup lama tidur.
Sekarang tentang pengetahuan tentang alat O adanya Yang hidup itu
kita bisa periksa pada para bumi, keluarga matahari kita, apakah disana
terdapat semua alat adanya itu. Kalau terdapat, maka boleh jadi sekali
Yang Hidup itu terdapat disana. Meskipun belum pasti, bagaimana,
timbulnya” jiwa sejarahnya benda mati sampai benda-hidup, kita tak akan
jauh dari kebenaran kalau berhak; jikalau alat-adanya Yang Hidup di
bumi kita ini diperoleh di bumi lain, maka boleh jadi sekali disana ada
Yang Hidup, meskipun dalam garis kecilnya Yang Hidup disana itu
berbeda dengan Yang Hidup dibumi kita.
Tetapi sebelumnya pemeriksaan dijalankan, baiklah kita beri ringkasan dari alat adanya Yang Hidup dibumi kita ini.
- Hawa yang tak boleh lebih dari lebih-kurang 150 derajat F yakni 65,5 Cº, dan tidak pula banyak kurang dari itu.
- Adanya air diudara sebagai awan atau ditanah sebagai sungai,
danau dan lautan. Taka da tampang yang bisa tumbuh pada tanah
kering sema sekali. Badan kita, hewan dan tumbuhan perlu air.
Perbandingan air dan tanah mesti cocok.
- Cukup kodrat buat semua gerakan. Sinar matahari buat
mengambul Carbonnya CO2 diudara dan menghembuskan O2-nya keduara.
Keduanya untuk hewan dan manusia buat menimbulkan kodrat panas
dengan jalan perpaduan C dan O dalam badan ktia. Pendeknya CO2
dan O sebagai sumber kodrat Yang Hidup mesti ada diudara.
- Ozon, O³ sebangsa dengan O juga, tetap banyak terdapat
atomnya berlainan sangat berbahaya, tetapi sangat pula perlu buat
mansuia, maka Ozon terlampau banyak, manusia tak bisa hidup. Kalau
tak ada Ozon, tak ada pula benda pengisap sinar berombak pendek
namanya. Sinar yang berombak pendek ini membahayakan mata kita.
Mujurlah Ozon yang berada lebih kurang 30 mil diatas kita itu
memegang semua sinar berombak pendek itu. Sang Ozon janagan banyak
dan jangan tak ada, begitulah mestinya! Selainnya dari itu CO2
dan O mesti bisa dipegang oleh udara bumi kita, jadi tak boleh
lolos. Pendeknya bumi mesti cukup buat kodrat memegang kecepatan
baru bisa lolos.
- Zat racun seperti Amonia, Chlorine, dan CO (bukan CO2 yang
mempunyai 2 atom!) semuanya racun bua thewan dan manusia. Zat ini
mesti berada dalam keadaan yang tidak membahayakan.
K E B U L A N
Dengan semua perkara ini diotak kita, marilah kita dngan kecepatan
kilat terbang dari bumi ke bumi buat memeriksa keadaan di bumi lain
pada keluarga matahari kita, terbang dari bumi ke bulan.
Kalau tidak karena bulan dimana kan bintang terbit pagi.
Kalau tidak karena tuan dimana kan “hamba datang disini”.
(Pantun yang mashur di Indonesia dan Semenanjung Tanah Malaka).
“Beringin songsang dibulan! Tempatnya putri bertenun”.
(Pemandangan pemuda Minangkabau dihutan itu).
Bergelanggang mata orang banyak.
Bersuluhkan bulan dan matahari.
Jadinya umum, berterang-terang, disaksikan oleh ramai, merebut publik
opinion, inilah salah satu sendinya Minangkabau masa demokratis, masa
kuat kedalam dan keluar.
“Selama bulan dan matahari”.
Sumpah di Semenanjung Tanah Malaka.
“Damarwulan” Mendang Kemulan, Dewi Nawangwulan, nama berseri
gilang-gemilang, tetapi sejuk segar. Semangat Jawa masa dulu, akhirnya
buat diringkaskan saja.
“Pelajaran ke-Bulan”.
Karangan Jules Verne, bukan Joyoboyo, pengimpi ulung, melainkan Ahli
Kisah berdasarkan: Ilmu Buti pada masanya, atau Ilmu Bukti yang
didasarkan atas pengetahuan nyata pada masanya.
Demikianlah peramai dan pentingnya bulan, bagi Rakyat Indonesia dan
Eropa dan tentu juga bagi penduduk lain dibagian lainnya bumi kita ini,
terutama buat penyair putra dan putri muda remaja.
Memang bulan, paling dekat pada kita, sinarnya menyegarkan badan.
Kalau Sang Bulan ketika Purnama Raja mengintip dari celah daunnya pohon
yang rimbun, atau dari puncak gunung memancarkan cahanyanya keatas
sungai, danau dan laut, terlebih-lebih pada alam Indonesia ini,
timbullah pikiran melayang membayangkan keterima kasihan kesukaan dan
kekaguman. Ada pula ahli yang menyangka bahwa bulan mesti mempunyai
Yang Hidup, dari tumbuhan sampai manusia.
Pemeriksaan sekarang boleh dibilang cukup, memberi kecewa sekali pada penyair, pemuda dan ahli
Jauhnya bulan cuma 250.000 mil dari bumi kita. Satu kapal terbang
melayang nonstop, tak berhenti, dengan kecepatan 400 mil satu jam, bisa
sampai kesana tiga setengah minggu. Tetapi seoarang
scientist akan ketawa! Tak ada apa-apa akan dijumpai disana, dan dia selalu dalam bahaya!
Poto, gambaran sempurna sudah bisa diambil. Karena dekatnya bulan,
maka satu gedung yang pesat yang sudah di bumi kita ini mesti dapat
diteropong, ialah dalam keadaan iklim yang baik. Gunung besar disana,
laut kawah, bersumbu 142 mil nyata dilihat. Kawah dapat dihitung!
kecepatan baru bisa loloskan “satu zat asli” pada bulan yaitu cuma 7,5
mil dalam satu detik. Pada bumi kita zat asli baru bisa lolos dengan
kecepatan 7,1 mil dalam 1 detik. Hawa panas 120 derajat C (bandingkan
dengan hawa Jakarta pukul rata 31 derajat C, dan batas hawa tertinggi
buat Yang Hidup, yakni 65,5 derajat C). Berhubung dengan hawa 120
derajat C itu, maka sepanjang perhitungan ahli, Bulan itu bisa memegang
CO2 dan gas (uap yang lebih berat, tetapi O3 dan uap yang lebih ringan,
termasuk juga Nitrogen, awan mengandung air, Helium dan
Hydrogen
mesti “lolos” dari Bulan terbang melayang keawang-awang. Tetapi pada
waktu mudanya Bulan, panasnya lebih tinggi. Cocok dengan keadaannya
maka tak mengherankan kalau Sang Bulan sekarang tak mempunyai udara
sama sekali. Bisa dipastikan bahwa air sama sekali tak ada di Bulan.
Pada hawa begitu tinggi, udara dan air tak ada, tentulah adanya Yang
Hidup tak bisa masuk akal. Sungguh malang pemuda Minangkabau dengan
“putri bertenunnya” Jules Verne pun, scientist ulung, pada masanya akan
merombak kisahnya kalau sekarang masih hidup. Umpamanya seorang sampai
kesana, ia bisa dilindungi dirinya dari teriknya siang hari, dan
sejuknya malam. Tetapi dia mesti lindungi pula dirinya dari “peluru”
pasir yang jatuh disana dengan kecepatan sama dengan peluru bedil kita.
KE MERCURY
Juga mempunyai kodrat memgang atom amat rendah, dekat pada Bulan,
lebih 2.4 mil satu detik. Sebab paling dekat pada Matahari dan
sebelahnya selalu berhadapan dengan Sang Matahari, maka hawanya pada
belahan yang dekat ini pukul rata 400 derajat C. Pada hawa 400 derajat C
ini maka sesuatu zat di Bulan adalah 1,57 x lebih cepat larinya dari
dalam hawa O derajat C).
Mercury bisa pegang CO2 dan O, tetapi
gas yang lebih ringan mesti lolos. Yang 400 derajat C itu ialah pukul
rata. Sebagain tempat tentu berhawa jauh lebih tinggi dari 400 derajat.
Dalam hal ini
mercury sama sekali tak bisa pegang duara.
Bagaimana juga hawa yang 400 derajat C memustahilkan adanya yang hidup.
Seng (zink) pun hampir lebur pula pada hawa 400 derajat C itu. Jangan
lagi pada manusia!
KE SATELLITE (BUMI PENGIKUT)
Mars ini mempunyai
Satellite, sepreti bumi kta
Satellitenya ada dua, Jupiter 11, Saturnus 9, Uranus 4, Neptunus 1.
Apakah yang hidup disalah satu
Satellite?
Besarnya
Satellite berlain-lainnan, begitu juga kecepatan
baru bisa lolos “Zat Dunia”. Ganemede, ialah pengikut Jupiter satu
pengikut yang terbesar adalah 2.10 x sebesar Bulan. Kecepatan lolos
satu atom 1,8 mil satu detik. Erona, pengikut Jupiter juga besarnya
cuma 0,65 dari bulan.
Kecepatan lolosnya 1,3 mil dalam satu detik. Kekuatan memegang atom
kecil sekali. Sebab itu atom yang cepat larinya bisa lolos. Tetapi
hawanya rendah pula sebab itu mungin mereka bisa pegang uap yang berat.
Makin berat saut barang, maka lambat larinya, tetapi sebelumnya mereka
(Satellite) itu dingin seperti sekarang mestinya mereka melalui tempo
yang panas sekali. Sebab itu kalau disana masih ada udara mestinya
seidikit sekali. Tetapi walaupun ada udara, hawa terlampau sejuk buat
Yang Hidup.
KEARAH EMPAT BUMI RAKSASA.
Jupiter, Saturnus, Uranus dan
Neptunus, keempat jauh lebih besar dari bumi kita. Begitu juga buat kecepatan menahan atom lolos adalah besar sekali.
Jadinya kekuatan memegang atom besar sekali mustahil. Buat
Hydrogen
dan atom yang lebih berat bisa lolos. Meskiupn pada masa mudanya
mereka ada dalam hawa yang panas sekali, menurut perhitungan ahli bumi
Raksasa ini mesti masih pegang udaranya. (Jangan lupa: makin panas
makin cepat larinya atom dan makin susah memegangnya, menariknya).
KE JUPITER.
Lebih kurang 317 kali sebesar bumi kita. Kecepatan buat lolosnya satu
atom juga besar ialah 38. diantara empat ini paling besar dan paling
dekat pada bumi kita (Ingatlah tanah Lapang Gambir). Teropong sedang
saja sudah bisa dipakai buat memeperamati bumi ini. antara terbesar
dengan bumi kita ini ialah: 600.000.000. mil. Yang terdekat 367.000.000
mil walaupun antara terjauh dengan teropong yang membesarkan 60 kali
saja, Jupiter sudah kelihatan sebesar bulan.
Kalau dilihat dengan mata telanjang, teori dan peramatan membuktikan
bahwa Jupiter berudara. Jupiter bukanlah benda menyala. Hawa dekat
tanahnya dingin sekali cuma 140 derajat C (140 derajat dibawah C).
Tetapi udaranya tak mengandung O (Oxygen) ataupun CO2. semuanya awan
mengandung air sudah menjadi beku. Sebaliknya banyak sekali mengandung
Amonia dan marah gas, uap busuknya paya yang mengandung racun.
Berhubung dengan tak adanya CO2 dan O ataupun awan mengandung air
diudara, dan sebaliknya karena banyak adanya uap racun, maka meskipun
Jupiter juga bergunung dan bertanah logam seperti bumi kita, mustahil
bisa memberi kemungkinan pada Yang Hidup.
KE SATURNUS.
Lebih kurang 45 kali sebesar bumi kita. Bergubung dan bertanah logam
juga seperti bumi kita. Susah pula lolos buat suatu atom. Kodrat bumi
Saturnus buat memegang sesuatu atom ialah 23. disana banyak udara. Hawa
lebih rendah lagi dari di Jupiter, ialah 155 derajat C.
Bukanlah hawa rendah ini yang memustahilkan adanya Yang Hidup,
melainkan tak adanya CO2, O atau awan pada satu pihak dan adanya Uap
racun pada lain pihak?
KE URANUS
Bumi ini jauh sekali buat diperamati dengan teropong. Tetapi
sekadarnya bukti diperoleh juga. Banyak persamaannya dengan kedua bumi
diatas. Besarnya lebih dari 14 kali sebesar bumi kita. Hawa lebih
rendah lagi, yakni 184 Cº. Kodratnya memegang atom ialah 14, jadi besar
juga. Cukup udara, tetapi juga tak mempunyai CO2 dan O atau awan.
Sebaliknya ia mengandung racun. Semunya mustahillah buat Yang Hidup.
KE VENUS
Inilah bumi yang mengandung harapan, harapan yang mengandung buminya
manusia! Hampir sebesar bumi kita. Diameter (sumbunya), 7.700 mil,
sedangkan sumbunya bumi ktia 7.927 mil. Luasnya buminya jadinya 5 %
kurang dari bumi kita. Beratnya 4/5 bumi kita. Venus dapat gelaran
Saudara Kembarnya Bumi kita, karena besar dan beratnya itu hampir sama.
Jauhnya ke Sang Matahari, pabrik cahaya, Sinar dan Kodrat, lebih
kurang 2/3 dari antara kita dan matahari. Kalau Bulan paling dekat pada
kita, maka ia ada 25.000.000 mil. Selainnya dari Bulan tak ada yang
lebih dekat. Kekuatan memegang atom yaitu kecepatan baru atom bisa
lolos dari sana juga hampir sama ialah 6,5. pada bumi Venus, hawa itu
lebih dibawah hawa air mendidih (100 derajat C). Menurut teori mestinya
ada udara di Venus. Peralaman membetulkan teori itu pula.
Kalau ada O di Venus mestinya sedikit sekali. Tetapi bisa disaksikan,
bahwa CO2 banyak sekali. Oleh Adams dan Dunham pada tauhn 1932 dan
dibelakangnya oleh Adel dan Sliper banyaknya CO2 dihitung 2 mil
tebalnya. Awan juga ada. Nitrogen yang mengambil bagian 79 % pada bumi
kita ini disana didapat cuma kurang sedikit saja, sebab dia disana
lebih mudah lolos dari dibumi kita apabila hawa disana turun dari hawa
air mendidih, maka uap air menjadi air dan membentuk danau dan lautan.
Diudara tinggal CO2 dan N, Argon, Neon dll.
O itu ialah satu zat asli yang
active (lasak, jalang, liar).
Dia selalu mau berpadu dengan zat asli lain. Kalau ada dia diudara
seperti dibumi kita, maka adanya itu disebabkan adanya tumbuhan.
Seperti sudah diketahui dahulu, tumbuhan menapas-masukkan CO2 dan
menapas-keluarkan O.
Pada hawa yang cuma sedikit kurang dari hawa-air-mendidih, semua daun
tentu layu, dan berhubung dengan itu Yang Hidup mustahil bisa timbul.
Pendeknya boleh dipastikan bahwa Venus belum lagi mempunyai Yang Hidup.
Atau kalau sudah ada bentuk Yang Hidup itu, baik diatas air ataupun
diatas tanah, buktinya belum bisa disaksikan. Beginilah pula keadaan
bumi kita beberapa ratus-juta tahun yang lampau.
Tetapi Sang Matahari kita yang dermawan itu yang setia menghadiahkan
sinarnya pada kita dari sehari ke bulan dari bulan ketahun dan dari
tahun keabad akan terus kehilangan panas pula. Begitu juga Venus dan
Bumi kita. Akhirnya Venus akan sampai ketingkat hawa bumi kita dan bumi
kita sampai ketingkatnya Mars.
KE MARS
Bumi Mars banyak sekali menarik perhatian serta mengonyangkan otak
dan penanya tidak bisa disangkal lagi. Tetapi adanya hewan dan manusia
masih didalam persoalan semata-mata. Para pembaca yang tertarik oleh
persoalan yang penting semacam itu saya persilahkan membaca buku yang
bersangkutan. Buat saya yang peting disini ialah caranya para ahli
memeriksa dan hukumnya evolusi (ketumbuhan) alam ktia ini dari atom
sampai kemanusia.
Inipun disini seperti diatas akan ditunjukkan dalam garis besarnya saja.
Adanya tumbuhan sudah tentu membutuhkan tanah logam, air dan udara
sebagai benda alat adanya tumbuhan itu. Yakni menurut pikiran sehat,
pikrian hari-hari kita manusia. Bukan menurut pikiran para ahli
kegaiban yang bisa menciptakan surga, taman dan bidadari bermata
seperti mata burung merpati dilaut kelzuk, entah berantah itu, dengan
tidak memeriksa alat adanya lebih dahulu.
Kembali kita kepada pikiran biasa kita di dunia fana kita ini, maka
tanah, air, dan udara yaitu menurut teori dan peralaman memang ada
dibumi Mars. Adanya tanah dan air lebih mudah disaksikan baik dengan
teori ataupun dengan poto. Tetapi adanya atau tidaknya udara ada
sedikit lebih sulit.
Diameter (sumbunya) Mars, ialah 4.215 Mil, jadi sedikit lebih dari ½
sumbunya bumi. Beratnya mars sepersepuluh dari bumi. Kekuatannya
menarik pada bagian tanah dihtung 2/5 dari bumi kita dan kekuatan
memegang atom, atau kecepatan buat lolosnya atom pada bumi Mars itu
ialah l.k 3 mil dalam satu detik, jadi kurang dari ½ nya bumi kita.
Hawa dibumi mars, di khatulistiwanya bisa sampai 50 derajat
(Fahrenheit) atau 4 derajat C pada waktu luhur dan turun sampai 13
derajat F pada malam hari. Syahdan para ahli dalam teorinya mengira ada
(nya) udara dibumi Mars. Tetapi udara itu mestinya lebih renggang dan
kurang isinya dari yang dibumi kita.
Juga poto memasikan adanya udara itu. Di kutub bumi Mars dilihat ada
es. Besarnya onggok es ini berubah dengan perubahan musim. Pada musim
panas dikutub itu onggok lebih kecil dari di musim dingin. Para ahli
menyimpulkan, bahwa sebagian besar dari onggok itu menjadi cair. Air
ini sebagian menguap keudara, menjadi awan Dr. Wright, kerja pada
Lick Observatory, Amerika, mengambil gambar dengan warna yang dinamai
infra-red
(merah tua). Gambaran dengan warna ini bisa sampai ketanah bumi Mars,
mesti menyelami udara. Tetapi poto dengan warna ultra-violet terhambat
oleh udara, tak bisa menyelaminya. Jadi warna
infra-red
menyaksikan udara tadi. Disaksikan udara itu lebih renggang dan lebih
kecil isinya dari di bumi kita. Juga adanya awan bisa disaksikan
dengan poto tadi. Percobaan buat menentukan adanya dengan gambaran
tidaklah berhasil. Tetapi dengan jalan tak tanggung bisa ditentukan
adanya O itu. Bumi Mars memperlihatkan warna merah. Warna merah inilah
memastikan adanya O. Warna ini cocok dengan warna gunung tanah logamnya
berpadu dengan O (opodised rocks). Di bulan warna gunung itu coklat
(brownish). Sebab tanah logam disana tak berpadu dengan O. Menurut
perhitungan banyaknya O dibumi Mars cuma ............. dari yang dibumi
kita. CO2 tiada terdapat. Ini tiada mengherankan dan mengecewakan.
Karena CO2 ini mesti berada banyak sekali baru bisa disaksikan. Pada
bumi kita saja CO2 cuma 3-4 bagian dalam 1000 bagian. Walaupun perkakas
tidak atau belum dapat menyaksikan, tetapi bukanlah berarti bumi Mars
tak ber CO2 diudaranya.
Adanya O diudara Mars, tak perduli apa O itu sekarang atau dulu
adanya di udara itu menyaksikan, bahwa bumi Mars mestinya mempunyai
tumbuhan. Ini simpulan teori. Kita maish ingat, bahwa O itu atom yang
paling jalang, liar. Dia tidak bisa lepas sendirinya, merdeka,
melainkan dia mau berpadu dengan atom lain. Tetapi kalau ada tumbuhan,
maka diudara mesti selalu ada O, karena selama ada tumbuhan selama
itulah tumbuhan menapas kedalamkan CO2 dan menapas keluarkan O. Teori
ini dibesarkan pula oleh poto. Poto memperlihatkan perubahan warna di
bumi Mars. Perubahan itu bersama-sama dengan perubahan musim. Percival
Lowell, pembangun
Observatory Hastaff (Amerika lagi) tahun
1894 menganggap daerah yang gelap pada bumi Mars itu daerah bertumbuhan.
Yang berwarna merah itu tidak bertumbuhan.
Adanya tanah, logam, air, udara, CO2 dan O membolehkan jadikan adanya
tumbuhan. Dan tumbuhan ini seterusnya menjadi alat adanya hewan dan
hewan berakal, ialah manusia. Adakah hewan dan hewan berakal itu dibumi
Mars?
Pertanyaan ini tentulah banyak menarik perhatian. Tetapi ada atau
tidaknya hewan dan manusia dipendekkan dengan Hewan (& Co),
taidalah pada satu pihak membatalkan, bahwa hewan % Co itu bisa dan
mesti ada kalau alat adnaya evolusi (kemjuan). Pada lain pihak
taiadalah pertanyaan itu membenarkan bahwa: Hewan % Co dibikin dari
kosong dalam sekejab mata saja.
Adanya manusia disana tentulah tak bisa dipastikan dengan perkakas.
Boleh jadi pada masa depan ada perkakas yang bisa memastikan Hewan
& Co itu dengan langsung, seperti poto sudah bisa memastikan banyak
diantara benda di bumi lain itu cukup kuat buat mengambil gambar
sebesar orang ataupun gajah dibumi yang jutaan KM. jauhnya itu,
potograpi bisa mengambil gambar dari “bikinan” hewan yang berakal.
Kalau seandainya ada maha gedung disalah satu bumi yang tak terlampau
jauh, potograpi bisa menggambarkan. Bikinan Hewan Berakal inilah yang
sudah lama dicari oleh para ahli dibumi lain, yang keadaannya hampir
bersamaan dengan bumi kita ini. keadaan hampir bersamaan itu terdapat
dibumi Mars dan Bikinan Hewan Yang berakal itu juga pernah dianggap
sudah terdapat disana. Pada tahun 1877 Schearparelli, ahli Italia
mendapatkan garisan kehitaman yang berilang-siur didaratan yang
dinamainya “benua” yang memperhubungkan lauatan satu dengan lainnya.
Garisan kehitam-hitaman itu dinamai canali, terusan (air). Terusan
inilah yang menjadi pokok persoalan para ahli lama sesudahnya
Scheaparelli mengumumkan pendapatnya. Lowell, ahli Amerika yang sudah
kita sebut diatas, menganggap terusan (air) yang panjang terus dan
teratur sekali itu, yang cocok dengan geometry itu, mesti bikinan
manusia. Alam tak mungkin membuat yang teratur semacam itu. Demikianlah
ia menganggap terusan itu gunanya buat mengendalikan air berasal dari
Kutub ketempat lain-lain. Ketika ada es di Kutub itu menjadi encer,
gunung mestinya tak ada, sehingga air boleh mengalir sendirinya.
Mestinya ada pula pompa air raksasa. Pompa raksasa ini Lowell meneruska
logikanya msti diadakan oleh yang Berakal itu, yang sudah sampai
ketingkat kecerdasan yang tinggi sekali. Karena menurut perhitungan
Lowell pompa raksasa semacam itu, mestinya 4000 kali kodrat air mancur
Niagara jatuh. Kodrat pompa raksasa semacam itu belum lagi bisa
diadakan yang Berakal di Bumi kita. Apakah motif tumpuan, buat
mengadakan irigasi raksasa itu? Tentulah pertaruan buat hidup, jawab
Lowell pula. Penduduk bumi Mars menyaksikan airnya berkurang-kurang
dari tahun ketahun. Cuma dari kutub air bisa diperoleh sekarang ini.
sebab itulah maka irigasi itu perkara hidup matinya penduduk Mars
Lantaran itulah pula semua kecerdasan itu dipusatkan pada pengairan.
Logika Lowell tak ada lubang cacatnya. Persangkannya tentulah sangat
menarik hati. Tetapi benar atau tidaknya simpulan tiada saja bergantung
pada pemakaian Ilmu Logika, tetapi juga pada bukti yang diperoleh.
Apakah permatan Lowell benar? Inilah yang menjadi pusat persoalan para
ahli seterusnya. Paham Lowell akhirnya dialahkan, bukan karena salah
atau tidaknya, melainkan karena salah peralamannya. Dibelakang Lowell
banyak sekali peralaman yang dijalankan. Para ahli setuju membenarkan
adanya terusan tadi.
Dr. Berhard mengadakan permatan pada
Mount Wilson Observatory
yang tersohor didunia itu. Telescope dipakai ialah yang paling jempol
di dunia pada masa itu. Dia tiada mendapatkan terusan, panjang, lurus,
sama lebarnya dimana-mana dan teruatur seperti bikinan manusia itu,
cocok dengan rancangan
Geometry. Melainkan terusan yang tidak
lurus, lebar dan sempit, serta tidak teratur seperti bikinan manusia
(seni). Smeua para ahli dan terutama Ahli Bintang Mars ternama ialah
Antoniado setuju dengan Dr. Bernhard.
Kalau jatuh buktinya Lowell, bukti Promise buat lantai simpulan,
tentulah jatuh pula simpulan Lowell, yakni sementara ini. kalau terusan
itu bukan bikinan manusia, melainkan bikinan alam, maka jatuhlah pula
simpulan Lowel, bahwa manusia (Yang Berakal) itu ada dibumi Mars,
karena irigasi Raksasa disana itu mestinya bikinan manusia.
Kita katakan simpulan Lowell itu jatuh “sementara”. Sebab mungkin
perkakas yang lebih jitu kelak membenarkan sebagian atau seluruhnya
peralaman Lowell. Lagi ada atau tidaknya manusia itu tiadalah
bergantung pada teratur atau tak teraturnya terusan itu, sebab pada
bikinan atau tidaknya terusan itu saja. Terusan itu cuma salah satu
dari bikinan manusia siapa tahu Ahli Bintang pada hari lain dengan
perkakas dan teori lain bisa mendapatkan “bikinan lain-lainnya Yang
Berakal” (Sengaja pula disini ktia sebutkan Yang Berakal, karena pada
keadaan lain, mungkin bukan
Carbon yang jadi atom-lantai,
melainkan atom-Silicon (bangsa pasir) umpamanya. Atom ini terhadap
panas umpamanya jauh lebih tahan dari pada sesuatu paduan
Carbon, kalau pada hawa yang jauh lebih panas dari hawa kita ada manusia, maka Yang Berakal, yang berbadan terdri dari hawa atau
Silicon
itu, tentulah berlainan sekali dengan manusia dibumi kita, walaupun
manusia kita dan manusia disana masuk jenis yang bersamaan, yakni Yang
Berakal. Ini saya kemukakan cuma buat menegaskan bahwa pemeriksaan
belum habis, perkakas selau bertambah jitu dan teori senantiasa
bertambah dalam dan luas.
Sebagaimana juga menurut pemandangan para ahli sekarang, tidak dapat
disangkal bahwa Yang Hidup berupa tumbuhan, boleh jadi sekali ada di
bumi Mars. Yang Hidup berupa Hewan & Co, belum boleh dipastikan.
Tetapi boleh seterusnya dipastikan, bahwa bumi Mars dari tahun keabad
senantiasa kehilangan air dan udara. Seandainya pada zaman lampau bumi
Mars pernah menerbitkan dan melayani Hewan & Co, tetapi sekarnag
susah sekali baginya buat meneruskan perjalannaya. Hewan & Co.
perlu O buat
energy panas, kodrat buat segala anggotanya yang hidup, yang bergerak. Boleh jadi para Yang Berakal, maka tinggi keulungannya buat
menabungkan air atau O, tetapi lama-lama keulungan itu mesti tewas oleh kodrat alam, yang senantiasa melayangkan O itu dari bumi Mars.
Venus memberi gambaran pada kita tentang keadaan Yang Hidup di bumi
kita ini ketika jutaan tahun yang lampau. Mars yang sekarang
menarik-narik napas memberi gambaran pada kita bagaimana kelak hari
depannya bumi kita. Sambil bumi Venus menghampiri keadaan Bumi kita,
maka kita perlahan-lahan pula menghampiri Mars. Masa mudanya bumi kita
terdapat pada Venus dan hari tuanya pada Mars.
KE ALAM RAYA.
Pemeriksaan Dr. Jones pada keluarga Matahari kita tadi tidaklah sama
sekali gagal. Bukan saja Yang Hidup, berbentuk tumbuhan boleh jadi
sekali ada di Mars, tetapi hewan atau manusiapun tidak perkara yang
mustahil ada disana. Kalau tidak sekarang, dahulu boleh jadi ada. Hari
depannya tiadalah sama sekali mengecewakan. Kalu Bumi kita kelak
kosong, yakni kekosongan hewan dan manusia, sesudah “celengan” air,
sinar dan udara kita kelak jadi kosong, maka sudah ada bumi dalam
kandungan keluarga Matahari kita yang pada hari depan atau dipusakakan
pada jenis kita, ialah manusia. Kalau cucu-cicit kita gagal mendapatkan
perkakas pindah ke Venus, karena Bumi ktia jadi dingin, maka dibumi
Venuspun pasti akan terjadi evolusi, kemajuan seperti pada Bumi kita:
barang logam akan menimbulkan tumbuhan dan tumbuhan akhirnya akan
menjelma menjadi hewan; dan akhirnya hewan akan menjelma menjadi
manusia. Dari mahluk berupa setengah monyet, setengah manusia, kita
akan sampai juga kepada mahluk setengah manusia, berupa satria atau
ahli, pembentuk masyrakat atu pembentuk pengetahuan Yang Berwatak Luruh
atau berkecerdasan Maha Tinggi.
Dr. Jones menerangkan pemeriksaannya ke Alam Raya. Tetapi pada yang
maha jauh ini dia mendapat rintangan. Satu sayapnya lumpuh, karen
penerbangan perkakas zaman sekarang belum sampai kodratnya buat
memeriksa bumi pada matahari (bintang) lain, dikeluarga matahari lain.
Seperti sudah disebutkan dahulu matahari yang terdekat masih
25.000.000.000.000 antarnaya dengan kita. Perkakas zaman sekarang belum
bisa melihat bumi sebesar bumi Jupiter kita, kalau berada dikeluarga
matahari sejauh itu.
Tetapi Logika bisa terbang lebih jauh dari itu. Ingatlah Dialektika
Demokritus bisa mendahului “mata” lebih dari 2500 tahun. Dan dalam
pemeriksaaan di Keluarga Matahari kita dan Alam Raya pun tidak sekali
dua perkakas dengan peralamannya sudah membenarkan hasilnya Logika
semata-mata.
Kita kumpulkan sekali lagi syarat yang perlu buat alat-adanya Yang Hidup di Alam Raya.
- Antara. Mestinya cocok, seimbang. Kalau sesuatu
bumi terlampau dekat dari mataharinya, maka hawanya akan terlampau
panas buat Yang Hidup. Akau terlampau jauh, maka hawanya terlampau
sejuk, Yang Hidup akan kekurangan energi, panas, kodrat.
- Besar. Kalau jauh lebih kecil dari Bumi kita,
maka kodratnya memegang zat-asli, kecil sekali. jadi semua atom lekas
atau lemabat habis melayang. Kalau jauh lebih besar dari bumi kita,
maka dibumi semacam itu akan terlampau banyak udara. Sebab kalau kodrat
memegang, kodrat menarik zat-asli terlampau besar, maka atom H
akan terlampau banyak tinggal di bumi itu. H ini akan berpau dengan
zat-asli lain mengadakan gas racun, seperti Amonia dan uap-rawa yang
banyak terdapat di Jupiter dan Saturnus.
- Terik Sinar. Juga mesti seimbang-matahari
(Bintang) Ganpus umpamanya saja mempunyai terik-sinarnya 80.000 kali
terik Matahari kita. Matahari (bintang) Procyon cuma 1/16.000
dari matahari kita. Kalau Sang Matahari kita ini diganti dengan
Ganpus, maka Yang Hidup dibumi kita akan menjadi Yang Lenyap, Yang
Musnah. Sebabnya ialah karena panas terlau terik. Didaratan seolah-olah
kipas hawa panas, seperti api membakar besi panasnya. Airnya Samudra
kita lekas akan menguap. Kalau diganti dengan Matahari Procyon, maka
bumi kita akan menerima panas terlampau rendah sekali, sejuknya bukan
kepalang dan semua samudra akan beku. Yang Hiduppun akan lenyap!
- Berhubung dengan 1, 2, dan 3 adanya, tanah, udara, CO2 dan O pada satu pokok. Tak adanya uap racun diduara pada lain pokok.
Bagaimana para ahli bisa mengetahui ada atau tidaknya “empat syarat”
diatas ini di bumi yang ada pada Alam Raya yang tiada bisa diperamati
dengan perkakas itu?
Dua perkara penting sudah bisa ditetapkan.
Pertama. Semua zat yang terapat pada Matahari kita
dan pada semua bintang di Alam Raya terdapat juga pada Bumi ktia. Ini
semua bisa dipastikan dengan perkakas seperti teropong dan
spectroscope.
Kedua: semua zat ini menarik dan menolak, berpadu
dan berpisah, menurut hukum yang tetap, yang sudah pula dikenal oleh
para ahli. Umpamanya: Semua air mestinya terdiri dari perpaduan 2
atomnya H dengan 1 atom O. Kalau ada air dibumi manapun di Alam Raya,
air itu mesti terdiri ari kedua zat itu, atas perbandingan banyaknya
itu juga. Tak ada air yang mengandung 3 H dan 1 O umpamanya.
Ketiga: Jadi sebagai simpulan dari pertama dan
kedua. Kalau ktia bisa tentukan bahwa keadaan disalah satu bumi pada
salah satu keluarga matahari di Alam Raya “sama” dengan keadaan di bumi
kita, maka bisa dipastikan pula bahwa disana bolah jadi sekali ada
Yang Hidup seperti pada bumi kita.
Bagaimana para ahli bisa menentukan sama, hampir sama, atau sama
sekali berlainan keadaan bumi, satellite, dan matahari (bintang) pada
Alam Raya? Sedangkan perkakas belum bisa mengambul gambaran, seperti
pada Sang Bulan atau Mars.
Walaupun perkakas photography masih lemah, masih dalam usia kanak-kanak; tetapi
telescope,
teropong tiadalah sama sekali tak berdaya buat mengetahui antaranya
bintang dan bintang dan perbandingan besarnya satu bindang dengan
bintang yang lain. Lagis hasil teropong bermulut 5 meter belum lagi
masuk alat-buktinya Dr Jones!
Spectorscope bisa memeriksa warna
sinar salah satu bintang, dengan ebgitu zat yang ada pada bintang itu.
Dengan mengetahui antara itu bisa diketauhi hawa. Boleh diketahui
apakah hawa itu tidak terlampau panas atau tidak terlapau dingin buat
Yang Hidup. Kalau besarnya bumi pada salah satu keluarga Matahari yang
lain tiu kelak dengan perkakas lebih sempurna sudah diketahui, maka
akan bisa pula dipastikan apakah bumi itu cukup kuat buat memegang
udara. Kalau teriknya Matahari kelak bisa ditentukan pula, maka bisa
juga dipastikan bisa atau tidakkah Yang Hidup berada disana.
Teori yang menyatakan evolusi tumbuhnya keluarga Matahari ktia dari
uap menyala sampai ke-keluarga matahari memberi penunjuk pula pada
keadaan dikeluarga Matahari yang lain, di Alam Raya ini? Walaupun dalam
garis kecilnya anggapan teori tentang asalnya keluarga Matahari kita
itu masih tinggal pada daerah persangkaan seperti juga teori Alam Raya,
tetapi bisa dipercaya bahwa Alam Raya dengan 100.000.000 Alam Bintang
kita itu, yang berjumlah bintang 100.000.000 x 100.000.000.000 itu
semunya berasal dari satu kumpulan atom, ini, molten-mass, glowing gas,
uap. Benda yang menyala ini, pada yang terutama mengandung zat-asli H
ini, akhirnya disebabkan kodrat dalam badannya, meletus dan menaburkan
pecahannya. Mula-mula semua pecahan itu berdekatan satu sama lainnya.
Kemudian menurut hukum yang pasti lebih lama makin berjauhan seperti
ratusan titik pada bola karet permainan kanak-kanak yang diembus.
Kejarangannya bintang diseluruh Alam Raya makin bertambah-tambah. Hal
ini bisa diperalamkan dan sudah lama hukum ditetapkan hukumnya
berjaranga. Syahdan menurut perhitungan ahli, maka tempo 1.000.000.000
tahun antara satu bintang dengan yang lain 2 x bertambah jarang. Jadi
antara satu mil menjadi 2 mil, dsbnya. hukum ini dengan jalan memutar,
membetulkan teori “seasalnya” semua Bumi dan Bintang di Alam Raya yakni
atom terkumpul yang menyala. Karena kalau dengan undang ini ktia
kembali 1.300.000.000 tahun kebelakang, amak semua bintang 2 kali
serapat sekarang. Balik kita dua kali selama itu, maka perantaraan
bintang dengan bintang akan 4 kali lebih rapat dan seterusnya. Akhirnya
ktia akan berjumpakan atom berkumpul atau kumpulan atom yang menyala,
glowing gas.
Demikianlah ringkasnya:
Dengan langsung maka perkakas teropong bermulut 2 ½ meter belum bisa
melihat bumi sebesar Jupiter, yakni 31 x sebesar Bumi kita kalau
jauhnya 25.000.000.000.000 mil dari kita. Ini antara kita dengan
matahari (Bintang) yang paling dekat pada ktia. Tetapi dengan teropong
2,5 meter itu kita sudah bisa disaksikan 10.000.000.000.000.000.000
bintang di Alam Raya. Walaupun teropong bermulut 2,5 meter belum bisa
melihat bumi 317 x sebesar Bumi kita pada bitang yang terdekat pada
kita ini tiada memberi alasan, bahwa teropong yang bermulut lebih besar
tak akan bisa melihatnya. Sementara itu Logika bisa berjalan seperti
berikut:
Kalau cuma matahari (bintang) kita saja yang mempunyai satu bumi,
diantara 1.000.000.000 Matahari lainnya, maka di Alam Raya akan kita
dapati 10.000.000.000.000 bumi, yakni 10.000.000.000.000.000.000.000:
10.000.000. Kalau diantara 10.000.000.000.000 bumi ini, kita dapat satu
bumi saja diantara 1.000.000 bumi yang mempunyai keadaan “sama” dengan
Bumi kita, maka masih ada 10.000.000 bumi yang sama dengan Bumi kita.
Kalau kemungkinan ini kita bagi lagi dengan 1000, maka kita masih punya
angka yang mengangumkan, yakni 10.000.
Kalau pada 10.000 ini didapati hawa, tanah, air dan udara yang sama
atau hampir sama dengan Bumi kita, maka boleh dipastikan disana juga
mesti didapati Yang Hidup seperti di Bumi kita. Kalau dasar zat
badannya Yang Hidup disana itu bukan
Carbon, melainkan
Silicon atau
Titian
umapamanya, maka Yang Hidup disana juga akan berlainan sifat jasmani
dan rohaninya dengan kita bagaimana juga mereka akan masuk golongan
Yang Hidup juga. Tumbuh dan mati seperti tumbuhan, ber-instinct (naluri)
seperti binatang dan berakal seperti manusia.
PEMANDANGAN (MADILOG).
Dalam perantaraan maha jauh mengiktui Dr. Jones mencari yang Hidup
itu kita juga menemukan jejaknya “Madilog”, Boleh jadi sekali Dr. Jones
tiada memperhatikan Dialektika Materilaistis dalam fisalfat hidupnya,
tetapi dengan sengaja atau tidak dia mesti tempuh aliran pikiran yang
berdasarkan Dialektis Materialisme itu. Kalau tidak meskipun Logika dan
perhitungannya benar, dia tidak akan sampai ketempat yang
dimaksudknya. Bagaimana juga dalam perantaraan yang maha jauh tadi,
dengan sengaja atau tidaknya Dr. Jones, Alam sendiri, sebagai hasil
pemeriksaannya memperlihatkan penglaksanaan Dialektika yang beralasan
yang nyata, berdasarkan Benda.
- PERUBAHAN BILANGAN BERTUKAR MENJADI PERUBAHAN SIFAT.
Tiadalah perlu seluruhnya perjalanan Dr. Jones kita ikuti buat
mendapatkan misalnya pelaksanaan hukum ini. sebetulnya seluruhnya hasil
pemeriksaan Dr. Jones berdasarkan hukum ini, seperti badan hewan
dialiri darah. Karena memang Alam Raya ini seluruhnya pula dialiri
darah Dialektika. Satu dua perkara yang penting berhubungan saja sudah
cukup buat menjadi contoh.
Hawa ialah salah satu syarat terpenting buat timbul atau hilangnya
Yang Hidup. Tiga bumi saja: Venus, Bumi Kita, dan Mars, sudah cukup
buat contohnya penglaksanaan
perubahan bilangan (banyak) menjelma menjadi
perubahan sifat. Pada bumi Venus kita dapati hawa yang mempunyai sifat memustahilkan Yang Hidup.
Tetapi sinar yang dipancarkan oleh Venus lama-kelamaan menyebabkan
hawa disana akan turun, tetapi dari satu tingkat ketingkat yang lebih
rendah dari satu
grade (derajat) ke derajat yang lebih rendah. Akhirnya perubahan
banyaknya derajat
in iakan menyampaikan Venus ketingkat derajatnya hawa bumi kita.
Setelah sampai kesini, maka perubahan banyaknya (derajat C) tadi akan
menerbitkan peruabhan baru.
Kemustahilan Hidup pada hawa panas tadi akan berubah menjadi
Kemungkinan Hidup.
Cabron ialah zat dasar yang Hidup dibumi kita. Dengan mengubah banyaknya atomnya,
Carbon bisa mengadakan ratus ribuan benda mengandung
Carbon. Ratus ribuan benda ini mempunyai sifat berlain-lain pula. Dair pada perubahan banyak atomnya
Carbon, diantara ratus ribuan jenisnya paduan carbon itu lambat laun kita jumpakan tepung. Pada perubahan banyaknya atom
Carbon
pada akhrinya kita mendapatkan gemuk, minyak. Lama-lama dari perubahan
angka 1 ke angka 2 dan seterusnya, kita peroleh perubahan sifat,
perubahan jenis
Carbon ialah putih telur. Dari jenis putih
telur ini dengan jalan yang belum diketahi amat oleh para ahli,
jenis-jenis baru-baru timbul: Hewan & Co. nyata sudah timbulnya
tiga benda terpenting buat Yang Hidup itu, yakni tepung, gemuk dan
putih telur menurut undang perubahan bilangan (banyak) menjelma menjadi
perubahan sifat.
Sebaliknya hawa bumi kita yang tetap turun banyak derajatnya akan
menyampaikan kita kehawa Mars, atau lebih dingin lagi. Sampai kesini
maka perubahan banyaknya (grade C) tadi akan menimbulkan perubahan baru
pula. Kemungkinan buat Yang Hidup berubah kembali menjadi kemustahilan
buat Yang Hidup.
- PEMBATALAN KEBATALAN.
Sudah kita katakan lebih dahulu sedihnya keluarga Matahari kita,
ialah setimbangan kodrat menolak dan menarik. Matahari dan semua
buminya, Bumi kita dan Bulan serta bumi yang lain-lain mengdakan tolak
dan tarik dan mengadakan harmoni, setimbang, pembatalan kebatalan.
Dalam perantauan kita bersama Dr. Jones, hukum ini tentu tetap
berlaku. Kalau tidak tentu perantauan itu mesti dibatalkan. Malah jiwa
kita sendiri mesti membatalkan jasmaninya.
Yang akan kita kemukakan disini cuma perkara baru yang kita jumpai.
Perkara ini berhubung dengan adanya udara yang mengandung CO2 dan O,
zat yang penting buat Yang Hidup. Tak ada udara dan zat itu, maka tak
mungkinlah ada Yang Hidup. Maka ada atau tidaknya udara dan atom itu
bergantung pada setimbangnya “kodrat bumi memegang” dan “cepatnya
sesuatu atom lari mau lolos”. Sesuatu bumi menarik atom yang mau lolos.
Kalau kekuatan menarik ada setimbang dengan kekuatan lari, maka barulah
bisa udara dan zat aslinya bisa tinggal tetap pada bumi itu. Barulah
ada kemungkinan buat Yang Hidup. Kalau “tarik” dan “Tolak” tidak bisa
mengadakan “setimbang” maka tiadalah pula Yang Hidup itu berada di bumi
itu. Dan Yang berada di bumi itu bukanlah Yang Hidup.
- A = A; A BUKAN NON A: LOGIKA.
Dalam lingkaran, bingkai tulang-belulang, kedua dudukan Dialektika
yang diataslah, baru pertanyaan yang pasti bisa dijawab dengan pasti
pula. Barulah bisa dijawab apakah ada atau tak ada sifat pada satu
benda, berhubung dengan tempat dan tempo yang pasti. Apakah ada manusia
pada bumi ini atau itu, dalam keadan dan tempo begini atau begitu.
Dalam hal inipun masih lebih dari cukup luasnya daerah yang mesti diperiksa oleh para ahli.
Menentukan antara suatu bumi dengan matahari, dengan jalan begitu
menentukan hawa pada bumi itu, menurut pengetahuan yang tinggi tentang
ilmu kodrat dan Matematika dan Kimia.
Menetapkan besarnya satu bumi dan berhubungan dengan itu menentapkan
kodratnya bumi = itu memegang zat asli yang penting dan memustahilkan,
yang racun, buat Yang Hidup, memnta pengetahuan yang dalam tentang Ilmu
Kodrat, Matematika dan Kimia.
Memastikan teriknya sinar matahari pada sesuatu bumi dan berkenaan
dengan itu memastikan panas-sejuknya pada bumi itu, memaksa adanya ilmu
yang unggul tentang Ilmu Kodrat dan Matematika.
Para ahli yang bekerja dalam pengetahuan ini bukanlah manusia biasa.
Tenaga yang dituntut bukanlah tenaga tersambil. Otak yang cerdas dengan
kerajinan dan ketetapan hati luar biasa dan peluh payah yang boleh
jadi tak mengadakan hasil yang memuaskan. Terjepit pula diantara dua
pihak. Pada satu pihak terdapat teman sejawat para ahli buat mengkritik
pada pihak yang lain, ahli kegaiban bersemboyan “baberce moet hangen”
(salah satu benar dia mesti digantung, atau: tangkap dahulu, perkara
dibelakang).
Pasal 7. AHLI KEGAIBAN DAN ALAM.
Beruntunglah para ahli yang tidak perlu memeriksa besar atau
banyaknya bumi dan bintang diruang Alam Raya ini. Karena mereka tidak
perlu menentukan apakah sesuatu bumi biasa memegang udaranya.
Mujurlah mereka tidak perlu menentukan antara bintang dan bintang
serta antara bintang dengan buminya. Karena mereka tidak perlu
menghiraukan hawa pada bintang atau bumi itu.
Bahagialah mereka para ahli Mistikus, yang tidak perlu menghitung
terik panasnya matahari pada sesuatu bumi. Karena tidaklah perlu para
ahli itu mencikaraui (mencampuri dengan tiada disetujui orang) panas
sejuknya hawa pada bumi yang tiada ada dalam kitab mereka itu.
Lantingkanlah semua Ilmu Kodrat, Kimia, Bumi, Tumbuhan. Matematika,
dan sekalian Ilmu yang bersangkutan kedalam api neraka. Karena semua
Ilmu semacam itu bisa memurtadkan, menyesatkan, memasukkan iblis.
Aman sentosa di dunia fana dan berharap penuh buat mendapatkan surga
yaitu na’im di akhirat kalau percaya dan apalkan apa yang para ahli
Mistikus suruh apalkan. Malah tidak perlu diketahui isinya atau
bahasanya ilmu yang mesti diapalkan, didengungkan dengan suara merdu
dan kepercayaan sekuat memalut gunung itu.
Karena ilmu itu ialah Firman Tuhan dan hurufnya yang ditulis dengan
tinta dan kertas bikinan manusia itu saja, bisa mendatangkan manfaat
yang tidak terbatas, di dunia dan di akhirat. Kalau tidak di dunia fana
ini, mesti di akhirat!
Sedikit urusannya para ahli Mistikus cuma buat mengawasi para ahli
yang biasa memurtadkan, menyesatkan dan memperlantingkan ke api neraka.
Tetapi pada Negara yang beralasan Ilmu Kegaiban, gerak sudut matanya
para ahli Mistikus itu sudah cukup buat mem-“bereskan” semua perkara
yang melanggar kepercayaan umum itu. Di Indonesia ini pun dengan
mendirikan “Tentara Pembela Nabi Muhammad” atau membentuk
“Permusyawaratan Ulama” sesuatu perkara yang oleh para ahli dianggap
“anti Islam”, rupanya bisa di-“bereskan” (buat kita maka disampingnya
Kemerdekaan Agama itu mestinya ada pula jaminan buat Kemerdekaan “Ilmu
Bukti”. Berapa ratus tahun lampau, ahli filsafat Arab yang masyhur,
Bidfai, sudah beramanat: “Biarlah tiap-tiap orang menglahirkan
pahamnya”).
Bahwa sahnya menurut Bibel (Kitab Injil), pada buku pertamanya Nabi
Musa, yang bernama Genesis, timbulnya Alam dan Tumbuhan serta Hewan:
dan Manusianya tertulis seperti dibawah ini:
BAB KE 1.
- Pada permulaan sekali Tuhan membikin bumi dan langit.
- Bumi pada masa itu masih woest (dahsyat), dan kosong serta
jurang dalam gelap gulita; dan Rohaninya Tuhan melayang diatas
air.
- Kemudian Tuhan berfirman: Timbullah cahaya; maka timbullah cahaya.
- Tuhan melihat hawa cahaya itu baik; kemudian Tuhan membikin batas diantara Yang terang dan Yang Gelap.
- Kemudian Tuhan menamai yang Terang itu Siang Hari dan Yang
Gelap itu dinamainya Malam. Pada hari pertama itu sudah ada malam
dan pagi.
- Tuhan berfirman: Timbullah langit yang meliputi air dan memisahkan air dan air.
- Demikianlah Tuhan membikin lngit serta membuat perpisahan
antara air dan air, antara air yang dibawah langit dan air yang
diatas langit; demikianlah adanya.
- .......
- .......
- Dan Tuhan menamai yang kering itu bumi dan kumpulan air dinamainya Lautan, Tuhan menyaksikan yang demikian.
- Tuhan menurunkan firman: Terbitlah rumput dari tanah dan
tumbuhan yang menaburrkan biji serta memberikan buah menurut
jenisnya; itupun terjadi.
- Demikianlah bumi menimbulkan rumbut, tumbuhan yang berbagai
jenis dan pohon yang menerbitkan biji menruut jenisnya. Tuhan
menyaksikan baiknya.
- Masa itu sudah malam dan sudah pagi, pada hari ketiga.
- Kemudian Tuhan berfirman: Timbullah Yang bercahaya pada
lotengnya (panggungnya menurut Agama) maka langit ialah barang
padat langit untuk membedakan siang dengan malam, supaya dianya
menjadi tanda ukuran tempo dan menjadi hari dan tahun.
- Supaya dianya (yang Bercahaya) itu menjadi obor dipagu
langit buat memberikan cahayanya kepada bumi; demikianlah adanya.
- Tuhan membikin dua jenis yang Bercahaya. Yang Besar Cahaya
buat menguasai siang hari, serta Yang Bercahaya Kecil, bercahaya
buat menguasai malam hari, juga semua bintang.
- Kemudian Tuhan menaruh mereka di pagu langit, untuk memberikan cahayanya kepada bumi.
- Dan buat berkuasa pada hari siang dan pada hari malam, dan
untuk membedakan yang terang dengan yang gelap; dan Tuhan
menyaksikan baiknya.
- hari sudah malam sudah pagi, pada hari keempat.
- kemudian Tuhan berfirman: haruslah air melahirkan
bertimbun-timbun Yang Hidup; dan haruslah Sang Burung berterbangan
diatas bumi dibawah lotengnya langit.
- Kemudian Tuhan membuat ikan paus yang besar dan semua jenis
Yang Hidup yang berkerumunan dilahirkan oleh lautan; dan
berjenis-jenis buruh; dan God menyaksikan baiknya.
- Kemudian Tuhan mengsaktikan mereka, dengan firman:
Berkembang biaklah kamu dan penuhilah air dan lautan dan burung
berkembang biaklah di daratan.
24.Tuhan menurunkan firman: Bumi harus melahirkan Yang Hidup, berjenis-jenis, demikianlah terjadi.
25. Kemudian Tuhan membikin binatang liar menurut jenisnya dan
binatang jenis menurut jenisnya dan semua binatang yang menjalar
menruut jenisnya dan
God menyaksikan baiknya.
26. Kemudian Tuhan berfimran: Marilah kita bikin manusia menruut
bentuk kita menurut yang serupa dengan kita, dan supaya mereka
menguasai ikan dilatuan dan burung diudara (gevogelte des hemels)
binatang jinak dan seluruh bumi dna semua binatang yang menjalar diatas
bumi.
27. Dan Tuhan membikin Manusia cocok dengan bentuknya, menurut bentuknya Tuhan, Dia membentuknya; lelaki dan perempuan.
28. Kemudian Tuhan mengaktifkan mereka dan Tuhan berfirman kepada
mereka: berkembang biaklah dan penuhilah bumi dan kuasailah dia dan
kuasailah ikan dilautan, burung di udara semua Hewan yang didaratan.
29. Kemudian Tuhan berfirman: Saksikanlah! Aku sudah mengaruniai
engkau semua tumbuhan yang berbiji yang ada diseluruh bumi langit,
sekalian pohon yang memberikan buah biji itulah buat makananmu.
30. Tetapi kepada semua binatang didaratan dan burung diudara serta
semua bintang yang menjalar diatas bumi, yang mempunyai jiwa. Aku
berikan daun hijau buat makanan.
31. Dan Tuhan menyaksikan semua yang dibikinnya. Lihatlah semuanya
amat baik. Hari sudah malam dan sudah pagi, pada hari keenam.
BAB 2.
- Demikianlah sudah dibikin langit dan Bumi dan Umatnya.
- Apabila Tuhan pada hari ketujuh menghabiskan pekerjaannya, Dia berhenti pada hari ketujuh itu.
- Dan Tuhan mengsaktikan hari ketujuh itu dan mengtuaahkan
hari tiu kerna Dia pada hari itu berhenti dari semua pekerjaannya
buat menyempurnakan semua yang dibuikinnya.
- Inilah hari timbulnya langit dan bumi, sesudah mereka dibikin. Ia ini harinya Tuhan membikin bumi dan langit.
- .......
- ........
- Tuhan membentuk manusia dari zat, bumi dan menghembuskan
dihidungnya (manusia) nafas dari Yang Hidup; demikianlah menjadi
yang bernyawa.
- Dan lagi Tuhan membangunkan Taman Eden kearah sebelah Timur dan Dia disana menenpatkan manusia yang dibikinnya.
.........................
15. Demikianlah Tuhan menimbulkan manusia dan menempatakan dia ditaman Eden, buat memelihara Taman itu.
16. Kemudian God memberi perintah kepada manusia itu dengan firman: Semua buahnya dipohon dalam Taman itu engkau boleh memakan.
17. Tetapi dari pada (buahnya) pohon pengetahuan, tentang yang baik
dan yang buruk, ini engkau tidak boleh memakannya sebab engkau pada
satu hari memakannya engkau akan mati
.....................
21. Kemudian Tuhan menyebabkan Nabi Adam tidur nyenyak dan Dia
(Tuhan) mengambil salah satu tulang rusuknya dan tutup lubangnya bekas
tulang tadi dengan daging.
- Kemudian Tuhan dari tulang rusuk yang diambilnya dari Nabi
Adam tadi membentuk seorang perempuan, dan Dia membawa perempuan
itu kepada Nabi Adam.
..................
25. Keduanya bertelanjang, Nabi Adam dan permaisurinya, dan mereka tidak malu.
BAB KE 3.
Sang Ular ialah lebih licik dari pada semua binatang didaratan; ia itu dibikin oleh Tuhan: dan
Sang Ular berkata kepada perempuan tadi. Adakah juga pernah Tuhan berfirman: kamu tidak
boleh memakan (buahnya) semua pohon dalam Taman ini?
6. Perempuan itu melihat baiknya pohon itu ............. dan bila
dia ambil buahnya dan dimakan: .......... dia beri juga lakinya (Nabi
Adam) dan dia juga memakannya.
7. Kemudian keduanya mereka terbuka matanya; dan mereka saadar bahwa
mereka bertelanjang; mereka menutupi kemaluan mereka dengan jawat daun
kayu.
8. Kemudian Tuhan memanggil Adam dan menurunkan firmannya: Dimana Engkau?
- Dan Dia (Nabi Adam) menyahut: “Saya dengar suara-Mu dalam
Taman dan saya merasa takut; karena saya bertelanjang; sebab itu
saya sembunyi.”
....................
14. Kemudian Tuhan berfirman kepada Sang Ular sebab engkau
mengerjakan pekerjaan (menipu permaisuri Adam memakan buah, sehingga
Nabi Adam jadi membedakan laki dan perempuan) itu maka engkaulah yang
paling terkutuk diantara semua binatang di daratan; selama hidupmu,
engkau akan menjalar diatas perutmu dan memakan barang (buat hidup).
................
15. ................Kepada Perempuan (permaisuri Nabi Adam) Dia
berfirman: “.............. dengan susah sengsara engkau akan mengandung
bayi; dan engkau akan ingin sama lakimu; dan dia akan menguasai kamu.
....................
17. Kemudian kepada Nabi Adam Dia berfirman: “Karena engkau
mendengarkan perkataan permaisurimu (menipu makan buah pohon, ialah
menurut tipuan Sang Ular) .......maka buah ini atas kesalahanmu sendiri
jadi terkutuk dan dengan susah sengara engkau akan mendapatkan makanan
dari padanya selama hidupnya.
Terjemahan diatas dilakukan oleh Penulis sendiri. Diakui disini bahwa
terjemahan ada sedikit bebas. Tidak diikuti dengan setiap jejaknya
kata kalimat dalam bahasa Belanda. Saya takut kalau berlaku demikian,
maka terjemahan susah dimengerti. Memang disamping saya ada Kitab
U’lkudus, yakni Kitab Injil dalam bahasa Indonesia dicetak di
Amsterdam, tetapi bahasa Indonesianya baikpun ejaannya kupikir tak
cocok dengan zaman sekarang! Boleh jadi disana sini terjemahan saya
sedikit tergelincir. Tetapi saya harap bulatnya ada memadai dan bisa
dimengerti penduduk Indonesia sebagian besar bukan Serani ini. Bukan
pula karena kutipan berasal dari Kitab Sucinya Kaum Serani maka ia boeh
diterjemahkan dengan sembarangan. Saya juga tahu, bahwa Islam yang
surat seakar dengan Serani itu mengakui penuh hakekatnya kutipan diatas
dari kitabnya Kafir Kitabi. Sebab itu dengan sepenuh keawasan saya
cari perkataan yang lebih dari cukup mengandung kehormatan. Kalau masih
kurang, maka saya minta maaf lebih dahulu pada para Muslimin dan
Serani itu.
Pasal 8. IKHTIASAR RAYA TENTANG ALAM RAYA.
Seluruhnya Alam Raya saya lihat ditulang belulang oleh hukum
Dialektika seperti badan Hewan berdiri atas tulang-belulangnya. Dalam
daerah yang dibatasi serta ditentukan arahnya oleh Dialektika itulah
beradanya Logika, laksana daging, urat dan nadi dibatasi dan ditentukan
arahnya oleh tulang-belulang.
Tetapi bukanlah Alam itu pelaksanaan Logika, ia ini Dialektika menurut Hegel.
Bukanlah pelaksanaan hukum Ide atau pikiran yang pada Hegel tentu
berupa pikirannya Hegel. Melainkan sebaliknya hukumnya benda bergerak
terbayang pada otak manusia dari bentuk dan sederhana seperti pada Marx
dan Engels, dan akan terus-menerus, menurut tingginya pengetahuan
manusia seluruhnya. Boleh pula hukum itu terbayang tidak semata-mata
seperti benda terbayang dalam cermin yakni sempurna bentuk dan
coraknya. Otak kita manusia, mencoba memberi sifat bentuk dan corak
kemanusiaan atau sekurangnya mempengaruhi sifat bentuk dan corak itu.
Tetapi semua percobaan dan pengaruh itu akan gagal, kalau tidak cocok
dengan sifat, bentuk dan corak alam tadi.
Nyata boleh dihitung sudah kenyataannya, bahwa masa dan masa
benda-benda dengan perantaraan kodrat yang berbanding dengan besarnya,
senantiasa tak putus-putusnya, sedetikpun tidak putus, menarik dan
menolak satu dengan yang lainnya diseluruh Alam Raya. Hasil
resultate ribuan tahun dan tarikan dan tolakan simpang siur, di Alam Raya inilah, yang ada sekarang.
Resultate
dari tarikan dan tolakan, simpang siur menurut undang yang pasti pada
hari depanlah, yang ada pada hari depan. Tak ada bikinan, kodrat, yang
diluar yang ada itu. Sedikitpun, kodrat diluar yang ada dari Yang Nyata
itu, terganggu dan terperkosa, pecah-belah Alam Raya ini, Hilang
Lenyaplah hukumnya, Jiwanya Pecah-Belahnya Alam Raya bisa terjadi
menurut hukum, yang ada dalam badannya sendiri yakni pecah-belah
menurut hukum-hukum pecah-belah, ialah hukumnya Yang ada, Bukan hukum
diluar Yang ada.
PEMBATALAN KEBATALAN.
Dari Alam yang tak kelihatan oleh mata telanjangnya manusia, karena
kecilnya, dari atom, sampai ke dunia yang tak terlihat oleh mata
telanjangnya manusia karena besarnya, sampai ke Alam Raya berlaku hukum
pembatalan kebatalan, bermuka, dari proton sebagai thesis, penarik dan
elektron, seagai anti thesis, penolak atau sebaliknya kita mendapat
setimbangan, kemaanan Harmoni, Atom Dengan satu atom sebagai thesis,
dan atom lain sebagai anti thesis, keamanan baru pula kita saksikan
Molekul. Keduanya masih terjadi pada atom yang bisa dilihat dengan
mata. Dari bumi kita sebagai thesis, kita meloncat Matahari ke matahari
kita sebagai anti thesis keamanan baru yang terlihat timbul keluarga
matahari kita. Dari keluarga Matahari kita sebagai thesis kita melayang
keanti thesisnya, ialah kedekat bintang Sagitarius, sebagai pusat
penarik kita menyaksikan pembatalan kebatalan yang lebih besar; Universe
kita, alam bintang kita. Adapun Alam bintang kita dengan seratus juta
Alam Bintang lain, silang siur menimbulkan thesis dan anti thesis,
tarikan dan tolakan dan sebagai hasil rajanya, ialah pembatalan
kebatalan terbesar yang kita saksikan; semua bintang di Alam Raya.
Akhirnya semua benda di Alam Raya, semua Bintang Bumi dan Pengikutnya
di Alam Raya dan kosong, Awang-awang yang jauh lebih besar di Alam
Raya, bukanlah barang yang tidak tahu mengetahui terpisah seperti A dan
Non A, yang Ya dan Tidak dalam ilmu Logika. Keduanya berseluk-beluk
dan kena-mengenai. Pada Benda di Alam Raya sebagai Thesis dan kosong
sebagai anti thesis sebagai lawannya. Maka Demokritus melihat
perdamaian, melihat
Synthesis, pada pergerakan. Karena semua
pergerakan dan terjadi dalam kosong. Kalau satu tempat penuh, padat
dengan benda, dengan atom, tak ada setitik pun tempat yang kosong maka
benda tadi tak dapat bergerak.
Buat kita manusia, Hewan berakal tentulah tak ada yang lebih tinggi
dan penting di Alam Raya ini dari pada kita. Manusia sendiri. Tetapi
Manusia tak akan bisa ada, kalau alat-adanya syaratnya hidup hidup tak
ada. Tak ada udara saja diantara lain-lain. Kita manusia menurut
susunan jasmani kita sekarang tak bisa ada. Kita sudah saksikan bahwa
ada atau tidak-adanya udara atau tergantung pada setimbangannya kodrat
bumi menarik dn kodratnya zat-asli dalam duara itu BISA LOLOS. Juga
disini berlaku
tolak dan tarik serta hasilnya, ialah pembatalan kebatalan.
PERUBAHAN BILANGAN (BANYAK) MENJADI PERUBAHAN SIFAT.
Dari Alam yang terkecil, tak kelihatan sampai ke Alam terbesar yang
tak bisa dilihat pula dengan mata, kita saksikan berlakunya hukum
diatas ini.
Do, re, mi , fa, sol, la si kembali kepada Do! Pada daftar musim,
Periodic Table,
kita lihat tercantum pula, pada dunia atom, Li, Be, B, C, N, O, F
kembali kepada Na, yang banyak bersamaan dengan Li. Perbedaan antara
satu atom dengan yang lain, antara Li dan Be dan B dsb, cuma perbedaan
bilangan banyaknya elektron, yang ingkar, tak setia itu, tiap-tiap atom
yang dimuka, elektronnya 1 (satu) lebih dari atom yang dibelakang.
Tetapi sampai kebilangan 8, ke Atom Na, maka perubahan bilangan tadi
menimbulkan perubahan sifat. Para atom yang ada setia tadi, menjadi
atom yang setia, yang tak setimbang menjadi setimbang. Seperti do
(rendah) sesudah tujuh tingkat naik sampai ketingkat do kembali, begitu
pula Li sampai ketingkat Na, yang banyak persamaan dengan Li. Seperti
do lebih tinggi lebih banyak mempunyai getar
vibration
(trilling) dari do rendah, begitu pula Na, yang terletak pada tingkat
lebih banyak mempunyai elektron dari pada Li. Demikan juga pada ratus
ribuan molekul mengandung zat-asli
Carbon, kita dapati molekul, yang berada bilangan atom
Carbonnya, seperit tepung, gula, minyak dan putih telur.
Kembali kita kepada benda yang kita “bikinan” Yang Esa ini. (sudah
tentu Esa ini tidak diartikan dengan Hydrogen), anggap seperti benda
yang tak ada bandingannya di dunia ini. Kita manusia, salah satu lagi
benda yang terpenting buat adanya manusia di Alam Raya ini, ialah Hawa.
Sedikit saja hawa lebih dari 40 derajat C, maka akl yang diulungkan
itu sudah keluh kesah karena jasmani, sarangnya, itu kepanasan. Kalau
hawa itu sampai ke 100 derajat C, maka seperti daging lembu, daging
kita juga akan masak atau kalau dijemur, dipanas semacam itu ia akan
menjadi dendeng. Kalau sebaliknya dibawah 0 derajat C maka dia perlu
memakai baju bulu domba. Dan kalau terlampau jauh dibawah 0 derajat C
itu, maka, rabu, jantung, hati, usus dan otaknya akan sama sekali
berhenti bekerja. Pendeknya manusia mesti mempunyai hawa terkhusus buat
manusia. Kita yakin bahwa di Nebula, gas-menyala, manusia tak bisa
hidup. Malah tepung, gula dan minyak pun tak mungkin ada disana. Pada
matahari saja, semua barang logam sudah jadi uap-logam Tanah atau air
tak mungkin ada disana. Tetapi perubahan derajat-panasnya dalam jutaan
tahun, dari Nebula sampai ke Matahari (bintang) dan dari bintang sampai
ke Bumi kita, menimbulkan perubahan baru. Hawa yang tak mungkin buat
manusia berubah menjadi hawa yang mungkin buat hidupnya manusia.
Perubahan ini akan terus-menerus pula sampai sesudah berjuta-juta tahun
kita akna mengalami perubahan sifat yang baru. Ke Hidup berubah menjadi
kemustahilan-Hidup. Perubahan diatas akan berlaku terus-menerus di
Alam Raya, yang tak terpermanai bersarnya dan tak terpermanai pula
banyak bintang dan bumi dengan masing-masing umur dan keadaannya; ada
yang yang terlalu panas buat manusia, ada pula yang aik buat manusia
dan terlalu dingin buat manusia dan 1001 keadaan diantaranya semua
kemungkinan tersebut.
Logika, ya itu ya; ya itu bukan tidak.
Dalam badan yang ditulang belulangi oleh kedua hukumnya Dialektika
diatas, maka kita bisa berjumpa, dan mesti pegang teguh bahwa
ya itu
ya; tidak itu
tidak, ya itu bukan
tidak.
Dalam hitung-menghitung ita yakni masyarakat manusia sekarnag, sudah
sampai kepada Ilmu Matematika zaman sekarnag. Ilmu inipun sudah mesti
dibagi atas beberapa cabangnya. Dalam mempelajari besar berat dan
kodratnya massa (benda), masyarakat manusia, dibawah pimpinan
masyarakat Eropa dan Amerika kita sudah sampai ke fisika, Ilmu Kodrat
masa sekarang. Ilmu inipun mengandung cabang bermacam-macam. Dalam hal
mempelajari undangnya zat berpadu dan berpisah, kita sampai ke Ilmu
Kimia zaman sekarang, yang mempunyai beberapa cabang pula. Demikianlah
seterusnya kita peroleh Ilmu Bintang, zaman sekarang Ilmu Bumi, Ilmu
Tanah Logam, Ilmu Tumbuhan, Ilmu Yang Hidup (Biologie), Ilmu Badan
Manusia, Hewan dsb. Semua Ilmu itu walaupun mesti berpisah-pisahan,
buat menjitukan pekerjaan pada daerah masing-masing ada kena-mengena
satu dengan lainnya. Dalam semua Ilmu Bukti, science seperti tersebut
diatas, pertanyaan pasti mesti dijawab dengan jawab yang pasti:
ya itu
ya, bukan
tidak. Tetapi
Scientist
yang ulung dan merdeka pikiran dan kemerdekaan pikiran ini ialah syarat
terutama buat satu Ahli Bukit. Seperti saya ialah syarat buat
terbangnya burung. Satu ahli merdeka dan ulung cerdas itu mesti tak
sekejap boleh melupakan, bahwa ia dalam kandungan Dialektika, dalam
perkara yang mengandung pertentangan, gerakan tempo dan seluk-beluk,
dia mesti lepaskan undang
ya itu
ya nya. Dalam perkara semacam itu, dia mesti insyaf bahwa
ya itu
boleh tidak
dan sebaliknya. Kalau dalam hal semacam itu dia tak lepaskan undang
Logika dalam arti sempitnya, maka ia akan terlepas dari Dunia bukti,
karena Dunia bukti akan melepaskannya. Dia akan terpelatnting ke Alam
kosongnya ke Logika Mistika, ke Logika mati. Bukan kematian Logika,
karerna matinya Logika pada otaknya manusia tiadalah berarti Logika
bisa mati. Karena Logika sungguh cukup, mempunyai daerah di Alam Raya
ini, yakni sebagai undangnya benda bergerak, berpadu dan berpisah,
menolak dan menarik.
Pasal 9. HIDUP.
Bermula, maka lebih dahlu saya beri tahukan, bahwa perkara Hidup
disini saya pakai seperti nama benda. Memang hal ini sering tejradi,
umapamanya dalam kalimat, peperangan ini akan menentukan hidup dan
matinya ......Juga dalam bahasa lain-lain pun dindunia acap sekali
terjadi satu kata nama pekerjaan sebagai nama benda. Kata hidup itu
dalam hal ini banyak tidak selalu cocok dengan jiwa.
APAKAH HIDUP ITU?
Memang pertanyaan itu buat kita manusia terpenting sekali. Tetapi walaupun
common sense, pikiran biasa tahu apa yang hidup itu, susah sekali jawab pertanyaan itu dibentuk kedalam satu definisi, ketepatan.
Encylopaedia Britannica, Kamus Raja Inggris mendifinisikan
Hidup ialah satu jenis gerak-gerik semata-mata dari pada Benda Hidup
bikinan Tuhan (life is the kind of activities charactiristic of living
creatures). Tentulah pembentukan definisi bukan ahli sembarangan.
Pastilah pula definisi ini cocok dengan pengetahuan Biologi zaman
sekarnag, tidak saja di Negara Inggris, tetapi diseluruh Eropa dan
Amerika.
Walaupun begitu meskipun definisi semacam itu sudah memadai, tak ada
salahanya kalau kelemahannya saya kemukakan. Definisi itu masih
mengandung kesalahan yang sdangkan Aristoteles pun sudah suruh kita
berjaga-jaga.
Hidup yang mesti dipastikan itu kita jumpai kembali pada akhir kalimat ialah pada benda Hidup bikinan Tuhan,
Life di jumpai kembali pada
living creatures! Life dan
living
bedanya hanya yang pertama dipakai sebagai nama barang, yang kedua
sebagai nama pekerjaan. Kita terpaksa bertanya lagi: apakah yang hidup,
bikinan Tuhan itu? Apakah yang “living creatures” itu? Jadi seperti
orang menghasta kain sarung definisi tadi tak memberi keputusan
circulo in defiando.
Selain dari pada kelemahan diatas, definisinya
Encyclopedia tadi, cuma memenuhi syarat Logika, tetapi kurang mengandung
kebendaan, walaupun ada menyebut Benda, ialah ,Benda bikinan Tuhan,
creatures,
seluk-beluk, kena-mengena dan perlantunan hidup (life) dengan Benda
yang disini disebut ia ini, alam dan keadaan alam, sama sekali tiada
tercantum. Dengan begitu Definisi tadi tidak saja kemiskinan kebendaan,
tetapi sama sekali ketiadaan Dialektika.
Kalau mau definisi yang cocok dengan Logika saja, saya pikir lebih baik pakai definisi yang
negative saja, umapamanya: Hidup yaitu
bukan mati.
Marilah kita adakan
classificatin (peng-jenis-an) yang
sederhana, barangkali kita bisa mendapat definisi yang sederhana,
walaupun “classification” satu pasal yang penting dalam ilmu Logika,
buat mencari kependekan dalam segala-gala, saya sengaja menyingkirkan
pasal ini. Tetapi dari maksudnya
classification:
(peng-jenis-an) ialah meyusun segala bukti yang mau diperiksa, menurut
persamaan dan perbedaan diantara segala bukti itu. Dengan begitu kita
boleh jadi
bisa mendapatkan undang yang menguasai segala bukti itu. Bukti yang
akan saya kemukakan memang syah, penting dan sudah diperalamkan oleh
science. Kalau tidak tentulah undangnya salah atau belum sempurna.
Segala bukti dari Yang Ada ia ini Yang Hidup dan tak Hidupnya akan
kita jeniskan (classify) disini semua pokok perkara belaka. Sebab tentu
begitu, sebab ilmu yang berkenaan dengan Yang Ada itu bukanlah Ilmu
yang mudah dituliskan dalam
Satu buku berapapun
besarnya. Apalagi kalau mau dituliskan dalm satu setengah halaman
seperti maksud “penjenisan” (classification) kita ini.
- Yang tak Hidup, yang mati itu di Alam Raya ini sudah lebih dari satu kali kita bilang ialah terdiri dari 92 zat-asli, elements.
Kita ambil yang pening saja diantaranya, buat Yang Hidup yaitu H
(ydrogen), C (arbon), dan O (xigen). Semua zat-asi di Alam Raya
ini berdasarkan proton dan elektron dengan undangnya yang sudah
dikenal.
- Diantara Yang Hidup itu pada tingkat pertama kita jumpai. Tumbuhan, persamaannya
dengan Yang Mati ialah keduanya mempunyai H, C 2 CO; kedu jenis
ini sama tiada bisa berpindah sendirinya dan sama tiada mempunyai
anggota buat berpindah sendirinya, keduanya sama tiada mempunyai
pancaindera dan anggota buat menghancurkan makanan. Perbedaan
Tumbuhan dengan Zat yang Tak Hidup itu, ialah tumbuhan bisa sama
sekali meneruskan adanya (hidupnya) dengan mengambil makanan dari Benda
Mati (H, C dan O), tetapi Yang Mati tiada bisa. Yang Mati tak
bisa, tetapi tumbuhan menerbitkan putih telur (protein) tepung dan
gemuk. Perbedaan besar Yang Mati, ialah tumbuhan selama ia ada
bisa meneruskan “sendirinya” mengambil makananya dari udara dan
tanah, dengan begitu ia meneruskan adanya. Berbeda dengan Yang
Mati, seperti Arloji yan mesti diputar berulang-ulang supaya dia
kembali berjalan. Akhirnya Yang Hidup beranak bercucu
turun-temurun: yang mati tiada begitu.
- Hewan: Diantara Yang Hidup, yang lebih tinggi
dari pada yang Tumbuhan, ialah Hewan. Persamaan Hewan dengan Yang
Tak Hidup dan dengan Tumbuhan, ialah semuanya mengandung zat H, C
dan O. Perbedaannya Hewan dengan Tumbuhan yang Mati ialah hewan
mempunyai anggota buat berpindah-pindah (berjalan), mempunyai
pancaindera dan anggota lain-lain, seperti usus, jantung, hati
dsb, akhirnya ia berkembang biak. Persamaan Hewan dengan Tumbuhan,
keduanya bisa meneruskan adanya dengan makannya lagi pula, Hewan
dan Tumbuhan mengandung putih telur, gemuk dan tepung, tetapi Yang
Mati tiada. Arloji itu mati kalau tiada diputar. Lagi
pula zat Mati manapun juga tak bisa menimbulkan putih telur dan
CO2. Yang Mati (elements, zat asli) tetap, Yang Hidup bekembang
biak.
- Manusia yakni Hewan Berakal. Persamaan dan
perbedaan manusia dengan Benda mati dan tumbuhan dalam garis besar
di atas sama manusia dengan persamaan dan perbedaan Hewan dengan
Benda Mati dan Tumbuhan. Sebagai Hewan tentu manusia mempunyai
semua sifat besar tadi yang ada pada Hewan; mengandung putih telur
dan CO2 bisa berpindah-pindah menersukan adanya dengan makanan,
mempunyai pancaindera, hati, jantung, perut dll. dan akhirnya
kembang biak. Selama dia ada anggotanya bekerja sendirinya, bukan
seperti arloji perlu diputar berkali-kali. Perbedaan dengan Hewan,
ialah manusia mempunyai kesanggupan untuk mengetahui Alam Raya,
memperalamkan Benda, kodrat benda, tumbuhan Hewan dan manusia
sendiri, membentuk pengertian, paham dan Teori dengan cara
Mistika, Logika dan Dialektika. Pendeknya manusia pandai berpikir,
tetapi Hewan Cuma mempunyai “instinct” (naluri) saja.
Atas 4 ikhtisar ini kita bisa mengadakan Peninjauan. Persamaan besar
diantara yang Mati (1) dan yang Hidup (2, 3, 4). Kita dapati adanya
zat-asli H, C dan O yang berdasarkan proton dan elektron serta hukum-
hukumnya.
Perbedaan besar diantara Yang Mati (1) dan Yang Hidup (1, 2, 3), ialah:
- Yang Mati tak bisa mengadakan putih telur dan CO2 tetapi yang hidup bisa.
- Selama adanya (hidupnya) Yang Hidup dia bisa meneruskan
hidupnya dengan terus-menerus sendirinya, mengambil makanan dari
kelilingnya, tetapi kebiasaan ini tak terdapat pada Yang Mati.
Persamaan Kecil diantara 3 jenis Yang Hidup: Tumbuhan, Hewan dan Manusia.
- Ketiganya itu berdasarkan zat putih telur & Co.
- Ketiganya bisa meneruskan adanya dengan terus-menerus,
mengambil makanan dari kelilingnya dan membentuk makanan itu buat
meneruskan adanya dan tumbuh atau kembang biaknya
Perbedaan kecil diantara 3 jenis Yang Hidup.
- Tumbuhan tak perlu dan tak bisa berpindah mencari makananya:
Makanan diperolehnya di udara, dan dari tanah dimana tempat yang
cocok buat tumbuhnya. Hewan dan manusia perlu dan bisa berpindah
buat mencari makanan dan jodohnya dan buat menghindarkan musuhnya.
- Tumbuhan tak mempunyai anggota terkhsuus buat berpindah
(kaki) dan buat mendengar, melihat dsb. Hewan dan manusia lengkap
dengan kaki dan tangan, mata dan telinga, hati jantung, urat nadi,
sarat, otak dsb. buat mencari makanan, kawan serta menyingkiri
atau menewaskan musuh dalam kehidupannya.
Persamaan antara Hewan dan Manusia.
- Keduanya bertubuh pada zat yang berupakan daging dan
tulang-belulangnya. Keduanya bisa meneruskan adanya dengan
terus-menerus makanan yang diperolehnya menjadkan darah daging dan
tulang-belulang dengan pertolongan anggota dalam badannya yang
sendirinya bekerja terus-menerus sepserti mesin yang automatic, tak perlu pertolongan dari luar.
- Keduanya jenis ini mempunyai anggota terkhusus, buat
mencernakan makanan, berpindah, mendengar, melihat dsb. terutama
keduanya mempunyai anggota terkhusus buat berjuang dan mengadakan
turunannya.
PERBEDAAN
- Pertama sekali terdapat pada quantity (besar) dan (quality) sifat tata sarat fan otak.
- Hewan Cuma bernaluri (instinct) Manusia itu berakal.
Cocok dengan ilmu berpikir berdasarkan Madilog, sekarang kita cari apa yang
Matter,
yang benda pada 4 perkara itu, ialah adanya beebrapa atom seperti H, C
dan O berdasarkan proton dan elekron serta hukumnya. Bagaimana juga
bentuknya benda, berupa batu atau besi, air atau udara, Tumbuhan atau
Hewan, monyet atau Manusia, semuanya boleh disusutkan kepada proton dan
elektron, kepada atom. Tetapi banyak dan susunannya atom pada Yang
Mati dan Yang Hidup itu berlainan. Perlainan itulah yang menimbulkan
perlainan sifat pada Yang Mati dan Yang Hidup itu.
Jadi menurut banyak dan susunan atom di Alam Raya ini kita sekarang bisa mengadkan pemisah besar yakni:
- Yang Mati berupa bumi sebagai kumpulan zat asli
(element), bintang, matahari, udara, cahaya sinar, hawa dan
seterusnya, yang akan kita pendekkan dengan perkataan keadaan atau
keliling (environmente). Zatnya bukan putih telur & Co.
- Yang Hidup berupa Tumbuhan, Hewan dan Manusia
yang semuanya terkumpul pada yang berbadan (organis). Zatnya
mengandung putih telur & Co.
- Diantara Yang Hidup dan Yang Mati, diantara yang
berbadan bersama dengan kelilingnya (organis dan
environment)adalah perkenaan dengan kekal. Tumbuhan, Hewan dan
Manusia mengambil zat asli dari kelilingnya tumbuhan dari bumi dan
udara, manusia dari bumi udara dan tumbuhan serta hewan menukar
zat asli menjadi zat badannya, masing-masing berupa kayu, daun,
daging atau tulang dan kalau sampai ajalnya mengembalikan badannya
kepada kelilingnya. Perkenaan antara Yang Hidup dan Yang Mati itu
oleh Yang Hidup dijalankan dengan anggota yang berkenaan, udara
dilayani oleh paru dsb. pekerjaanya anggota itu sebab belum dapat
perkataan lain saya nama saja “peranggotaan”. dalam Biologi,
peranggotaaan itu dinamai Function.
Biologi ialah slah satu dari pada Ilmu yang menyelidiki yang
berbadan. Seperti Herbert Spencer, Biologi mengambil tempat dipusat
penyelidikan itu, sedangkan Ilmu Fisika (kodrat) dan Kimia menjadi
dasar serta Ilmu Jiwa dan Ilmu Masyarakat menjadi maksudnya
penyelidikan tadi. Biologi, Ilmu yang Hidup tadi, mengadakan
penyelidikan itu dengan memakai 3 perkara tadi, yakni keliling
(environment), yang berbadan (organism) dan Peranggotaan (Fuction)
sebagai 3
coordinates (sangkutan) ialah beberapa antara
(distances) yang ditentukan dari 3 sangkutan, berganti-ganti. Bagaimana
Biologi membentuk definisi atas 3
coordiantes (sangkutan) itu
sudah saya tulis sebagai titik melangkah pasal ini. Kalau mesti saya
membentuk definisi itu atau 3 sangkutan (coordinates) itu, maka saya
kira bisa majukan seperti beriktu:
Hidup, ialah kodrat yang sendirinya terus-menerus (automatic) bisa menukar zat asli menjadi zat badannya sendiri.
Tetapi saya sendiri tiada putus dengan definisi semacam ini. Memang
definisi semacam ini berdasarkan Benda dan cocok dengan Logika. Hidup
dimasukkan pada golongan yang lebih luas ialah Kodrat. Berbeda dengan
Kodrat lain, kodrat bernama hidup ini bisa “sendirinya” menukar zat
asli (element) menjadi zat badannya tumbuhan atau Hewan. Kesalahan
menghesta kain sarung (circule indetinicondo) juga disingkiri. Begitu
juga kesalahan yang lain-lain. Walaupun begitu, definisi ini masih
kekurangan, ialah kekurangan tempo, kekurangan sejarah.
Kita masih ingat apa yang diuraikan pada permulaan buku ini, ialah
Matematika juga memakai 3 definisi (besaran), seperti panjang, lebar dan
tinggi. Tetapi buat mengadakan perhitungan yang lebih sulit dan dalam
Matematika memkai dimensi yang ke-empat. Kita masih ingat pada
Minkowsky yang mendasarkan dimensi ke-empat itu pada tempo. Tempo ini
diandaikan bersiku (perpendicular) pada masing-masing tiga dimensi yang
lain.
Buat mengadakan definisi yang lebih sempurna tentangan Hidup itu saya
pikir juga perlu diadakan dimensi ke-empat, yaitu tempo itu. Pada
permulaan buku ini juga sudah dimajukan pentingnya
penyesuaian
diri (adatability) bagi sesuatu yang berbadan pada kelilingnya. Jadi
penyesuaian diri itu (adaptability) ada mengandung perkara tempo,
sebagai dimensi ke-empat.
Keliling, badan mengandung perkara tempo. Tetapi masing-masing boleh dipikirkan sendirinya. Sebaliknya
penyesuaian itu mesti mengandung lebih dari satu diri. Kita masih pikirkan
diri yang
menyesuaikan dirinya ini sendiri sebagai diri ke I dan tempatnya
penyesuaian itu dengan perantaran anggota sebagai diri ke II.
Penyesuaian itu mesti mengandung tempo sebgai perkara yang penting.
Umpamanya satu badan tumbuhan yang menyesuaikan dirinya pada tempat
yang baru dengan perantraaan anggotanya tentulah menuntut tempo yang
tentu diketahui hasilnya.
Akhirnya penyesuaian diri dala tempo itu, juga mengandung
tolong-menolong diantara mereka dalam satu jenis. Sebaliknya
pertarungan terus-menerus antara diri sendiri dan orang lain dalam satu
jenis atau antara sendiri atau sejenis dengan diri atau jenis lain dan
akhirnya dengan alam kelilingnya. Termasuk pula dalam penyesuaian yang
berlaku dalam tempo itu, perkara yang berhubungan dengan turun-menurun
(inheritence) baik turun-menurunnya sifat asli ataupun sifat yang
diperoleh.
Demikianlah sekarang kita sampai ketingkat Dialektika dari madilog.
Dengan sematang dan cara dialektika sekarang kita memandang
berganti-ganti dengan tiada melupakan perkenaan dan perlantunan dengan
seluruhnya kepada empat
coordinates kita; 1. Keliling, 2. Yang berbadan, 3. Peranggotaan dan 4. Penyesuaian.
Dengan tiada melebihi satu katapun saya berani bilang, bahwa 1001
contoh bisa dimajukan buat pendalaman penjenisan (classification) yang
diatas.
Dari badan hidup yang terkecil sampai badan manusia,
ialah badan yang tersulit memang penuh contoh yang mengandung 4 perkara
itu. Dari segala contoh itu, kita ambil definisi yang kita maksudkan.
Karena banyaknya itu, maka kita kekurangan tempat dan tempo buat
menyelidiki satu persatuannya. Tetapi karena semuanya bisa dipakai,
karena semuanya mendandung sari yang sama, mak akita bisa susutkan
penyelidikan itu pada badan (hidup) terkecil dan badan tersempurna:
Pada amuba dan pada manusia berjuta-juta badan diantara keduanya itu,
jutaan jenis tumbuhan dan hewan ..............(hewan yang punah dan
hidup saja lebih kurang ada dua juta (2.000.000) jenis, baiklah kita
lampaui saja).
Bermula maka badan manusia dan hewan itu terdiri atas berjenis-jenis
anggota. Hampir tak ada bagian badan yang bukan anggota dan kerja
sebagai anggota-menganggota, kulit untuk merasa dan mengeluarkan
keringat, mata melihat, hidung pencium dsb, jantung sebagai pusat
pengairan dengan darah, rabu pusat
erygeen dan lain-lain
anggota; syarat dan otak sebagai general staf, Markas besa Balatentara,
yang mengatur jalannya sekalian anggota itu. Yang bukan makanan itu
dikeluarkan sebagai ampas, atau kalau tinggal dalam badan bisa
mengganggu kesehatan atau jiwa kita. Badan kita dan hewan boleh
dimisalkan dengan satu mesin, satu mesin yang paling sulit dan bisa
bekerja, terus bekerja sendirinya. Selama hidup: mengambil, mencernakan
makanan, menukar makanan tadi jadi darah, daging, nadi, syarat, tulang
dsb dan mebagikan zat badan tadi keseluruh tubuh kita. Sebaliknya
mengeluarkan ampas dari badan kita, seterusnya menurunkan badan kita
pada anak dna cucu. Buat mencair makanan dan meneruskan turunan
perlulah pertarungan seru dan kekal dikeliling kita.
Sebaliknya, pula koperasi, tolong-bertolong yang rapi. Dalam riwayat
bertarung dan tolong-bertolong dalam jutaan tahun itu, majulah
bermacam-macam anggota pada satu badan. Anggota yang bermacam-macam
bentuk dan kerjanya itu, semunya pada hwan tinggi umumnya, dan manusia
terkhususnya diatur jalannya oleh Markas Besar bernama syaraf dan
otak-otak.
Masing-masing anggota dibagi pula atas urat dan nadi berjuta-juta dan urat serta nadi tadi terbagi pula atas
cel (cel aslinya dair bahasa latin, ialah bilik). Semenjak para ahli Schleiden dan Schwann (1834)
cel
itu pada satu pihak dianggap sebagai susunan, atau badan terkecil, dan
pada pihak lain sebagai ukuran satuan (unit) dari penganggotaan atau
physiogical activite.
Cel, kalau dibagi terus kita dapati protoplasma. Menurut
Huxley, maka protoplasma inilah benda lantai semua yang hidup;
protplasma inilah yang banyak mengandung putih telur yang kita jumpai
pada telur susu dan tampang. Lebih dari 51 % zatnya putih telur terdiri
dari carbon. Putih telur terdapat pada semua
celnya yang hidup.
Kembali kita pada
Cel. Bermacam-macam besarnya
cel dan berjuta hewan itu. Banayk pula bakteria (kuman) yang Cuma bisa tampak dibawah teropong saja. Tetapi banyakpula
cel yang tampak oleh mata telanjang. Bagaimana juga, s
cientist pada tingkat ilmu bukti masa sekarang, menganggap
cel itu sebagai benda yang bisa menunjukkan (membuktikan) “hidup” tetapi seperti atom tak bisa dibagi lagi sebagai “benda hidup”.
Setelah hawa bumi kita ini pada satu tempo turun pada satu tingkat,
maka sebagai hasil akibat “undang” perubahan bilanagan menjadi
perubahan sifat timbullah “benda hidup” pertama, ialah
amuba. Inilah Benda-hidup yang terkecil yang terdiri dari satu cel saja.
Adapun panas (temperatur) badannya amuba ini, machluk asli ini “sama”
dengan panas air tempatnya tinggal. Apabila panasnya air itu berubah,
maka perubahan itu membahayakan hidupnya amuba itu. Buat menghindarkan
tiada lain daya amuba melainakn melarikan diri dari tempat itu. Jadi
sang amuba belum mempunyai anggota terkhusus buat menyesuaikan dirinya
dengan pertukaran hawa.
Ratusan, jutaan tahun sesudah amuba lahir, bagaimana kita melalaui berjenis-jenis benda hidup ber-
cel
satu atau lebih dan takluk pada hukum “perubahan” bilangan menjadi
perubahan sifat serta “hukum Pembatalan kebatalan”, maka kita sampai
pada tingkat
Nominal (hewan yang melahirkan anak hidup-hidup) yang termasuk juga manusia, dinamakan berdarah panas.
Maka badan yang berdarah panas ini umumnya dan badannya manusia terkhususnya, tidak lain melainkan reaksi
Alkimiah
(chemical reaction) yang tak terhitung banyaknya dan tak berhenti
berlaku. Masing-maisng reaksi dari bermacam-macam percampuran,
perpaduan dan perpisahan zat dalam badan kita itu dijalankan dengan
kecepatan yang tentu dalam tempo yang pasti pula. Hasil dari
bermacam-macam perpaduan dan perpisahan dalam rabu, jantung, perut dsb
itu, hasil pengiriman kabar masuk dan keluar melalui anggota mata,
telinga, kulit dsb melalui syaraf dan otak itu; jadi hasil mengambil
bahan, membikin darah dsb membahagikan zat keseluruh badan, mengatur
semua penghasilan, pengangkutan dan pebahagian itu dengan urusannya
Markas Besar sendiri mesti terjadi pada tempo yang tentu. Tak ada
anggota yang boleh lalai atau terlampau cepat.
Pada satu pabrik bikinan manusia yang paling gampang pula, mestilah
ada “kecocokan” tempo bekerja buat satu-satu departemen (bagian).
Pengarang dalam satu percetakan tak boleh terlambat mengirimkan
karangannya. Mesin tak boleh terlambat menghabiskan cetakan pertama
buat dikoreksi. Surat kabar dan pengirim tak boleh lalai menjumpai
langganan. Bagian
technik, administrasi dan pembagian mesti
menjalankan kewajibannya pada tempo yang pasti. Baru bisa didapati satu
harmoni, baru diperoeh satu orkestra dimana berjenis-jenis perkakas
bisa menimbulkan satu bunyi, paduan bunyi yang merdu.
Apalagi Badan Manusia yang tersulit diatas bumi ini, yang terjadi
dari bermacam-macam anggota, yang hasil dari berbagai-bagai reaksinya
itu mesti mengadakan harmoni, penyesuaian pula.
Reaksi
Alkimiah dalam Badan kita masing-masing dijalankan
dengan kecepatan yang tentu. Tetapi kecepatan tidak saja di tentukan
oeh sifat kerjanya sendiri, tetapi juga oleh hawa panas dan dingin.
Kecepatan bekerjanya perpaduan dan perpisahan itu turun naik dan turun
naiknya panas.
Seandainya seluruh Badan kita, bisa mengadakan harmoni dari
bermacam-macam anggotanya itu pada panas 36º C. Pada hawa ini tiap-tiap
anggota bisa menganggota, yakni menjalankan kewajibannya sendiri.
Seterusnya anggota itu pada hawa tersebut, kecepatannya kerja itu cocok
pula dengan orkes, harmoni pekerjaan sekalian anggota.
Sekarang panas tadi berubah dari 36 derajat Celcius menjadi 10
serajat. Satu anggota susah atau mustahil bisa mencocokkan cepatnya
kerja dengan harmoni dari seluruhnya anggota. Yang lain tak begitu
dipengaruhi oleh perubahan hawa itu. Akibat buat bermacam-macam anggota
itu tentulah satu kekacauan atau malapetaka. Tetapi pada manusia kita
dapati pembatalan kebatalan. Pada manusia (yang berdarah panas) kita
dapati penyesuaian. Panas badan kita sedikit sekali berubahnya,
walaupun hawa diluar badan kita turun naik dengan banyak angka. Panas
itu tetap buat seluruh Badan. Akhirnya panasnya badan kita itu hampir
tetap buat berlainan tempat. Inilah yang dinamai para ahli “Constancy of
the Internal Environment” aritnya “ketetapan panas dalam Badan”.
Berlainan dengan amuba & Co. Buat mengatur setimbangnya yang hilang
dengan yang tumbuh itu mendapat anggota terkhusus, buat mengendali
panasnya badan. Panas yang hilang ditimbangi oleh panas yang dibikin
dalam badan itu. Ada perawat terkhusus dalam badan kita, badan manusia.
Dengan “ketetapan panas badan” kita itu, badan kita bisa memilih reaksinya
Alkimiah
yang cocok dengan panas yang tetap tadi, kita tak perlu memperdulikan
akibatnya perubahan panas diluar badan kita itu. Kita tak perlu lari,
seperti sang Amuba, buat menyingkiri sedikit perubahan panas diluar
Badan kita. “Perubahan” panas diluar “Badan” kita, dijawab dengan
“ketetapan” panas dalam badan kita. Dengan begitu kita bisa
menyesuaikan diri dengan perubahan hawa.
Penyesuaian diri itu dan berhubung dengan itu anggota buat
penyesuaikan diri dengan keliling itu tiadalah diperoleh dengan
tiba-tiba pada satu tempo saja. Anggota baru buat penyesuaian diri itu
didapat sesudah jutaan tahun, sebagai hasil dari evolusi. Dari yang
hidup ber-
cel satu seperti Amuba sampai ke Hewan Yang Berdarah
Panas mesti menempuh jutaan tahun. Ahli zaman sekarang tiada bisa
semenitpun, dalam pekerjannya berpikir itu meandaikan, bahwa sesuatu
Badan atau sesuatu anggota itu bikinan Dewa Ra atau Mahakuasa yang
manapun juga. Dia mesti melangkah dengan dan mesti mengaku penuh
kebenarannya Evolusi.
Yang menjadi pertikaian pikiran, Cuma bagaimana Evolusi itu berlaku.
Perkara “bagaimananya” tentulah susah dijawab, karena sejarahnya
manusia umumnya dan sejarahnya Ilmu Biologi terkhususnya amat pendek,
kalau dibandingkan dengan sejarahnya Yang Hidup. Walaupun Ilmu berpikir
bertambah jitu, perkakas pemeriksa bertambah pasti, peralaman baru
bertimbun-timbun, penggalian tulang-belulang Yang Mati (punah) banyak
memberi keterangan dan simpulan baru, belumlah semuanya dapat memberi
kepastian atas “bagaimana” berlakunya Evolusi ini.
Berhubung dengan “bagaimana” berlakunya Evolusi itu, kita berjumpa
dengan empat teori. Sebetulnya Cuma tiga, sebab teori yang ke-empat
Cuma mengisi yang pertama.
Pertama, Lamark & Co menganggap Keliling itu membentuk Badan dan anggotanya semasa sejarahnya sesuatu jenis hewan.
Kedua, Keliling sama sekali tiada mempengaruhi
Badan dan anggota sesuatu jenis, sesuatu jenis hewan baikpun langsung
atau tak langsung. Badan dan Anggota sebagai hasil turun-temurun itu
mengandung dan melakukan nasibnya (takdirnya) sendiri (predetermined).
Ketiga, Keliling dengan tata langsung memang
membentuk badan dan Anggotanya. Keliling membantu beberapa perubahan
pada Anggota turunan. Anggota yang cocok dengan keadaan yang baru,
dibantu dan yang tiada cocok dilenyapkan. Inilah teori
Darwin.
Yang ke-empat Cuma buat memenuhi yang pertama. Keliling dianggap
membentuk Badan dan Anggotanya dengan jalan tak langsung. Badan itulah
yang menyesuaikan dirinya dengan Keliling. Dengan begitu anggotanya
jadi berubah. Perubahan susunan anggota ini diturunkan pada turunnya.
Kita lihat pada teori pertama, Lamark satu pekerjaan yang terjadi dari
satu pihak saja ialah dari Keliling semata-mata. Ini cocok dengan
materialisme yang mekanis, berlaku seperti mesin. Tak ada perlantunan.
Teori kedua ada berbau “nasib” takdir berbau ke-Tuhanan yang menentukan nasib itu lebih dahulu.
Pada Darwin, pada teori ketiga kita ada jumpai seluk-beluk. Badan dan anggotanya bukanlah semata-mata benda
passive,
penerima saja seperti tanah liat, yang bisa dibentuk sesukanya. Bukan
periuk saja. Juga bukan benda yang sudah dinasibkan bisa membentuk
dirinya sendiri dengan tiada memperdulikan kelilingnya. Ilmu Biologi
pada masa ini lebih berdekataan dengan teori Darwin dari pada teori
yang lain-lain.
Pada Darwin kita dapat seluk-beluk antara hewan dan Kelilingnya tiada
bersimaharajela membentuk hewan semau-maunya. Hewanpun tiada
bersimaharajalela membentuk dirinya sendiri. Keliling membantu anggota
yang cocok dan
melenyapkan anggota yang janggal. Hewan memperbaiki anggota itu pada turunnya, karena
betina
memilih laki yang tergagah, terpintar menyanyi atau menari dan yang
paling cantik buat jodohnya. Dengan begitu lama, lembut badan dan
Anggotanya sedikit demi sedikit berubah sampai sesuai dengan
Kelilingnya. Semuanya mengandung sejarah yang lama sekali.
Penyesuaian terjadi diantara sesuatu Badan dan Anggota dengan
Kelilingnya. Penyesuaian itu dijawab oleh Badan kita dengan Anggota
yang berkenaan. Tadi sudah dibilang, bahwa badan kita mempunyai anggota
pesawat terkhusus buat mengatur setimbangnya panas yang hilang dengan
panas yang ditimbulkan. Akan terlalu panjang bagian tulisan ini dan
akan melampaui maksud kalau disini mesti diuraikan pula. Bagaimana
semua anggota dalam badan kita menganggotakan semua setimbangan itu.
Memadailah sudah, kalau kita bilang, bahwa cukup peranggotaan dalam
badan kita buat mengadakan, tidak saja panas yang tetap tetapi juga
gula, putih telur, Oxygen dll
yang tetap banyaknya.
Dalam semua hal ini kelihatan, bahwa Badan kita ini ialah satu pabrik yang sangat sulit, satu proses-
alkimiah,
yang tak berhenti kerjanya dan bekerja sendiri saja. Sendirinya semua
pesawat dalam badan kita mengurangkan yang lebih dan menambah yang
kurang. Tiada ia menunggu perintah dari supir atau masinis. Akhinrya
teranglah pula, bahwa pabrik maha ajaib, yang
automatic ini ialah hasil dari penyesuaian diri dengan Kelilingnya dalam berjuta-juta tahun.
Cukuplah sudah kita membentangkan kiri-kanan. Sekarang sampailah
waktunya buat mengadakan simpulan. Kembali kita pada maksud buat
membikin definisi tentang
Hidup dengan memperhatikan 4
sangkutan ini yakni Keliling, Yang Berbadan, Peranggotaan dan
penyesuaian. Maka sekarang definisi itu bisa dibentuk dengan Hidup,
ialah Kodrat dan bisa menukar zat asli jadi zat badannya itu, sebagai
hasil dari penyesuaian Badan dan Peranggotaan dengan perubahan
Kelilingnya (sedikit keterangan!). Pada definisi ini Kodrat dianggap
golongan yang lebih dari hidup. Kodrat itu termasuk baik pada yang Mati
ataupun yang Hidup. Perbedaannya Kodrat yang Hidup dengan yang Mati,
ialah yang pertama bisa menukar zat-asli jadi zat-bahannya (yang
mengandung putih telur & Co).
Kodrat ini adalah hasil dari penyesuaian Badan dan Anggota dengan Kelilingnya. Perkataan “
hasil” itu mengandung pengertian tempo.
Buat peramtaan, maka keempat definisinya Hidup itu saya tuliskan dibawah ini:
- Hidup ialah satu jenis gerak-gerik (activiteis) semata-mata
dari pada Benda (hidup) berkenaan Tuhan (living creatures).
- Hidup yaitu yang bukan mati (sebagai definisi tandingan, (saingan) oleh penulis ini).
- Hidup ialah kodrat yang sendirinya terus-menerus (autoamtic)
bisa menukar zat-asli (element) menjadi zat-badannya sendiri.
(Oleh penulis! Berdasarkan Badan, Peranggotaan dan Keliling).
- Hidup, ialah Kodrat, sebagai h a s i l dari penyesuaian
Badan dan Peranggotaan dengan Kelilingnya, dan bisa menukar
zat-asli menjadi zat-badannya. (Oleh penulis! Berdasarkan 4
sangkutan coordinates).
Pasal 10 UNDANG SEJARAH YANG HIDUP.
Dalam sejarahnya benda yang terkecil serta kodratnya ialah atom
sempai menjadi Alam Raya sekarang kita sudah saksikan, bagaimana
kuasanya undang Dialektika beralasan benda itu. Sebagai tulang-belulang
pada sesuatu badan, begitulah pula undang Dialektika itu membatasi
daerahnya. Dalam daerah inilah bisa dan mesti bekerjanya Logiika. Dalam
berjuta-juta tahun, pada hawa maha panas berkurang-kurang sederajat
demi sederajat atom dari hydrogen bertambah elektron satu demi satu,
sampai kesaatnya: ini bukan lagi atom dulu dan belum lagi baru. Apda
saat ini atom tadi, ialah lama dan baru. A = non A Kemudian timbullah
atom baru, dengan begtu terjadilah
pembatalan kebatalan.
Demikianlah kita sampai kepada 92 jenis atom yang sudah diketahui pada masa ini.
Menurut hukum “perubahan bilangan menjadi perubahan sifat” sampai
kepada sesuatu benda itu menjadi baru dan lama (A = non A) dan akhirnya
tiba dihukum “pembatalan kebatalan” kita dapatkan 92
element (zat-asli sekarang) yang membentuk jarinya jadi bermacam-macam
molekulen. Yang terakhir ini menurut hukum tadi juga, terutama berhubung dengan tambahnya
carbon, diantara ratusan ribu paduan
carbon kita jumpakan tepung, gemung dan putih telur.
Sekarang putih telurlah yang akan kita pakai buat titik melangkah.
Pada putih telur ini kita jumpakan hukum A = non A. Kalau kita bertanya
apakah telur ini yang Mati atau yang Hidup, maka kita bisa jawab
dengan ya semata-mata atau t i d a k semata-mata. Logika sudah terlepas
kekuasannya pada titik ini. Kita mesti bernaung dibawah Dialektika.
Kita mesti jawab dengan y a dan t i d a k. Putih telur ialah sesuatu
sipang, kedaerah yang Hidup dan kedaerah yang Mati.
Menurut garis besarnya saja dalam sejarahnya putih telur pada panas
yang turun dari sederajat demi sederajat kita mesti sampai kesaat
baru itu lama. A itu non A. Akhirnya sesudah yang Hidup (Biology) pada tingkat eskarang dianggap sebagai satuan (unit) dari yang Hidup.
Cel tak bisa dibagi lagi. Aklau dibagi kita tak mendapatkan yang kita sekarnag namakan yang Hidup lagi. Kalau seandainya
Cel yang dianggap lebih dulu dari pada putih telur, maka lakon tadi berjalan sebaliknya yakni dari
cel
ke putih telur. Hal mana yang dulu itu tak penting pada bagian ini.
Yang penting ialah a p a dan b a g a i m a n a berlakunya undang
sejarah Yang Hidup itu. Pada ilmu yang bersangkutang (seperti Biology
dsb). dengan Logika dan perkakasnyalah terserah kewajiban buat
menentukan mana yang pertama mana yang kemudian, diantara tiap-tiap
buktinya. Cel pada satu pihak membatalkan benda yang dibelakang
sejarahnya ialah putih telur tadi. Tetapi terhadap pada benda didepan
sejarahnya ia bermuka dua. Ia adalah simpang buat dua arah. Ia adalah A
= Non A. Satu arah menuju pertumbuhan. Arah yang lain menuju ke Hewan.
Pada
cel pertama sekali didapat benda kedunya “baru dan lama”, tumbuhan dan hewan; A = Non A.
Terus sejarah berjalan selangkah demi selangkah, sampai ke
“pembatalan kebatalan”. Sekarang
kita pasti bisa memisahkan tumbuhan dari hewan. Tumbuhan itu tidak
lagi hewan dan hewan itu tidak lagi tumbuhan, seperti pada satu saat
yang lampau.
Tidalah disini akan kita ikuti sejarahnya bermacam-macam tumbuhan
yang masih Hidup diseluruh bumi kita ini saja atau pun yang sudah.
Tiadalah kita bisa dan perlu mengikuti sejarahnya kurang lebih
2.000.000 jenis hewan yang masih hidup di bumi dan yang sudah punah
tetapi ditemui tulang-belulangnya terkubur di daratan dan lautan. Yang
akan kita majukan Cuma undang sejarahnya saja. Undangnya itu tiada lain
melainkan undang yang berlaku pada Benda terkecil, benda yang kita
namai mati itu dan yang terbesar ialah Alam Raya: bermula perubahan
bilangan menjadi perubahan sifat, sampai ketingkat pertengahan: A itu
sama dengan non A, baru itu lama, akhirnya berlaku
pembatalan kebatalan.
Begitulah dalam garis besar saja pada sejarah Yang Hidup dalam jutaan
tahun dari Yang Hidup bercel satu saja dari pada Amuba yang hidup
dalam air tadi lama-kelamaan kita sampai pada ikan yang emmpunyai
banyak
cel dan akhirnya pada amfibi: binatang yang hidup di air dan daratan seperti kodok.
Menurut hukum Dialektika tadi, maka radai (fins) yang kita dapati
pada gerundang seperti pada ikan sudah berganti menjadi kaki pada
kodok. Insang pada gerundang, seperti terdapat pada ikan, ialah teman
sealamnya, sudah menjelma menjadi rabu. Didarat, dimana udara lebih
membutuhkan sokongan (tongkat) dari pada didalam air, maka kaki tangan
kodok boleh dipakai sebagai tongkat. Kaki tangan boleh dipakai pula
buat bergerak serta jari boelh dipakai buat memegang dan memeluk. Tata
saraf (nervous-system) yang terbawa oleh kemajuan tulang-belulangnya
kaki tangan bisa maju dalam kehidupan pada keadaan baru. Pilihan alam
diantara anggota yang cocok dalam pertarungan seru dan tak
habis-habisnya, yang mesti di alami sang kodok, pertukaran anggota
sedikit demi sedikit, dari bapak turun keanak, kecucu-kecicit akhirnya
menimbulkan
y a dan b u k a n, kodok. Sampai kita pada hukum pembatalan kebatalan, ke
binatang
MENJALAR seperti ular dsb. disini faktor (perkara) baru, yang penting
buat yang hidup umumnya dan manusia terkhususnya, timbul ailah
menampakkan dirinya lebih terang: otak Yang dinamai otak depan itu pada
binatang yang menjalar lebih besar dari pada yang terdapat pada ikan
dan kodok. Tiada mengherankan karena keadaan didarat dan pertarungan
didarat adalah bermacam-macam. Perubahan hawa, angin, topan, hujan,
panas, sejuk, dsb lebih berpengaruh pada binatang yang hidup di darat
dari pada yang hidup didalam air mencari makanan buat diri, kawan dan
anak didaratan yang penuh dengan musuh dan bencana alam sendiri,
menuntut anggota yang lebih sempurna dari pada ketika hidup dalam air.
Alam memilih anggota yang cocok buat pertaruan seru sengit yang tak
putus-putusnya itu dan memusnahkan anggota yang janggal (
Darwinisme). Turunan
terus-menerus memajukan anggota yang baik tadi. Seperti pemeriksa
hewan terpelajar dalam tempo yang sedikit saja bisa menyaksikan
perubahan sedikit demi sedikit, demikianlah hewan dalam pertaruan
jutaan tahun bisa membutktikan perubahan bilangan menjadi perubahan
sifat. Kita sampai pada mengandung bayi dalam perutnya, brung yang
masih bertelur seperti ular dan akhinrya pada Hewan yang berdarah panas
melahirkan anak hidup-hidup, menyusukan anak itu dan mendidik anak itu
sampai bisa beridiri sendiri menentang musuh didalam dan diluar.
Manusia yang mendidik anaknya dalam sekolah taman anak-anak disekolah
Rakyat, Menengah Pertama dan Tinggi, di Sekolah Tinggi buat
Meester,
Dokter, Insinyur, dll ... buat kelak meladeni pertaruan dalam
masyarakat sendiri pada satu pihak dan terhadap pada Negara dan
Masyarkat serta Alam Raya pada lain pihak.
Menurut hukum Dialektika tadi juga, akhirnya ibu hewan dan Manusia,
memperoleh anggota terkhusus dalam badannya buat memupuk anaknya dengan
darahnya dalam kandungannya. Binatang dan Manusia mendapatkan otak
buat menyelenggarakan semua gerakan dalam dan luar badannya sebagai
Markas Besar menyelenggarakan sesuatu peperangan dengan tipu
muslihatnya.
Otak. Inilah benda terakhir yang diperoleh
yang Hidup. Benda yang maha sulit, maka penting dan maha ajaib. Tetapi
baik dalam hal susunannya (structuur) ataupun peranggotaannya
(fuction) sejarahnya otak dari otaknya ikan, kodok, ular, burung, hewan
dan manusia, diantara kelas tani saudagar, proletar dan akhirnya
(boleh jadi juga?) diantara kelas intellek, modal, busyauah dan
proletar .......... pendeknya sejarah otak, dalam semua jenis hewan dan
golongan manusia itu takluk juga pada Ada
t a k a d a dan
a d a t a k a d a (thesis, antithesis, dan synthesis).
hukum
pembatalan kebatalan buat mengadakan setimbang, ketetapan tingginya
panas
dalam badan sudah kita uraikan lebih dulu. Tak perlu diulang lagi.
Sambil lalu sudah dibilang pesawat memegang ,”setimbangnya” banyak,
gula, putih telur,
oxygen,
hydrogen, dsb dalam badan yang berdarah panas itu.
Baik juga disini dijelaskan sedikit bagaimana pesawat yang bekerja
sendirinya itu (automatic) dalam bilik kimia (laboratorium) pada badan
kita menjalankan kewajibannya.
Henerson dan
Hasselbek membuktikan bahwa timbunan (concentration)nya
H(ydrogen)-ion itu tiada tergantung pada
setimbangnya adanya kedua zat itu. Bagaimana pesawat dalam badan kita mengadakan
setimbang itu dengan tetap?
Pertama perantaraan resperatry (tata-bernafas). Naiknya banyak
H-ion
dalam darah kita menyebabkan naiknya gerakan pusat pernafasan. Hal ini
meyebabkan naiknya kehilangan carbonit-acid (yang mengandung H. itu!)
pula. Jadi naiknya
tambah menyebabkan naiknya
kurang; naiknya
dapat menimbulkan naiknya
hilang.
Kedua dengan perantaraan buah punggung (kidneys). Kalau
timbunan acid (asam) menjadi
kurang dalam badan kita, maka kecing kita mengeluarkan alkali (asin)
berlebih sama dengan
kurangnya
asam tadi. Jadi kurang masuknya pada satu pihak disteimbangi dengan
lebih keluarnya pada lain pihak. Hasilnya tetap setimbang.
Semuanya ini terjadi dengan tidak diawasi oleh ahli kimia (laborant),
automatc, ajaib, tetapi tidak gaib sesudah diketahui undang sejarahnya!
Tak bisa dipisahkan dair bendanya dan sejajar jalannya dengan benda
tadi, begitulah pula mesti dianggap, sejarahnya kodrat. Terkandung oleh
Yang Mati, kodrat ini berupa cahaya, sinar dan panas atau tersembunyi
ia berupa listirk, gerakan perpaduan dan perpisahan dalam Kimia dan
Gerakan Tolak dan Tarik. Pada tumbuhan kodrat ini bertukar menjadi h i d
u p yang bisa menukar element menjadi zat badannya sendiri; yang bisa
bergerak mencari sinar dengan pucuknya, ditaruh diatas ataupun dibawah
pucuk tumbuhan itu: yang bisa mencari air dengan uratnya baikpun
ditaruh dibawah ataupun diatas satu tumbuhan (Ingat satu benih dalam
msatu peralaman). H i d u p itu membentuk dirinya seperti
instinct
pada hewan, kepandaian yang tiada dipelajari, melainkan dipusakai dari
ibu bapak; yang bisa mencari makanan, mencari obat diantara benda
disekelilingnya, memelihara dan membela anak mati-matian, walaupun
sering Sang Ibu biasanya penakut dan mahluk yang lemah; menghindarkan
atau atau melawan musuh mati-matian; mencari jodoh yang jempol dalam
segala-gala ......dsb. akhirnya
instinct tadi berbentuk menjadi
a k a l, manusia
yang bisa sadar akan dirinya sendiri memperalamkan Alam Raya terkecil
dan terbesar; bisa membentuk paham, teori, idaman dan rancangan dan
menjalankan rencana itu dalam alamnya dengan begitu pada lagi diam,
passif, dibentuk alam melainkan membentuk sipembentuk itu sendiri.
Tidaklah perlu dan tidak pada tempatnya disini dibentangkan buktinya
sejarah otak dari yang berbentuk pada cacing atau ikan sampai pada
manusia; yang dibentuk dalam jutaan tahun dalam keadaan berubah-ubah
itu; yang dibentuk dalam iklim pertarungan dan iklim bertolong-tolongan
itu. Pastilah sudah sejarahnya itu berlaku menruut hukum Dialektika
sebagai tulang-belulang.
Menurut undang inilah, kodrat yang terdapat pada Yang Mati itu berubah sedikit demi sedikit menjadi
H i d u p pada tumbuhan dan terus menjadi
i n s t i n c t pada
hewan, dan akhirnya sejajar dengan badannya dari otak kecil sekali
pada hewan rendah menjadi otak terbesar pada manusia menempuh undang
Dialektika juga
achomadia sampai pada akal kita manusia.
Syahdan
a k a l inipun baru menempuh sejarah
terkira. Tingginya akal bakal melambung tak bisa diukur, karena semua
ukuran kita sekarang ialah barang yang tetap, barang yang ditetapkan
(note: Laurentz, Relativity of measurements). Tetapi a k a l itu maju
menurut undang gerakan, undang pertentangan dan berseluk-beluk dengan
sejarahnya terus-menerus.
Sejarah Alam Raya ialah sejarah terus-menerus, keterus-menerusnya
satu sejarah, otak dan akal sebagai bagian dari benda dan kodratnya
Alam Raya, mempunyai sejarah yang terus-menerus pula.
Tetapi sejarahnya hidup pada tumbuhan sampai ke
instinct pada
hewan dan terus ke akal pada manusia sejajar dengan sejarah cel
tumbuhan, bendanya hewan, sampai akhirnya pada cel anggota manusia,
takluk pada undang Dialektika. Dalam badan yang ditulang-belulangi oleh
Dialektika yang beralasan Benda inilah berlaku terus-menerus pula
Logika yang berbentuk pada bermacam-macam ilmu buat mempelajari yang
hidup Ilmu Tumbuhan, Ilmu Binatang, Ilmu Kuman dsb. karena manusia itu
satu “hewan dalam masyarakat” yang tiada pula bisa dipisahkan dengan
masyarakatnya, maka ilmu yang timbul buat mempelajari manusia juga
tiadalah ilmu semata-mata mempelajari Badan dan peranggotaan
(physiologie) dan Jiwanya (psychologie), Ilmu Tumbuh, dari bayi sampai
balig (embryologie) dsb saja tetapi juga Ilmu Masyarakat dengan
cabang-cabangnya Ekonomi, Politik dll.
Puluhan ribuan peralaman yang diadakan oleh para ahli buat menentukan
sifat dna gerak-geriknya tumbuhan. Puluh ribuan pula peralaman buat
menentukan sifat Badan dan
insticntnya hewan.
Bertimbun-timbun pula peralaman buat menentukan sifat dan gerakannya
otak manusia. Masing-masing cabangnya Ilmu Hidup terutama pada satu
abad dibelakang ini sudah mencapai puncak yang tinggi, lebih tinggi
dari puncak yang dicapai seluruh manusia pada 500.000 tahun dibelakang
ini.
Tetapi bagaimana juga majunya semua peralaman dan undang yang didapat
oleh bermacam-macam cabangnya Ilmu yang Hidup itu, tiadalah dia bisa
melupakan daerah tempatnya bekerja. Luas dan sifat arahnya bekerja itu
dibatasi, ditulang-belulangi dan dengan beitu ditentukan oleh
Dialektika Materialisme. Para ahli tak sekejappun bisa melupakan
pertentangan gerakan, perkenaan dan tempo.
Melupakan Daialektika yang berdasarkan Materialisme, bisa
melantingkan para ahli ke Alam Mistika atau kealam Mekanisme. Dari
susunan
cel sampai kesusunan Badan Manusia, dari
instict
sampai keakal, semua benda dan tunduk pada hukum Dialektika. Tetapi
Dialektika ini takluk pula pada Materialisme, kebendaan. Bukan
Materialisme yang takluk pada Dialektika. Dialektika itu bisa lahir
lebih dahulu dalam otak manusia yang paling cerdas. Tetapi Dialektika
semacam itu mesti cocok dengan Dialektikanya Benda, yakni hukum
gerakannya Benda. Kalau besok atau lusa tiada didapati kecocokan itu,
maka Dialektika semacam itu berarti Dialektika kosong, Dialektika
impian, yakni impiannya seorang ahli Dialektika.
Pasal 11. KEPERCAYAAN.
Yang saya maksudkan dengan kepercayaan, ialah semua paham yang tiada
beralasan kebendaan, kenyataan, atau dengan lain perkataan, semua paham
yang tiada berdasarkan barang yang bisa dialamkan, atau boleh
dipikirkan dapat-nya diperalamkan. Sebaliknya
science Ilmu
Bukti, ialah paham yang berdasarkan barang, perkara atau kejadian yang
bisa diperalamkan atau sedikitnya masuk diakal, mungkinnya
diperalamkan, kalau semua alatnya ada.
Hypothesis, tiadalah masuk kedalam golongan kepercayaan; melainkan persangkaan, sebab
hypothesii itu bisa diubah atau dilemparkan sama sekali, kalau dibelakangnya nayta, bahwa bukti atau kejadian membatalakannya.
Hypothesis ialah calon satu undang atau teori.
Hypothesis
bisa jadi undang atau teori kalau akhirnya bukti membenarkannya.
Science itu tiadalah satu paham yang mesti diterima saja tak dengan
siasat, kritik, dan mesti dikandung dalam jiwa saja sampai kepintu
kubur. Sebaliknya satu kpeercayaan tu mesti diterima bulat-bulat begitu
saja. Walaupun kita mau memperalamkan, kita tiada bisa berbuat begitu.
Kita umpamanya bisa menyaksikan ratus ribuan bintangnya Ahli Bintang
atau protonnya.
Ahli kodrat, walaupun mata telanjang tak bisa melihatnya. Tetapi
Tuhan, Atman, Jiwa atau Neraka serat Surga bagaimanapun juga tak bisa
diperalamkan kedalam golongan yang “
tiada” bisa
diperalamkan oleh kita ribuan juta Manusia yang malang ini. Yang tiada
dianugrahi malaikat, mendengar atau merasa Yang Maha Kuasa, Maha Mulia,
Maha Kasih itu. Semua manusia yang pernah berjumpakan atau menyaksikan
Tuhan Maha Jiwa atau Atman itu dengan pancainderanya belum pernah
menyaksikan saya dimuka orang banyak dengan memanggil DIA kembali.
Pendeknya Tuhan, Jiwa Manusia, Atman Surga dan Neraka itu semuanya benda yang diluar peralaman.
Berhubung dengan keterangan diatas, maka tiadalah ada alasan saya
buat menyingkirkan paham Nenek Moyang Bangsa Indonesia sekarang dari
golongan
Kepercayaan. Jadi paham Animisme (Ilmu Kejiwaan), Dynamisme (Ilmu kekodratan) dan
Daimonology
(Ilmu Perhantuan) itu yang oleh agama ditolak mentah-mentah sebagai
tahayul, terpaksa saya masukkan dalam golongan kepercayaan juga. Malah
dalm hal ini sedikitpun saya tak berlaku tak sama berat, karena mereka
yang percaya menurut Animisme (Jiwa) dsb itu mengatakan
pawangnya
(tukang tenung) bisa segenap tempo memanggil dn membuktikan badan atau
kodrat yang tiada bisa dipandang orang banyak dalam keadan biasa itu.
Kalau tidak segenapnya, sebagiannya bisa dibuktikan.
Maksud saya pada pasal ini ialah memancarkan Madilog keseluruh Asia,
sumber semua kepercayaan yang terutama di dunia ini seperti si-pemancar
obor listrik memancarkan sinarnya memeriksa yag ada diudara. Tentulah
pada satu pasal saja, saya tak bisa berlaku seperti seorang labornat
atau anatomist yang mesti mencampur adukkan, memisah, menyayat (potong)
benda yang diperiksanya itu habis-habis sampai semua bagian dan
sifatnya diketahui. Pertama sekali tempo tak membenarkan. Betul dair
dahulu sekali saya banyak mempelajari segala kepercayaan dari Animisme
samapi ke Spritisme melalui segala agama yang terkenal di dunia. Tetapi
semua pengetahuan itu emsti dibangunkan kembali dari tempat
pendiammnya di
sub consciousness dari kesadaran-lenanya –Freud--
, dengan membaca kembali bertimbun-timbun buku. Kedua dan inilah yang
terpenting, walaupun semua peringatan itu akan bangun kembali dengan
yang lebih terang dan gemilang, tetapi apa boleh buat, Madilog tak bisa
berlaku
langsung atas kepercayaan. Seperti sudah
tercantum diatas, semua kepercayaan itu ke-tiadaan benda. Sebahagian
dari pengetahuan sesuatu kepercayaan itu boleh jadi sekali cocok dengan
Logika atau Dialektika, tetapi segala bukti lantainya (presminya) tak
takluk pada peralaman tiada bisa diperalamkan.
Seperti sudah saya bilang lebih dahulu, benar atau tidaknya sesuatu
kepercayaan terserah pada otak, perasaan, kemauan, pendeknya pada jiwa
masing-masing.
Madilog tak bisa berlaku langsung atas kepercayaan, karena
kepercayaan itu kekurangan alat melangkah, ialah matter benda. Tetapi
dengan jalan memutar, tak langung, Madilog bisa menerangkan kepercayaan
itu ialah sebagai Obor Listrik yang berdiri diluar, yang tiada
memasuki barang itu diseluruhnya.
Dengan jalan tak langsung ini Madilog akan memberi keterangan atas:
- = Kepercayaan Indonesia Asli.
- = Kepercayaan Hindustan (Asia Tengah).
- = Kepercayaan Asia Barat.
- = Kepercayaan (Sepintas lalu saja) Tiongkok.
Bagian 1.
KEPERCAYAAN INDONESIA ASLI
Sebetulnya kepulauan India, yang diartikan dan diringkaskan dengan
kata Indonesia, tidak benar dan terlalu sempit buat memeluk bagian bumi
dan manusia dengan alasan Ilmu bumi serta ilmu kebangsaan dan
kebudayaan (kultur) jaman sekarang. Pada jaman purbakala kepulauan
Indonesia sekarang bersatu dengan Birma, Siam dan Annam di Utara serta
Australia di Selatan. Syahdan dalam Ilmu Bumi, Birma dan India adalah
dua bagian bumi yang berlainan bentuk dan hawa. Pun keduanya dipisahkan
oleh barisan Gunung yang dahulu kala sebelum Inrggis datang, boleh
dibilang memustahilkan perhubungan Birma dan India dahulunya
diperhubungkan oleh perpisahan, ialha oleh lautan. Pada zaman dahulu
kala dengan jalan darat, Jawa lebih dekat dari Birma dari pada
Benggala, walaupun yang dibelakang ini Cuma dibalik Barisan Gunung di
Assam saja. Pun menruut Ilmu Kebangsaan, yang berdasarkan atas ukuran
seperti tingginya badan, bentuk kepala dan muka, warnanya kulit, mata,
dan rambut, serta bentuknya rambut penduduk Birma, Siam dan Annam 100 %
sama dengan penduduk Indonesia dan hampir 100 % berlainan dengan
penduduk India. Demikian juga akhirnya kepercayaan asli penduduk Birma,
Siam dan Annam dan kerpecayaannya sekarang penduduk asli Assam, bangsa
Naga, Lao dsb berlainan dengan Hinduisme dan sama 100 % dengan
kepercayaan Indonesia Asli umunya dan penduduk Indonesia sekarang
seperti Dayak, Toraja dll, terkhususnya.
Tetapi disini akan saya majukan sepatah dua patah kata saja tentang perkara yang berkenaan:
- Menurut Ilmu Sejarah Bumi, maka pada zaman dahulu kala,
kepualauan Indonesia bertaut dengan Asia dan Australia. Hawa dan
bentuknya Birma, Siam, dan Annam dsb lebih cocok dengan Indonesia
dari pada India seluruhnya.
- Race Theory (Ilmu Kebangsaan) model baru sekali,
mengakui penuh ke-esaan bangsa Indonesia sekarang dengan penduduk Birma,
Siam, Annam (Haddon Smith dll). mereka namai bagian manusia ini
Aceani Mongols, Tartaria Samudra. Jadi diluar golongan
bermacam-macam bangsa di Hindustan yang termasuk golongan bangsa
Kaukasia.
- Kepercayaan Asli dari Tartaria Samudera ini ada bersamaan
dengan kepercayaannya suku Naga di Assam dan suku Laoh
dipergunungan Utara Siam dan Annam yang semuanya belum dipengaruhi
Hinduisme. Kepercayaan mereka banyak sekali bersamaan dengan
kepercayaan suku Bangsa Indonesia, yang eblum dipengaruhi
Hinduisme dll. seperti suku Batak, Dayak, dan Toraja.
(Perkara bumi, bangsa dan kebudayaan terutama perkara “bangsa” yang lebih lanjut akan diuraikan pada buku yang lain).
Disini sementara akan saya majukan, bahwa sebetulnya, seperti saya
terangkan diatas, nama Indoneia itu pincang dan semping. Pincang, karena
betul kepulauan Indonesia pernah bersatu dengan dan masih bersamaan
dengan Asia Selatan, tetapi tidak bersamaan dengan India terkhususnya.
Nama yang lebih cocok ialah Kepualuan
Asia-Australia
bersatu dan baikpun menurut Ilmu Bumi dan Ilmu Bangsa. Dalam buku saya
yang kedua, bagian bumi yang memeluk Birma, Siam, Annam dan Semenanjung
Tanah Malaka, yang semuanya termasuk benua Asia Selatan dan Kepulauan
Indonesia sekarang serta Australia Utara yang banya mengandung
persamaan dengan Kepulauaun Indonesia, akan saya namai
Aslia, ialah kependekan dari Asia-Australia. Indonesia sekarang akan saya namai
Kepulauan Aslia.
Kesalahan nama Indonesia itu saya pikir berasal dari penjurunya Ahli
Barat memandang. Penjuru itu terletak pada sudut mata saudagarnya
menincerkan mata mencahari cengkeh dan pala pada jaman Kompeni.
Kesalahan itu dibenarkan pula oleh sebagian dari bangsa Indonesia,
yang menganggap India itu Negara Aslinya bangsa Indonesia Asli, karena
dongeng (bukan sejarah) seperti adat dan kesenian yang dipengaruhi
Hinduisme mengatakan begitu. Jadi sejarah, cerita, dongeng dan
omong-kosongnya Hindu yang menjajah kesini, oleh Rakyat Indonesia
lambat-laun diterima sebagai sejarahnya sendiri. Mereka, lupa atau tak
tahu, bahwa walaupun kebudayaannya berasal sebagian besar dari
Hinduisme, tetapi Jasmaninya sebagian besar berasal dari Mongolia dan
Tibet.
Dahulu nama Indonesia itu saya sendiri memakainya. Malah sebelum kaum
Nasionalis zaman baru memajukan segala-gala yang berhubungan dengan
nama Indonesia itu, saya sudah memakai kata Indonesia itu sebagai
kebiasaan seata-mata (Lihatlah tulisan saya sebelum dan sesudahnya
meninggalkan Indonesia). Disini kata itu akan terus saya pakai. Tetapi
dengan sekejap tidak melupakan, bahwa perkara yang berhubungan yang
akan diuraikan disini, ialah, bahwa kepercayaan Indonesia itu, juga
menjadi kepercayaan aslinya bangsa atau Rakyat yang menduduki Asia
Selatan dan Australia Utara.
Kepercayaan Indonesia itu terbagi pula atas tiga perkara. Demikianlah
contoh yang dibawah ini dibagi pula atas tiga jenis. Contoh itu Cuma
yang saya ketahui sendiri pada beberapa tempat. Pembaca yang tinggal
dilain tempat di Indonesia atau mereka yang tinggal di Philipina,
Birma, Siam atau Annam tentu pula bisa memberi contoh secukupnya.
Perkara A. KEPERCAYAAN PADA KODRATNYA SEMUA.
Di Sumatera Barat saya masih ingat beberapa batu yang dipercayai
orang bisa berpindah tempat sendirinya. Keris bernama Beruk Beracun
yang masih disimpan oleh salah saut Sultan di Semenanjung Tanah Malaka
dianggap sakti, mempunyai kodrat luar biasa.
Orang Toraja percya penuh sama kodratnya tumbuhan dan hewan. Sebab
itu orang makan nasi dan daging buat mempunyai kodrat itu. Badan
Manusia itu besar sekali kodratnya. Kuku atau rambut seorang perempuan
perlu dipakai pawang sebagai perantaraan buat menimbulkan kasih atau
gila. Dari napas dan ludah yang disertai oleh
kutuknya
pawang terbanglah kodrat kearah seseorang yang dituju. Kodrat itu ada
pada seluruh badan terutama pada kepala. Menurut Ahli Barat, orang
Toraja itu mengacau dengan maksud mencari kepala manusia, sarangnya
kodrat iut. Kutukan yang keluar dari mulutnya satu pawang yang sadar
akan kodratnya dianggap sangat mujarab. Orang Minangkabau percaya,
bahwa
tengkorak itu kalau digasingkan (gangsingan, Jawa) oleh pawang dapat menggilakan atau mencitakan seseorang yang dituju.
Ahli Barat menamai kepercayaan semacam ini dynamisme
(dynamide-kodrat). Orang percaya akan kodratnya benda, tumbuhan, hewan
dan badannya, terutama tengkoraknya manusia.
Kutuknya seorang pawang yakni manusia yang sudha dilatih dianggap mengandung kodrat.
Perkara B. KEPERCAYAAN PADA JIWA.
Disamping kodrat orang yang tak beragama tadi “heiden” kata Belanda,
jahiliah percaya adanya Jiwa. Tidak saja manusia, tetapi juga tumbuhan
dan hewan dianggap ber-Jiwa. Orang menyangka, Jiwa ini meninggalkan
badannya orang tidur. Apa yang disaksikan oleh Jiwa, itulah yang
disaksikan oleh yang tidur dalam mimpinya. Juwa pada masa sakit Jiwa
itu disangka meninggalkan jasmani. Apabila Jiwa itu tak kembali, maka
matilah orang itu. Orang tak beragama (sikafir ini!) percaya pula,
bahwa Jiwa itu terus hidup. Pada kepercyaan inilah berdasarkan
pemujaan nenek moyang yang sudah meninggal.
Jiwa nenek yang sudha melayang iut mesti dipuja dan diberi kurban,
maka Arwah itu terus menjaga anak-cucunya serta adat-istiadat yang
ditinggalkannya. Kejahatan akan dihukum dan kebaikan akan diupah. Sebab
itulah masyarkat dan adat-istiadat yang dipusakakan nenek moyang
dijaga betul-betul.
Banyak pula yang percaya Jiwa itu bisa pindah kepada hewan yang agagh
seperti macan dan buaya. Sebab itu hewan semacam itu tak boleh
dibunuh.
Ahli Barat menamai kepercayaan semacam itu
animisme
(anima artinya jiwa). Ahli Barat yang mempelajari asal usulnya w a y a n
g hampir semua berpendapatan, bahwa mulnya wayang itu gunanya buat
memuja arwahnya nenek moyang. Arwahnya dipanggil buat meminta nasihat
dan semangat yang perlu buat menyelesaikan atau menjalankan sesuatu
pekerjaan yang penting atau berhaya. Mulanya pekerjaan itu
dijalankanoleh Kepala keluarga, kemudian oleh ahli terkhusus, bernama
“s y a m a n”. Syaman ini terdapat hampir diseluruh Indonesia.
Perkara C. KEPERCAYAAN PADA HANTU.
Hantu ini tiadalah berasal dari manusia. Hantu inilah yang menguasai
hujan, topan, kilat, panas dan gempa. Mereka tinggal di gua batu, dekat
air mancur, dipegunungan dan Rimba Raya. Ada hantu yang baik ada pula
yang jahat. Daintaranya ada hantu terkuasa, yang bisa me-upah yang
berjasa dan menghukum yang berdosa.
Pawang berhubngan dengan hantu itu memintakan ataupun nasihat atau bahagia.
Inilah yang dinamai
daemonology (daemon artinya hantu). Perkataan Dewa dan Setan rupanya datang dari Negara Asing.
SEDIKIT PEMANDANGAN.
Kalau semua kepercayaan Indonesia Asli ini semuanya ialah kepercayaan pada
Kodratnya semua Benda, Jiwa
dan Hantu itu dikatakan kepercayaan saya setujui seluruhnya. Tetapi
kalau dari pihak manapun dari kepercayaan lain, mengatakan bahwa
kepercayaan semacam itu
rendah dari kepercayaannya sendiri, maka saya bertanya dipandang dari pihak mana rendahnya.
Kalau dipandang dari penjuru Ilmu Bukit dan Peralaman (Science dan
Experiment) saya berani bilang, bahwa kepercayaan asli, dari bangsa
Indonesia asli itu sedikitnya s a m a tinggi, saya bilang terus-terang
sama tinggi, karena ada diantaranya yang bisa menderita ujian dan sedikitnya tak bisa dilemparkan begitu saja. Saya tak maksudkan
ketok pintunya dari
stille krachten¸
kodrat rahasia yang disaksikan oleh banyak orang Eropa dan Asia. Saya
sendiri menganggap perpisahan jiwa dengan jasmani itu, yakni jiwa bisa
berdiri sendirinya diluar.
Jasmani, seperti sesuatu kepercayaan, yaiut diluar peralaman.
Saya sendiri belum bertemu hantu atau badan halus manapun juga. Orang
yang percaya selalu mengatakan “Kata si Anu yang mendengar dari si
Polan pula”.
Menurut Madilog
tak ada badan tak ada kodrat. Jiwa
itu ialah kodrat terkhususnya saja pada badan terkhusus. Tetapi seperti
kodrat lain dia berhenti dengan berhentinya jasmani. Dia bertukar
menjadi kodrat kimia sesudah jasmani kembali ketanah, air dan udara.
Bertukar menjadi kodrat hidup tumbuhan, kalau jasmani tadi dimakan
tumbuhan. Bertukar menjadi hidup hewan, kalau jasmani tadi baik dengan
langsung sebagai air atau garam atau memutar sebagai tumbuhan – Darwin –
kembali kepada hewan. Akhirnya bertukar pula menjadi jiwa manusia
kalau dengan langsung sebagai air, garam atau oxigen, atau tak langsung
sebagai makanan, sayur dan daging masuk di mulutnya tani atau
profesor, buruh atau kapitalis, bangsat atau pendeta, maling atau
muallim ................. begitu penganggapan saya terhadap jiwa sebagai
barang terpisah dari jasmani itu, baik berupa arwah ataupun hantu.
Tetapi ada separo dari kepercayaan Indonesia Asli itu yang tidak boleh
dilemparkan begitu saja. Kita tahu, bahwa besi berani bisa menarik besi
yang lain. Kita tahu, bahwa sugesti itu dipakai mereka, dipakai Dokter
model baru buat menidurkan si-sakit. Ilmu menidurkan ini memang lama
diketahui oleh pawang Indonesia. Kita lihat pawang perlu kuku, rambut,
atau tengkorak buat menyampaikan n i a t n y a.
Dia perlu sesuatu benda buat memperhubungkan dia dengan tujuannya
seperti kodrat besi berani tadi, perlu besi beraninya buat mengadakan
kodratnya seperti juga Tuan Dokter perlu latihan dan pembawaaan
(aanleg) dan badannya sendiri buat mengeluarkan kdorat menteranya
(suggestinya). Tidak semua besi bisa menarik dan tidak semua orang bisa
menidurkan dan mengobati orang lain dengan manteranya. Tetapi sesuatu
kodrat yang jaya perlu benda, baikpun serupa besi ataupun badan
manusia. Ditilik dari penjuru
Science selama ini, maka pawang
tak sama sekali mendasarkan kodratnya pada kdorat dirinya. Ia perlu
sesuatu benda, sebab itu saya bilang kepercayaan itu tak bisa
dilemparkan begitu saja. Pemeriksaan yang teratur dan sempurna dengan
jalan peralaman atau embikin tinta memang belum dijalankan. Sebelum
pemeriksaan semacam itu dijalankan, belumlah kita bisa menentukan
pendirian yang pasti tentangan ilmu kepawangan itu, serta Logika
tentangan bermacam-macam kepandaian pawang Indonesia tentangan
pengetahuannya. Besi berani menarik semua besi kearah pedomannya.
Tetapi besi berani kecil takkan bisa menarik kereta atau orang. Tuan
Dokter yang sudah dapat lahitan itu bisa menyembuhkan beberapa macam
penyakit, yang semuanya masuk satu jenis, seperti sakit saraf. Tetapi
saya belum dengar tuan Dokter bisa mengobati penyakit seperti kolera,
pest, atau luka parah dengan mentera saja. Apalagi menghidupkan orang
mati. Menyingkirkan ribuan manusia, senjata dan menyingkirkan makanan
atau menimbulkan kodrat buat melemparkan gunung dan meneruskan hidup
beribu tahun seperti cerita Mahabarata dan Ramayana semata-mata dengan
kodrat jiwa tentulah satu omong-kosong sebesar gunung Himayala.
Pawang Indoensia Asli tak sampai menimbulkan kepercyaan seperti
jempolan
dari Hindustan itu. Dimasa pengaruh Hinduisme itu tidak begitu
mendalam, kepercayaan pada yang tidak-tidak itu belum sampai setinggi
pinggangnya Gunung Himayala.
Kesalahan kepercayaan Indonesia asli, berhubung dengan dynamis tadi,
ialah kodrat terkhusus dari benda atau hewan dan manusia dijadikan
kodrat raya. Sifat atau undang terkhusus dijadikan sifat atau hukum
umum. Jadi dalam kepercayaan pada kodrat semua benda ini, mereka
memperlihatkan kesederhanaan: pikiran
primitif. Ini cocok dengan bumi Indonesia dan pengetahuan serta tehnik (pesawat yang ada pada Indonesia asli).
Meskipun kepercayaan Indonesia asli atau kepercayan Asli Indonesia
tak berurat berakar pada kebendaan seluruhnya, tetapi sebaliknya
kebendaan ada membayang dalam kepercayaan itu, memang kita tak bisa
melihat dengan langsung segala benda, sebagai lantai kepercayaan itu
benda mana tersusun menjadi kepercayaan itu menurut undangnya
Dialektika dan Logika. Tetapi kita ada melihat seluk-beluknya
masyarakat, pesawat dan pengetahuan Indonesia Asli dengan
kepercayaannnya.
Buat membuktikan simpulan terakhir ini saya dapat melangkahi garis
kepercayaan pada kodrat semua benda (dynamisme) sampai kepada
kepercayaan kepada hantu (daemonoisme) atau sebaliknya. Sejarah kita
memang miskin sekali. Bagaimana juga adalah akan mudah diketahui mana
yang dahulu Dynamisme atau Animisme atau Daemonoisme? Terserahlah
pekerjaan ini kepada ahli buat kemudian hari. Disini saya melangkah
dari:
- KEPERCAYAAN PADA KODRAT SEMUA BENDA.
Tidak perlu Filsafat yang dalam atau Ilmu Kimia zaman sekarang buat
mencari sebab, maka saudara Toraja menyangka nasi dan daging itu
mengandung kodrat. Inilah paham asli yang tiada membutuhi ujian.
Ujiannya sudah terlektak pada buktinya sendiri, dan bukti itu
sendirilah yang jadi ujian. Ilmu Bukti sekarang yang membenarkan
keperluan-keperluan tepung, gemuk dan putih telur yang terdapat
terutama pada nasi dan daging itu Cuma memperdalam pengetahuan yang
sudah ada dan sudah sayah. Kalau nenek Indonesia memelihara ternak
dengan segala perhatian dan diseluruh tempat memuliakan padi, lumbung
dan sawah, dan akhinrya membentuk kodratnya, nasi itu pada sat Dewi
Sri, maka semuanya itu cocok dengan keperluan dan Pengetahuan
Masyarakat Asli.
Pernahkah tuan memperhatikan beruk beracun sebelum meloncat kedahan
pohon yang lain. Perhatian bentuk badan sang beruk (monyet) kepada mas
aia mengumpulkan semua kodrat buat meloncatkan dirinya yang berat
ketempat yang jauh. Inilah bentuknya Keris yang disimpan, dimuliakan
dan dipuja oleh Sultan di Tanah Malaka itu. Baja yang dibentuk semacam
itu yang ditikamkan dengan dorongan kilat tak bisa meluputkan musuhnya
dari ketewasan. Kerus Beruk Beracun mengandung kodrat, mulya dan
bertuah! Cocok dengan masyarakat yang sering bersengketa dan sepadan
dengan tingginya pesawat masa itu. Tetapi kodratnya Beruk Beracun buat
mereka terpelajar zaman sekarang berlainan dengan kodrat, kesaktian,
ketuahan anggapan rakyat Indonesia di Semenanjung zaman dahulu.
Tambahlah contoh kepandaian pawang tentang “
menuju” mengiktui atau
mencitakan
tujuannya dengan beberapa contoh yang Tuan lihat atau dengar! Saya
sendiri ada menyaksikan dan mendengar kejadian yang berhubungan dari
pihak yang tiada bisa disangsikan jujurnya! Tetapi tiada disini
tempatnya menguraikan itu. Cuma satu dua perkara yang disini akan saya
kemukakan.
Amok memang perkataan berasal dari Indonesia dan sudah masuk dalam kitab Kamus bangsa asing. Mengamok, ialah hasil
temperament,
hawa nafsu bangsa Indonesia. Bukan disebabkan penyakit seperti kata
setengahnya ahli Barat. Nafsu mengamuk di Jawa atau Semenanjung, di
Makassar atau Mindanau, bisa timbul kalau orang Indonesia merasa dihina.
Ketika Rakyat Indonesia asih mengandung perasan kehormatan tinggi,
pengamokan itu acap terjadi. Begitulah keterngan yang kita peroleh dari
Musafit Tionghoa ataupun Eropa. Bagaimana samurai menyelenggarakan
perkara kehormatan itu dengan dirinya sendiri, begitulah orang
Indonesia menyelenggarakannya keluar dirinya dengan tidak menghitung
banyaknya korban, musuh, tak memandang akibat perbuatannya lagi, marah
sampai kepuncak! Pada satu pawang kemarahan itu terbentuk dengan niat
atau kutuk. Si Umbut Muda yang dihina oleh puterinya menyemburkan semua
niatnya kepada puteri yang ditujunya. Tetapi kemarahan itu ada
berjenis-jenis pula. Marah itu tidak selalu sebab kehilangan kesabaran.
Orang yang dihina dengan tiada semena-mena atau orang sengaja diisap
dan ditindas, dicuci-maki perlu pmarah. Malah ia mesti marah kalau
kemanusiannya belum hilang sama sekali. pendeknya kemarahan itu ada
yang tidak pada tempatnya dan ada yang pada tempatnya. Yang belakangan
ini saya namai murni. Karena kalau nafsu marah itu lenyap sama sekali,
maka hilanglah nafsu membalas, nafsu membongkar yang buruk, yang bobrok
dalam masyarakat. Pendeknya marah yang murni pada satu pihak
mengandung kezaliman dan kesombongan pada lain pihak. Akibat kezaliman
dan kesombongan biasanya kegagalan atau kejatuhan, karena sifat
kezaliman dan kesombongan itu membawah sifat kelengahan dan kesempitan
akal. Kedua yang dibelakang ini pangkal kegagalan, kejatuhan dan
kesedihan, kemenyesala. Kalau marah murni pada satu pihak melambung
menjadi kutik dan pada pihak lain kesombongan melambung pada kegagalan
kesedihan atau kemenyesalan, maka kutuknya pawang bisa merupakan
kejayaan (succes). Orang bisa menyaksikan hal ini pada kehidupannya
sehari-hari. Tetapi kejadian terkhusus dijadikan undang. Inilah
kesalahan logika
primitive. Selain dari hal kejiwaaan
(psychological) ini saya akan kemukakan kemungkinan dan batasnya Kodrat
semua Benda itu. Hal ini sudah saya tuturkan lebih dahulu.
Pada orang Indonesia terpelajarlah terserahnya pekerjaan buat
menyaring yang benar dengan yang salah dalam kepercayaan pawang
Indonesia. Diantaranya banyak yang jujur karena mereka tak membutuhkan
(suggestion) umpamanya buat obat-obatan. Ahli Barat sudah tentu tak
bsia mengadakan pemeriksaan yang sempurna, karena kekurangan
kepercayaan dari pawang dan kekurangan pengetahuan psychologie (jiwa)
dan bahasa Indonesia.
- KEPERCAYAAN PADA JIWA.
Bertenaglah pembaca sembentar! Andaikanlah Tuan memperamati bangsa
Indonesia asli meninggalkan gurun, pasri Mongolia menuju ke arah Selatan
sampai ke Tibet dan Yunan melalaui pegunungan yang tinggi dan lembah
yang curam. Tak ada peta dan tak ada pedoman! Perantauan Cuma
ditentukan oleh
instinct,
naluri saja.
Sekarang mereka lambat laun sampai kebarisan gunung dibatas Birma dan
Annam. Jalan biasa yang bisa dilalui Cuma tepi sungai Salweetn,
Irawadi, Menam, dan Mekong. Jurang sungati ini sekarangpun masih sukar
dilalui. Jalan tak ada. Jalan sudah tentu penuh binatang buas dan bangsa
asli yang sering memusuhi kita dan bermacam-macam penyakit. Sampai
juga mereka ke Semenanjung Tanah Malaka. Akhirnya dari sini mereka
berhamburan diri kekepulauan Indonesia sekarang, ke Magadaskar
disebelah barat dan Amerika di Timur. Perantauan jauh yang penuh
marabahaya alam itu dilakukan dalam abad yang belum mengetahui ilmu
bukti dan pesawat kemesinan. Masyarakat pada masa itu, seluas-luasnya
Cuma tahu suku yang dikepalai Datuk. Datuk ini bukanlah raja melainkan
pemimpin yang dicintai, karena ia terpilih diantara sanak saudara
sendiri. pengikutnya bukanlah hamba atau rakyat, melainkan isteri,
saudara, anak dan keponakannya sendiri. perhubungan pemimpin dengan
yang dipimpin ialah perhubungan bapak dan ankanya atau nenek dan
cucunya.
Kita mesti simpulkan bahwa diantara pemimpin dalam perantauan jauh
dan berbahaya itu mestinya banyak yang cerdik pandai serta berani.
Kalau tiada tentulah mereka tak sampai kemari, melainkan sesat atau
tewas di jalan, kelaparan, diterkam binatang buas atau dikalahkan
bangsa asli. Dalam pengembaraan bertahun-tahun barangkali beratus tahun
itu tentulah banyak timbul persoalan baru, pertarungan baru yang
menuntut peraturan baru. Timbullah undang dan adat istiadat yang mesti
dilakukan buat keselamatan. Datuk yang menyelesaikan persoalan baru
yang memenangkan pertarungan dan mengadkaan undang dan aturan baru
selain hidupnya susah, tentu akan menerima kehormatan, pujian dan cinta
pengikutnya. Tetapi kalau Datuk semacam ini mati pada ketika dalam
marabahaya atau sengketa, tentula hyang tinggal sedikitnya kekurangan
akal, kekurangan pengaruh dan kepercyaaan, keputus asa. Pemimpin baru
belum dapat merebut kepercyaan yang ditumpahkan pada Datuk almarhum.
Pada saat ini dirasa keperluan memakai pengaruh Datuk yang sudah
mati. Tetapi bagaimana? Logika belum ada. Pesannya almarhum ataupun
adat yang ditinggalkannya tiada berarti, kalau dijelaskan maknanya
saja. Masyarakat pada masa itu perlu semangat, perlu jiwanya Datuk
almarhum. Perlu dikatakan pada yang tinggal, bahwa jiwanya Datuk
almarhum masih menjaga hukum, dan adat yang ditinggalkannya. Kalau
tiada, niscaya malapetaka yang akan datang. Persoalan baru tak bisa
diselesaikan begitu saja. Dengan ketangkasan Logika dan pengertian
karena logika, sebagai ilmu berdiri atas kekuatannya (logika) itu
sendiri belum ada, dan belum bisa ada. Logika pada masa selama itu
terletak pada orangnya. Kalau orang itu mati, maka matilah logika itu.
Pemimpin baru belum berlogika yang mengandung
authority
(kekuasaan), terutama karena ia belum memberikan bukti yang cukup
seperti Datuk almarhum. Disini Datuk baru merasa perlu berjumpa dengan
Datuk almarhum seperti dimasa hidupnya. Disinilah timbul
pemujaan ialah kepandaian atau ilmu memanggil yang sudah mati. Sebelum
wayang dilakukan maka Datuk baru kemudian lama-lama
syaman,
ialah ahli terkhusus membakar kemenyan dan memberi korban kepada
almarhum. Pada masa inilah Datuk beru berjumpakan semangat atau jiwanya
Datuk almarhum. Disinilah ia menerima nasibat atau ilham yang perlu
buat memutuskan persoalan baru atau menantang musuh yang kuat hebat.
Diantara para Datuk yang baru tentu ada juga yang kurang keulungannya
dari almarhum. Kalau ia mati tentulah ia akam memasuki Pantheon, istana
Datuk Almarhum pula buat dipujua pula.kalau dua atau lebih suku bangsa
Indonesia kelak bergabung, tentulah jiwa jiwa Datuk almarhumnya yang
sakit dimasukkan dalam istana pergabungan pula. Lambat laun timbullah
akibat: kalau Datuk Almarhum itu berjiwa, tentulah anak cucunya terdiri
dari jasmani dan jiwa pula. Kalau jiwa Datuk Almarhum terus melayang
kian kemari, sudah tentulah pula jiwa anak cucunya mengikuti
kemana-mana dsb.
- KEPERCAYAAN KEPADA HANTU.
Diminta pembaca terus bermenung sebentar lagi, kita belum tinggalkan
pasukan suku indonesia tadi. Mereka berjumpakan Rimba Raya Gadis,
artinya belum pernah dimasuki manusia. Pembaca penduduk kota belum
tentu bisa menggambarkan Rimba Raya Gadis. Belum tentu bisa menimbulkan
perasaan kesucian, keheranan, ketakutan dan kekecilan kita manusia
dihadapan Rimba Raya yang dahsyat itu. Semua gelap bagi kita sambil
bunyi burung atau binatang yang belum pernah kita dengar suaranya, dan
diikuti oleh kemungkinan berjumpa dengan ular ..........
Psychologis (sikap jiwa) orang jika tiba-tiba bertemu
dengan bahaya Cuma dua: pertama hendak melawan dan kedua menyerah.
Melawan dalam hal ini juga berarti lari, karena keduanya memakai
perkakas sekurangnya anggota badan, tangan ber- atau tak bersenjata dan
kaki. Tetapi kalau perlawanan dikira tak akan berhasil, maka kalau
maish ada pikiran orang menyerah. Kepada siapa? Kalau ada jiwa manusia
yang terpisah dari jasmani Logika mana yang bisa membatalkan, bahwa
Rimba Raya juga mempunyai jiwa terpisah. Tetapi jiwa Rimba Raya yang
dahsyat ini tentulah dahsyat pula seperti ular yang ada dijalannya.
Jiwa Rimba Raya ini akhirnya berupa hantu. Tempat yang lain yang
dahsyat juga yang mengecilkan hati juga seperti jurang dan air mancur
sudah tentu mempunyai hantu yang berkenaan pula. Kadang-kadang nenek
moyang bangsa Indonesia sampai pada dewa, yang berair jernih. Tetapi
sesudah mandi disana dan minum airnya yang jernih itu, ia dapat demam
panas. Nyamuk anopheles sudah tentu belum mereka kenal. Yang dikenal
Cuma jiwa dan hantu, badan halus yang memasuki semua benda, juga rawa
ini. pelajaran dari pulau kepulau sudah dijalankan. Angin itu memang
dikehendaki buat meniup layar, tetapi kadang-kadang angin itu berupa
badai, sampai bisa menenggelamkan perahu atau mengembalikan dia pada
tempat melangkahnya bermula. Jadi ada angin baik dan ada angin jahat.
Seperti Rimba Raya dikuasai hantu Raya, tentulah angin itu dikuasai
hantu angin pula. (Memang cara berpikir menurut Analogy, banyak dipakai
nenek moyang kita!) bagaimana mereka meniup angin dengan mulut atau
salung bambu, tentulah begitu pula hantu angin meniupnya. Bila ia mara
pada manusia, maka dia meniupnya keras-keras. Sebab itu peulah adanya
pawang atau syaman buat meminta nasihat pada Hantu angin, bila waktu
yang baik buat berlayar. Pawang yang cerdik yang sudah lama mempelajari
gerak-geriknya udara dan musim, walaupun pelajaran Cuma bertubuh pada
bukti saja, bukan pada undang acapkali bisa mengetahui
langkah baik
buat berlayar itu, begitu juga dapat menentukan lebih dahulu ada atau
tak adanya batu besar atau tumbuhan dalam laut. Pawang yang arif
bijaksana lebih-lebih Semenanjung bisa menentukan dimana ikan yang
banyak sebagai hadiah hantu Laut.
Tak semua suku Indonesia memusatkan segala-gala pada perkakas
ulungnya ialah kerbau. Pertaruan Cindur Mato dibantu oleh kerbau si
Binuang; pertarungan (seri) dengan Majapahit dihabiskan dengan peraduan
kerbau; gempa bumi disebabkan sang Kerbau dibawah bumi menggoyangkan
tanduknya. Lain suku dan lain tempat di Indonesia tentu mempunyai
kepercayaan sendiri atas kejadian alam ini. Tetapi Logika Primitif
memang gampang membentuknya. Guna apa dicari-cari Listrik jantan (+)
dan betina (-) buat menimbulkan guruh atau petir umpamanya? Jasmani
manusia senidri selalu mengeluarkan guruh, Cuma lebih kecil. Pertama
dari lubang atasnya, guruh kecil dari mulut itu disebut orang sendawa
(cekukon). Kedua dari lubang bawah yang tiada perlu disebut namanya dan
tiada perlu disebutkan nama bentuk guruh atau petusnya. Logika
Primitif bisa menciptakan Hantu petus, yang lebih besar lubang dan
lebih dahsyat bunyi tembakannya ...... lebih-lebih kalau ia sudah makan
ubi.
Bagian 2.
KEPERCAYAAN HINDUSTAN (ASIA TENGAH).
Kepercayaan Hindustan itu mempunyai bermacam-macam bentuk dan corak,
daerah yang luas serta sejarah yang lama sekali. tetapi bentuk dan
coraknya yang beramcam itu boleh dikatakan semua mempunyai satu garis
besar, ialah
idealisme kerukunan.
Seoalah-olah ia itu seperti pohon waringin yang rindah, bercabang
beranting kiri kanan bertambahkan urat dahan yang akhirnya berupa pokok
baru dengan pokok besarnya bisa diketahui. Walaupun timbul juga
kepercayaan yang tiada semata-mata kerohanian, idealisme, malah juga
materialisme kejasmanian, dalam sejarah yang lama dan masyarakat yang
mempunyai berbagai-bagai kasta itu sekarang lebih kurang 3000 tahun.
Tetapi kepercayaan yang bukan idealsime itu. Sampai beberapa tahun
kebelakang boleh dikatakan tiada berdaya sama sekali. meskipun pada
beberapa tahun dibelakang ini. Berhubung dengan kemajuan indsutri di
Hindustan timbul dan tumbuh kemerdekaan Hindustan sampai pada
penghabisan tahun 1942 ini masih berpusat pada Idealisme, yang sekarang
berupa Gandhiisme.
Idealisme asli Hindustan masyhur sekali diseluruh dunia, besar sekali
pengaruhnya kearah manapun juga. Kesebelah timurnya kita dapatkan
idealisme, berupa Budhisme yang resminya dipeluk oleh kira-kira 400
juta Tionghoa dan 100 juta bangsa Jepang dan jajahannya. Pada zaman
sebelum Indonesia Islam, boleh dikatakan seluruh Asia Selatan memeluk
Hinduisme dan Budhisme. Sekarangpun masih lebih kurang 50 juta penduduk
Birma, Siam, dan Annam memeluk Budhisme. Kearah Baratpun lebih-lebih
pada zaman purbakala deras mengalirnya idealisme Hindustan. Barangkali
adalah kebetulan saja ahli filsafat Yunani seperti Plato menciptakan
Logos seperti rohani alam. Boleh jadi tiada kebetulan pula aturan
Kristen Katholik begitu banyak serupa dengan aturan kependetaan (rahib)
Budhiisme. Akhirnya banyak orang percaya, walaupun tak ada ujian yang
syah, bahwa Islam dibelakannya Nabi Muhammad SAW dipengaruhi oleh
Hinduisme.
Pada abad yang belum begitu lamapun idealisme Hindustan masih
mempengaruhi Barat. Cukuplah kalau disini ktia sebutkan nama ahli
filsafat Jerman seperti Schopenhauer dan Hegel. Sesudah perang yang
lampau (1914 – 1918) pesat pula propaganda baru dari
theosophie, yang dijalankan oleh Annie Bessant, Madame Blavatsky, dll. Theosophie itu cabang dari Idealisme Hindu juga.
Lagi pula dan terutama pula idealisme Hindsutan membawakan hasil
tersambil (bijproduct) yang oleh dunia sekarang mesti dianggap sebagai
satu hasil yang nyata (positive result) yang mesti terus-menerus
dipusakakan pada anak cucu dan cicit. Pada Negara mana dan Bangsa
manapun juga dibumi kita ini. walaupun belum sempurna (systematika)
dalam tangganya bangsa Yunani, apalagi Eropa dan Amerika sekarang.
Hasil nyata itu berupa Matematika, Ilmu Bintang, Logika, Ilmu Jiwa dll.
Juga pemandangan tentang evolusi (kemajuan alam) dan atom. Buat
mengesahkan idealismenya, maka ahli Hindu perlu memakai senjata berpikir
seperti Matematika, Logika dan Evolusi dan pelaksanaan cara
berpikirnya itu, tentulah bisa sampai kepada benda terkecil atom.
Tetapi semuanya ini barang tersambil! Maksudnya ahli Hindu bukan
memuncakkannya pada Matematika, Logika, Evolusi dan atom, dengan
memakai bukti dan perkakas yang berhubungan dengan masing-masing
cabang. Ilmu ini, melainkan buat mengesahkan adanya barang yang
dicarinya, ialah Rohani Brahmana, Atamn, Jiwa, Dunia dsb-nya. Semuanya
berada diluar jasmani, yang mesti dijauhi adlaah atom itu dipelajari
sebagai asal dan akhirnya ilmu kebendaan, melainkan barang yang tidak
berguna mesti ditinggalkan atau paling baiknya berdiri disamping
rohani, jiwa alam, atman, Brahmana ...............
Matter, benda, dunia, badan dan anggota kita tak ada
gunanya buat idealisme Hindu. Yang dimengertikan dan dikejar ialah
rohani, Atman, dengan jalan menyiksa, melupakan dan membuang jasmani.
Kalau ada terdapat perkakas berpikir seperti Matematika dan Logika,
buat mengesahkan adanya yang di “cari” itu, maka ahli Hindustan
tiadalah enggan memakainya. Sebab itulah ilmu Matematika, Logika dll
itu saya namakan hasil tersambil. Lagi pula orang janagan terlampau
banyak memuja keulungan ahli Hindustan dlaam perakara ilmu Abstract
(terpisah) seperti Matematika, Logika dll itu. Orang jangan lupa, bahwa
lebih kurang 300 tahun sebelum Nabi Isa, dibawah pimpinan Iskandar
Zulkarnaen telah menjajahi sebagian Hindustan.
Semenjak zaman itu ahli Yunani memasukkan pengetahuannya pula. Ahli Hindu yang jujur dan tidak dibuta tulikan oleh
nasionalime
sempit juga mengakui hal itu! Selainnya dari pada itu jangan sekali
dilupakan, bahwa pengetahuan Hindustan itu boleh dikatakan semuanya
berdasarkan
speculation, spekulasi, ialah terka-menerka. Boleh
dikatakan sama sekali tiada berdasarkan peralaman seperti sudah ternag
tercantum pada kebanyakan para ahli Yunani asli, dan sebagian besar
pula pada ahli Arab pada zaman kebudayaan luruhnya Islam. Yang tiada
sekali-kali boleh dilupakan oleh penguji dan pemuja idealisme Hindustan
ialah, sebagai hasil tersambil atau hasil langsung (?) dari idealisme
itu, kita menyaksikan perkara yang mesti dikutuki habi-habisan seperti:
Pada kutub diantara lk 3000 kasta itu adanya kasta malas, kasta
penghisap ialah kasta Brahmana dan Kesatriya. Pada kutub lain terdapat
kasta najis, seperti lebih dari seratus juga kasta Paria. Lain dari
pada itu pembakaran janda dan perkawinan kanak-kanak. Akhinrya ratus
jutaan manusia yang menganggap ampas debu, berupa barang padat atau
cair sebagia barang suci dan leum itu seperti Tuhan.
Sekali lagi mesti saya peringatkan, bahwa Madilog tak bisa berlaku langung pada penerangan kepercayaan idealisme Hindustan.
Juga kepada kepercayaan lain pun dia tak bisa berlaku langsung karena
satu kepercayaan itu berdasarkan pikiran semata-mata, tiada
berdasarkan benda dan peralaman. Tetapi dengan tak langsung yakni
memutar kepercyaan itu bisa diterangi. Kalua keadaan masyarakat,
pesawat bumi dan pengetahuan bangsa yang memeluk kepercayaan itu
diketahui, maka kepercayaannya, sebagai bayangan. Kelilingnya bangsa
itu bisa juga diobori. Keadaan di Eropa dalam beberapa abad dibelakang
ini, tentangan sosial, politik, ekonomi, tehnik, kebudayaan, semuanya
lebih kurang sempurna bisa diketahui. Karena semua ada tertulis dalam
bahasa Negara yang berkenaan atau dalam bahasa Negara lain tetangganya.
Keadaan disebagian besar di Eropa Barat, boleh dibilnag cocok dengan
tulisan ahli sejarah Romawi, seperti Julius Caesar dll yang sudah
pandai menulis apa yang dilihatnya dengan matanya sendiri. Bukan
dongeng, omong kosong setinggi gunung Himalaya (seperti penulis Hindu).
Hindsutan sebelum imperialisme Barat masuk tak mempunyai ahli sejarah
yang bsia mencuci hati Julius Caesar, Tacitus, Trobo, Ibnu Batutah,
ahli sejarah Arab, Fah Hien, Huan Tsiang, Ciin dll ahli sejarah
Tionghoa.
Sejarah kepercayaan saja, seperti hasil pikiran dari satu Negara yang
begitu besar seperti Hindustan dan bangsa yang begitu ulung kebudayaan
aslinya seperti bangsa Hindu dalam tempo sedikitnya 300 tahun sebelum
imperialisme Inggris masuk menurut pengakuan ahli Barat yang mengadakan
pemeriksaan menurut Ilmu Bukti, banyak yang hilang. Jadi yang ada yang
tertulis tiada sempurna. Sejarah kepercayaan yang tiada sempurna ini
susah pula buat dibandingkan diterangi dengan sejarah Masyarakat,
Ekonomi, Politik .......dll-nya. Hindustan yang belh karus-marut serta
kusut, kesasar dair pada sejarah kepercayaannya. Seru bangsa yang
pemikir resminya menganggap benda itu sebagai barang yang tak berguna,
badan dan anggota diri sendiri sebagai Karma, kungkungan hidup menjauhi
makanan, perempuan dll sebagai pekerjaan suci tentulah tak mempunyai
cukup perhatian buat perkara hari-harian seperti politik, ekonomi,
tehnik dsb yang mementingkan isteri, makanan dll. Bacalah saja cerita
Hindu seperti Arjuna dan Sri Rama. Berapa sedikitnya kepastian yang bsa
diperoleh dari cerita semacam itu. Tentu ada kebenaran dalam fantasi,
impian yang tidak berbatas itu. Tetapi kebenaran yang didapat tak nyata
dan tak bisa diterjemahkan dengan satu hati. Orang itu dalam cerita
Hindu bukan orang lagi, melainkan dewa Tuhan, atau monyet dan lutung.
Politik dan aksi pemimpinnya bukan lagi politik dan akis pemimpin
manusia, melainkan siasat perbuatan yang terletak diluar akal manusia.
Pendeknya buat menggali sejarahnya masyarakat politik, ekonomi, tehnik
Hindustan dalam 3500 tahun sebelum ada imperialsime Inggris, adalah
pekerjaan terkhusus dari beberapa ahli yang terkhusus pula membutuhkan
kepandaian terutama bahasa, kesabaran dan kegiatannya. Kalau sejarah,
masyarakat politik dan lain-lain di Hindustan dalam ribuan tahun itu
jelas dan sempurna diketahui, barulah bisa diadakan peroboran atas
sejarah kepercayannya kalau yang dibelakang ini bisa pula diketahui
dengan sempurna dan jelas.
Karena mustahilnya mengadakan uraian yang sempurna tentang sejarah
kepercayaan Hindustan, dan disamping uraian yang sempurna pula, tentang
sejarah masyarakat, politik, ekonomi dll maka mustahillah pula bagi
saya mengadakan peroboran, peninjauan dengan obor listrik yang
sempurna.
Bukan saja karena taida cukup kalau diuraikan pada beberapa halaman
saja, tetapi karena kekurangan alat keterangan tadilah. Tetapi dengan
mengobor-rayakan puncak Gunung Papandayan, Merapi dan Semeru di pulau
Jawa atau puncak Gunung Kerinci, Merapi, dan Slawa di Sumatera, kita
juga dapat kemenangan sederhana, berikut-ikut atas Bukit Barisan di
Jawa dan Sumatera peroboran semacan inilah yang akan saya jalankan atas
sejarah kepercayaan Hindustan itu. Segala kekurangan tentulah sudah
saya andaikan lebih dauhlu. Maksud saya lain tidak melainkan buat
memberi petunjuk (suggestie) kepada ahli yang lebih mempunyai tempat,
kepintaran dalam segala-gala, kesabaran dan kegiatan buat mempelajari
kerohanian Hindustan yang masyhur itu.
GANGGUAN.
Baru saja tinta saya kering menuliskan
kepercayaan Hindustan diatas ini tercantum dimata saya pertanyaan:
Apakah betul sejarah Hindustan begitu gelap? Kesangsian
timbul dihati saya tentangan kebenarannya yang dituliskan diatas ini.
betul banyak juga saya dahulu bercampur dengan rakyat Hindustan, Hindu,
Islam atau Sikh. Betul pula waktu saya masih pelajar, saya giat sekali
dengan segala-gala yang berhubungan dengan Hindustan lebih-lebih
dengan kesusasteraan dan mystikisme Hindustan. Tetapi percakapan dan
pembacaan yang berhubung dengan Hindustan itu sudah lama berlalu. Boleh
jadi banyak perkara yang saya lupakan. Lagi pula, boleh jadi pula
keluar buku baru, sebagai hasil pemeriksaan baru. Sekali lagi: Betulkah
sejarah Hindustan itu masih gelap?
Dua hari saya pakai buat menjawab pertanyaan ini. betul sampai menulis kepada penghabisan “
bab logika”
sama sekali boleh dikatakan saya tak memakai pustaka, sebab tak bisa
mendapatkannya, tetapi sesudah itu saya bisa emndapatkan di Jakarta.
Dua hari pemeriksaan sudah lebih dari cukup buat memberi keyakinan
sementara.
Apa yang saya tulis diatas, dua hari lampau tak perlu sedikitpun juga
saya ubah, baikpun semangat dan simpulan ataupun kalimat dan perkataan.
Hindustan benarlah tak mempunyai ahli sejarah. Yang menerangi
Hindustan Cuma ahli sejarah Tionghoa, kemudian Arab dan akhirnya Eropa
dan murid-muridnya orang Hindu dididik dengan cara Barat sekarang.
Hal ini penting! Sebab itu saya tuliskan sebagai bagian terpenting.
Indonesia selama dipengaruhi dan diperintahi Hindu juga tak mempunyai
sejarah, ialah sejarah menurut ilmu, bukan dongeng, impian, omong
kosong. Sejarah mesti cocok dengan kejadian, tempo dan tempat yang
sebenarnya. Tulisan tentang sejarah itu tak boleh dipengaruhi
pengharapan, ketakutan, hati sakit atau dengki, tak boleh melebihi atau
mengurangi segala bukti yang berhubungan dengan kejadian, tempo dan
tempat tadi. Bahwa ahli Tionghoa dan Arab yang bisa menuliskan yang
boleh dinamai sejarah, dan ahli Hindustan sejarti tiada bisa tiada
mengherankan saja.
Sebaliknya akan mengeherankan (mengangakan mulut) kita kalau pemikir
Hindustan Asli bisa menuliskan dengan tak sepatahpun ditambah atau
dikurangi apa yang dilihat oleh amtanya sendiri. Ahli Hindu, bagaimana
juga ulungnya dalam ilmu
abstract, kegaiban atau terpisah,
tiada bermata kebuktian (matter of fact). Ahli sejarah Tionghoa
lampaupun sebelum Nabi Isa dan ahli Arab malah berdiri atas bukti itu.
Mereka dengan kakinya berdiri teguh diatas dunia ini dan dengan mata
terbelalak memperamati kejadian didunia fana ini. kalau salah ialah
karena silap memandang saja. Bukan salah penjuru memandang atau salah
cara memandang.
Ilmu sejarah itu tentulah penting sekali buat sesuatu masyarakat.
Masyarakat sekarang ialah akibat yang lampau. Masyarakat yang akan
datang ialah akibat dari yang sekarang. Seorang yang berkewajiban buat
memperbaiki masyarkatnya yang sekarang, tentulah mesti mengetahui
keadaan masyarakat itu sekarang dan dahulu. Tetapi buat pemimpin
Hindustan baikpun Brahma, ataupun Buddhist, masyarakat manusia itu,
tentulah barang-barang yang tiada berguna, barang yang terpaksa didiami
buat sementara, malah sebagian besarnya terdiri dari manusia najis.
Perhatian penuh terhadap masyarkat tak langsung dicari-cari pada
filsafatnya ahli Hinduisme atau Budhiisme resmi. Mereka boleh jadi juga
mau mengeluarkan peluh buat memberikan manteranya, pada yang meminta
menerima harta sebagai kurban atau sebagai bunga uangnya, tetapi dalam
filsafat masyarakat dan berhubung dengan ini semua, kebendaan dan
keduniaan ini, ialah “kungkungan” jiwa. Jiwa ini mesti dipadukan
kembali dengan jalan pertapaan: Dengan menjauhi perempuan, makanan,
pakaian dll dan membunuh pancaindera.
Belum pernah saya mengadakan catatan panjang dan langsung dalam buku
ini. catatan sebelum ini, catatan dari kepada saja pendek. Karena
pentingnya yang berhubungan dengan ada atau tidak adanya
sejarah
Hindustan itu, dan saya sendiri tak perlu dan tak bisa pada bagian buku
ini memberi pandangan yang lebih lanjut atupun meneruskan pemeriksaan.
Maka saya kemukakkan saja catatan sedikit panjang dari seorang Inggris
dan seorang Belanda disambil oleh keterangan
Negative
(tak ada) yang saya peroleh dari penulis Hindu yang dapat pelajaran
Barat. Selainnya dari pada itu, seperti diatas saya mengharapkan
pemeriksaan para Ahli yang sempurna, buat Hindustan dan ........
Indonesia.
Catatan dari
History of India oleh H. G Keene,
Resived Edition pada tahun 1906.
Tak ada sasatera yang meriwayatkan seluruhnya ketumbuhan Hindustan
dari masa kacau balau kemasa ketentraman, dengan cara terarut dan tak
putus, supaya dengan begitu bisa memberi pemandangan yang masuk diakal
(rational) kepada pelajar dikedua Negara (Hindustan dan Inggris) dengan
Cuma menyebutkan bukti yang nyata dan sebaliknya jangan terlampau
banyak melayani perkara kecil-kecil tentang peperangan, pengepungan,
asut-asung dan kesalahan (erimes) para pembesar (pendahuluan).
Penduduk (Hindustan) yang bermula terlampau biadab dan kejam:
penakluk (Hindustan) yang permulaan (yakni bansga Aria, yang masuk dari
Utara) menyerbukan diri kedalam pengetahuan, tetapi mereka tak
mempunyai kecondongan hati terhadap sejarah (Halaman 1).
“Tetapi sejarah Hindustan dalam arti tepatnya tak bolehlah dikatakan
sudah dimulai, sebelum terdirinya kekuasaan Islam. (Jadi baru boleh
dikatakan sejarah semenjak Sultan Mahmud dan Chazni melanggar Hindustan
dari Utara pada tahun 1008 sesudah Nabi Isa) barulah kita mulai
berjumpakan penulis yang mencoba mencatatkan kejadian dari
sehari-kesehari dan menggambarkan wataknya mereka yang menyebabkan
kejadian tadi”.
(Pencatatan hari-harian itu berabad-abad sebelum itu sudah diadakan dengan teliti sekali di Tiongkok).
“Sampai kemasa perpecahan besar diantara kaum Brahmana dan Budhis
tiada didapati catatan tentang Rakyat dibagian manapun juga di
Hindustan. Semangat kebangsan kalau perkataan ini boleh dipakai,
tiadalah pernah menunjukkan kecondongan hati pada cabang kesusasteraan
semacam ini. orang boleh dipersilahkan membaca nyanyi: “Tuduhan Maha
Dewa Asli dan Petuahnya orang besar Bertuah yang tidak kurang sakti”;
lagi pula dua cerita syair yang masyhur, dimana disangka bisa diperoleh
kejadian sesungguhnya buat gantinya ukuran impian dan dongeng. Perkara
terka-menerka (speculatino) tiadalah kurang; tiadalah bisa disangsikan,
bahwa apa didapat kecondongan terhadap beberapa cabang Ilmu. Tetapi
terhadap kejadian yang nyata, tanggalnya sesuatu kejadian dan tumbuh
hidupnya kejadian tadi dari hari-kehari, orang Hindu tak sehelai
rambutpun menaruh perhatian. Sedikit Ilmu Bukti campur aduk dalam
sairnya dan sepasang sejarah daerah Cuma inilah yang dihasilkannya
tentang perkara semacam ini dalam lk 20 abad.
“Keganjilan ini boleh jadi hasil dari kesangat cintanya pada filsafat
terka-menerka (speculative), kegemaran pada pikiran impian (abstract
reasoning) yang semuanya mengakibatkan satu kejaian atas kosongnya
benda dan kosongnya rupanya benda itu. .....
Adapun sebabnya juga, tetap kebencian mereka atas bukti dan bentuk
benda ini tak bisa mengetahui sejarahnya yang sempurna dari pada bangsa
Arya di Hindustan pada zaman VEDA (Halaman 11).
(Zaman Veda ini dianggap oleh ahli Barat dari tahun 500 sampai 600
sebelum Nabi Isa. Jadi sejarah ini, walaupun penting sekali tetap
tinggal gelap).
Oleh seorang ahli sejarah besar (professor Cowel) dikatakan, tentang
Musafir Tionghoa (Fah-Hien) dan 200 tahun kemduian dari pada itu musafir
pengikutnya (Huan-Tsiang), bahwa mereka inilah saja yang menjadi
tingkat pelangkah yang terang, melalui beribu tahun dongeng (omong
kosong)!
Catatan dari
Academisch Proefschrift bernama MEGASTHENES en
de Indische Maatschappij oleh BCT Timmer pada tanggal 19 Desember 1930.
Pertama sekali jangan dilupakan pesannya Timmer, bahwa tulisan
Megasthenes (Yunani) yang menjadi utusan di Hindustan, dibawah Kerajaan
Gandragupta yang didapat “
Cuma fragmenten (bagian terserak-serak)
belaka”. Lagi pula, malah terutama pula “orang Megasthenes itu sendiri dicurigai adanya”.
Pentingnya tulisan Timmber terletak pada c a r a n y a ilmu sejarah menjalankan pemeriksaannya; carai
scientific (menurut Ilmu Bukti) Pada halaman 43.
“Buat menetukan benarnya perkataan yang ditinggalkan kepada kita,
ktia mesti memeriksa apakah perkataan (Megashtenes) itu cocok dengan
perkataan yang ktia peroleh dari sumber lain. Ini akan mudah sekali
kalau seandainya kita mempunyai documenet (saksi terdiri dari tulisan)
yang cukup tentang Hindustan masa Megasthenes, tetapi saya kita jauh
dari situ”.
“Pertama kita tidak mempunyai sastera orang Hindu, yang kita yakin ditulis pada masa Megasthenes”.
“Pustaka yang lain, yang dipakai buat membandingkan (cerita, syair,
cerita buku undang, pustaka Budhisme) atau terjadi pada tempo lain atau
tak mempunyai tanggal kadang-kadang juga hasil dari kemajuan
berabad-abad, oleh sebab mana perbedaannya dengan Megasthenes boleh
jadi disebabkan oleh perbedaan temp dan boleh jadi juga disebabkan oleh
kesalahannya Megasthenes sendiri”.
(Selain dari pada kedua itu Timmer juga mengemukakan, bahwa mestinay
Hindustan itu bukanlah bagian Hindustan yang digambarkan oleh
Megasthenes saja ialah Punjab dan tanah datar sungai Ganges, tetapi
juga pegunungan besar seperti Ducan, juga kaum ksatrya, saudagar dan
akum pujangga. Jadi bermacam-macam tempat golongan!).
“Ketiga ...... lebih dari pada buku cerita hal ini berlaku pada buku
hukum. Pada buku undang maksud orang bukan hendak menggambarkan
keadaan, tetapi Cuma buat memberikan aturan yang mesti diikuti”.
(Sudah tentu ada jurang besar antara undang dan praktek ramai. Begitu
juga jurangnya, ayat agama dengan perbuatan Rakyat jelata dalam
kehidupannya sehari-hari. Jadi buku hukum dan ayat agama saja tentu tak
bisa menggambarkan Rakyat seluruhnya dengan sebenarnya! Cobalah
pastikan gambar keadaan Rakyat Amerika umpamanya dengan membaca teori
demokrasi saja disertai pula dengan ayatnya agama Kristen dengan “tepuk
pipi kiri kasihkan pipi kanan).
“Warta dari Hindustan sendiri amat bertentangan satu dengan lainnya”.
(Pendeknya Timmer, yang tentu giat mencari bukti yang sempurna buat
sebagian saja dari sejarah Hindustan, untuk mengadakan alasan yang
sempurna, juga memberi simpulan pada kita, bahwa sejarah Hindustan
adalah diliputi awan gelap-gulita).
Akhirnya dari Buku
CREATIVA INDIA, oleh Beney Kuman Sarkar,
sedikitpun saya takbisa mengambil catatan tentanga ilmu Sejarah, pada
nama buku itu saya ktia sudah bisa melihat maksud penulisnya yakni buat
membuktikan bangsa Hindustan sebagai kodrat pembangunan – terutama –
mendapatkan ilmu.
Penulis ini menantang penulis Barat yang menyatakan bahwa bangsa
Hindu itu pesimistis, memandang yang gelapnya saja di dunia ini.
Menantang paham Barat, bahwa umumnya badan orang Hindu itu lemah dsb.
Penulis Hindustan tadi yang Cuma beberapa tahun yang silam saja
mengemukakan keulungan bansga Hindu dalam segala-gala, malah tidak saja
tak kurang, boleh jadi lebih dari Bangsa Yunani, Arab, atau Eropa
zaman Tengah.
Keulungan bangsa Hindustan malah terkhusus sudah saya kemukakan lebih
dahulu. Tetapi keulungan itu menurut pikiran saya akan tetap begitu,
walaupun 1001 buku seperti
Creative India saya baca, dan
dinaikkan halamannya tiap-tiap buku dari 600 sampai 6000, sebagai hasil
dair pekerjaan tersambil buat mensahkan dan menjalankan semangat
Hindustan (diluar Islam sudah tentu!) yang pad agaris besar dan resminya
berdasarkan idealisme, kerohanian semata-mata. Idealisme Hindustan
tiadalah berjumpakan materialisme yang kuat kelak seperti pada Yunani
dan Eropa. Sebab itu
materialisme Hindustan gampang
dihanyut londongkan oleh banjir idealismenya. Hasilnya ialah hasil
tersambil seperti Matematika, Logika ya atau tidak dipengaruhi Yunani
atau Arab. Kalau dia sesat pada Ilmu Badan Manusia, maka maksudnya juga
buat memperkokoh c a r a menghilangkan anggota Badan, jasmani itu dan
dengan segera mencampurkan jiwa si pertapa dengan Rohani Alam, Atman,
Brahma dengan maksud membunuh pancaindera!
Dari filsafat, pemandangan dunia Hindu bisa lahir Ilmu Bintang, cara kuno, Ilmu Berhitung, juga
Geometry
ataupun Logika. Tetapi dari filsafat pemandangan dunia yang resmi di
India tak akan bisa timbul Ilmu Bukti seperti Ilmu Alam (Physika) dan
Kimia, Listrik, Radio, Cahaya, Kodrat dsb. Ilmu semacam ini ialah hasil
peralaman yang pesat. Kepesatan ini Cuma bisa didapat pada
perindustrian yang pesat majunya, disertai oleh tehnik yang pesat pula.
Kalau
science itu dimisalkan bapak, maka teknik itu ialah ibu
dan perindustrian itu anak. Tetapi perindustrian tak akan maju, kalau
“demand” keperluan Rakyat memakai rendah sekali. makin tinggi keperluan
Rakyat memakai (kain, makanan, atau rumah, radio, gramopon, auto dsb)
makin tinggi
supply,
production, hasil. Kalau
keperluan memakai itu kita andaikan kutub utara dan persediaan (supply)
itu dikutup selatan, maka hasil dari sejarah gerakan berkutub dua itu
ialah perindustrian juga, hasil yang tambah-bertambah, terus-menerus.
Filsafat yang mengutuki dunia, mengurangi makanan sampai badan
sipertapa tinggal lagi kulit pemalut tulang, memerlukan hanya gua batu
untuk tempat tinggal, akin cawat sehelai kulit kayu: memuliakan isteri
yang cantik molek dengan cara ditikam, diperas darah seluruh badannya,
dan kemudian dilemparkan kedalam api buat dipilih oleh arwah suaminya
di surga seperti yang berlaku di Bali sebelum dilarang Belanda.
Menyuruh manusia berpakaian ampas-lembu terbakar ...................... filsafat semacan ini tak akan memperdulikan
supply and demand,
persediaan dan keperluaan memakai barang, tak akan menghiraukan teknik
dan semua Ilmu Bukti yang berkenaan dengan kebendaan. Satu pabrik buat
seluruh Hindustan sudah lebih dari cukup buat membiki c a w a t semua
penduduknya. Apa guna pengetahuan tentang tepung, gemuk, dan
putih-telur, semuanya itu keduniaan yang mesti dijauhi. Kalau ada juga
ilmu berupa ekonomi, keuangan di India, maka semuanya itu Ilmu
tersambil. Ilmu terpaksa diadakan diluar filsafat resmi. Eropa dan
Tiongkok juga ada mengandung filsafat idealisme, tetapi tiadalah sampai
memuncak seperti di Hindustan. Lagi pula Materialismenya cukup kuat
buat bergandengan dengan idealismenya resmi atau tersembunyi.
Materialisme Barat cukup kuat buat membasmi Idealisme dalam aliran
besarnya dan menembus jalan samapai ke zaman industrialisme. Filsafat
umum di Tiongkok dan Eropa cukup kuat buat mengendalikan pessimisme
Hindu sampai Rakyatnya sebagian kecilpun tak ada yang dianggap najis;
atau janda yang cantik molek ditikam, diperas darahnya dan dilemparkan
masuk api, ditonton oleh orang ramai, atau badan dibedaki dengan tahi
lembu terbakar barangkali buat menolak bala (bahaya) sebagai hasil Ahli
Kimia Hindustan Asli yang hebat itu.
Tuntutan Hindu Muda seperti Tuan Sarkar, supaya Hindsutan Asli diaku
hadiahnya pada Ilmu didunia, mesti diakui. Lebih dahulu sebleum saya
membaca buku itu sudah saya majukan, tetapi saya tahu, bahwa Barat juga
tak enggan mengakui terus-terang kecerdasan dan jasa Timur umumnya dan
India khususnya.
Tidak saja Tagore dibintangi oleh Inggris, tetapi Ahli Biology besar seperti Bose dan Ahli
Physic
(Kodrat) seperti Remon semuanya Ahli Hindu, hasil dari didikan Barat,
juga dapat pengakuan kehormatan dari pihak Inggris terkhususnya dan
Dunia
Science umumnya. Ahli Jepangpun dalam hal kedokteran dan
Matematika cukup dapat pengakuan Barat. Kalau memang ada definisi atau
undang, yang didapat pada ahli Hindu Asli, lebih jitu dan dalam dari
pada Ahli Asli Yunani, seperti Archimedes (Physic), Phytagoras dan
Euklid (Matematika), dll, maka definisi dan undang itu saya pikir sudah
lama tercantum dalam buku pelajaran sekolah (textbook). Kalau betul
jitu dari definisi dan undangnya ahli Yunani Asli dan diganti dengan
definisi dan undangnya Ahli Hindustan Asli,
Business is business!
Yang menguntungkan itu dari manapun datangnya mesti diterima. Lagi
pula (demand) seperti saya tahu, Inggris selalui mengakui kecerdasan
atau keberanian luar biasa, walaupun dari musuhnya. Perkataan
fairplay, spoot-man dan gentleman asalnya dari Inggris. Kalau Ingrgis tak menukar
textbook
dalam beberapa Ilmu di Hindustan itu, maa sudah pada tempat dan
temponya Ahli Hindu Muda mengadkan propaganda dan Aksi. Tetapi hal
semacam ini belum saya dengar atau lihat.
Textbooks, buku pelajaran yang datang dari India-Hinudstan pun saya lihat masih diisi oleh Ahli Yunani dan Barat.
Terutama pula kalau membantah Ahli Barat, janganlah dibiarkan
sentimen (perasaan) seperti nasionalisme, patriotisme, ketimuran dsb,
memperbaharui ilmu yang dikemukakan. Kalau Ilmu atau Ahli Timur itu
memang lebih cerdas, mesti diperlihatkan, kalau perlu panjang lebar,
kelebihannya dalam hal caranya memeriksa perkara, kesempurnaan bukti
sebagai lantainya Ilmu yang dimajukan, cara mendapatkan dan
kemanjurannya definisi atau undangnya yang diperoleh dan pelaksanaan
undangnya itu atas bukti yang dekat atau jauh, dsb. Sikap semacam itu
memang tak mudah didapat pada mereka yang memandang dari penjuru
kebangsaan atau kebenuaan. Timur yang measalkan dan memuncakkan Ilmu
itu dari ketimuran sama besar salahnya dari Barat yang me-asal dan
memuncakkan science pada kebaratan, kebangsaan, ke-Aryaan dan
ke-Nordican.
Science itu, tiada memandang warna atau bentuk
badan. Dimana alatnya sedia disana dia akan maju! Dimana ia tak ada,
disana dia akan tiada keluar, atau berupa pincang, seperti pada Ilmu
Abstract di Hindustan.
Buku
Creative India mempertahankan, bahwa Hinudstan itu pembangun segala-gala Ilmu seperti kata Tuan Sarker. Ilmu yang tak kurang
exact dan
fruitfull
(jitu dan berhasil) dari Yunani atau Eropa dizaman Tengah, malah dapat
lebih. Tetapi pada pembangunan Ilmu, segala-gala ini, saya tak
menemui I l m u s e j a t i. Ilmu ini walaupun belum berupa
Science, seperti sekarang sudah bagus sekali adanya di Tiongkok dan Yunani Asli.
Tuan Sarkar sama sekali
membungkamkan perkara Ilmu
Sejarah itu, walaupun inilah Ilmu yang pertama sekali mesti dipelajari dan diketahui, kalau orang mau
exact dan fuitfull dalam segala-gala seperti
materia medica, therapeutics, anatomy, embroyology, metallurgy, chemistry, physics dan
zoology yang semuanya menurut Tuan Sarkar sudah diketahui oleh Ahli Hindu Asli.
Tuan Sarkar menguraikan
Vedix Ages, katanya dari lk 1500 sampai 1000 sebelum Nabi Isa.
Pada bagian Vedic Ages inilah tempatnya untuk menguraikan sedikit
tentang Masyarakat, Politik, Ekonomi, dan Tehnik Hindustan menurut
Sejarah
yang ditulis oleh Ahli Sejarah Hindustan, yang
lebih jempol dari Fah-Hien, Iching, Huan Tsiang, Tacitus, Strabo,
Julius Caesar dsb. Bukan dimaksdukan syair, pujaan, dongeng dan omong
kosong ........................Hindustan.
Bagaimana ahli Hindustan bisa “exact dan fruitfull” sama dengan atau lebih dari Yunani dan Eropa Tengah, dan sama dengan
Materialsime Eropa pada tahun 1789,
yakni zamannya Lavoisier (Kimia) dan Cuvier (Hewan) kalau sebagian
besar terpelajarnya, menurut Agama resminya, aialh Brahmanisme dan
Budhisme; tak boleh membunuh hewan, jangankan lagi potong-memotong buat
memeriksa urat, nadi, otak dsb; kalau pemimpin masyarakat dan
pengikutnya memandang lembu sebagai Dewa dan ampasnya (hasil Ilmu Kimia
Asli) dibakar buat bedak.
KESIMPULAN.
- Tuntutan Hindustan Muda supaya diakui jasanya dalam Ilmu Abstract, seperti Matematika, Logika dll, mesti dibenarkan.
- Tinggi rendahnya Ilmu Hindustan itu tiadalah bisa ditentukan
oleh perasaan kebangsan atau ketimuran, melainkan atas tinggi
rendahnya perkakas (instrument) dan cara (methode) mendapatkan
bukti yang syah, Logika dan Dialektika buat menyusun hukum dan
cara penglaksanaan hukum itu kepada bukti, dsb.
- Ilmu Sejarah dan Ahli Sejarah Hindustan Asli (1500-600 tahun
sebelum Nabi Isa) jadi juga sejarha keadaan masyarakat, politik,
dan ekonomi, teknik dll tak dikenal oleh dua ahli Barat seperti
disebut diatas. Dalam buku Creative India (Pembangunan Hindustan)
juga tak dijumpai sedikitpun yang berbau sejarah.
- Seperti sejarah Indonesia gelap-gulita pada zaman Hindu
begitu juga sejarah Hinudstan, gelap-gulita dalam zaman sebelumnya
didatangani oleh orang Arab dan Inggris. Pembangunan Hindu yang
sekarang dalam segala-gala, kalau seandainya mereka masih ada di
dunia ini, mestinya dibangunkan dari tidur nyenyaknya. Mereka
mesti dibuka matanya; belajar membicarakan dan emnuliskan kejadian
serta bentuk dan corak benda hari-hari yang dikelilinginya oleh
teman sejawatnya dari Tiongkok dan Yunani. Mereka Ahli Hindustan
Asli itu, betul-betul exact and fruitfull, jitu dan sempurna menggelapkan sejarahnya Hindustan Asli dan Indonesia pada zaman Hindu.
KEPERCAYAAN HINDUSTAN DITERUSKAN.
Kita banyangkan obor-listrik kita pada sejarah kepercayaan Hindustan
Asli yang gelap-gulita itu, yang berpuncak para Brahmanisme, yang juga
tidak sama sekali terang-benderang, seperti puncaknya barisan Himalaya,
ialah gunung Everest yang selalu diliputi salju dan awan.
Kita bagi sejarahnya filsafat Hinudstan diluar Islam atas tiga
bagian, cocok dengan tiga masanya (period) yang ditentukan oleh
Encyclopaedia Britanica. Pembagian itu ialah:
- Vedic Period (Zaman Kitab Veda) dari lk th 1500-600 sebelum Nabi Isa.
- Epic Period (Zaman Dongeng) dari lk 600 sebelum sampai 200 sesudah Nabi Isa.
- The Period of the Six System (Zaman 6 Tata) dari th 200 sesudah Nabi Isa.
Penulis Sakar, menetapkan Zaman Veda itu dari lk 1500 – 1000 tahun
sebelum Nabi Isa. Tetapi atas alasan apa penetapan itu dilakukan tak
bisa pula kita baca. (Apakah artinya tanggal, apakah gunanya sejarah
itu buat orang Hindu, apalagi yang mistik). Pada
Encylopaedia Britanica,
walaupun kita tiada menjumpai penerangan langsung atas pembagian itu,
kita bisa temui sendiri alasannya. Pada penghabisan masa tingkat pertama
itu, kita berjumpa dengan beberpa isme, yang menantang masa pertama
itu, Zaman Veda, yaitu Budhisme, Jainism dan Materialism. Jadi masa
kedua, ialah masa dongng, menyaksikan pertentangan filsafat atau
kepercayaan: Kepercayaan Veda terhadap Budhism dll tadi.
Sebagai hasil pertarungan itu kita jumpai
perdamaian
(compromis) antara paham pada masa Veda dan paham pada masa dongeng,
terutama Buddsim. Disini nyata saya lihat aliran Dialektika: thesis,
anti-thesis dan sinthesis; pokok (perkara) anti-pokok (perkara),
pembatalan kebatalan. Betul
Encyclopaedia Britannica tidak
mengemukakan, cara Dialektika itu, tetapi seperti sudah saya bilang
dahulu scientist yang jaya selalu berjalan sedemikian. Tiada pula saya
katakan disini, bahwa
Encylopaedia Britannica selalu jaya.
Pada definisi H i d u p (Life) saya sudah tunjukkan kesempitannya. Juga
terhadap yang mengandung perkara agama, apalagi agama yang diakui
resmi oleh Britannica, ataupun politik, janganlah diteln begitu saja
bulat-bulat apa yang dikatakan oleh
Encyclopaedia Britannica, walaupun diurus oleh para ahli yang terkemuka di masyarakat Inggris.
Berhubung
dengan
berjumpanya jalan
dialektika pada sejarah filsafaat Hindustan Asli tadi, bukan sesudah
Islam dan Barat masuk, maka pembagian tiga masa itu akan saya pakai.
Boleh jadi sekali penulis seperti Sarkar, mempunyai alasan cukup, yang
juga mengandung perubahan besar dalam sejarah, mengandung anti-thesis,
tetapi saya tak berjumpa dengan satu alasanpun, kenapa dia menetapkan
masa pertama itu dari 1500-1000 SNI. Lain dari pada itu semua nyanyi
dan dongeng tulisannya tiada memperdulikan tempoh dan tempat.
Pertama sekali mesti saya kemukakan disini, bahwa Zaman Veda ini
penting sekali. buat masyarakat Hindu masa ini, ialah masa melangkah.
Sejarah dibelakang masa Veda ini, ialah sejarah tumbuh dan tumbangnya
paham yang dikenal diluar Hindustan bernama Hinduisme Asli, yakni
Brahmanisme yang mengambil segala kekuatan rohaninya dari Kitab Veda
ini. Sebab itu maka dari filsafat Kitab Veda inilah pula saya
melangkah. Inilah yang jadi thesis, pokok-pertama, sebagai puncak pada
satu barisan.
Tetapi mesti saya ulang memajukan sekali lagi, bahwa thesis ini,
pokok perkara, ialah titik melangkah ini gelap-gulita, sejarah buat
ahli sejarah Barat, seperti menurut catatan yang sudah terampau panjang
saya kemukakan. Penulis Hindu Muda, yang dapat didikan Barat, seperti
Sarkarpun, tak sepatahpun memberi keterangan yang sedikit berbau
sejarah tentang Zaman Veda itu.
Jadi akhirnya mesti saya ulang kembali, bahwa zaman masyarakat,
politik, ekonomi, teknik, malah bumi-iklim Hinudstan pada masa 1500 –
600 SNI itu, sejarah mana menurut Madilog, bisa mengobori Kitab Veda
dengan Brahmanisme itu, boleh dikatakan gelap-gulita.
Begitu juga sejarahnya Buddhisme sendiri, pada masa dongeng, tingkat
anti-thesis pad beberapa abad permulaannya ada dalam gelap-gulita. Baru
pada Masa Asoka sedikit terbuka layar, dan akhirnya lampu musafir
Tiongkoklah yang bisa memberi penerangan selama lampu itu dipasang. Di
luar seseudah lampu Tiongkok itu dipasang, sejarah Hindustan kembali
kekeadaan gelap-gulita.
Bila lampu itu tiada bernyala lagi, sejarah Hindustan kembali kekeadan gelap-gulita.
Zaman ketiga sudah lebih diketahui, karena lebih dekat pada zaman
kita. Tetapi kalau orang Islam dan Eropa tiada masuk semenjak lk 1000
tahun sebelum Nabi Isa, maka seperti Indonesia pada masa Hindu, sejarah
filsfaat Hindustan itu sendiri, apalagi sejarah masyarakat, politik,
ekonmi dan teknik Hinudstan seluruhnya akan tinggal disinari dongeng
dan omong-kosong setinggi Himalaya pula.
Brahmanisme itu ada kita ketahui sedikti, malah ada ahli yang
mengatakan, bahwa dinegara kitalah Brahmanisme yang lebih asli bisa
dipelajari, yakni di Bali. Sebab itu kalau ktia mau mempelajari
Brahmanisme itu, ktia bisa menjumpai bukti yang hidup dan nyata. Teori
dan praktek boleh disaksikan serba sedikit, walaupun di Hindustan Asli
prakteknya berbentuk lain.
Ke 1. ZAMAN KITAB VEDA
Veda artinya pengetahuan, Ilmu, artinya yang lain ialah Firmannya
yang Mahakuasa. Jadi Kitab Veda itu ialah pengetauhan yang berasal dari
Firmannya Yang Maha Kuasa. Satu kelas yaitu kasta terkhusus, yang
dalam buku cerita disekolah kita kenal sebagai Kasta Brahmana,
mengetahui dan bisa menterjemahkan isi kitab suci Hindustan itu. Kasta
Brahmana ini memonopoli, memiliki pendiriannya mengetahui isi kitab
sucinya itu, menterjemahkan dan mengajarkan seluruhnya pada pemuda
kastanya. Beratambah kecil demi bertambah kecillah diajarkannya
terhadap kasta yang lebih rendah demi lebih rendah dari kasta Brahmana.
Beginilah pada puncak sejarahnya Zaman Veda itu, Kasta Brahmana itulah
yang sumber dari semua pengetahuan tentang bumi dan langit, hewan dan
manusia, para Dewa dan Maha Dewa. Mereka kaum Brahmanalah yang menjadi
perantaraan antara penduduk Hindu Asli dengan Dewa Maha Dewa Yang Maha
Kuasa. Berhubung dengan itu, maka sesudah rubuhnya Kasta ksatria,
Brahmanalah yang sebenarnya berkuasa dalam masyarakat Hindustan.
Mereka ialah Kasta Suci, kasta terpisah sendiri makan minum, tempat
tinggal dan pekerjanya, turun-temurun. Pada titik puncak kekuasannya
ialah pada masa lk 600 tahun sebelum Nabi Isa itu sampai sekarang ini,
mereka sudah tak boleh kawin lagi dengan dua tiga ribu kasta kecil di
Hindustan, atau dengan empat kasta besar dibawah kastanya.
Brahma, dalam bahasa Sanskrit, artinya Neuter, bukan lelaki dan bukan
perempuan. (Pembaca disini berhadapan dengan sepotong Dialektika
Hindu, yang permai sekali. Pada sesuatu saat dan titik maka perkataan
Brahma, yaknibukan lelaki dan bukan perempuan itu bukan omong-kosong
kita masih ingat pada pemrulaan buku ini dimana diterangkan, bahwa
menurut Dialektika A itu boleh Non-A, y a itu pada suatu saat bisa t i d
a k. Dalam ilmu Bintang dan Tumbuhan hal ini memang satu bukti. Tetapi
terhadap semua Dialektika yang beralasan dan berpuncak pada Idealisme
semuanya orang mesti berawas sekali. terkhususnya terhadap Dialektika
Hindustan). Brahma itu juga berarti, Yang Maha Tunggal (absolute), Maha
Dewa dan Maha Jiwa Ataman. Pendeta dalam buku Rig-Veda, juga dinamai
Brahma. Yang dimaksudkan dengan Brhamanism, ialah tata (system) agama,
berasal dari dan diselenggarakan oleh kaum Brahmana itu. Tata agama
Brahmanaismelah dan kasta Brahmanalah yang akan kita pakai disini
sebagai pokok melangkah, sebagai thesis.
Dengan kecepatan kilat kita mesti obori sejarahnya Brahmanisme dalam
Zaman Veda yang lebih kurang 1000 tahun itu. Tentulah yang bisa
dibentuk obor listrik itu puncak yang menyolok mata saja.
Sejarah Brahmanisme dalam lebih kurang 1000 tahun itu, tentulah juga
seperti sejarah segala-gala melalui tingkat bayi-lahir, balig dan tua.
Bayinya Brahmanisme itu seperti semua kepercayaan manapun juga, ialah
berupa animisme dll yang masih ktia dapati di Indonesia ini. persoalan
yang menggerakkan otak Hindustan Asli, ialah bahwa Aryan yang masuk di
Hindustan dari Utara, diantaranya: Dimanakah matahari itu pada malam
hari? Dimanakah bintang itu pada siang hari? Apakah sebabnya maka
matahari tak jatuh? Mana yang lebih dahulu, siang atau malam? Dari
manadatangnya angin dan kemanakah perginya? Dan lain-lain yang
berhubungan dengan itu.
Jawabnya itu tentulah tidak diperoleh dengan memakai teropong sebesar
yang didapat oleh Mount Wilson dan Matematika menruut teori
Relativiteitnya
Einstein. Jawabnya persoalna itu didasarkan pada para Dewa, yang
berpikiran berkemauan dan berperasaan adil, lalim, kejam dan baik
seperti manusia juga. Kita, bangsa Indonesia juga pernah mengenal Dewa
Hindu, yang dibawa oleh Hindu kemari. Tak perlu lama kita mempelajari
bentuk dan sifatnya Dewa itu. Ada masanya Hindustan Asli mengumpulkan
dan memuja semuanya 33 Dewa pada 3 daerah, yakni ke-1 derah langit,
ke-2 didaerah bumi dengan apinya, dan ke-3 didaerah udara dengan angin.
Jadi pada tiap-tiap bagian ada 11 Dewa yang memerintah. Akhirnya pada
tingkat yang lebih lanjut pendeta Hindu memuncakkan kekuasaan 11 Dewa
pada tiap-tiap bagian itu pada satu Dewa. Jadi kita dapat 3 puncuk
Dewa, ialah: Pertama: Dewa
Surya bersemayam dilangit, menguasai daerahnya, kedua Dewa
Agni, bersemayam di Bumi, menyelenggarakan perkara api, yang juga bekerja memperhubungkanpara Dewa dan manusia, dan ketiga Dewa
Indra,
yang bersemayam di Udara, yang mengatur perkara angin. Dalam Kitab
Veda kita juga berjumpakan syair yang memuja dan memuji Dewa Tiga
Serangkai ini.
Tetapi janganlah pula disangka, bahwa kekuasaan tiap Dewa, diantara
yang 33 atau 11 ataupun 3-Serangkai dipastikan luas dan batasnya,
seperti Tata Negara Amerika Serikat memastikan kekuasaan, tentang gaji,
mengangkat dan melepaskan pegawainya. Semua kekuasaan itu Cuma
dibentuk pada syair saja, kekuasaan satu Dewa boleh berada pada
daerahnya Dewa lina dan sebaliknya.
Ahli syair, pemuja Dewa dan penjawab persoalan yang terbit
dikepalanya tak puas dengan Dewa Tiga Serangkai sebagai pucuk 33 para
Dewa tadi, sejarah berjalan dari selangkah demi selangkah dan persoalan
timbul satu demi satu. Tiga serangkai tadi akhirnya dibulatkan,
ditunggalkan pada SATU ayng berkuasa atas, atau menilik kerja teman
sejawatnya. Dewa Surya, Dewa Matahari, yang bersemayam dilangitlah yang
mendapat kehormatan!
Beliau diangkat – juga dalam syair oleh tukang syair – menjadi ketua.
Beli inilah yang berganti-ganti mengetuai rapat pada daerah beliau
sendiri, yakni di Langit, kemudian di Udara dan akhirnya di Bumi.
Maklumlah pembaca, kalau beliu paduka yang Maha Mulya Surya itu
mengetuai rapat daerah Udara,maka ketua Udara, yakni Dewa Indra, dengan
segala tertib dan hormat akan duduk disampingnya Dewa Surya.
Tetapi tentulah tiada gampang mengetuai hanti dan jinya penduduk
Hindustan di Tengah dan Selatan, dipegunungan Dekan, Dipantai Timur dan
Barat serta dipulau Selong. Disini sekarang masih kelihatan berapa
bangsa yang terang bukan Aryan, menurut bentuk tubuh dan warna
kulitnya. Sekarang pegunungan Dekan saja berpenduduk 100.000.000 jiwa.
Tetapi sebagian terbesar dari mereka menurut ahli Barat (Keene), lebih
menyerupai bangsa Tolaing di Birma (serupa orang Indonesia juga) atau
orang Indonesia dikepulauannya dan penduduk pulau Selong. Mereka bangsa
Indonesia Asli itu tentulah pula membawa Hantu dan Jinnya, ketika
bertemu dengan bangsa Arya yang menyerbu dengan langsung atau tidak
langsung kearah Selatan. Pada satu masa (tentulah tak bisa diketahui
abad, bulan atau harinya), tentulah para Dewa Arya dari Kitab Veda atau
sebagian Kitab Veda bertemu muka dengan Hantu dan Jin Indonesia.
Diantara Hantu Indonesia itu tentu juga ada yang berkuasa di Udara,
seperti Hantu Pemburu (Minangkabau), Hantu Rimba dan Hantu Laut
(Pelasik Kudung) dsb. Sang Hantu Pemburu dan Pelasing Kudungs aja
tentulah tak dengan ikhlas hati begitu saja akan menyerahkan kursinya
pada Maha Dewa Surya, walaupun sudah 32 atau lebih pun Dewa
dikalahkannya, apalagi akan dengan ikhlas hati menyerahkan daerah
kekuasaan serta rakyat dan familinya, bulat langsung pada Dewa Surya
yang datang menyerbu itu.
Barangkali ada peperangan yang seru, sengit terjadi. Tetapi ktia tak
dapat mengetahui, karena ktia tak semua diberi tahu oleh kaum Brahmana
itu. Lagi pula ahli Barat mengakui, bahwa Kitab Veda itu ada yang
hilang bagiannya. Tetapi bagaimanapun juga dengan perkelahian atau tipu
muslihat, Brahmanaisme bisa mengadakan perdamaian: kepercayaan bangsa
Non-Arya menerima bagian dari kepercayaan dan Hantunya bangsa yang
bukan bangsa Arya itu. Brahmanaisme penuh dengan perdamaian. Tetapi tak
perlulah semuanya diceritakan disini.
Perdamaian bangsa Arya atau campuran Arya dengan beberapa bangsa yang
bukan bangsa Arya itu sudah kita ketahui juga, yakni di Indonesia ini.
dunia bagian lainpun mengetahui Tiga Serangkai lain dari Tiga
Serangkai Surya, Agni dan Indra tadi. Tiga Serangkai yang lebih
diketahui itu ialah Brahma, Wisnu, dan Shiwa. Shiwa dianggap Dewa
Perusak (destoyer); Wisnu, Dewa Pemelihara (preserver) dan Brahma,
ialah pembangun, Pembikin (creator) Alam Raya, ketua, Yang Maha
Kuasa,Yang Tunggal.
Menurut
Encyclopaedia Britannica, perdamaian itu dianggap
sebagai hasil filsfaatnya kaum Brahmana semata-mata. Brahma, ialah Maha
Jiwa itu dianggap terlampau halus (terpisah) oleh ramai. Ramai
menyukai yang nyata, yang lebih gampang dimengerti, Yang Gagah atau Yang
Pencinta. Sebab itu menruut Enc. Brt, kaum Brahmanalah yang cerdik
memasukkan Para Dewa atau Hantu yang disukai ramai. Seperti Shiwa
umpamanya, mulanya berbentuk Dewa pujaan ramai, seperti Brahmana yang
cerdik, memasukkan Shiwa itu kedalam kitabnya. Dengan begitu mendapat
akuan dari kitabnya. Disini cara berpikir
kaki diatas, kepala dibawah
pada pihak pemikir burjuis kelihatan pula. Menurut Madilog, maka
perdamaian itu bukan hasil k e c e r d i k a n melainkan sebaliknya
hasil pertaruan antara Kasta Brahmana dan Kasta Bawah, dan antara
Bangsa Arya dengan bukan Arya. Pertarungan itu mestinya lama, dan keuda
pihak mesti mempunyai kekuatan. Kalau Kasta Brahmana terkuat bisa
menang sempurna, dengan menghancur luluhkan Kasta Rendah dan/atau
bangsa bukan Arya, maka Kasta Brahmana itu tak perlu menarik Dewa atau
Hantu manapun yang bukan Arya.
Diantara pemikir Barat yang berdasarkan Dialektika ada juga yang
melihat Tiga Serangkai ini sebagai penglaksanaan Dialektika Hindu.
Pemeliharaan, Perusak, dan Pembikin itu ialah hasilnya gerakan
Dialektika: Thesis, anti-thesis dan synthesis, yang sudah kita kenal.
Tetapi menurut pikiran saya orang mesti berhati-hati mengambil
kesimpulan, sebelum betul-betul dipastkan jabatan (function)
masing-masing Dewa itu dalam teori dan praktek, dan sejarahnya
perdamaian itu diantara bansga Arya dan bukan Arya. Saya bilang orang
mesti berhati-hati dan janganlah diambil dari satu tempat saja, baik
dalam Kitab Veda, atau dalam Negara Hindustan saja. Orang mesti periksa
arti masing-masing Dewa itu pada seluruhnya Zaman Veda dan semua
tempat di Hindustan.
Mana yang lebih dahulu didapati dalam sejarah Kitab Veda. Surya,
Agni, Indra atau Brahma, Wishnu, Shiwa, tiadalah saya berani dan bisa
menentukan. Sejarah yang pendek diatas ini saya majukan, tiadalah
semata-mata menurut kehendak hati saja. Kaalu seandainya saya mau
berlaku sebaliknya, saya tak bisa jalankan sebab seperti pada permulaan
lebih dari cukup saya majukan bahwa Zaman Veda itu gelap gulita!
Tetapi tiga Serangkati Surya, Agni, Indra itu memang boleh jadi
mendahului Tiga Serangkai Brahma, Wishnu, Shiwa. Sekurangnya hal ini
tak bertentangan dengan Madilog.
Kekuasaan dan daerahnya 33 Dewa itu masing-masing tentulah
memusingkan kepala seseorang, berapapun juga ahlinya. Lagi pula orang
sudah sadar, bahwa walaupun ada 33 Dewa, seorang atau selusin dua luisn
Dewapun tak bisa menganggu ketetapan, menurut hukum, orde, jalannya
Alam ini. R t a, kata filsafat Hindu itu, yang artinya ketetapan jalan
itu. R t a yang tergambar pada Dewa Varunalah yang menyelenggarakan
supaya matahari beredar siang dan bulan beredar malam, serta musim
balik bertukar. Jadi lama-lama mendapat penrtian tentang ketetapan,
pengertian tentang hukum. Lagi pula pikiran umum sudah condong pada
keesaan. Diantara yang 33 Dewa itu mestinya ada saut yang terkuasa.
Disinilah lahir montheisme, kepercayaan pada “ketunggalannya”, keesaan.
Begitulah diatas kita melihat Dewa Surya akhirnya jadi ketua pada tiga
daerah, Langit, Bumi dan Udara berikut-ikut mengetuai rapatnya
sendiri, rapatnya Agni dan Indra. Surya naik ketingkat Maha Dewa.
Tetapi lama-kelamaan orang sangsi kepada kepercayaannya sendiri.
beberpaa syair dalam Veda, sudah menanyakan “siapakah Indra itu?”
“Siapakah yang pernah melihatnya?” “pada Dewa manakah kita mesti
berkorban?”
Kesangsian itu menimbulkan kepercayaan baru pula. Seorang ahli
filsafat Brahmana itu berpikir: Di dalam badannya para Dewa itu, adalah
satu persamaan. Persamaan ini ialah Rohani Alam yang berada dalam
berjenis-jenis badan, bentuk dan nama. Rohani Alam ini sama dengan Jiwa
Alam atau Akal Alam. Rohani Alam itulah yang dikandung oleh Badan yang
berupa Agni, Varuna dan Indra dan lain-lain.
Jadi pada tingkat ini ke-Esaan yang terbentuk pada badan Surya tadi
bertukar menadi keesaan Rohani! Sedangkan Surya tadi masih berupa orang
yang mempunyai akal, kemauan dan perasaan marah atau cinta, tetapi
Rohani Alam ini sudah sesuatu yang terpisah sama sekali dari jasmani
seperti angka 2, 3 dsb-nya terpisah (abstracted) dari 2 manggis, 2
orang dan 2 dewa, Cuma tinggal bilangan saja, begitulah pemikir
Brahmana memisahkan Rohani itu dari Jasmani.
Rohani Alam inilah juga yang dinamai Atman. Ataman inilah yang dicari
dengan jalan pertapaan. Apakah Atamn itu? Penghabisan Kita Veda Bagian
yang bernama Upanishad, memeriksa sifatnya Atman itu. Diterangkan
disana, bahwa b a d a n manusia itu bukanlah d i r i, bukanlah s a r i,
kaerna badan itu berukar dari bayi sampai balig dan akhirnya tua dan
mati. Juga d i r i dalam mimpi itu bukanlah diri sebetulnya, sebab dair
diri itu pun dibawah pengaruh pengalaman sehari-hari. Diri dalam tidur
tak bermimpi juga bukan diri, sebab dalam hal itu, diri itu kosong. D i
r i sebetulnya ialah k e s a d a r a n a l a m yang terdiri atas
dirinya sendiri dan buat dirinya sendiri. manduknya Upanishad
membedakan 3 tingkatnya Jiwa: bangun, bermimpi dan tidur (nyenyak).
Ketiga tingkat ini termasuk kedalam tingkat ke empat, ialah “
kesadaran gaib” (intuitional consciousness). Pada
kesadaran gaib
inilah hilang lenyap semua pengetahuan dengan benda didalam dan diluar
badan. Inilah yang Atman. Brahmana itu sama dengan Atman. Sari dalamnya
Alam sama dengan sari dalamnya diri (manusia). Kalau sipertapa sampai
bercampur dengan Ataman itu ia bisa berkata TAT TVAM AS “
aku”
berjumpakan e n g k a u. sifatnya kebinasaan hakekat terakhir ini,
Atman ini, t a k b i s a ditentukan. Tetapi menurut Upanshad tadi
juga, perasaan gaib kita (intuition) bisa merasakannya. Aklau orang mau
bertanyakan bentuknya atau definisinya. Kalau orang mau bertanyakan
bentuknya atau definisinya, ahli Brahmana tadi Cuma menjawab dengan “
Neti, Neti, Brh”, artinya
bukan ini dan bukan itu ..........
Pendeknya tak ada yang tahu, mata ditujukan kepuncak hidung, badan
Cuma tinggal kulit pemalut tulang, cinta kasih sayang pada anak istri
dan makan meti dilupakan sama sekali, telinga seolah-olah mati sehingga
keroncongan pertu sendiripun tak terdengar lagi. Kalau dalam keadan
tak mati, tak hidup
ini, seseorang pertapa, seorang bersamadhi, sangka atau rasa dai lebur
dengan Ataman, tak mengherankan kita kalau kelak dia kembali kedunia
ini dengan tak bisa melukiskan bentuk atau mendefinisikan Atman itu.
Disini kita sampai ketingkat sejarah Zaman Veda dimana Alam itu
disarikan pada dan disamakan dengan Atman kepercayaan semacam ini
dinamai juga Pantheisme, Tuhan itu ialah Alam. Tetapi ahli filsafat
Veda pun tak senang dengan kepercyan ini. timbullh terus pertanyaan
siapa, bila dan apa sebab dibikin Alam ini. Satu teori yang terkemuka
sekali mencoba jawab pertanyaan ini.
Menurut teori itu maka pada permulaan tiadalah benda dan yang bukan
benda; tak ada udara ataupun langit, tak ada yang mati atau yang tak
mati. Semuanya k o s o n g kecuali ADA SATU yang bernafas dengan tak
mengeluarkan nafas atas kodratnya sendiri. oleh kodratnya pertapaan,
samadhi maka pertentangan yang pertama, yakni antara benda dan bukan
benda bertukar menjadi
kodrat dan benda oleh kodratnya kemauan (Kama) ia ini bijinya akal, yang menimbulkan seua kemajuan.
Kemauan itu, ialah tanda keinsyafan ialah tali pengikat “
Yang ada dan yang Tak ada” (Benda
dan Bukan Benda). Tetapi teori itu akhirnya sendiri mengaku tak tahu
apa sebab Yang Mahakuasa yang pertama tadi bertukar menjadi
“Pembikin yang aktif” dan
“Kekacauan yang passive”. Syair teori ini berakhir dengan kesangsian: “Pembikin Alam ini adalah saut kegaiban “Ko Veda?” (Siapa yang tahu?).
Pemeriksaan berupa syair diatas ini berapa Dialektika yang unggul,
gilang gemilang! Tiada ia melangkah dengan benda, walaupun terkecil
seperti atom dan proton. Tiba-tiba pula kita berjumpakan
Kemauan (Kama)
dalam pertapaan yang bisa menyiapkan segala-gala. Akhirnya dialektika
yang tak bertulang dan spekulatif berakhir dengan Ko Veda, siapa tahu?
Tadi sudah diperlihatkan bahwa Atman itupun barang yang tidak
diketahui bentuknya dan tak bisa didefinisikan, melainkan bisa
dirasakan setelah badan kurus kering, pancaindera berhenti dan pikiran
sudah tentu hilang lenyap. Filsfaat semacam ini pendeknya tiada tetap
tinggal monopoli paham Ahli Hinudstan. Menurut pemeriksaan borjuis
Barat, juag
Encyclopaedia Britannica maka filsfaat tentangan
Atman dan pekerjaan Pantheisme itu terlampau tinggi buat Rakyat Jelata.
Sebab itu katanya Brahmana yang cerdik mencari
kepercayaan
yang mendamaikan Monotheisme dan Pantheisme. Perdamaian itu bertubuh
pada Mahadewa Prayapati. Pada Mahadewa ini berada keorangan
(personality) sebagai pembikin Alam dan kejiwaan sebagai Brahma, Atamn.
Disini kita dapati perpaduan baru: Pan Monotheism (Atman-Mahadewa).
Disini kita juga ahli borjuis membalikkan kaki keatas dan kepala
kebawah.
Saya pikir pertaruan yang seru antara Kasta Brahma dan lain-lain
kasta, antara bangsa Arya dan bangsa yang bukan Aryalah yang memaksa
Kasta Brahmana berlaku cerdik, ialha mengakui Dewanya Kasta Rendahan
Bangsa Arya atua bangsa yang bukan Arya diterima masuk kedalam
Pantheonnya (Mahligainya) para Dewa yang diakui oleh kasta Brahmana.
KITAB DAN KASTA
Bukan sembarangan orang malah bukan sembarangan ahli lagi bisa
mengetahui sejarahnya dan kekuasannya masing-masing puluhan Dewa Hindu
Asli serta sifatnya Atman dan cara meleburkan Jiwa Manusia dengan Atman
itu. Ditambah pula dengan cara memuji dan memuja Dewa yang berkenaan
pada waktu kelahiran, perkawinan, kematian, pengikahan dan sebagainya
dari seorang Hindu. Pengetahuan dan semua pekerjaan memantra, memuja
dan memuji yang kita bentuk dengan perkataan pemawangan (kerjanya
pawang; menentukan hari baik buat belajar, kawin atau kenduri,
obat-mengobat dan tolak-menolak bahaya dan penyakit dll). Itu lama-lama
jatuh pada golongan terkhusus dari masyarakat Hindu. Golongan ini
akhirnya menjadi golongan terpisah dari golongan lain-lain. Golongan
inilah yang dinamai Kasta dan Kasta itu bukan lagi golongan yang kita
kenal, yang ditimbulkan oleh pencaharian hidup, seperti golongan tani,
tukang dan sebagainya. Para anggota golongan tani atau tukang itu bisa
keluar dari golongannya, amsuk golongan saudagar atau golongan
terpelajar atau pangreh praja, segenap jurusan. Tetapi anggota Kasta
tak boleh kawin dengan kasta lain walaupun sekarang rupanya sudah
banyak juga yang mengerjakan pekerjaan yang bukan pekerjaan pawang
semata-mata. Kasta akhirat menterjemahkan pengetauhan itu pada bngsa
Hindu yang berhak, dan memperhubungkan orang Hindu dengan Atman,
Brahma, dinamai Kasta Brahmana. Kasta Brahmana inilah akhirnya yang
memonopoli pengetahuan dan pekerjaan yang berhubung dengan kepercayan
Hindu, akhirnya pengetahuan tentangan seluk-beluknya kasta. Kasta ini
menjadi golongan terpisah, menjadi Kasta Luhur, wakil Brahma didunia
ini. dibawah kasta Brahmana ialah kasta kedua kita dapati
Kasta Ksatria. Pada
Kasta Ksatria
inilah diletakkan kewajiban buat memerintah dan mempertahankan negara.
Jadi kasta inilah yang berpolitik, menyelenggarakan politiknya negara
(kemiliteran, kehakiman dsb). Kasta Ksatria diizinkan bersama-sama
membaca Kitab Suci, yakni seberapa yang diberikanoleh kasta Luhur
kepadanya.
Dibawah Kasta Ksatria sebagai Kasta ketiga kita dapati
Kasta Vaisya. Pekerjaannya ialah berniaga, bertani dan gembala.
Kasta keempat ialah
Kasta Sudra. Kerjanya ialah
melayani ketiga kasta yang diatas tadi umumnya dan kasta Brahmana
terkhususnya. Menyamak kulit dan menyapu jalan adalah kasta ini. mereka
tiada boleh mempelajari penegtahuan suci dan sakti. Kalau mereka
menjalankan pengurbanan dirumah Berhala, maka pekerjaan ini dijalankan
dengan t i a d a memakan
matteanya Brahmana. Tiadalah
diizinkan seseorang Brahmana membaca Kitab suci, kalau sekiranya ada
berdekatan dengan seseorang Sudra yang bisa mendengarnya. Juga terlarang
seseorang Brahmana mengajar seorang Sudra cara menebus dan
menghilangkan dosanya.
Kelima
Kasta Paria. Kasta ini timbul dari
perkawinan antara para kasta, jadi perkawinan hamar. Kasta Paria itu
ialah kasta haram, mesti dijauhkan: najis. Di Hindustan sekarnag lebih
dari 100.000.000 orang banyaknya. Diantaranya ada yang mencapai titel
dokter didikan Barat. Kita kenal sama Dr. Ambekar, ialah pemimpin Kasta
Najis itu sendirinya najis menurut Hinduisme, Brahmanisme.
Ketiga kasta yang bermula, Brahmana, Ksatria dan Vaisya ada mempunyai
tali perhubungan yang bersamaan pada tumpah menjalankan agamanya.
Tetapi
privilege (hak terkhusus) masing-masing ada berlainan.
Tiap-tiap kasta dibai pula ats beberapa macam. Sehingga lebih kurang
ada 3000 kasta di Hindustan yang berpisahan.
Pendirian semua Kasta, begitu juga hak dan kewajibannya diantara
beberapa macam dalam satu kasta dan diantara kasta dan kasta,
ditentukan oleh undang yang tersusun dalam TATA MANU. Disini sudah
tercantum, tinggi rendahnya para kasta. Makin tinggi kasta, makin
ringan hukuman pada anggotanya yang melanggar undang. Makin rendah
kasta, makin berat hukuman pada pesakitan yang salah.
Semua kepercayaan Hindu atas dunia dan akhirat itu, cara dan undang
menjalannya serta undangnya kedudukan serta Hak Kewajibannya semua kasta
yang ditentukan oleh TATA MANU itulah yang dinamai pengetahuan: VEDA.
Sesudah kekuasaan Kasta Ksatria digugurkan, maka Kasta Brahmana juga
memonopoli politik didunia fana ini. Semua bagian Kitab Veda sesudah
kemenangan itu berumba-lumba mengadakan undang buat menetapkan
kekuasannya Kasta Brahmana. Perlumbaan membikin undang itu disertai
pula dengan tuntutan, supaya kita Veda diakui sakti, suci, sebagai
Firmannya Yang Mahakuasa. Kita Veda yang kemudian dianggap suci itu
tentulah tak bisa disentuh kritik atau kesangsian sedikit jugapun lagi.
Pendeknya pada satu singkat di Zaman Veda, Kitab Veda, jadi Firmannya
Yang Maha Kuasa, Perkataan Brahmana menjadi Sabda, serta Kasta Brahmana
jadi Kasta yang paling dekat pada Brahma, Atman, Jiwa Alam.
IKHTISAR DAN PERUBAHAN
Dalam garis besarnya kepercayaan Hindustan Asli diatas, saya lihat
tersusun menurut kemajuan (evolusi): Dari kepercyaan Animisme
(kejiwaan) sampai ketingkat Banyak Dewa (polytheisme). Dari kepercayaan
pada Banyak Dewa (polytheisme) sampai ketingkat kepercayaan pada Satu
Dewa Tertinggi (Maha Dewa, Monotheisme). Dari Mahadewa ke Maha Jiwa
(Atman, Rohani, Pantheism). Dari Maha Jiwa ke Maha Jiwa Dewa (Peleburan
Maha Jiwa dengan Maha Dewa, Pan Monotheism).
Jadi beruntun-runtun lahir kejiwaan, Banyak Dewa, Maha Dewa Maha
Jiwa, Maha Jiwa Dewa (Animism, Polytheism, Monotheism, Pantheism, Pan
Monotheism). Ikutan ini boleh diatur berlainan. Tetaip saya tiada
mempunyai sejarah yang bisa menahan ujian. Bagaimana juga ikutan diatas
tiada bertentangan dengan Madilog.
Buat memberi perabotan atau sejarah kepercayaan Hindustan, saya mesti tahu sejarahnya
benda-lantainya kepercayaan itu. Sejarahnya
benda lantai
itu membayang pada sejarahnya kepercayaan. Bukan sebaliknya seperti
menurut ahli burjuis meskipun mesti diakui kepintaran mereka
menjalankan pemeriksaan dan Logika.
Kalau seandainya saya diwajibkan menggali sejarah
benda lantai itu, maka sebelumnya saya menjalankan pemeriksaan itu, tentulah saya akan rencanakan sejarahnya
benda-lantai
itu dari tahun-ketahun dari puluhan tahun ke puluhan tahun, dan abad
keabad, cocok dengan ikutan kepercayaan tadi. Tegasnya saya akan gali
lebih dahulu sejarahnya kelas Politik Ekonomi, Pesawat (Teknik) dan
Bumi iklim Hindustan yang cocok dengan sejarahnya kejiwaan sampai
ketitik melangkahnya kepercayaan Banyak Dewa. Dari sini sejarah benda
lantai, ialah sejarahnya Kelas. Berpolitik, Ekonomi, Pesawat dan Bumi
Iklim akan saya atur sejajar dengan sejarahnya dengan memakai
sejarahnya kepercayaan, sebagai pedoman, saya akan sampai ketingkat
Masyarakat, Ekonomi, Pesawat dan Bumi Iklim yang cocok dengan
kepercayaan terakhir: Maha Jiwa Dewa.
Kalau Hindustan Asli mempunyai sejarah yang pasti, baikpun tentang
kepercayaannya ataupun tentang benda-lantainya (masyarakat, ekonomi,
pesawat dan bumi-iklim), maka pekerjaan saya kalau salah Cuma
disebabkan salahnya atau sikapnya saya memakai Madilog.
Eropapun kurang mempunyai sejarah benda-lantai itu. Yang dipentingkan
ialah sejarah politik peperangan. Sejarah Ekonomi atau Pesawat,
walaupun lebih mungkin memberi pemandangan dari sejarah ekonomi dan
sejarah Hindustan juga terpotong-potong. Pemikir Hindu Asli yang
berurat dan berpuncak pada dasar kerohanian tentulah tak sedikitpun
mempunyai perhatian dan kecakapan buat menjalankan pemeriksaan yang
berdasarkan dan berpuncakan kebuktian, sebab itu tiada mengherankan
kalau kita tak akan bisa mendapatkan sejarah dari pada kepercayaan
Hindustanpun. Sebab itu pula saya tak bisa menetapkan dengan pasti, apa
gerangan sejarahnya masyarakat Hindustan sebagai benda lantai. Tetapi
kalau seandainya ikutan atau sejarahnya kepercayaan Hindustan cocok
dengan yang saya anjurkan diatas, maka sejarahnya benda lantai boleh
diciptakan seperti dibawah ini:
Kepercayaan kejiwaan (Animisme) dalam garis besarnya di seluruh dunia
cocok dengan Masyarakat berkeluarga. Politik dipegang oleh Bapa, Mamak
atau Nenek. Pesawat ialah perkakas yang dijalankan dengan tangan atau
kodrat alam yang bersedia seperti angin dan air. Dengan bertukarnya
Bumi Iklim dan pesawat sedikit demi sedikit, maka bertukarlah pula cara
mengadakan hasil dan pembagian hasil: pertukaran Ekonomi. Pertukaran
ini, sambil berlantun dengan lantainya ialah pesawat dan Bumi,
mengadakan pertukaran masyarakat, menukar golongan yang memgang politik
dalam masyarakat itu. Kita sampai kepada zaman Feodalisme, Keningratan
dibawah Raja. Bukan satu raja melainkan banyak raja, apalagi pada satu
benua besar seperti Hindustan. Peraturan banyak Raja ini tak cocok lagi
dengan pemuja D a t u k (Bapa, Paman atau Nenek) yang sakti karena
raja itu boleh jadi keluaran keluarga lain, penakluk atau pendamai
dengan keluarga sendiri. peraturan masyarakat Hindustan yang pada satu
tingkat dalam sejarahnya ada dibawah pemerintahan beberapa Raja,
tentulah menuntut kepercayaan yang cocok dengan itu pula. Masyarakat
yang dikepalai oleh Banyak Raja membayang pada pemikir Hindustan yang
menciptakan Banyak Dewa.
Masyarakat itu terus maju selangkah demi selangkah, karena pesawat
dan cara penghasilannya dan berhubungan dengan itu, gerakan politiknya
maju pula selangkah demi selangkah. Kita lihat pemimpin Tiga Serangkai
itu pada satu Negara adalah cocok dengan undangnya ketentraman. Kita
saksikan pemerintahnya Triumphirate (Caesar, Pompeyus dan Gracchus). Di
Tiongkok Pemerintah Tiga Serangkai terbentuk pada cerita yang masyhur
sekali, karena banyak mengandung nasihat dan pengajaran baik. Cerita
Sam-Kok. Tiga Negara, dibawah Tiga Raja, adalah satu dari cerita
classic
(tua-bertuah) yang patut dibaca oleh pemuda dan pemudi, tua dan muda
kita. Disini bisa disaksikan bagaimana pemimpin Kong Min dengan pegawai
sekali menjalankan politik setimbang. Kalau seorang Raja kelihatan
ceroboh (agressive) dan kuat, maka Kong Min berpihak pada yang lebih
lemah dan bersama melawan yang ceroboh itu. Dengan begitu Raja ceroboh
tak bisa menjalankan politiknya. Kecerobohan bisa dicepatkan, kalau tak
bisa dihindarkan sama sekali. seperti pada
hukum thesis, anti thesis dan synthesis juga, setimbang mungkin dijalankan.
Kalau setimbangan semacam itu mesti membayang pula pada kepercayaan
resmi, maka khayal ini tiada akan mengherankan. Kalau diantara para
Raja Hinudstan pada satu tingkat sejarah didapati Tiga Pucuk Raja, maka
pada tingkat ini para Brahmana yang berpikiran ulung tentulah tak
senang lagi dengan memuja dan memuji puluhan dewa. Patutlah kalau
dipilih Tiga Dewa buat diberangkatkan. Kalau Tiga Serangkai itu Cuma
dikenal oleh bangsa Arya saja, belum lagi dikenal oleh yang bukan
(non)-Arya, yang takluk atau bergabung dengan bangsa Arya sesudah
bertarung dengan seru dan sengit, maka patutlah dimasukkan Hantu atau
Dewanya bangsa Non-Arya kedalam Kitab Veda. Demikianlah Tiga Serangkai
Surya, Indra dan Agni bertukar menjadi Tiga Serangkai Brahma, Wishnu
dan Shiwa atau sebaliknya Tiga Serangkai lain, kalau sejarah berlainan
pengalirannya. Di Indonesia (Jawa) Tiga Serangkai itu pernah berbentuk
Surya, Shiwa, Brahma dengan Surya sebagai Dewa Puncak (lihat patung di
Museum Jakarta).
Masyarakat terus membikin sejarahnya. Peperangan ialah puncak
perbuatan politiknya masyarakat yang acap berlaku dan kekuasaan
lama-kelamaan berpusat atau sebagian besar berpindah pada satu Raja,
pada jago perang, pada satu Napoleon, pada Maha Raja, yang Ahli
Filsafatnya Maha Raja ini tentulah merasa tak puas memuja Tiga Dewa
yang bersamaan kekuasaannya. Dia perlu mendapatkan, dan Maha Raja
merasa enak telinganya mendengarkan, serta Rakyat mufakat, kalau Ahli
Brahmana menfirmankan adanya Maha Dewa, Dewa Yang Terkuasa. Keadaan ini
sesuai dengan gambaran masyarakat pada tingkat itu.
Bila terjadinya saya tak tahu, tetapi dikatakan bahwa akhirnya Kasta
Ksatrya (Kasta Raja) ditumbangkan oleh Kasta Brahmana. Jadi pemerintah
yang bersemangat
digantung tinggi, dibuang jauh, ya Tuanku Syah Alam, tiada cocok lagi dengan semagat kaum Brahmana yang memimpin, memerintah.
Kaum Brahmana memimpin dengan pengetahuan atas kepercayaan resmi.
Yang terkemuka tiadalah lagi t o n g k a t n y a Maharaja yang berbadan
pada polisi rahasia dan polisi resminya, melainkan pada
kepercayaan.
Makin gaib, makin sakti, makin asing terpisah kepercayaan itu makin
jitu buat mengendali rakyat jelata. Brahma, Atman, Jiwa Alam, Maha Jiwa
itu adlaah barang gaib, terpisah dari jasmnai. Ini cocok dengan Kasta
Brahmana dengan undang Manu, Kitab Suci, Kitab Veda, Firman yang
Mahakuasa itu.
Maharaja, Raja, Ningrat dan Rakyat yang mengikutinya yang dikalahkan
oleh Kasta Brahmana tadi, tentulah tiada akan terus berpeluk tangan
saja menangisi kekalahannya. Sudah sepatutnya kalau mereka mengadakan
percobaan merebut kembali kekuasan yang hilang. Sekurangnya mereka akan
mengumpulkan tenaga lahir-batin, senjata dan kepercayaan asli atau
baru, buat megadakan
contra-revolusi. Boleh jadi memang sudah
ada satu atau lebih pemberontakan balasan semacam itu berlaku dalam
sejarah Hindustan. Kita tak tahu karena tanggal dan sebab yang nyata
dari satu peperangan atau pemberontakan tentulah tak bisa digali dari
sejarah Hindustan yang berurat dan berpuncak pada kegaiban itu. Satu
pemberontakan ataupun ancaman pemberontakan balasan saja sudah cukup
buat memaksa kaum Brahmana berlaku
cerdik. Perlulah dikembalikan sebagian dari kekuasaan yang hilang itu pada Kasta Ksatria; perlulah diadakan
compromis.
Cocok dengan keduniaan yang fana ini perlulah pula diadakan compromis
pada dunia baka, yang digambarkan oleh Kitab Veda, firmannya Yang
Mahakuasa itu. Demikianlah akhirnya taida akan mengherankan, kalau
kepercayan pada Maha Jiwa tadi memasukkan kepercayaan Maha Dewa, supaya
lebih menjadi Maha-Jiwa-Dewa (Pan-Mono-Theism).
Dengan begitu, maka Kasta Brahmana bisa meneruskan kekuasannya seperti Maha-
Trust
(mamouth Trust) di Amerika meneruskan kekuasannya dengan jalan
menghisap kongsi yang baru timbul atau bebas. Demikianlah akhirnya
peraturan kasta, bertinggi rendah dari kasta najis sampai kekasata
Brahmana, calon-Atman, malah dari cacing sampai ke Brahmana, tebrayang
pula dalam Kitab Veda, Firmannya Yang Maha Kuasa itu. Bukanlah seperti
menurut ahli burjuis, bertinggi rendahnya manusia dan mahluk didunia ini
ialah akibatnya kepercayaan kaum Brahmana, melainkan sebaliknya.
ANTI-THESIS: BUDDHISME DLL.
Begitulah suasana Hindustan ketika Buddhisme, Yainisme dan
Materialisma, dll timbul sebagai penantang dalam Zaman Dongeng dari
tahun 600 sebelum Nabi Isa sampai th 200 sesudah Nabi Isa. Pada titik
melangkah Zaman Kedua ini Kasta Brahmana memonopoli pengetahuan tentang
dunia dna akhirat, memonopoli jabatan pengajaran Rakyat, serta
terkuasa pada politik dunia fana ini.
Tentang yang betul berlawanan kutub itu datangnya dari pihak materialisme. Menruut Lokayata, yang artinya
kearah alam ini,
maka yang nyata itu Cuma dunia ini saja. Benda itulah saja yang nyata.
Benda itu terbagi 4-zat-asli: tanah, air, api dan duara. Cuma hasil
pemanca-inderaan saja yang boleh dianggap sayh, nyata, sebagai sumbernya
pengetahuan. Kesadaran itu ialah gerak-geriknya (function) benda.
Paham mereka materialis itu tentangan Jiwa ada berbagai-bagai. Jiwa itu
disatukan (identified) jadi tak berpisah dengan Badan, Pancaindera,
Napas atau Pikiran. Tak ada Hidup di akhirat itu. Sebab jiwa itu Cuma
pembawaan (attitude) badan, maka ia lahir bersama-sama dengan lahirnya
badan. Dan badan ini lahir disebabkan perpaduan benda seperti kodrat
itu timbul karena perpaduan alat-Bendanya Badan. Dunia ini lahir
sendirinya. Tuhan itu, ialah satu dongeng yang kita terima, karena
kebodohan dan kelemahan. Demikianlah paham menurut Yainisme itu.
Yainisme timbul tak berapa lama sebelumnya Buddhisme (lk 599 – 527
seb. NI). Bersama dengan Buddhisme, Yainisme membatalkan Atman,
Jiwa-Alam, yang kekal itu. Yainisme itu buat dipendekkan saja
mengemukakan, bahwa hakekat itu berhubungan dengan penjuru kita
memandang. Benda itu dianggap nyata dan kekal. Perkara yang berhubungan
dengan atom juga sudah dikaji.
Patrinya jiwa itu ialah
kesadaran, yang kekal, tak bisa dimusnahkan. Jiwa manusia itu ialah perpaduan
kesadaran
dengan badan. Yainisme juga percaya pada Jiwa dalam Benda seperti
batu, dll. Tetapi dia tak percaya pada Tuhan, walaupun sepanjang
kepercayaan mereka, jiwa itu bisa sampai ketingkat ketuhanan. Yainisme
membatalkan Kasta mempropagandakan kemerdekaan sosial dan kemerdekaan
pikiran. Karma, ialah kungkungan nafsunya Badan itu, bisa diperhatikan
dan Nirwana itu dicapai dengan kepercayaan, pengetahuan dan kelakuan
suci. Yainisme banyak persamannya dengan Buddhisme.
Yang akan dikemukakan lebih panjang disini ialah tentang compromis
dari pihak Buddhisme. Karena tentangan ini lebih dikenal dan lebih
besar pengaruhnya. Banyak yang menyangsikan akan adanya Buddha, tetapi
ada pula diantara ahli Barat memberatkan kepercayannya bahwa sungguh
adanya Buddha, lk 600 tahun sebelum Nabi Isa.
Gautama Buddha, anak istri raja Kapilawastu, dari suku gagah perkasa
meninggalkan istri muda remaja, yang sedang tidur dengan anaknya. Tak
berani Putera Raja ini memeluk mencium hati jantung buah matanya,
akarena takut kalau mereka kelak bangun. Begitu keras panggilan mencari
hakekat pada diri pemuda Putera Raja, yang dibesarkan dalam segala
kemewahan. Hatinya terharu memikirkan orang muda bisa jadi tua, dari
senang menjadi sakit dan hidup akhirnya mati. Dia mencari Yang-Kekal.
Menurut adat Brahmana masa itu, dia menyiksa dirinya sambil puasa dan
bertapa, sampai sering jatuh pingsan. Akhirnya dibawah pohon kayu dia
memandang C a h a y a. Tercapailah maksudnya dan sampai berumur 80
tahun ia mengembangkan kepercayaannya. Dia mendirikan susunan pendeta
yang akan meneruskan pekerjaannya.
Beratus tahun sesudah ia meninggal, sejarah kepercayaan yang
ditinggalkannya itu tinggal dalam gelap-gulita pula. Dikira bahwa pada
lk tahun 244 satu Rapat Besar diadakan di Patna. Dari masa inilah
Buddhisme dianggap berdirinya sebagai agama.
Buddhisme membatalkan semua dan siapapun juga Dewa atau Tuhannya
kasta Brahmana. Begitu juga seperti Yainisme, maka Buddhisme
membatalkan Atmannya kasta Brahmana. Semikian juga kitab Veda sebagai
firmannya Tuhan tidak diakui. Akhirnya Buddhisme seperti Yainisme
membatalkan kasta Brahmana dan menganjurkan persamaan serta kemerdekaan
sosial dan jiwa. Ringkasnya Mahadewa, Atman dan Kasta semuanay
dibatalkan!
Apakah sebab yang terdapat pada b e n d a – l a n t a i (kelas
berpolitik, ekonomi dari pesawat, serta bumi iklim), maka timbul
anti-thesis ini?
Tentulah tiada bisa saya jawab dengan pasti dengan mengemukakakn
bukti. Karena pada masa Gautama Buddha lahir dan mengembangkan
kepercayaan pada lk 600 tahun sebelum Nabi Isa itu, sejarah Hindustan
adalah dalam gelap-gulita.
Boleh jadi sekali masyarakat Hindustan sedang menempuh pancaroba.
Bagian Kita Veda terakhir, ialah Upanishad, ada membayangkan. Disanapun
juga sudah nyata kesangsian dalam segala-gala; adanya percobaan yang
sia-sia buat menyusun dan memperdamaikan paham yang kacau-balau dan
bertentangan, sudah terasa perlusnya diadakan pembaharuan dan
pembagunan.
Bagaimana juga pesatnya Buddhisme menantang Brahmanisme, orang jangan
lupa, bahwa perlawanan itu masih berada pada satu barisan, satu kutub,
ialah kutub Idealisme. Perlawanan itu boleh diandaikan dengan perang
saudara, yang seiring bertukar jalan, seperti perlawanan dalam istana
antara para putera raja atau dalam parlemen antara partai liberal dan
conservative, muda dan kolot. Perlawanan itu tiadalah terjadi diantara dua kelas yang bertentangan: Yang Berpunya dan Tak-Berpunya.
Materialisme Lokayata lebih terang dan lebih tajam menantang
Brahmanisme, tetapi kelasnya yang cocok dengan materialsime di
Hindustan Asli itu tentulah belum cukup kuat. Seperti proletariat
Rumawi masih kekurangan alat yang nyata (kemesinan), buat melakukan
materialisme itu malah lebih kurang lagi. Yang tak berpunya di
Hindustan mempunyai alat benda (kemesinan) itu. Lokayata akan terus
tinggal dalam kitab saja, tak bisa dilaksanakan.
Lebih dari Brahmanisme, maka Buddhisme melangkah dari Idealisme
semata-mata. Benda itu dianggap sebagai impian, sebagai kesesatan
Pancaindera kita (illusion). Pancaidera inipun mesti dimatikan, seperti
semua nafsu, kalau kita hendak sampai melihat “
cahaya itu, sampai ke
Nirwana itu.
Selama kita masih mengandung n a f s u, terhadap perempuan atau benda
didunia ini selama itulah pula kita menurut undangan
Karma
kita terpaut dalam jasmani dan keduniaan. Dengan begitu, maka sesudah
mati, maka jiwa kita yang masih dikutuki nafsu itu mesti berpindah lagi
ke sesuatu Badan di dunia ini, hewan atau manusia”.
Kita masih ingat idealist consequent terus-menerus pada zaman lebih
baru ialah David-Hume. Karena ia membatalkan benda itu sama sekali,
maka ia tertumbuk. Terpaksa ia membatalkan benda yag paling dekat
padanya ialah badannya sendiri. Begitu juga Gautama Buddha yang mesti
dilayani dengan segala kehormatan, tertumbuk pada jasmani itu.
Berkali-kali Gautama Buddha jatuh pingsan karena membatalkan badan
dirinya. Barangkali sebagai akibat dari peralaman ini, Buddha
menasihatkan dengan keras kepada pengikutnya supaya jangan sampai
keujung: pada satu ujung jangan tercemplung kedalam dunia sukaria tak
berbatas dan pada ujung lain jangan sampai cemplung ke dalam pekerjaan
menyiksa diri. Keduanya tak berguna.
Demikianlah idealisme sejati yang diteruskan oleh salah satu otak
Timur yang cemerlang, hati ikhlas dan tabah tertumbuk pada 4 persoalan
yang Gautama Buddha sendiri tiada mau atau tak bisa menjawab: ke-1.
Apakah Alam Raya ini baka atau fana, ke-2. Apakah Alam Raya ini
berujung atau tidak, ke-3 Apakah hidup itu sama (satu) dengan Badan,
ke-4. Apakah seorang yang sudah merdeka (dari jasmani) itu terus ada
sesudah mati?
Kita tahu bahwa persoalan ini dalam filsafat menimbulkan paham yang terkenal sebagai
agnoticism (tak-tahu!).
Sudah adakah
compromis Maha-Jiwa-Dewa pada kepercayaan
Brahmanisme, ketika Gautama Buddha mengadakan opposisi? Berhubung
dengan itu, sudah terjadilah perdamaian antara seluruh atau sebagian
para Raja dan Kasta Brahmana? Kalau sudah memang tantangan Gautama
Buddha, kelak akan mengalir juga, lambat-laun pada perdamaian
Ksatria-Brahmana itu. Semua filsfaat Buddhisme lambat-laun akan masuk
juga kedalam Brahmanisme.
Atau, belum adakah perdamaian Maha-Jiwa-Dewa. Sejajar dengan
compromis Ksatria-Brahmana itu, dengan Gautama Buddha mengadakan
opposisi? Kalau begitu mengapakah putera Raja Kapilawastu yang berdarah
Ksatria, berbadan teguh-tegap, berotak cemerlang, berhati berani
tabah, cocok dengan semangat Ksatria itu tiada menyusun dan
menyelenggarakan pemberontakan dan merebut kekuasaan dari tangan kaum
Brahmana? Atau begitu kurangkah kepercayaan putera Raja ini atas
kemenangan? Atau begitu besarkah kejemuan hidup disebabkan nikmat dunia
yang melimpah dan istananya itu pada satu pihak serta sayup sedihnya
pemandangan kegunung Himalaya, terutup oleh salju dan awan itu pada
lain pihak.
Disinipun kita mesti menjawab dengan
Ko Veda (siapa tahu?). sejarah Hindustan berdiam diri, seperti gunung Himalaya itu.
Bagaimana juga opposisi yang tiada berdiri atas dua kelas yang
bertentangan itu (Yang-Tak-Berpunya dan Berpunya) tiada berdasarkan
paham yang mengalir dari dua penjuru yang bertentangan (benda dan
pikiran, Matter dan Idea) itu bermuara pada Brahmanisme, seprti sungai
bermuara dilautan!
SYNTHESIS: ENAM SISTEM.
Zaman Enam Sistem ini, ialah dari tahun 200 sesudah Nabi Isa sampai sekarang. Bukanlah karena
kecerdikannya
Brahmana semata-mata, maka semua aliran yang menentang Kitab Veda itu
masuk ke dalam Brahmanaisme, laksana semua sungai mengalir kelautan.
Melainkan pertarungan kasta dan kasta, bangsa dan bangsa di Hindustan
itu memaksa Brahmana berlaku cerdik; mengadakan
compromis.
Dengan begitu kasta Brahmana sampai sekarnag bisa memegang kekuasannya
kalau tidak perkara keduniaan sesudah Islam dan Barat masuk, tetapi
pada perkara kerohanian. Malah Islam sendiri pada masa Sultan Akbar
condong terkulai kejurusan Brahmanisme itu. Annie Besant, putera
Imperialisme Inggris pada satu pihak menarik nationalisme Hindustan
kedalam barisan imperialisme, tetapi pada pihak lain ditarik, terdorong
oleh mystika, Hindu, berupa theosophie kejurusan Brahmanaisme.
Tiada saya akan mengadakan pengembaraan kedalam Enam-Sistem (6-Tata)
itu. Pemandangan atas kepercayaan Hindustan sudah terlampau panjang,
sudah tak berbandingan dengan pasal yang lain-lain. Tetapi karena
banyak sekali kepercayaan Hindustan itu berseluk-beluk dengan
kepercayaan Indonesia, dan banyak pula mengandung sari persamaan dengan
kepercayaan lain-lain, maka terpaksalah saya teruskan juga. Tetapi
dari titik ini semua yang berhubungan dengan kepercayaan apapun juga,
terpaksa akan dipendekkan.
Sebagai hasil dari tentangan Buddhisme dan Yainisme pada Zaman Kedua
itu, Hindustan memperoleh kepercayan yang dikandung oleh Enam-Sistem
itu. Ahli Barat menganggap ke-enam sistem itu sebagai
satu kesempurnaan.
Masing-masing sistem menambah yang lain. Bukanlah satu sistem atau
lebih menantang yang lain. Ke-enamnya masing-masing berdasarkan
metaphysic,
kegaiban.
Bukanlah lagi berdasarkan benda nyata dan peralaman atau benda yang
bisa dipancainderakan. Ke-enamnya masing-maisng dianggap sebagai
kepercayaan, agama dan pemandangan Dunia dan Hidup. Ke-enamnya akhirnya memberikan jalan bagaimana mencapai akhirat, nirwana atman itu.
Didalam Enam Sistem itu, pemeriksaan dengan selidikan (critic)
mengganti syair dan kepercyaan bulat seperti pada Zaman Pertama.
Demikianlah disini Logika itu sebagai perkakas akal (intellekt) dipakai
buat membatu kegaiban itu buat mengetahui yang gaib itu. Jadi akal ini
tiada dilantaikan pada bukti berupa benda, tetapi pada kepercayaan
yang tiada bias dipancainderakan, diperalamkan pada semua tempat dan
tempo oleh sekalian orang yang berhak memperalamkannya. Walaupun mesti
diakui pula, bahwa Logika itu (ya atau tidak ditimbulkan oleh Ahli
Yunani) sudah sampai kepuncak yang sederhana tingginya.
Pengaruhnya materialismepun tiadalah bisa dihindarkan oleh kegaiban
dalam Enam-Sistem itu. Dengan pertolongan atau tidak (Demokritus hidup
kira-kira sama dengan masa Buddha hidup), kita juga berjumpakan benda
perkara lantainya materialisme; Benda dalam Sansekerta:
dravya
dan gerakan (karma). Dengan mengaku adanya benda itu sampai juga ahli
Enam-Sistmem tadi, dari empat zat asli yang dikenal (tanah, air, udara,
api) kepada benda yang tak bisa dipecah lagi:
atom.
Tetapi tentulah cara berpikir yang bercampur-barukan dengan dogma
(kepercayaan) dan kegaiban tak akan sampai ke-atomnya Rutherford yang
bisa dipisah menjadi proton dan elektron dengan perkakasnya peralaman.
Pemandangan Kanada dan pengikutnya tentang atom dan perpaduannya atom
itu tak terang dan didasarkan pada kegaiban Angka-3 (Trimurti) dsb.
Kedudukan jiwa manusia masing-masing terhadap Jiwa-Alam tentulah
disangkut-pautkan pada Enam-Sistem iut dengan kedudukan atom terhadap
Benda atom ini ................................. dengan jalan kegaiban.
Ke-esaan (monism) dalam
Upanishad didasarkan pada Rohani
sama sekali. jadi benda itu sebetullnya tak ada dan takluk pada Rohani.
Dalam Enam-Sistem kita juga ada berjumpakan Sistem yang sama atau
hampir sama, juga ada bertemu dengan paham yang emmbatalkan ke-esaan
semacam itu.
Adanya benda diakui. Benda itu disangka
tak bisa dimusnahkan. Dari sini timbul pula paham Evolusi, kemajuan
Alam. (Sanskreta Prakrti, yakni Alam). Tetapi paham Evolusionya
Enam-Sistem itu tiadalah berdasar pada perkakas dan peralaman benda mati
atau hidup, dikebun, dirumah sakit atau laboratorium. Kita tentu tak
berjumpakan susunan teliti yang berdasarkan peralaman lama dan
susah-payah tentang tumbuhan dan hewan seperti susunan Darwin atau
susunan tulang belulang, urat nadi, dan syaraf, otak dll, kita manusia
dan hewan; atau susunan dan peralaman ahli kimia Barat sekarang; atau
peralaman dan susunannya bintang atau benda yang dilihat pada bintang
atau bumi lain. Evolusi Enam-Sistem itu berperalaman, berbenda
berperkakas dan berlaboratorium dalam otak mentaginya ahli filsafat
Hindu, semuanya itu ialah perkara terka-menerka (speculation)
semata-mata. Yoga yang sering kita dengar dalam
theosophy itu,
ke-tuhanannya tak begitu erat-tepat. Tuhan itu dianggap suma Jiwa
(manusia) yang terkhusus, tak berada bedanya Tuhan itu dengan Jiwa
manusia dan berhubung kekal dengan Jiwa kita.
Kungkungan Jiwa kita dalam jasmaninya itu disebabkan ke tidak tahuan
kita! Cahaya terang akan kelihatan kalau perkara yang mengaburkan
pemandangan kita diberhentikan. Bunuhlah semua aksi (gerak-geriknya)
pikiran itu, demikianlah nasihatnya Yoga. Diajarkan bagaimana mesti
duduk dan bernafas, di ajarkan pula membunuh pancaindera, diajarkan
pula memusatkan pikiran; samadhi,
concentration. Samadhi mesti diteruskan sampai rohani kita lepas dari jasmaninya dan mendapatkan cahaya terang benderang sendirinya.
Enam Sistem boleh dianggap percampuran paham Kita Veda pada Zaman
Pertama dengan paham Buddhisme. Yainisme dan Materialsime pada Zaman
Kedua. Kita katakan percampuran, bukanlah perpaduan disebabkan
kemenangan pasti dari salah satu pihak yang bertarung.
Synthesis,
Pembatalan semacam ini tiadalah decisive (pasti kalah menangnya)
seperti dialektis materialisme di Ruslan pada tahun 1917 atas
idealisme, kerohanian. Atau seperti materialisme terpisah (mechanical)
di Perancis pada tahun 1789 dan 1870, nyata kemenangannya atas
kerohanian.
Dalam Enam-Sistem masuk Atmanisme dan Ketuhanan, tetapi dapat
bantahan dari Materialisme, Buddhisme dan Yainisme di Zaman Dongeng.
Kita mendapatkan dualisme (keduaan): Tuhan dan Jiwa. Tuhan dan Benda,
Jiwa dan Benda dan sebagainya. Selain dari pada itu masuk pula paham
Buddhisme yang menganggap dunia sebagai impian (illusion) semata-mata.
Tentulah paham ini masuk dengan bantahan pula.
Pendeknya kita mendapatkan dualisme (mengakui Benda dan Rohani,
keduanya bersampingan) dan idealisme sejati (Tak mengakui Benda) dan
banyak paham yang condong kepada kerohanian, tetapi didalamnya Enam
Sistem ini kita tak berjumpakan materialisme tunggal, apalagi
materialsime-dialektika yangtunggal, yang menjadi pangkalan dan
ujungnya perkara.
Yang Tak Berpunya di Hindustan belumlah cukup banyak dan sebabnya,
(quantity dan quality) buat memeluk, menjalankan dan mempertahankan
paham semacam itu.
Buddhisme yang mengakui bahwa Yang Ada didunia semuana impian belaka,
mesti takluk pada paham Brahmana yang dalam perbuatannya mengakui
betul ada dan mujarabnya benda itu. Apalagi kalau benda itu berwarna k u
n i n g, yang jatuh kedalam perbendaharannya rumah orang berhala
sebagai kurban istimewa dari orang kaya, istimewa buat membayar mantera
dan pujuaan istimewa pula.
Raja Asoka memeluk Buddhisme rupanya betul terkuasa di Hindustan!
Tetapi menurut musafit Huan Tsiang, Siladitya, Maharaja Kanuy pada
tahun 634 sesudah Nabi Isa, berpaham campur aduk (electist) resminya
dia beragama Budhha! Di Benares dijumpainya patung Syiwa (Hindu!) yang
tingginya lebih kurang 100 kaki, dan sesudahnya musafir Tionghoa ini
berangkat, maka satu sekolah tinggi Buddhisme dibarak orang di Sarnath.
Semuanya membuktikan bahwa contra revolusi dari pihak Brahmana sedang menjalankan lakonnya.
Sebagai hasil lakon itu kita peroleh
synthesis, percampuran
Brahmanisme Asli dengan Buddhisme dll seperti kepercayaan Hinduisme
pada masa ini. Didunia fana ini percampuran itu berupa ribuan kasta dan
rumah Berhala Hindu yang penuh dengan Dewa dan Hantu yang dimanan-mana
di Hindustan bisa kita saksikan. Dipuncaknya segala kasta kita daati
kaum Brahmana yang sekarang masih memegang harta masyarrakat Hindu dan
kunci buat memasukkan kasta Hindu itu kedalam dunia baka. Diantara
harta berupa benda kuning yang biasanya kita namai emas, yang disimpan
mereka banyak pula yang diperoleh dengan jalan memperbungakan uang!
HARI DEPANNYA KEPERCAYAAN HINDUSTAN.
Kalau kita mengadakan pertimbangan kasar tentang buruk baiknya
kepercayaan Hindustan dalam kemajuan lebih kurang 1500 tahun itu, maka
kita peroleh: Sebagai hasil berharga (positive result), kita peroleh
ilmu Matematika, Logika dan ............. Ilmu Jiwa. Matematika dan
logika itu adalah hasil tersambil. Ia lebih tepat sifat dan arahnya
kalau diperoleh dengan jalan yang bukan semata-mata kerohanian. Saya
belum berjumpakan Ilmu Logika dan Matematika Hindu yang sempurna,
consequent
(pangkal cocok dengan ujung) dan teratur (systematik). Kalau saya
salah minta diyakini, karena saya pikir Hindustan tiada mengeluarkan
sistem Logika yang begtiu sempurna, berpangkal ujung dan teratur
seperti Logika Ariestoteles dan Matematika
Euclid, yang dipakai
dimajukan serta dipusakakan oleh ahli Arab ke putera Eropa dan
sekarang terus dipakai diseluruh dunia. Arab yang terkuasa tertinggi
kebudayaannya dari abad ke-7 sampai ke-15 di Asia Tengah dan Eropa,
yang juga mengetahui betul keadaan di Tiongkok, tentulah akan
mendasarkan Ilmu Logika dan Matematikanya, pada Logika dan Matematika
Hindu kalau mereka merasa perlu.
Betul sekali Arab juga mengambil dasar dari Hindustan, seperti
Algebra, tetapi dasar pokok segala-gala ialah Ilmu Yunani umumnya dan
Aristotelesisme khususnya, tetapi terhadap Ilmu Jiwa yang berpuncak
pada
pemusatan pikiran (concentratie) saya tiada
menduakan hati. Asli atau tak asli sama sekali hasil Hindustan, tetapi
mesti diakui bahwa pemusatan pikiran itu, dengan jalan samadhi memang
memuncak di Hindustan. Kalau pemusatan pikiran itu di kikis kegaiban
dan kemustajabannya yang gaib-gaib itu, kalau pemusatan pikiran itu
dianggap sebagai pekerjaan yang praktis (nyata) buat mencapai maksud
yang praktis, maka
“pemusatan pikiran”itu adalah satu hasil yang berharga.
Pemusatan pikiran bisa membuang fantasi impian,
pikiran yang kacau balau dan melayang-layang tak berguna, dan
menetapkan pikiran pada satu arah, yang bisa mendapatkan hasil. Kalau
pemusatan pikiran itu dijalankan dengan teratur dan pada tempo yang
tentu, maka pikiran gampang terhari, gampang putus asa, kegugupan dan
perasaan gugup gempita seperti acap terdapat pada pemuda-pemudi dalam
usia muda remaja (Strum und Drang Periode) bisa hilang. Dia berganti
pikiran tenang, teratur, kemauan keras serta hati sabar luas. Pada
tempo masih muda sekali, pemusatan pikiran itu ada saya pelajari baik
dari sumber Hindustan sendiri atau dengan perantaraan penulis Amerika.
Bersamaan dengan sport yang mesti diajarkan oleh ahli, maka pemusatan
pikiran yang sudah dikenal oleh nenek moyang Indonesia itu, saya pikir
terlau diajarkan kembali pada pemuda-pemudi murid kita oleh ahli pula.
Tetapi mesti dipandang harganya dengan mata terbuka. Boleh dipakai buat
mengobati semacam penyakit tetapi tak semua penyakit. Boleh dipakai
buat mengoborkan hati, menenangkan pikiran dan membulat-pelorkan
kemauan. Tetapi buat memanjangkan umur sampai 3000 tahun melemparkan
gunung, menerbangkan kapal tak dengan motor dan besi, atau
menyingkirkan manakan orang atau senjata apapun juga, adalah omong
kosong dalam cerita Sri Rama ataupun Arjuna.
Sebagai hasil yang tak berharga malah berbahaya, kita berjumpakan
ketahyulan yang tiada berbatas, seperti pemujaan sapi dan ampastnya
(sapi), perkawinan kanak-kanak, pembakaran janda-muda, sesudah ditikam
dan diperas darahnya lebih dari seratus juta manusia, ialah kasta
paria, yang sebetulnya berpikiran dan perasaan sama dengan kasta atau
bangsa apapun juga di dunia ini. Hasil inilah yang memberatkan
kaki-pergerakan Hindustan buat mencapai kemerdekaannya.
Paham yang berdasarkan idealisme semata-mata seperti Buddhisme sudah
terbukti tak berdaya membatalkan peraturan kasta di Hindustan itu.
Materialisme asli yang terdapat di Hindustan pun akhirnya diisap oleh
Brahmanisme buat mempertaguh cula menghisap kasta yang bukan kasta
Brahmana.
Barat dan perindustrian Barat sebagai hasil dari teknik ekonomi dan
kebudayaan Baratlah yang bisa menghapuskan kasta di Hindustan itu dan
menerbitkan masyarakat pesawat dan cara berpkir baru. Apakah bisa
Hindustan asli, dengan peraturan kasta dan paham idealismenya tempus
sampai kezaman-industri, tentulah pertanyaan yang mesti dijawab dengan
speculation (terka-menerka) semata-mata.
Imperialisme Inggris memberatkan dirinya dengan mengisap kekayaan
Hindustan, tetapi dia mesti mengadkaan perkakas pula buat menimbulkan
dan mengangkut kekayaan itu kenergi asalnya. Dengan mengadakan perkakas
buat menghidupkan dirinya itu, imperialime Barat itu juga mengadakan
perkakas buat mengangkut mayatnya kelubang kubur.
Industri cara Barat, pengangkutan cara Barat, distribusi dan keuangan
cara Barat, berhubung dengan itu kemesinan, penjualan dan pemegangan
buku, pemeriksaan sekolah, latihan, politik dan kemiliteran cara Barat
pesat sekali majunya di Hindustan. Walaupun Inggris takut akan kemajuan
indsutri itu lebih-lebih industri yang dimiliki, diurus dan dikerjakan
putera buminya, tetapi Inggris lebih-lebih pada masa perang tak
berdaya menghambat kemajuan itu. Kedua perang dunia pada abad ke-20 ini
membawa India maju kemuka sebaring atau hampir sebaring dengan Negara
Industri besar-besar. Tentulah kemajuan itu belum lagi sampai ketingkat
Inggris atau Soviet-Rusia, apalagi Amerika, tetapi saya pikir sudah
sama atau lebih maju dari Russia semasa Tsaar. Tambang arang, tambang
besi, dll, perusahaan membikin mesin, kecil dan tengah membikin alat
kimia, perkakas pengangkuatn diatas laut, darat dan udara sudah sampai
ketingkat yang tinggi. Sistem keuangan dan perniagaan sudah dijalankan
dengan cara modern. Begitulah berhubungan dengan ekonominya Hindustan
maka sekolah rendah, tengah dan tinggi sudah jauh lebih banyak dari di
Indonesia. Ahli Kodrat modern yang dibintangi oleh para ahli Dunia
seperti Dr. Raman dan Ahli Biology seperti Dr Bose, bukanlah hasil
Hindustan yang tiba-tiba turun dari pertapaan dikaki atau puncak
Himalaya. Mereka, ialah haisl perekonomian, teknik dan didikan baru,
yang segala berdasarkan ilmu-bukti, science, hasil berharga dari Barat.
Kedalam pabrik, bengkel dan tambang dilemparkan kaum tak berpunya,
paria atau sudar, Hindu atau Muslim, Keling atau Arya. Mereka terdesak
hidupnya didesa atau dikota. Didalam pabrik mereka terlepas dari ikatan
kasta atau agamanya, mereka mesti bersatu acapkali bersatu buat
mempertahankan syarat hidupnya: gaji, lama kerja dan perindahan
majikan. Mereka mesti sama-sama masuk pabrik, sama-sama meninggalakn
kalau perlu dan bantu-membantu dalam banyak pertarungan seru sengit
buat mempertahankan dan memperbaiki syarat hidup tadi
Selama
Vakbond, atau perkumpulan politik bisa dipecah
belahkan oleh kasta, agama dan kebangsaan selama itulah pula akan
sia-sia semua pertaruan buat lahir dan batin. Mereka mesti bersatu
maksud, bersatu aksi dan bersatu organisais buat seluruh Hindustan.
Pikiran mistik, gaib tak bisa dilaksanakan, tak ada tempatnyapada
pertarungan semacam ini. Azas programa, pidato, karangan propaganda dan
agitasi mesti beralasan atas yang nyata, dan nyata dirasakan oleh
sekalian buruh dari bermacam-macam bangsa, agama dan kasta. Hanya azas,
pidato, karangan, propaganda dan agitasi yang nyata, yang memeluk
seluruhnya yang tak berpunya itu yang bisa mengadakan persatuan.
Persatuan itu penting buat menentang persatuan majikan: Inggris, Parsi,
Hindu atau Muslim. Persatuan dalam pertarungan kelas yang terbentuk
dalam perkumpulan
Vak, Politik dan Koperasi inilah yang
betul-betul persatuan yangbisa menghancur luluhkan dan menghilang
lenyapkan kekastaan dan ketachyulan Hindustan. Maju pesatnya
perekonomian Hindia lebih-lebih sesudah perang dunia 1914-1918
menimbulkan kemesinan dan proletariaat=industri. Banyaknya
proletar-indusri itu barangkali lk 10 juta, jadi lk 3 % dari penduduk.
Sedangkan di Inggris, Amerika atau Jerman angka itu boleh diperbanyak
dengan 10 juta lebih. Tetapi proletar-industri kemesinan itu disampingi
oleh jutaan proletar kebun dan desa, oleh yang tak Berpunya atau yang
Miskin, dikota-kota oleh yang tak Berpunya. Didesa sedikit siswanya,
dikota dan bandar jutaan banyaknya.
Pengaruhnya sosialisme Inggris dan Komunisme Rusia tentulah besar sekali di Hindustan. Partai Sosialis dan Komunis serta
Vakbond
yang mereka pimpin sudah bersuara yang kalau dibulatkan sudah bisa
menarik sebagian besar dari penduduk Hindustan. Tetapi pekerjaan mereka
tak ada bandingnya pula dibawah langit. Penduduk Hindustan lebih kurang
dua kali sebesar Rusia dan hampir 3 kali sebesar Amerika. Proletar
mesin yang kecil itu mesti berhadapan muka dengan imperialisme yang
tua, piawai, cerdik dan sudah berkali-kali jaya melayani pertarungan
“kapitalisme-proletar”,
dinegaranya sendiri. Disamping pemimpin Imperialist Barat yang
berpengalaman banyak itu berada pasukan udara, darat, dan laut, polisi
terang dan rahasia dan pengadilan kapitalis. Lagi pula kapitalist
bangsa Hinudstan sendiri yang dalam pertarungan
kapitalis-proletar
tentula terus terang akan dapat bantuan dari kasta Brahmana, ulama,
pendeta, para Raja, partai nasionalis yang kolot, liberal, sampai
.............. sosialis murid Mac Donald di Inggris.
Dalam hal ini keproletaran dan Dialektis Materialisme Hindustan akan
terus-menerus mendapat jasmani dan rohani dari perekonmian Hindustan
dengan indsutri besarnya tak akan bisa dihambat lagi. Dengan begitu
barisan Proletar Hindustan yang ada sekarnag akan bertambah dengan
pasukan demi pasukan. Sesudah perang dunia ini, maka persoalan
kapitalis-proletar akan timbul dengan lebih hebat-dahsyat diseluruh
dunia. Sudah tentulah kaum proletar akan lebih mempunyai kekuatan dan
pengalaman terutama di Russia dan Tiongkok, dimasa Proletar terus
beralngsung mencampuri peperangan.
Atas Kelas proletar mesin yang sehat segar, dengan petunjuk dan
nasihat dair bumi diluar Hindustan, Materialisme dialektis bisa hidup
dan tumbuh dengan kuta dan kokoh, sampai bisa berdiri sendiri,
menghanyutkan lodongkan serta menghancur luluhkan penjajahan,
kekastaan, ketahyulan.
Bagian 3
KEPERCAYAAN ASIA BARAT
Yang saya maksud dengan kepercayaan Asia Barat ini ialah agama
Yahudi, Kristen atau Nasrani, dan Agama Islam. Ketiganya umum disebut
Monotheisme,
Kekuasaan Tuhan. Agama Yahudi di limiti
hanya oleh bangsa Yahudi saja, sedangkan agama Nasrani dan Islam
keduanya dipercaya oleh beberapa bangsa diseluruh dunia, oleh ratusan
juta manusia.
Walaupun demikianlah tiadalah Madilog memandang agamanya Nabi, Musa,
Daud, dan Sulaiman lebih kurang harganya dari Agama Nasran iatau Islam.
Agama Yahudi itu mengandung urat dan pokoknya ketiga agama itu. Lagi
pula agama Yahudi itulah yang pelopor, yang memulai Monotheisme dan
pada agama Yahudi Monotheisme itu sudah sampai kepuncak.
Sebetulnya orthodox Kristen (kolot) itu memandang Nabi Isa sebagai
Anaknya Tuhan, dalam arti tulisan. Tuhan itu dianggap Bapak yang dengan
perantaraan Gadis Maryam sebagai ibu, melahirkan Nabi Isa. Betul pula
menurut orthodox Kristen yang tak sedikit banyak anggota itu, ke-Esaan
semacam itu, ialah ke Esaa Tuhan, Maryam dan Yesus itu mesti dianggap
sama dengan kebenaran: 1 + 1 + 1 = 1, bukan 3 melainkan “satu”. Betul
pula akhirnya menurut orthodox Kristen yang lk 2000 tahun ini tak mau
dikalahkan kecerdikannya dalam hal “bersoal jawab bahwa Yusuf, lakinya
Maryam itu Cuma bantal guling disampingnya gadis Maryam saja.
Sebetulnya menurutnya kepercayaan orthodox Kristen, Nabi Isa itu
dilahirkan oleh Tuhan ditengah-tengah bangsa Yahudi buat memenuhi
pengharapan Yahudi atas datangnya Messia (Imam Mahdi, Ratu Adil).
Sedangkan Yahudi itu menggantung anaknya Tuhan ini! Tetapi rasionil
Kristen ialah Nasrani yang berpedoman akan, walaupun sedikit anggotanya
kalau dibandingkan dengan orthodox Kristen, tiada lagi bersandarkan
pada kepercayaan semacam itu, mereka menganggap Nabi Isa seperti
manusia juga dan Tuhan itu ialah Tuhannya Yahudi juga. Apalagi kaum
scientist,
baik yang masih atau yang tidak lagi percayapada agama, Nasranisnya,
menganggap agama dan masyarakat Yahudi sebagai titik melangkah
(starting-point) dari agama Nasrani. Menurut mereka agama Nasrani itu
tak bisa dipisahkan dari masyarakat dan agamanya Yahudi.
Muhammad SAW, dengan ikhlas dan terus-terang dari mulanya mengaku
Tuhannya Yahudi, Yahuanya Nabi Ibrahim, sebagai Allah Yang Maha Kuasa
dan mengakui Nabi Musa, Daud, Sulaiman dll dengan tulisan dan
maknanya. Tetapi juga dengan terus terang Nabi Muhammad SAW menantang
beberapa peraturan Rabbi (pendeta Yahudi) buat memuja dan memuji Tuhan
sehingga jiwa manusia yang bukan Rabbi itu tak bisa lagi berhubungan
dengan Tuhan, karena terikat oleh peraturan dan kaum Rabbi.
Kaum Kristen batin atau lahir mengolok-olokkan Muhammad sebagai
Rasulnya Tuhan dan lebih lagi pada masa dahulu menganggap Muhammad
sebagai Nabi palsu. Tetapi makin lama makin banyak dan lebih terang
diantara orang Kristen, apalagi yang bermata ilmu sejarah mengemukakan
sikapnya Muhammad SAW terhadap “Trimurti” (1 + 1 + 1 = 1) itu. Sikap
itu saya pikir ialah sikap jujur dan
scientific mengaku
kebudayaan Islam pada Zaman Tengah sebagai jembatan antara kebudayaan
Yunani Rumawi dengan Eropa sekarang. Mereka mengaku besarnya pengaruh
para pemikir Islam atas gerakan
Reformation (gerakan Protestan melawan Khatolik) Ilmu
pro-destination-nya
Calvin ialah nasib manusia yang ditentukan oleh Tuhan itu, sebagai
sendi kepercayaannya kaum Calvinis yang paling berani, tunggang dan
jaya diantara segala Mahzab Protestan. Itu tak bisa dimengerti kalau
Cuma membaca agamanya Nabi Isa saja, apalagi “amanat gunung” (sermon of
the mountain) itu saja. Selainnya dari perkakas seperti pedoman, obat
bedil, cetakan, Ilmu Kimia, Algebra, Logika, Ilmu Bintang dll yang
diajarkan oleh Islam pada Nasrani Zaman Tengah. Islam menambahkan
filsafat Yunani kepada Ilmu Kristen yang berdasarkan dogma
(kepercayaan) semata-mata itu. Tabib dan Ahli filsfata, Ibnu Rusydi
mahsyur diudnia Barat dengan nama Averus, murid dari Aristoteles yang
jaya, yang boleh dinamai Aristoteles Arab, ialah dianggap oleh Barat
Nasrani pada Zaman Tengah itu, seperti Marxisme pada Zaman sekarang
dianggap oleh dunia Kemodalan. Murid Kristen yang berbalik dari
Spanyol, pulang ke Eropa Barat atau Utara sesudah mendapat ijazah
(diploma) dari gurunya Ahli Filsfaat Arab, dianggap sebagai
revolusioneris oleh Pendeta Kristen. Tiga Sekolah Tinggi berdasarkan
Averoisme di Italia mengembangkan “rationalisme”sebagai sayap kirinya
Islam itu ke Eropa!
Tiadalah sempit dan rendah sikapnya Muhammad SAW terhadap Nabi Isa
dan agama Kristen. Nabi Isa diangap Besar dan Kitabnya dianggap suci.
God itu ialah Allahnya Islam. Yang dibantah ialah kebenaran 1 + 1 + 1 =
1 itu, Tuhan itu tak perlu dan tak mungkin mengawini manusia. Tuhan
itu Tunggal. Inilah pokoknya pertikaian antara Islam dan Nasrani dalam
hal Ketuhanan. Saya pikir kaum Nasrani terutama di Indonesia lebih baik
memperhatikan pokok pertikaian ini dari pada mendengarkan Pendeta
mengemukakan apakah betul Muhammad bin Abdullah itu Rasulnya Allah.
Pendeknya dipandang dengan kata-mata Madilog, ketiga agama tadi mesti
dianggap sebagai Tiga-Sejiwa yang terletak atas lapang yang datar. Tak
ada yang lebih tinggi dan tak ada yang lebih rendah. Ketignya berdasar
kepercayaan dan kepercayaan ini lahir pad amasyarakat
Yahudi. Walaupun agama Yahudi, Cuma dikandung oleh 10.000 lebih
sedangkan agama Kristen dikandung oleh lk 700.000.000 manusia, Islam
oleh lk 300.000.000 manusia, tiadlaah harganya kepercayaan itu terletak
pada banyak pengikutnya semata-mata. Karena banyak pengikutnya itu
juga ditentukan oleh Bumi, Iklim, Pesawat dan Politik pengikutnya.
Tetapi sebagai kepercayaan, agama Yahudi sudah menyempurnakan sifatnya
kepercayaan itu. Agama Yahudi sudah menetapkan: 1. Satu Tuhan; 2.
Adanya Jiwa; 3. Adanya Akhirat dan sebagai Surga atau Neraka buat Jiwa
itu, dll.
Juga tiadalah tinggi rendahnya tiga kepercayaan itu ditentukan oleh
besar kecilnya pengaruh yang ditimbulkan oleh satu agama terhadap agama
yang lain. Seperti sudah dikatakan diatas, ahli sejarah tak bisa
menghindarkan peleburan, agama Kristen dengan Masyarakat dan agama
Yahudi. Tetapi pada tingkat yang lebih tinggi timbul perlantunan. Tidak
saja filsafat Yunani mempengaruhi agama Yahudi, tetapi lebih-leih pada
tempo belakangan ini kebudayaan Nasrani umumnya dan filsafat
rasionalisme lahir atau batin, percaya atau tidak pada Tuhannya kaum
Kristen, tentulah banyak mempengaruhi agama Yahudi itu. Pendeknya
“semua” aliran pikiran, yang langsung atau tidak lahir dari kebudayaan
Nasrani, mempengaruhi semua kepercayaan didunia. Dunia sekarang ini
yang langsung atau tak langsung pula dikuasai atau dipengaruhi Eropa,
Amerika, Nasrani dalam politik itu, tentulah juga mempengaruhi
Judentum, ke-Yahudian itu. Beberapa buku mesti diperiksa dan ditulis
buat mensyahkan simpulan ini, tetapi pastilah benarnya simpulan itu.
Pada permulaan melangkah maka Islam itu didasarkan pada ke-Tuhanan dan
Kitabnya Yahudi dan Kristen. Tetapi pada tingkat yang lebih disepuh
dengan filsafatnya Aristoteles dan Plato mempengaruhi Yahudi dan
Kristen. Terhadap Kristen sudah cukup bukti yang dimajukan diatas tadi.
Terhadap agama Yahudi, maka pada zaman kebudayaan Islam, filsfaat
Yunani Islam besar sekali pengaruhnya pada agama Yahudi dan
filsafatnya. Cukuplah kalau dikemukakan namanya Yuda ha Levi pada lk
tahun 1083 dan Moses bin Maimon pada tahun 1135 – 1204. pada tingkat
sejarah dunia sekarang yang boleh dikatakan sejarah Kebudayaan Nasrani
tentulah tiada sedikit pula dengan langung atau memutar, ke Nasranian
mempengaruhi ke-Islaman. Demikianlah salah satu Tiga-sejiwa keagamaan
tadi mempengaruhi yang lain. Tak mudah ditentukan mana yang lebih
tinggi dan mana yang lebih rendah dalam sejarah ribuan tahun itu.
Tetapi terhadap sarinya kepercayaan itu, ialah terhadap kepada
kepercayaan tentang ke-Esaan Tuhan, adanya Jiwa manusia, yag terpisah
dari Badan dan Akhirnya Jiwa ini, dll. Ketiga agama itu tiada
mengandung perbedaan.
Kepercayaan semacam itu tentuah masuk golonganyang diluar daerahnya
Madilog. Adanya Tuhan Yang Esa, Jiwa, Akhirat dll itu tiada perkara yang
bisa diperalamkan, disusun menjadi undang dan dilaksankaan seperti
pada pada ilmu bukti. Semuanya berdasarkan pada “kepercayaan” yang tak
sama pada beberapa orang, pada satu tempo dan pada satu orang dalam
berlainan tempo. Kepercayaan itu sebagian besar bersandar atas
perasaan, bukan pada pancaindera dan intellek (akal). Dengan begitu dia
tak masuk kedalam daerah pemeriksaan beralasan Madilog. Paham
beralasan Madilog terhadap “Akan dan Hidup”sudah lebih dari cukup
dikemukakan dalam buku ini.
Kepercayaan orang pada kegaibannya Nabi Muhammad SAW yakni yang
berhubngan dengan ke-Duniaan ini, tiadalah berapa banyaknya. Kegaiban
itu tiada pula begtiu bulat mentah seperti kegaiban yang berhubungan
dengan Arjuna, Sri Rama, Nabi Isa atau Nabi Musa. Dalam peperangan
Muhamad SAW kita tak berjumpakan dengan 1/13 (sepertigabelas), dari
kegaiban sihirnya Arjuna ataupun Sri Rama, yang dalam sekejap mata saja
bisa menerbitkan prajurit, laskar ataupun senjata yang tak berbatas
besar dan kodratnya. Muhammad SAW berjuang dengan memakai tangan dan
pedangnya, bersama dengan pengikut yang boleh dihitung banyaknya dengan
sepuluh jadi saja. Bedanya dengan sahabat dan pengikuntya Cuma tentang
keberanian dan kepintaran. Seperti jendral ternama Iskandar, Hanibal,
Caesar dan Napoleon, maka Muhammad sebagai pemimpin peperangan juga
berlaku: dimuka dalam menyerang dan dibelakang kalaumundur. Sebagai
jenderal ulung Muhammad juga menjalankan tipu muslihat: memusatkan
semua kekuatan pada urat nadi musuh. Tak ada yang ada diluar akal dalam
semua peperangan Muhammad SAW.
Nabi Isa lahir tak ber-bapa, dapat menimbulkan makanan dengan sihir,
menghidupkan yang mati, dijumpakan oleh sahabatnya sesudah mati
digantung dll sebagai Muhammad SAW ialah seorang anak piatu, anak
Bapanya Abdullah dan Ibunya Aminah dipelihara pamannya Abdul Muthalib.
Sebelum wafat, maka Muhammad SAW dengan sedu sedih Rasul Allah ini
meminta maaf pada sahabat dan pengikutnya, membayar utang dan menerima
piutang seperti manusia biasa.
Lebih-lebih dikeliling Nabi Musa kita jumpakan 1001 kegaiban. Bala
dan penyakit yang disihirkan Nabi Musa berkali-kali menewaskan Pharao
(Fir’aun) dan Dewanya.
Laut Merah yang dilihatnya buat menyelamatkan laskarnya dan
memusnahkan laskar Fir’aun yang mengejarnya. Berkali-kali Nabi Musa
menagdakan percakapan langsung dengan Tuhan. Kegaiban dikeliling
Muhammad SAW tak seperti seribu satu kegaiban dikeliling Nabi Musa itu.
Kalau Muhammad SAW mendengar firmannya Tuhan, maka kita ingat kepada
Jean Jacques Rousseau duduk memperhatikan dibawah sepohon kayu, membuka
bungkusan rotinya. Pada surat kabar bungkusan roti itu dia baca
persoalan sayembara yang dianjurkan oleh Academie Perancis dengan
pertanyaan: Apakah kesopanan pada masa itu menambah kemajuan manusia?
Pada ketika itu Rousseau disinari hakekat sebagai jawabnya pertanyaan
itu. Kita ingat pada Gautama Buddha yang melihat “cahaya”. Rousseau
jatuh pingsan, disinari hakekat, ditimpa ilham sebagai jawaban. Setelah
bangun dan sadar, ia merasa basah, penuh dengan peluh, dan terus
pulang menulis ........... Cuma sebagian dari yang dilihatnya dibawah
pohon itu.
Ahli Barat juga mengakui, Muhammad sebagai pemikir besar! Usaha yang
lama dan sungguh mencari “hakekat”” sebagai jawab dari pertanyaan
tentang artinya maksud “Dunia dan Hidup” ini berakhir pada “Firmannya
Tuhan” yang diterimanya.
Rupanya makin dalma kita gali sejarah, makin banyak kegaiban. Makin
baru sejarah, makin tipis kegaiban itu. Masyarakat dan kecerdasan pada
zaman Nabi Musa memerlukan kegaiban yang bisa diadakan oleh Nabi Musa.
Masyarakat dan kecerdasan Arab tiadalah begitu lama dibelakang kita.
Yang gaib seperti adanya Tuhan, juga Akhirat dll itu tak lebih dan tak
kurang dari sisa pengetahuan ialah yang melampaui batas pengetahuan
pada masa itu. Semuaya itu ialah perkara yang diluar peralaman dan
pengetahuan masyarakat. Kegaiban itu sudah terbatas sekali terutama
berhubungan dengan dunia baka, bukan dunia fana ini. Kalau ada kegaiban
yang lain-lain yang juga ada pada kelilingnya Muhammad SAW, maka
sebagian besar dari kegaiban itu timbul, berhubungan dengan pertanyaan
yang sulit-sulit datangnya dari pihak Yahudi dan Kristen pada masa
hidupnya Muhammad SAW. Pada masyarakat cerdas berdasarkan mesin dan
listrik ini, maka pasti tak akan bisa timbul dan mengembang ke-Nabian
seperti pada zaman gelap-gaib dahulu itu. Krishna Murti yang
digembar-gemborkan Annie Besant dan Kaum
Theosophie itu hidupnya Cuma setahun jagung saja.
Agama Yahudi, Nasrani dan Islam yang ketiganya lahir dimasyarakat
bangsa Semiet (Yahudi dan Arab) itu saya anggap Tiga Sejiwa, bukan Tiga
Serangkai. Jiwa ialah urat-pokok ketiganya agama itu sama, Cuma cabang
rantingnya yang berlain-lain. Karena ketiganya itu mempunyai persamaan
jiwa, persamaan sari, maka tiadalah ia bisa dilayani sekali jalan
dengan melalui hukum “pembatalan kebatalan” dan “perbedaan bilangan
bertukar menjadi perbedaan sifat”. Saya terpaksa melayani satu persatu
agama itu. Menurut umur, maka akan berganti dilayani agama Yahudi,
agama Nasrani dan akhirnya agama Islam.
- AGAMA YAHUDI.
Seperti pada sejarahnya kepercayaan Hindustan, maka kepercayaan pada
ke-Esaan Tuhan itu, yang cocok dengan Mahadewanya Hindustan boleh jadi
sekali timbul pada tingkat yang lebih tinggi dari pada kepercayaan pada
Banyak-Dewa dan yang dibelakang ini lebih tinggi dari pada kepercayaan
pada Banyak-Dewa, dan yang dibelakang ini lebih tinggi dari pada
tingkat kepercayaan pada Ke-Jiwaan (Animisme).
Sejarah bangsa Yahudi dalam lk 3000 tahun ini, walaupun lebih pasti
dari sejarah Hindustan, tentulah tiada begitu pasti dan sempurna
seperti sejarah Eropa dalam 4 atau 5 abad dibelakang ini, atau
Indonesia dalam 3 abad dibelakang ini.
Sumber sejarahnya Yahudi ialah Kitab Injil Lama, terutama Lima Kitab
yang dipulangkan kepada Nabi Musa, bernama Kitab Taurat dan Kitab
Talmud, yang ditulispada lk tahun 500 sebelum Nabi Isa. Saya sudah
membaca Kitab Injil, baik dalam bahasa Belanda, Inggris, atau
Indonesia. Saya gemar membacanya, karena memang banyak pengajaran
didalamnya. Moral, susila, pengertian buruk baik, yang kita peroleh
dari cerita Nabi Ibrahim, Musa, Daud, Sulaiman dll adalah tinggi
sekali. Kesan yang kita peroleh sesudah membaca cerita, cerita dalam
Kitab Injil yang Nabi Muhammad juga akui, tiadalah mudah dilupakan
seumur hidup. Pusaka Yahudi kepada dunia Nasrani dan Islam dalam
pengertian buruk baik dalam satu pergaulan manusia, adalah pusaka yang
kekal (positive). Cerita dalam Kitab Injil ialah sejarah Yahudi, tetapi
sejarahnya Yahudi lebih banyak dari yang tertulis dalam Kitab Injil
itu. Sejarah bangsa Yahudi dalam lk 3000 tahun itu, sejarah tempat
diam, pencarian hidup, pesawat dll, yang teratur dari tahun ketahun,
tentulah tak bisa diperoleh dari Kitab Injil, yang tak memperdulikan
tarich dan tanggal itu.
Buat memperdalamkan pengertian tentang ke-Esaan Tuhan pada bangsa
Yahudi kita mestinya mempunyai sejarah yang pasti tentang masyarakat
Yahudi pada masa dan sebelum ke-Esaan Tuhan itu lahir. Kita tahu dari
sumber Islam dan nasrani, bahwa paa masa Nabi Ibrahim, bangsa Yahudi
bani Israel menyembah beberapa Dewa dalam rumah Berhalanya. Kita tahu
bahwa Nabi Ibrahim itu namanya berkenan dengan kepercayaan pada
ke-Esaan Tuhan, ialah Yahua.
Tetapi ke-Esaan Tuhan itu lebih nyata dan lebih kita kenal pada Zaman Nabi Musa melarikan diri dari
Egypte dibawah Fir’aun kesemenanjung Sinai Lautan Merah.
Bani Israel, yang terdiri dari beberapa suku, yang cerai-berai tidak
bersatu adat dan kepercayaannya hidup sebagai penggembala di
Egypte dibawah Raja Fir’aun itu, diisap, ditindas, serta dipandang rendah sekali oleh bangsa
Egypte.
Mereka pada satu ketika memutuskan hendak melarikan diri ke Negara
baru yang dijanjikan Tuhan (Palestina). Sudahlah tentu mereka tak
mempunyai senjata cukup, atau kepandaian keserdaduan yang cukup. Mereka
bangsa teripsah, tertindas dan terhina. Merka dikejar oleh Fir’aun
sudah tentu dengan laskar yang cukup senjata dan kepandaian
kemiliterannya. Kalau Fir’aun berhasil usahanya, sudahlah tentu
semuanya atau sebagian besar bani Israel akan dipancung atau dikubur
hidup-hidup.
Dalam pertarungan yang sama sekali tidak seimbang inilah pula timbul
seorang pemimpin yang Cuma satu dua bisa didapat dalam seribut tahun.
Kalau dibuka selimut kegaiban yang diselimutkan pada tubuhnya oleh
bangsanya, maka berdirilah dimuka kita satu manusia yang mesti mendapat
kehormatan dari bangsa dan masa manapun juga, Nabi Musa.
Seorang yang berusia tinggi! Sudah tentu dia mesti cerdik pandai.
Tiada saja cerdik dan lebih pandai dari mereka dibawah pimpinannya,
tetapi ia mesti lebih cerdik pandai dari pemimpin balatentara, yang
mengejarnya. Sudah tentu ia mesti lebih dipercaya oelh semua suku yang
cerai-berai, yang sering saling bertingkah dan berselisih, yang sering
putus asa dan dalam ketakutan dahsyat. Perempuan, lelaki, tua dan muda,
kuat dan lemah dengan bermacam-macam adat dan paham Cuma bisa
dipercaya dan ikut perintahnya Nabi Musa, kalau ia lebih dari mereka
dalam segala-gala: watak, kecerdasan, keberanian dan keteguhan hati.
Belum lama berselang dari bangsa Eropa, yang berkebudayaan tinggi
dalam saya upaya melepaskan diri dari ikatannya semboyan yang
melisterik jutaan bangsanya, Ein Volk, Eine Sprache, Ein Fuchrer (Satu
Bangsa, Satu Bahasa dan Satu Pimpinan) Russia sudah lama mempunyai
Diktatur, malah Negara Demokratispun seperti Amerika dan Inggris dalam
masa perang ini sebetulnya dibawah pimpinan Fuchrer Roosevelt dan
Fuchrer Churchill pula.
Pada sejarah Yahudi dimasa Negara itu belum ada, dan mesti direbut
dari bangsa lain dengan persatuan teguh, atas nama Yang Maha Kuasa, tak
heran hasrat rakyat melakukan: Satu Tuhan, Satu Bangsa dan Satu
Pimpinan pula. Tuhan Esa yang menjanjikan Negara Baru pada bani Israel
itu, yang tentu mesti direbut dengan kepercayaan bulat satu dan
persatuan kokoh kuat diantara beberapa suku cerai-berai itu, ialah
Yahua. Pemimpin yang tahu maksudnya Yang Esa itu, yang kalau perlu bisa
berjumpa dengan Dia, oleh sebab itu bisa mempersatukan bermacam-macam
suku itu, ialah Nabi Musa. Atas kepercayaan pada satu Tuhan, Yahua,
maka di semenanjung Sinai semua suku bani Israel itu dipersatukan oleh
Nabi Musa. Keperluan buat bersatu, menentan bermacam-macam kesusuahan
itu membutuhkan persatuan kepercayaan, pada Satu Tuhan, Yahua.
Persatuan beberapa suku bani Israel itu dan ke Satuan Tuhan, adalah
erat sekali seluk-beluknya.
Fir’aun dan tentaranya ditenggelamkan Yahua di Laut Merah. Bani
Israel sekarang megembara dipesisir Timur Laut Merah disemenanjung
Sinai. Pengembaraan yang pulah tahun itu menukar manusia bersifat
penakut menjadi pemberani. Nama Israel itu artinya juga pahlawan Tuhan.
Atas pertolongan Yahua, mereka menang dari tentara Fir’aun bukan?
Lebih kurang pada tahun 1220 sebelum Nabi Isa, bani Israel, Pahlawan
Tuhan, menyerbu Palestina, dari Timur dan Selatan. Akhirnya lk 1000
tahun sebelum Nabi Isa mereka bisa merebut pegunungan dekat Palestina,
tetapi tiada bisa menaklukan Negara dipesisir. Juga kota yang besar
seperti Yarusalem, Hegidda, Besan dsb belum lagi dapat ditaklukan.
Pertaruan yang seru sengit dengan bangsa Kanaan, bangsa Filister dari
pesisir dan bangsa Badui terus-menerus saja berlaku.
Setelah Nabi Musa meninggal, maka “persatuan” Agama dibawah Satu
Pimpinan menghadapi musuh yang banyak dan kuat tadi, tentulah tak
kurang dirasa perlunya dari yang sudah-sudah.
Pahlawan Tuhan, Bani Israel, sekarang tiada lagi bangsa penggembala
semata-mata, atau penggembara semata-mata! Pemimpin Tunggalnya tiada
lagi kerjanya semata-mata buat mencari jalan digunung atau gurun pasri
atau pemuja Yahua seperti pada masa Nabi Musa. Bani Israel sekarang
sudah menjadi penakluk perebut Negara Baru, menjadi tani, penggembala,
dan serdadu. Sekarang satu pemimpin Tungal perlu buat menyelenggarakan
pertanian, penggembalaan, pertukangan dan perniagaan. Perlu buat
menyelenggarakan kepolisian, kehakiman dan kemiliteran. Perlu buat
menyelenggarakan politik dan diplomasi buat ketentraman terhadap
kedalam dan keluar Negara.
Pemimpin Tunggal yang berkuasa dalam perkara Ekonomi, Politik dan
Diplomasi itu biasanya kita namai Raja. Teapi kerajaan itu boleh Bani
Israel, Pahlawan Tuhan, diperoleh sebagai hasil baik, upah dari
kepercayaan pada ke-Esaan Tuhan, pada Yahua, sebagai hasil peperangan
atas namanya Tuhan. Raja semacam itu, tiada saja berkuasa
menyelenggarakan perkara keduniaan, tetapi juga perkara akhirat; memuji
dan memuja Yahua. Pemerintahan semacam itu dinamai
Theocracy,
Pemerintahannya Tuhan. Ketungalan pimpinan atas perkara dunia dan
akhirat itu terbayang terang benderang pada ketunggalannya ke-Esaannya
Tuhan, Yahua. Kekuasaan tentang dunia dan akhirat itu sudah dipegang
oleh Raja Saul. Teapi Raja Nabi Daud, lebih banyak berperang lebih
banyak pula menang. Hidupnya Raja Nabi Daud seolah-olah buat berperang.
Daerah Pemerintahaannya tidak saja meliputi sukunya sendiri, ialah
suku Yuda, tetapi juga seluruh Kerajaan Saul almarhum. Selainnya dari
pada itu, Nabi Raja Daud menaklukan bangsa Filister dan bangsa Kanaan.
Perselisihan diantara keluarganya berhenti, sesduah ia memilih anaknya
Nabi (Raja) Sulaiman sebagai penggantinya. Nabi (Raja) Sulaiman yang
kita kagumi kecerdikannya mengembangakn kerajaannya, terutama dengan
jalan perkawinan dan perjanjian.
Egypte digabungkan dengan
kerajaannya dengan mengawini putri Fir’aun. Dengan perjanjian
(diplomasi) Tyrus juga bersekutu dengan Kerajaan Salomon. Dengan
mengirimkan kapal ke Tanah Emas (?) Nabi (Raja) Sulaiman menempuh
perniagaan dan politik dunia.
Tiadalah mengherankan, kalau Nabi (Raja) Daud dan Rakyatnya mufakat
dengan tunggalnya Tuhan yang menguasai seluruhnya Alam. Karea Tuhan itu
tidak berbantahan dengan dirinya sebagai Nabi Raja yang Tunggal pula
menguasai perkara Dunia dan Akhirat.
Cocok dengan massa dan murba, cocok dengan tempo dan tempat,
puteranya Nabi (Raja) Daud yakni Nabi (Raja) Sulaiman, mendirikan
gereja Yahua pada tahun 945 sebelum Nabi Isa di Yerusalem. Gereja ini
penuh dengan segala keindahan.
Tetapi sebagai sumai dari pada 700 permaisuri dan 300 gundik dari
bermacam-macam Negara, dia tak boleh monopoli semua kepercayaan dan
memaksa Sang permaisuri memeluk kepercayaan yang dipusakakan oleh Nabi
Ibrahim, Musa, dan Daud kepadanya seperti dia dikelilingi oleh ratusan
permaisurinya dair bermacam-macam agama itu, begitulah pula gereja
Yahua, dikelilingi oleh ratusan permaisurinya dair bermacam-macam agama
itu, begitulah pula gereja Yahua, dikelilingi oleh penuh rumah berhala
buat Dewa permaisurinya.
Buat melayani ratusan permaisuri itu buat kawin dan pesta selamatan
berkali-kali dan mahal itu, buat mendirikan gedung yang indah permai,
rakyat dibawah Nabi Raja Sulaiman mesti memikul pajak yang berat
sekali. Kecerdikan dan tangan kerasnya bisa memadamkan rasa
pemberontakan. Tetapi sesudah ia meninggal,kerajaannya pecah belah.
Pada tahun 921 sebelum Nabi Isa kita saksikan 2 kerajaan, Yuda dan
Israel. Pada beberapa abad beriktunya kita menyaksikan sengketa dan
peperangan saudara diantara dua kerajaan itu. Demikianlah yang satu
melemahkan yang lain setahun demi setahun. Sampai kita akhinrya melihat
Pahlawan Tuhan kalah perang dengan Kerajaan Babylonia dan diangkut ke
Babylonia dari tahun 597 sampai tahun 586 sebelum Nabi Isa.
Kepercayaan pada kekuasaan Tuhan, pada Yahua, tiadalah berkurang,
malah bertambah-tambah. Bukanlah persatuan suku sisa atas kekuasaan
Tuhan, Yahua, yang melepaskan Bani Israel dari telapak kaki Fir’aun?
Bukanlah persatuan dan kekuasaan Yahua, yang melahirkan Nabi Raja
Daud dan Sulaiman dan Kerajaannya, dan mengikat bermacam-macam bangsa
dan Negara yang dipuji dan dipuja seluruh Dunia?
Ke-Esaan tidak bersalah! Ke-Esaan bangsa Yahudi mesti diperkokoh.
Ke-Esaan itu tentu perlu, malah lebih perlu lagi disertai ke-Esaan
Tuhan. Di Babylonia, ditempat pembuangan itu, tak ada lagi Raja dari
Bani Israel atau Bani Yuda, yangbsia mempersatukan Rakyat dengan Polisi
atau Tentara. Persatuan sekarnag Cuma bisa diperoleh dengan jalan
bathin:
persatuan kepercayaan. Kepercayaan itu banyak berhubungan dengan Bani Yuda, sebab itu kita sekarnag emmakai nama Yahudi.
Kepercayaan Yahudi sesudah pembuangan tentulah mendapat perpaduan dan
sepuhan dengan kepercayaan dan pengetahuan lain. Bangsa Yahudi
berbalik ke Palestina buat tinggal beberapa abad, sampai pada masa
mereka cerai-berai diseluruh Dunia seperti sekarang. Dalam perjalanan
lebih dari 2000 tahun dibelakang ini, maka agama Yahudi dipengaruhi
oleh filsafatnya Yunani Islam, Nasrani dan Rasionalisme. Demikianlah
sekarang kita memperoleh sari pengertian agama Yahudi itu. Sari itu
tentu berlainan dengan sari dijaman mudanya. Der Grosse Brockhaus
mengikhtisarkan sari pengertian sekarang, dengan: 1. Kepercayaan pada
Tuhan yang Esa, yang tida berbadan, melainkan semata-mata terdiri dari
Rohani; 2. Alam Raya ini ialah bikinan Yang Esa itu; 3. Tuhan Yang Esa
itu ialah Bapak Sekalian Manusia; 4. Yang Esa itu sudah mengumumkan
KemauanNya dengan FirmanNya; Dasarnya pembikin Tuhan itu ialah: 1.
Manusia merdeka memilih yang buruk dan yang baik. 2. Tuhan itu ialha
pencipta hukum dan Penghukuman; 3. Maksudnya manusia ialah Negara
Akhirat menurut Messiah (Mahdi). Negara ini penuh kasih sayang,
keadilan serta, perdamaian. Amnusai mesti kerja untuk mendapat
nafkahnya; 4. Tuhan memilih Bani Israel mengambangkan FirmanNya, 5.
Dunia Fana ini akan berakhir pada Dunia Baka.
- AGAMA NASRANI.
Yesus Nazarenus Rex Yodiorum, Yesus dari Nazareth Rajanya Yahudi.
Agama Nasrani ialah agama dikembangkan oleh Yesus dari Nazareth yang
kita namai Nabi Isa. Kita sebut juga agama Kristen ialah agamanya
Kristus. Menurut
Encyclopaedy Brittanica, maka
Christ
itu artinya Mahdi yang dimaksudkan oleh pujaan (prophecy)nya Yahudi
atau Raja atas kemauan Tuhan. Menurut Der Grosse Brockhaus, maka
Kristus itu artinya penebus dosa manusia, penjelmaan Tuhan sendiri (Die
Offenbarung Gottes).
Susah sekali kalau tidak mustahil memberi definisinya agama Nasrani,
mesti cari pada bermacam-macam Mahzabnya (sects); buat Orthodox Kristen
(Kolot) tulisan dan lisan Kitab Injil mesti diambil bulat dan mentah
begitu saja. Satu pusat atau kata saja kalau disangksikan, maka sarinya
sama dengan menyangsikan seluruhnya Kitab Injin dan seterusnya sama
dengan menyangsikan adanya Tuhan. Jadi kata ayat dan pasal yang
enyatakan bahwa Nabi Isa itu Anak-Nya Tuhan, bisa menyembuhkan semua
penyakit dan menghidupkan yang mati, bisa terbang dan berjalan diatas
air, hidup kembali sesudah mati berjumpa dengan pengikutnya, semuanya
ini buat Kristen Orthodox bukan kiasan, melainkan bukti, bulat mentah.
Jadi pemandangan yang memperhubungkan Nabi Isa dengan Masyarakat
Yahudi, memperhubungkan Agama dan Pahamnya Nabi Isa dengan Agama dan
Ciptaan atau Idaman Yahudi, pemandangan yang mengaku bisa adanya
pengaruh pada dan perubahan dalam agama Kristen itu mesti ditolak
mentah-mentah pula. Nabi Isa menurut mereka, ialah Anak Tuhan, yang
dikirimkanNya kedunia fana ini, sebagai janjiNya pada Bani Israel, buat
penebus dosa manusia. Sifatnya dan kodratnya Nabi Isa menurut paham
itu tentulah sifat dan kodratnya Tuhan. Disini kegaiban Nabi Isa
dipulangkan pada ke-Tuhanan dan sebaliknya kegaiban Tuhan itulah yang
dijelmakan oleh kegaiban Isa. Kristen semacam ini terdiri dari Kristen
Timur (Russia) dan Kahtolik Roma, pendeknya dari sebagian besar dari
pengikut agama Nasrani, akan bersoal jawab dengan Kristen semacam ini
yang juga besar pengaruhnya di Indonesia tentulah akan memberikan hasil
yang dikehendaki saudara kita di Toba Batak atau di Borneo Dayak
ataupun di Papua yang mengikut agama Nasrani itu. Juga pertama tiada
mengutamakan akal, Logika, Dialektika dan Bukti. Ditengah masyarakat
Islam tuan Pendeta, walaupun dibelakangnya ada meriam dan tank dan
diatas kepalanya ada payung pelindung mereka ialah garuda Imperialisme,
tiada bisa mengembangkan sayap atau kukunya. Lebih dari 1300 tahun
Muhammad sudah menyanggah ke-Tuhanan Isa; dengan begitu ia sanggah
ke-Isaan Tuhan. Bertentangan dengan kristen kolot pada Masyarakat
Borjuis Barat juga pada pihak Kanan sekali kita dapati di Zaman ini
seorang Ahli filsafat seperti Friederich Nietzsche. Ahli filsfat ini
bulat mentah menolak semua barang dan perkakas yang berhubungan dengan
Nabi Isa itu. Dianggap seperti satu kelemahan manusia, tetapi bisa
menarik dan menjerumuskan. Di Barat Nietzshce dianggap seperti
anti-Kristus. Kaum Nazi menganggap Kristus dan agamanya seperti ciptaan
dan impian Yudentum.
Materialis dan Atheis walaupun timbul pada masyarakat Barat, yang
umumnya Masyarakat Nasrani juga, tentulah sudah diluar batas agama
Kristen sama sekali. Hal in tak perlu lagi diuraikan panjang: Diantara
Kristen Orthodox bulat mentah dengan Nietzsche Nazi Anti-Kristus itu
tentulah berlusin-lusin pula paham yang melayang. Tiadalah perlu
diladeni satu persatu. Cukuplah kalau kita kemukakan, bahwa disini juga
berlaku hukum perbedaan bilangan, akhirnya berubah menjadi perubahan
sifat: Dengan begitu mulanya kita sampai ketingkat dimana
ya itu
tidak, A = Non A, akhirnya sampai ketingkat “pembatalan kebatalan”.
Demikianlah perubahan tehnik pada masyarakat Barat sedikit demi
sedikit melalui tiga tingkat hukum Dialektika itu, dari Zaman Eropa
sebelum Isa, sampai Zaman Feodalisme Zaman Tengah (476 – 1492), dari
Zaman Feodalisme sampai ke Zaman Kapitalisme. Di zaman Kapitalisme itu
berlaku (dari abad ke XV – XVI) sampai sekarang di Eropa Barat, kecuali
Rusia) perubahan tehnik-ekonomis pada masyarakat Barat itu mengubah
susunan sosial politiknya, dan susunan kelas baru menimbulkan jiwa
(psycology) menurut Filsafat dan Politik baru pula. Filsafat dan Ilmu
politik baru dair kelas baru itu, yakni kelas borjuis sebelum Revolusi
Perancis (1789) dan kelas Proletar itu menantang, merombak dan
membinasakan mencerai-beraikan paham Kristen dan politiknya Pendeta dan
Raja Kristen (1789): sesudah tahun 1789 kaum borjuis yang menang itu
memakai Pendeta dan agama Kristen sebagai sayap kanan politiknya buat
menolak semua tentangan proletar.
Pertama agama jatuh ketangan Katolik atau Protestan; dan mazhab
Katolik amat rapi organisasinya tentang agama. Tetapi perkara Ekonomi,
Politik dan
Science boleh dikatakan jatuh ketangan Protestan.
Di Rusiaa pada tahun 1917, perserikatan borjuis, Ningrat Pendeta
dihancur luluhkan oleh kaum Proletar dibawah pimpinan Partai Bolsyewik
atas oboran Materialisme Dialektis.
Demikianlah cocok dengan majunya teknik, ekonomi, masyarakat,
filsafat dan politik Barat, selangkah demi selangkah agama Nabi Isa
dari kegaiban bulat mentah pada permulaan Zaman Tengah di Barat dalam
garis besarnya bertukar menjadi setengah gaib, setengah nyata, seperti
dianjurkan oleh Thomas, kramat masa
Scholastic (orang sekolah).
Perubahan itu berlaku terus-menerus sampai ketingkat Protestan
(Luhter dan Calvin pada abad ke XVI). Umumnya mengakui bahwa
hakekatnya agama Kristen itu, tidak dapat disahkan dengan Logika;
mereka ahli filsafat Protestan ini mendapat selimut pada perkataan:
a-logis (= tak logis). Filsafat Idealismenya Jerman menyesuaikan agama
Kristen dengan kerohaniannya itu dengan “moderner Kultur”. Kita
berjumpakan ahli filsfaat seperti Herder, Schleiermacher, Kant dan
Hegel. Kegagahan Kant dan Hegel yang termasyhur di dunia ini, sudah
lebih dari cukup ditunjukkan pada permulaan buku ini. Kita tahu, bahwa
percobaan Hegel, yang tergelar Raja Filsafat itu menjadi alat adanya
Filsafat yang bertentangan ialah Materialisme Dialektis, yang bertubuh
pada Marx dan Engels.
Di Russia Lama, teknik dan ekonmi itu tak semaju di Barat. Disana
politik dan agama, Pemerintah dan Gereja itu, tak sampai berpisah.
Disana Politik dan Agama ditambah dengan kegaiban Timur, serta
kebudayaan Timur, dipadu menjadi satu dan dibandingkan dengan Csar,
ialah wakil Tuhannya orang Rus-Lama didunia ini. Berpisahan Pemerintah
dan Agama itu di Barat, menyediakan perkakas buat kaum borjuis buat
membagi pekerjaan, penantang desakan politik dan filsafat kaum buruh.
Division of Labour
(pembagian kerja) semacam itu menambah kekuatan borjuis Barat.
Pemborongan (monopoli) agama, politik dan kebudyaaan oleh Csar itu
membawa pemborongan semua kodratnya kelas baru yang ditunjukkan pula
kepada kekuasaan Csar yang sempurna atas segala-gala, membawa jatuhnya
sempurna dalam segala-gala. Kebulat mentahnya kegaiban di Russia
digantikan dengan kebulat mentahnya Materialisme Dialektis. Demikianlah
pendeknya sifat dan sejarahnya Agama Kristen setelah masuk di Eropa
Barat melalui Kerajaan Romawi, masuk di Eropa Timur melalui
Constantinopel Zaman Nasrani (Sebelum Turki Islam). Sebelumnya agama
Kristen masuk ke Eropa Timur dan Barat itu dia mempunyai sejarah pula
pada Negara asalnya, ialah Palestina. Disini pengikutnya bukan Susunan
ARIA, melainkan bangsa Yahudi.
Pemandangan yang luas dan dalam, yang berobor Materialisme, boleh
didapat dalam bahasa Inggrisnya “Foundation of Cristianity”. Buku ini
tebal, dikarang oleh Karl Kautsky. Pengarang ini ialah seorang Sosialis
Jerman, boleh dibilang Ulama Besarnya Internasional ke II, kira-kira
seperempat abad (1889 – 1917) Karl Kautsky memegang piminan tentang
Teori Sosialisme dan menerima pengakuan dari kaum buruh, dunia terutama
yang tergabung oleh Internasionale ke II itu. Turun derajat dan
akhirnya jatuhnya internasionale ke II dari singgasananya, disamping
oleh naik derajatnya Internasionale ke III, sesudah Revolusi Komunis di
Rusia (1917) bersamaan dengan turun derajat dan jatuhnya Kautsky serta
naik derajatnya Lenin, Vladimir Ulyanoff, Polemik peperangan pena Lenin
– Kautsky seru-sengit, tetapi bergemilang, seperti dua bintang
bertempur. Perbedaan mereka nyata pada paham tentang Diktator Proletar.
Lenin dibenarkan oleh sejarah. Teapi pada masa Kautsky menjadi Ulama
besar itu kelemahannya dalam Dialektika belum begitu terang, kekurangan
tajam matanya terhadap pertentangan kelas di Jerman belumlah memberi
akibat yang buruk. Sebab memang pada tahun 1889 – 1917 itu Proletar
Jerman terkhususnya ada dalam kedudukan yang tinggi sekali, baik dalam
ekonomi maupun politik. Tetapi sesudah peperangan dunia (1914 – 1918)
kelemahan Kautsky dalam Dialektika mendatangkan akibat jahanam.
Walaupun begitu, tentulah Kautsky, seperti dahulu saya tahu di Russia
Merah sendiri dianggap sebagai salah seorang yang pernah berjasa pada
kaum buruh dunia “Foundation of Christianity” tadi ditulis, kalau saya
tak lupa, ketika Kautsky masih dipuncak kehormatan. Mesti diterangkan
pula bahwa masyarakat pada permulaan agama Kristen itu belum lagi bisa
memajukan Diktatornya Proletar. Boleh jadi kalau sekarang sekali lagi
saya baca buku itu, saya bisa melihat kelemahan dalam hal Kautsky
menguraikan pertentangan kelas. Tetapi saya tidak ingat kelemahan itu.
Boleh jadi juga sebab sudah lebih dari 15 tahun lampau saya membacanya.
Sebab saya tak tahu lain buku tentang agama Kristen, yang lebih
Scientific (menurut Ilmu Bukti) maka pembaca saya persilahkan membaca “Foundation of Chistianity” itu.
Cara Kutsky menerangkan sesuatu perkara, bentuk mengarang dan kata yang dipakainya memang susah dicari taranya.
Ditempat saya sekarnag tak ada buku Kautsky itu. Tetapi kalau saya
tak silap garis merah besar, yang dikemukakan Kautsky (berlainan dengan
1001 buku Feodal atau borjuis tentang agama Kristen itu) ialah:
- Yesus Christus, Isa anak Tuhan itu, kalau betul ada orang
yang sebenarnya, seorang Revolusioner yang teguh tegap memegang
dasarnya sampai palang gantungan dan diatas palang gantungan itu
sampai jiwanya melayang. Keteguhan hatinya itu mengagumkan musuh
dan menyemangati kawannya. Dia lahir didaerah Galilea, ialah satu
saerah yang masyhur sebagai sarang pemberontak yang tunggang.
Bangsa Yahudi pada masa lahirnya takluk pada Maharaja Romawi.
Bangsa mereka dibawha pimpinan Rabbi (pendeta Yahudi).
- Pengikutnya Nabi Isa pada masa hidup dan pada permulaan
timbulnya kaum Kristen itu terdiri dari yang Tak Berpunya dikota –
kota besar dan kampung. Mereka hidup secara sosialistis komunis,
tak mengakui hak milik perseorangan dan dianggap sebagai
perkumpulan terlarang oleh Pemerintah Romawi. Kalau diketahui maka
hukumannya ialah hukuman mati dengan siksaan yang kejam sekali.
- Setelah lama kelamaan orang yang berpunya memasuki kumpulan
rahasia Kristen itu, maka semangat Kristen yang mula-mulanya nyata
revolusioner dan sosialistis itu bertukar menjadi kompromistis
individualistis. Tawar-menawar dalam politik dan hak diri sendiri
tentang harta benda.
- Akhirnya dalam pemilihan menjadi Keizer (Maha Raja)
Constantin Besar mencari dan mendapat sokongan dari kaum Kristen.
Dia menang dalam pemilihan itu, dan sebagai pembalas jasanya kaum
Kristen, maka Constantin Besar mengakui agama Kristen (pada tahun 313)
sebagai agama resmi (disahkan oleh Undang-undang). Dengan
pengakuan sahnya agama Kristen dan pemasukan kaum Kristen oleh
yang berpunya dan yang berkuasa itu, lambat laun matilah semangat
revolusioner dan sosialsitis seperti terdapat pada masa Nabi Isa
dan pada permulaan berdirinya agama Kristen.
Demikianlah Karl Kautsky!
Sekarang pengabaran saya dengan segala sederhana. Dimuka saya ada
Kitab Injil tetapi Kitab Injil tiadalah memberi keterangan yang nyata
langsung dan teratur tentang Masyarakat, Politik, Ekonomi, serta
Pesawat Yahudi ketika Nabi Isa hidup. Yang barangkali pasti dan akan
saya kemukakan disini hanyalah sekadarnya saja. Dalam lebih dari 1000
tahun sebelumnya Nabi Isa, maka bangsa Yahudi dan bangsa pengembara di
pegunungan dan gurun pasir mencapai kekuasaan yang tinggi sekali, tidak
saja mereka mendirikan Kerajaan yang kokoh kuat serta menaklukkan
beberapa Negeri dikelilingnya. Dibawah pimpinan Raja Nabi Daud dan
Sulaiman, bangsa Yahudi terkenal diempat penjuru Alam sebagai Negara
yang unggul.
Dari singgasana yang tinggi itu kemudian mereka jatuh kelembah
perhambaan di Babylonia. Kemudian mereka dikembalikan pula ke
Palestina. Disini mereka ditaklukan oleh Yunani dan akhinrya oleh
Romawi. Pada masa Nabi Isa, Paletina ini ialah satu Provinsi, daerah
jajahan Rumawi. Tetapi dalam perkara agama serta adat-istiadat bangsa
Yahudi pada masa itu dipimpin oleh seorang Rabbi (Pendeta Yahudi).
Ongkos buat melayani Gereja dan Rabbinya itu serta membayar ongkos
perangnya tuan Romawi yang tak putus-putusnya tentulah banyak sekali.
Sebagian besar dari ongkos perang Romawi dan semuanya ongkos Gereja
mesti dipikul oleh Rakyat Yahudi dengan jalan pajak. Tuhan Yang Esa,
yang tidak lemah-lembut, melainkan yang membalas pencabutan mata,
dengan mencabut mata pula, “sipenggigit digigit – (oong om oog, tand om
tand), cocok dengan hidupnya pemimpin tunggal, seperti Nabi Musa dan
Daud dalam perjuangan yang seru sengit tak putusnya.
Tuhan yang bersifat “sipenggigit digigit” itu sudah bertukar sifat,
apabila bangsa Yahudi sampai ketingkat sejarah Nabi (Raja) Sulaiman,
mata terbelalak dan mulut menyenggigit itu tak jijik lagi dengan
lingkungan dalam mahligai Nabi atau Raja Sulaiman. Seribu permaisuri
dari berbagai-bagai bangsa, puteri yang terpelajar cantik molek dan
beragama bermacam-macam pula tiada patut dibelakangi dan disenggigiti.
Lagi pula dengan bercampur gaulan dengan pemikir dan beberapa bangsa
yang musafir ke Mahligai yang masyhur itu tentu menambah luas dan
dalamnya pemandangan seseorang seperti Nabi atau Raja Sulaiman.
Kompromis dengan pemikir Tuan Negeri dan Sang Permaisuri dalam
Mahligai itu mesti terbayang pula diluar. Disekililing serambi gereja
Yahudi beberapa macam rumah berhala dengan dewanya didirikan.
Ketika dibuang di Babylonia, negara yang mempunyai kebudayaan tinggi
pula tentulah ke-Esaan Tuhan dan sifat sipenggigit digigit yang sudah
dijadikan hamba oleh seribu permaisuri dari bermacam-macam bangsa dan
agama, tentulah mendapat bahan baru pula. Tak mengherankan sesudah
bangsa Yahudi pulang dari pembuangan ke Palestina,
sifatnya Tuhan itu kalau tidak,
banyaknya Tuhan sudah berubah.
Bagaimana juga lakonnya perubahan sifat Tuhan itu dari masa Nabi
Ibrahim sampai kemasa Nabi Isa, pada permulaan tarich Masehi ini Tuhan
itu sudah tak kepunyaan Yahudi semata-mata lagi. Pada sabdanya Nabi
Isa, sifat baru itu sudah nyata sekali. Nabi Isa yang langsung
menentang kaum Rabbi juga menentang pahamnya kaum Rabbi tentang agama.
Dalam sabda di Gunung Sermon on the mountain, (bergrede), ialah
kuncinya agama Kristen, Nabi Isa menganjurkan supaya jahat jangan
dibalas dengan jahat pula, melainkan kalau orang memukul pipi kananmu,
maka berikanlah pipi kiri, kalau ornag memaksa engkau berjalan 1 mil,
ikutlah dia dua mil jauhnya. Nabi Isa mengichtiarkan pelajarannya
dengan
maha kasih pada Tuhan dan
kasih
pada sesama manusia, seperti diri sendiri. Nabi Isa datang dari
seorang pemberontak daerah Galilea, disambut oleh Rakyat Jelata dikota
Yerusalem dengan
hosanna (Hidup!) turunan Nabi atau Raja Daud.
Dalam Kitab Injil kita baca Nabi Isa mengobati semua penyakit dengan
mantera saja, menyihir roti dari tujuh potong menjadi ribuan dsb. Sihir
dan kegaiban itu tak masuk kedalam daerah Madilog, yang nyata disini
bahwa kemana Nabi Isa pergi, diikuti dan disambut oleh Rakyat miskin
dengan ombak gembira dan hati penuh pengharapan.
Bisakah dan maukah Nabi Isa mengadakan perlawanan dengan senjata? Mau
atau tidaknya tak mudah dijawab, karena pertentangan antara beberapa
sabdanya Nabi Isa kepada muridnya. Pada satu pihak disabdakan, bahwa ia
tidak datang buat perdamaian, melainkan dengan pedang. Pada lain pihak
disabdakdan bahwa yang emmakai pedang itu akan tertikam oleh pedangnya
sendiri.
Tetapi sari pelajarannya ialah maha kasih pada Tuhan (Bapak) dan kasih pada sesama manusia.
Tiada mengherankan!
Perlawanan dengan senjata terhadap Partai Rabi yang dilindungi oleh
Kerajaan Romawi yang sedang naik Mataharinya, yang muda remaja, kuat
kokoh itu, mesti sia-sia belaka.
Tidak mustahil terpendam dalam hati sanubarinya ada maksud
memerdekakan bangsanya dengan senjata, tetapi selama pengikutnya yang
didapatnya dalam propaganda lk 18 bulan itu masih begitu sedikit, maka
maksudnya itu seandainya ada mesti disimpannya untuk sementara. Program
yang penting dan pertama mesti dijalankan ialah mengasihani Bapak di
Langit dan mengasihani manusia seperti anaknya Bapak di Langit. Nabi
Isa tiadalah bermakna seperti yang diartikan oleh Ahli Filsafatatau
Rabbi. Nabi Isa juga tiada memakai Logika atau Dialektika. Maknanya
Tuhan buat dia ialah makna yang bisa dimengerti oleh simiskin ramai
yang bukan keluaran Sekolah Tinggi itu. Tuhan sebagai bapak, yang adil,
pengasih dan penyayang ini dengan dia sendiri sebagai anaknya Tuhan,
itulah yang mestinya menjadi ikatan persatuan yang terutama. Nabi Isa
lebih dahulu menyuruh mencari Kerajaan Tuhan dan KeadilanNya. Sesudah
itu makanan dan minuman serta pakaian itu akan didatangkan Tuhan
sendirinya. Cuma yang tak bertukar yang mencari benda semacam itu.
Demikianlah sabdanya.
(Sudah tentu madilog bersikap sebaliknya. Makanan dan pakain itu
lebih dahulu. Baru keadilan dan kasih syang pada sesama manusia itu
bisa timbul, tumbuh turut-menurut).
Tetapi kasih sayang ialah sifatnya
Tuhan, sebagai
tali pengikat kaum Kristen itu tiadalah lagi tampak kalau kita
dengarkan Nabi Isa bersabda menantang partai Rabbi penindas langsung
bangsanya dan perkakas batinnya Kerajaan Romawi. Agitator Revolusioner
macam apapun tak bisa memperbaiki ketajaman dan racunnya kiasan serta
sindiran, celaan dan cacian yang ditujukan pada para Rabbi. Nabbi Isa
menanyakan pada pendengarnya: Manakah yang lebih, emas ataukah gereja
yang memuja emas itu. Dinasehatkannya supaya mendengarkan dan melakukan
apa yang dikatakan oleh Rabbi tiu, karena merekalah yang menduduki
kursinya Nabi Musa. Tetapi janganlah dilakukan apa yang mereka lakukan,
karena mereka Cuma pandai berkata, tetapi tiada mau melakukan apa yang
dikatannya itu.
Awas engkau, hai alim ulama, munafik engkau pemimpin edan dan buta
ular dan keturunan ular berludak (sendok), mustahillah akan bisa luput
dari api Neraka! Demikianlah sikap pengasih penyayang terhadap Rakyat
miskin tadi, bertukar menjadi sikap galak dan tajam beracun menentang
partai Rabbi, musuh nomor satu.
Pada masa Nabi Isa pun sudah ada
agnet provocature
(tengkulak penjerat). Mereka bertanya pada Nabi Isa: “Apakah baik kalau
dibayar pajak pada Maha Raja di Romawi?”Nabi Isa yang membaca sanubari
mereka menjawab dengan cerdik: “Kasihkanlah kepada Maha Raja, haknya
Maha Raja itu dan berikan pada Tuhan, haknya Tuhan itu”.
Walaupun akibatnya pelajaran nabi Isa bertentangan dengan Maha Raja
Romawi, tetapi Nabi Isa tentu juga mengerti bahwa salahlah sikap yang
menimbulkan musuh pada dua barisan (fighting on two fronts). Kekuatan
yang pertama mesti dipusat dahulu pada partai Rabbi, partai yang dia
anggap menghisap langsung dan penghianat bangsa Yahudi.
Partai Rabbi juga maklum dalam hal ini. Mereka iri hati melihat
naiknya penganut Nabi Isa diantara Rakyat miskin. Rapat ulama
(Sanhedrin) diadakan. Rapat memutuskan akan menangkap Nabi Isa. Dia
ditangkap sesduah dikhianati oleh Yudas Es Kasiot, salah satu
pengikutnya. Pengikut yang lain mau mengangkat senjata ketika Nabi Isa
ditangkap. Tetapi nabi Isa mencegah dengan sabda: “Siapa yang memakai
senjata akan dibinasakan oleh senjata juga”. Nabi Isa dibawa ke rapat
Rabbi yang sibuk memikirkan tuduhan palsu terhadap nabi Isa.
Dimuka Rapat Rabbi, Nabi Isa oleh Imam Besar ditanya, apakah dia
mengakui bahwa dia betul Anak Tuhan. Nabi Isa akui terus terang.
Pengakuan ini dianggap sebagai penghinaan (penghujatan, godslatering)
atas Dirinya Tuhan. Atas pengakuan ini, Imam Besar memutuskan bahwa
Nabi Isa mesti dihukum mati.
Nabi Isa diikat atas perintah Rabbi dan diserahkan pada Pontius
Pilatus, wakil Kerjaan Romawi. Nabi Isa tiada menjawab tuduhan Rabbi.
Tetapi pertanyaan Pontius Pilatus: Apakah betul Isa mengaku, bahwa dia
Raja Yahudi? Nabi Isa mengaku pula terus terang.
Pada hari itu lazim dilepaskan seorang hukuman. Apabila Pilatius
bertanya kepada para Rabbi, siapakah yang ia mesti lepaskan, Isa atau
seorang jahat bernama Barabas, maka para Rabbi meminta supaya Barabas,
penjahat dibebaskan, dan mendesak supaya Isa dipaku dipalang gantungan.
Pontius terpaksa membenarkan, dengan perkataan bahwa dia tidak
mengandung dosa terhadap Nabi Isa.
Orang ramai dihasut oleh para Rabbi. Diatas kepala Nabi Isa
dilingkarkan “Mahkota duri”. Ditangannya ditaruh tongkat sebagai
ejekan. Orang Ramai yang terhasut itu berlutut dimuka Nabi Isa yang
bertongkat dan bermahkota duri itu, sambil berkata “Sembah simpuh, o,
Raja Yahudi”. Tiadalah dilupakan oleh ramai meludahi “Raja Yahudi” itu.
Inilah akhinrya, tepuk sorak dan pujian: “Hidup turunan Nabi Daud”.
Sikap Nabi Isa dimuka Hakim, ditengah-tengah ocehan, caci maki ramai
dan diatas palang gantung, terus terang mengaku dan teguh tegap
memegang azasnya sampai nafasnya terakhir menajaibkan dan menaklukkan
kawan lawan.
Walaupun kepercayaan bahwa Nabi Isa hidup kembali dan memberi amanat
kembali kepada pengikutnya ada diluar daerah Madilog, tetapi logis dan
sepatutnyalah, azas dan sikap Nabi Isa terus hidup kekal.
Azasnya Nabi Isa kalau boleh dengan kasar ringkas saya gambarkan
ialah: “Komunisme sederhana”. Komunisme sederhana ini betul-betul
dijalankan oleh kaum Kristen sebelum mereka dimasuki dan pikirannya
dipaksakan oleh kaum Berpunya dan Berkuasa. Sikapnya nabi Isa ialah
sikap Maha Pencipta dan Maha Satria.
Di “Kitab Suci” pun bisa kita saksikan, bahwa Nabi Isa, selalu
didapati diantarai ramai, miskin, diantara orang melarat, hina dina,
sakit gila. Mereka inilah buat Nabi Isa yang sebenarnya calon buat
Negara 1000 tahun “mellenium”yang akan datang di Bumi kita ini. Yang
penuh dengan keadilan dan cinta kasih sayang. “Lebih mudah buat seekor
unta masuk kelubang jarum daripada buat seorang kaya masuk kesurga”,
sabda nabi Isa ini menunjukkan, bahwa orang kaya itu diluar partainya
partai Rabbi, perkakas kerajaan Romawi yang hidup dengan sukaria dan
gila hormat dan pujian itu, ialah musuh mutlaknya dan langsung menjadi
sebab matinya Nabi Isa.
Pada permulaan
Tarich Masehi ini, kita belum lagi mempunyai
perindustrian, kemesinan, pabrik yang bisa mengikat Yang Tak Berpunya
itu dalam satu kumulan, dengan tuntutan ekonomi Berpunya itu dalam satu
kumpulan, dengan tuntuntan ekonomi atau politik. Nabi Isa memakai
idaman Rakyat Jelata pada masa itu! Idalam itu tergambar pada agama
Yahudi, ialah kepercayaan datanganya “Negara 1000 tahun” yang suci itu,
bersamaan dengan turunnya satu almasih, Mahdi. Tiada berada bedanya
kepercayaan Rakyat Yahudi pada masa itu dengan kepercayaan Rakyat kita
di Jawa Tengah pada kedatangan Ratu Adil. Makin mendalam kemelaratan,
makin keras pengaruhnya kepercayaan itu di sanubari Rakyat. Pemimpin
yang jujur tahu membangkitkan semangat Rakyat Jelata, serta teguh
tangkas sikapnya, mesti Isa berlaku seperti besi berani yang menarik
besi lain. Pengaruhnya tak bisa disingkirkan. Pemimpin semacam itulah
Nabi Isa, menurut paham saya, dia memenuhi idaman Rakyat Jelata pada
masanya.
Idaman semacam itu pada zaman semacam itu hanya tinggal idaman, sebab
barang yang nyata buta melaksanakan idaman itu seperti industri model
baru, belum ada. Hati gajah tak bisa sama dilapah. Semua kawan berada
dalam kemiskinan, Komunisme pada masa itu Cuma berlaku dengan hati
tugau (kecil) sama dicacah (diraba) saja. Mengadakan perlawanan lahir
seperti kaum proletar dimasa Blanwui atau dimasa Lenin tiada akan ada
hasilnya karena bendanya, peindustrian modern, belum timbul tunasnya
sama sekali. Di zaman nabi Isa kaum komunis mesti melakukan pahamnya
sama rasa, sama rata, serta sayang-menyayangi sesama manusia itu,
diatas harta kepunyaan yang segala sederhana. Dalam keadaan segala
sederhana ini makanan, pakaian dan perumahan dikota dan diesa dimana
berada serdadu Rumawi dan kaum Rabbi, pengharapan atas melimpahnya
segala-gala, terserah kepada belas kasihan Tuhan di Langit, sebagai
bapak yang Maha Sayang yang bersemayam di Langit itulah! Dia
mengirimkan Anak Tunggalnya kedunia fana ini, buat merintis “Negara
1000 tahun” yang penuh dengan keadilan dan cinta kaish sayang itu, buat
“ Rajanya bangsa Yahudi”
Yesus Nazarenus Rex Yodiurum!
- ISLAM.
Sumber yang saya peroleh buat Agama Islam, inilah sumber hidup.
Seperti saya sudah lintaskan lebih dahulu dalam buku ini, saya lahir
dalam keluarga Islam yang ta’at. Pada ketika sejarahnya Islam buat
bangsa Indonesia masih boleh dikatakan pagi, diantara keluarga tadi
sudah lahir seorang Alim Ulama, yang sampai sekarang dianggap keramat!
Ibu bapa saya keduanya ta’at dan orang takut kepada Allah dan jalankan
sabda Nabi.
Saya saksikan ibu saya sakit menentang malaikat maut menyebut
Juz Yasin berkali-kali dan sebagian besar dari
Al Qur’an,
diluar kepala. Orang kabarkan bapak saya didapati pingsan sebelah
badannya dalam air. Dia mau menjawat air sembahyang, sedang menjalankan
tarekat, setelah bangun sadar, dia bilang dia berjumpa dengan saya
yang pada waktu itu dinegeri Belanda. Masih Kecil sekali saya sudah
bisa tafsirkan
Al Qur’an, dan dijadikan guru muda. Sang Ibu
menceritakan Adam dan Hawa dan Nabi Yusuf. Tiada acap diceritakannya
pemuka, piatu Muhammad bin Abdullah, karena entah, karena apa, mata
saya terus basah mendengarnya. Bahasa Arab terus sampai sekarang saya
anggap sempurna, kaya, merdu jitu dan mulia. Pengaruhnya pada bahasa
Indonesia pada zaman lampau tidak sedikit. Cangkokan bahasan Arab pada
bahasa Indonesia baik diteruskan, karena lebih cocok pada lidah kita,
asal betul-betul mengadakan pengertian baru, yang tidak terbentuk pada
kata Indonesia umum atau lokal, seperti perkataan akal, fikir dsb. Saya
sendiri tidak sempat meneruskan pelajaran bahasa Arab yang saya
pelajari berpuluh tahun yang silam dengan cara surau yang sederhana itu
tentulah sekarang sudah melayang sama sekali. Tetapi semua perhubungan
dengan Islam dan Arab dahulu di Eropa, pasti mengambil perhatian saya.
Dengan mengikat pinggang lebih erat, saya ketika di Negeri Belanda
membeli sejarah dunia berjilid-jilid salinan bahasa Jerman ke Belanda,
karena didalamnya ada sejarah Islam dan Arab dituliskan dengan lebih
sempurna dari yang sudah-sudah.
Meskipun banjir ombak asik dalam sanubari saja dimasa usia pancaroba
dilondong hanyutkan sampai sekarang terus dihilirkan oleh kejadian
1917 perhatian saya tehadap Islam terus berjalan. Pengertian yang masih
saya ingat dari tafsir Qur’an itu, tentulah tiada berarti lagi. Yang
tinggal dibawah lantai kesadaran (subsunciousness) ialah kesan
semata-mata. Tetapi terjemahan Qur’an ke daam bahasa Belanda dahulu
beberapa kali saya tamatkan, semua buku dan diktatnya Almarhum Snouck
Hurgroaje tentang Islam sudah saya baca. Baru ini di Singapura saya
baca lagi terjemahan Islam kebahasa Inggris oleh
Sales dan ahli Timur, ialah Maulana Muhammad Ali Almarhum.
Dengan begitu tiadalah pula saya maksudkan bahwa semua sumber itu
sudah cukup buat mengobor Islam dan sejarah. Ahli sejarah Barat, Arab
dan Tionghoa memang berlipat ganda lebih bisa dipercayai dari pada Ahli
sejarah Hindu. Begitulah sejarah masyarakat dengan kemajuan pesawat dan
ekonominya dibelakangkan kalau tiada dilupakan sama sekali. Jangan
pula dilupakan, bahwa sejarah politik yang semacam itu ditunggalkan;
tiada berseluk-beluk dan dipelantunkan dengan sejarah politik, ekonomi,
dan kelasnya masyarakat. Jadi sejarah semacam itu, walaupun sejarah
politik saja adalah pincang sekali.
Tiada mengherankan kaalu dalam pembacaan, saya tiada mendapati
sejarah yang teratur selangkah demi selangkah, tentangan Masyarakat,
Politik, Ekonomi, dan Tehnik Arab. Tidak saja sebelum dan ketika
Muhammad SAW mengembangkan Agama Islam, tetapi juga didalam tempo
dibelakangnya, lebih dari 1300 tahun sampai sekarang. Tidak saja
ditanah Arab tempat asalnya agama Islam dan Negara berkelilingnya,
tetapi juga ditempat mengembangnya seperti Siria, Mesir, Spanyol, Irak,
Iran, (Mesopotamia), India dan Indonesia. Dalam Negara asalnya Agama
Islam tumbuh dan berdahan, mendapat bentuk dan corak baru dan bentuk
corak ini tentulah langsung atau menukar mempengaruhi pokok asalnya di
Arabia. Teristimwea pula karena semua bangsa dari semua agama acap
berkumpul di Mekah.
Sejarah Islam berurat dan diairi oleh masyarakat Politik, Ekonomi
dan Pesawat Arab asli dan akhirnya bertukar bentuk dan corak pada iklim
keadaan baru di luar daerah asli, menurut pengetahuan saya masih belum
ditulis. Pekerjaan semacam itu bukanlah pekerjaan sembarang ahli, boleh
jadi sekali bukan pekerjaan seorang ahli yang tersambil, melainkan
pekerjaan beberapa ahli yang bergabung dalam tempo yang lama, boleh
jadi pula bukti yang berhubungan dengan beberapa perkara sama sekali
tiada bisa diperoleh lagi. Bagaimana juga buku seperti “Foundation of
Christianity” buat agama Islam masih belum lahir.
Berhubung dengan keterangan diatas maka sejarah-Islam dalam lebih
kurang 1200 tahun sesudahnya Muhammad SAW yakni sejarah yang condong
pada politik seperti pengangkatan Imam baru, menurut dan menurutkan
partai Ali atau meneruskan pilihan yang demokratis seperti pengangkatan
Abubakar, Umar, dan Usma; perbedaan mazhabnya Imam Syafi’I, Hanafi,
Hambali dan Maliki satu aliran Islam kearah kegaiban (mysticisme) pada
satu pihak (Imam Gazali) dan kenyataan (rationalisme), sampai
ketiadaannya Tuhan-Tuhan (Atheisme), pada lain pihak (Mutazaliten);
pergerakan Islam yang baru kita kenal sekarang seperti Wahabi,
Muhammadiyah dan Ahmadiyah; semuanya ini mesti diseluk dengan
sejarahnya politik, ekonomi, seperti bumi dan perantara masyarkat
Muslimin di Eropa Selatan, Afrika, Asia Barat dan Tengah diluar
maksudnya buku ini dan diluar kekuasaan kesempatan saya.
Maksud tulisan saya yang ringkas ini tentulah bukan buat pengganti
buku yang masih ditulis itu, maksudnya Cuma buat petunjuk (suggestion).
Saya bagaimana juga tak lebih berlaku dari pada itu karena kekurangan
bahan bukti, lagi pula pokok perkara yang berhubungan dengan Islam,
ialah ke Esaan Tuhan, sudah termasuk boleh dikatakan hampir sama sekali
pada tulisan yang baru lalu.
Muhammad SAW mengakui sahnya kitab Yahudi dan Kristen. Muhammad SAW
mengakui Tuhannya Nabi Ibrahim dan Musa. Tetapi Tuhannya Nabi Ibrahim
dan Musa menurut Muhammad SAW itu mesti dibersihkan dari pemalsuan
Yahudi dan Kristen dikemudian hari.
Memang masyarakat Arab asli membutuhkan ke-Esaan pemimpin
sekurang-kurangnya sama dengan kebutuhan yang dirasa oleh Nabi Musa dan
Daud. Pada Muhammad SAW, bangsa Arab yang terdiri dari beberapa suku,
dan menyembah bermacam-macam berhala itu mengharapkan pimpinan.
Peperangan saudara yang kejam keji tiada putus-putusnya berlaku. Bangsa
Arab teguh tegap, berdarah panas, pada negara yang sebagian besar
terdiri dari gurun pasir dan gunung batu, kurus kering, sejuk tajam
dimusim dingin, panas terik dimusim panas, susah geilsah mengadakan
nafkah hidup sehari-hari. Perampokan dan pembunuhan adalah pekerjaan
lazim sekali. Perniagaan kelain negara dan dalam negarapun mesti dikawal
dengan prajurit yang siap sedia menetang musuh ialah penyamun Badui
yang rakus garang. Saudagar pada masa itu sama juga dengan serdadu,
makin ramai penduduk Arab dan memang sudah ramai, makin sengit seru
pertarungan suku dan suku. Makin banyak lelaki yang mati makin banyak
pula kelebihan perempuan. Tidak mengherankan kalau mendapat anak
perempuan dianggap sebagai malapetaka oleh rumah tangga Arab asli itu,
apa lagi rumah tangga yang tak berpunya. Perempuan sudah terlampau
banyak dan perempuan pada masyarakat semacam itu bukanlah makhluk yang
bisa mencari nafkah diluar rumah tangga, melainkan dianggap satu makhluk
penambah mulut makan. Jadi penambah kemiskinan. Kalau perempuan
banyak, dibunuh. Beruntunglah perempuan kalau ada lelaki yang mampu
mengawininya mengangkat dia jadi isteri yang ketiga ataupun kesekian
puluh.
Ditengah masyarakat semacam itu lahirlah Muhammad bin Abdullah,
walaupun sukunya suku Quraisy dianggap suku tertinggi dikota Mekkah,
tidaklah ia seorang anak yang dimanjakan oleh ibu bapa yang mampu. Dia
malang atau memang beruntung kematian ibu bapa menjadi anak piatu dan
dipelihara oleh paman Abdul Mutalib. Dari kecil sudah mengenal susah
melarat ditengah-tengah masyarakat saling sengketa dan gelap gelita.
Buah pikiran kita menyaksikan masyarakat semacam itu dan dalam keadaan
semacam itu bisa timbul paham peragai dan bumi seperti Muhammad bin
Abdullah. Tetapi memang intan itu bisa diselimuti tetapi tak bisa
dicampur lebur dengan lumpur.
Makin riuh rendah bunyi sengketa dan sentak senjata disekelilingnya
makin tenang teduh pikiran pemuka ini menghadapi sesuatu kesusahan atau
permusahan. Lawan dan kawan sekarangpun terlampau banyak memajukan hal,
bahwa Muhammad SAW seorang Nabi. Huru hara tiada bisa disangkal,
tetapi tiadalah hormat saja yang memberi petunjuk, ilham dan kiasan
kepada manusia. Mata yang nyalang, telinga yang nayring, serta otak
yang cemerlang ditengah-tengah masyarakat itu sedniri lebih lekas
menyampaikan seseorang pada hakekat tentang pergaulan hidup manusia
dari pada buku bertimbun-timbun diluar masyarakat. Pemuda Muhammad
dilatih dan tersepuh oleh masyarakat Arab sendiri, undang langsung yang
saling seteru dan gelap gelita itu.
Entah karena wajah parasnya, entah karena perawakan peragainya
dengan langsung, entah karena cerdik kepandaiannya, entah karena
semuanya, janda orang kaya Chadijah berusia 40 tahun akhirnya
menjatuhkan hati dan kepercayaan pada pemuda 15 tahun lebih muda ini,
sesudah berjasa bertahun-tahun. Bertahun-tahun Muhammad bin Abdullah
melayani perniagaan buat janda Chadijah.
Sekaranglah baru diperoleh tempat dan tempo mengheningkan pikiran
membanding mengiaskan, mencocokkan, menyeluk belukan persoaan yang
bertimbun-timbun jatuhnya pada pikiran yang acap terbang mealyang
seperti terdapat dalam bangsa Arab, seperti tergambar dalam cerita 1001
malam itu. Tetapi Arab bukannya Hindu. Pikiran melayang itu selalu
kembali ketanah. Penerbangan bolak-balik diantara awang-awang dengan
daratan itu bisa berhasil, bukanlah satu
scientist seperti
Newton tatu pendapat seperti Edison mesti bisa terbang dengan
pikirannya? Tetapi mereka terbang dengan benda yang nyata menurut
undang-undang yang pasti pula.
Pada tempat yang sunyi senyap bermacam-macam digunung diluar Mekah
timbullah berkali-kali persoalan. Lagit Arabia tiada diliputi awan pada
malam itu, kalau diterangi oleh bulan dan bintangnya mesti menarik
perhatian seseorang yang sungguh (serious, ernstig). Tak heran kalau
pemuda Muhammad didesak oleh persoalan sebagai siapakah yang
mengemudikan jalannya bulan dan jutaan bintang ini, yang tetap teratur
ini. Siapakah yang menjatuhkan hujan yang memberi hidupnya
tumbuh-tumbuhan,
hewan dan manusia itu? Apakah asalnya dan akhirnya manusia ini?
Tiadakah ada buat mempersatukan bangsaku, memperlihatkan seteru
sengketa dan menerangi gelap gulita itu:
mengangkat bangsaku jadi obor dunia?
Newton dan Edison diberi pusaka oleh para
scientist almarhum
berupa perkakas dan teori berupa laboratorium dan undang perhitungan.
Tetapi pemuda Muhammad hidup lebih dari 1300 tahun yang silam. Undang
apakah tentang peredaran bintang atau perhubungan hawa uap dan hujan
atau hukum tentang kodrat, paduan dan pisahan jasmani dan rohani yang
sudah diketahui? Ahli Yunani pun belum sampai kesana, aklau ada paham
yang miring kesana belum tentu paham itu sampai ketelinga Muhammad bin
Abdullah.
Demikianlah Muhammad bin Abdullah mesti mencoba jawab dengan
membandingkan pengalaman dan pengetahuannya pada mana jauh lebih tinggi,
dari pada yang dikenal oleh bangsanya dikelilingnya.
Berkali-kali sudah perdagangan dilakukan (dengan karavan kalifah) ke
Siria, barangkali juga sampai ke Mesir, ke Arabia Selatan tak mustahil
samapi ke Mesopotamia. Cantumkanlah dimata pembaca seorang pemuda
pendiam, mata sering melayang tinggi tetapi cepat bisa menaksir barang
dan uang dimukannya, kening lebar dan tinggi menandakan kecondongan
pikiran pada filsafat, tetapi juga menyaring apa yang praktis bisa
dijalankan. Bibir yang menandakan kemauan keras dan juga mahir lancar
kalau berkata, perawakan sedang, liat cepat tahan tangkas dan
berkali-kali dalam perjalanan jauh berbahaya mendapat latihan dalam
perjuangan. Penghilatan pada puluhan negara dan negeri biadab setengah
adab dan pekerjaan tawar menawar dengan saudagar bermacam-macam bangsa
dan bahasa; percakapan dengan lawan kawan, tua muda dalam usia
pancaroba dipuluhan negara dan negeri itu , semua itu mendidik penyair
dan pemimpin pembesar negara dan Nabi. Huruf dan sekolah tak bisa
memberi bahan hidup semacam itu, tetapi bahan hidup semacam itu bsa
memebri kesempatan pada Muhammad bin Abdullah menimbulkan huruf dan
sekolah baru. Tidak semuanya orang bersekolah, bsia menjadi pemimpin
Tuhan, tetapi buat seseorang pemimpin Tuhan tiadalah sekoah saja jalan
buat menyampaikan maksudnya buat melaksanakan sifatnya.
Dunia Arab berpenduduk sedang ramainya terus menerus bertarung
diantara suku dan sukunya, belum pernah dijajah dijahanamkan bangsa
Asing, sedikit dikenal oleh dunia luar, sudah sampai ketingkat persatuan
satu bangsa satu bahasa dan satu pemimpin.
Tiadalah sekali mengherankan kalau Muhammad bin Abdullah tertarik
oleh tuhan Esanya, Nabi Ibrahim, Musa dan Daud. Disini Tuhan itu lebih
terang ke Esaan-nya pada pertaruangan lahir batin yang seru sengit yang
mesti dijalankan dengan jasmani dan rohani yang mesti dipimpin oleh
satu kemauan, maka kesangsian atas ke Esaannya Tuhan, pemimpin yang
Maha Tahu dan Maha Tahu itu bisa menewaskan petarung, Satu Tuhan itulah
yang dibutuhkan oleh Arabia. Ketika Muhammad bin Abdullah yang buta
huruf itu Cuma sedikti tahu tentang agama Kristen, dikatakan oleh
mereka bahwa Muhammad bin Abdullah mendapat pengetahuan itu dari
mulutnya monikkan atau rahib dan setengah ulama Kristen. Mereka lupakan
keterangan mereka sendiri bahwa Muhammad bin Abdullah sesudah memasuki
gereja Katholik di Asia Barat ia berkata:”Ini Cuma rumah berhala
lain”. Sekarang pun pada abad kedua puluh ini kalau orang memasuki
gereja Katholik di Russia atau Roma, di Jerman atau di Indonesia, kalau
orang melihat patungnya nabi Isa dan ibunya maryam yang dipuja dan tak
mengherankan kalau orang netral mendapat kesan seperti kesan memasuki
rumah berhala Hindu atau Budha. Buat Muhammad SAW Tuhan semata-mata
rohani. Tuhan yang semata-mata rohani yang tidak dipatungkan lagi itu
baru didapat sesudah Luther dan Calvin. Jadi sesudah lebih kurang 1500
tahun Nabi Isa lahir atau sesudah 900 tahun nabi Muhammad wafat. Dalam
gereja Protestant kita tak lihat lagi patung yang seolah-olah mencoba
mempengaruhi manusia dengan perasaan belaka; kasihan pada nabi Isa yang
tergantung dipakukan tangannya pada palang gantungan itu oleh musuhnya
Yahudi Jahanam itu. Jadi pada
Protestant nyata pengaruh Islam
buat seseorang yang tidak digelapi oleh dogma (kepercayaan) agamanya
sendiri. Dengan Yahudi muhammad bin Abdullah menganggap Tuhan itu
semata-mata rohani dan berada dimana-mana. Seseorang Muslim bisa
bersambung langsung dengan Dia, tidak perlu memakai kasta Rabbi atau
pendeta sebagai perantaraan atau sebagai tengkulak. Kelangsungan
perhubungan manusia dan Tuhan itulah yang menjadi salah satu perkara
buat
Protestant umumnya, Cromwell dan tentaranya chususnya
ketika berperang dengan partai Katolik dan raja-raja Katolik. Ini
terjadi juga sesudah lebih kurang seribu enam ratus lima puluh (1650)
tahun sesudah Nabi Isa wafat atau lebih kurang 1000 tahun sesudah Nabi
Muhammad wafat. Pun disini nyata buat orang yang berpkiran objektif
(tenang) pengaruhnya Islam atau Nasrani seperti juga pada Yahudi.
Jadi agamanya Nabi Isa dan Nabi Musa dijalankan pada masa
perjalannya nabi Muhammad bin Abdullah di Asia Barat itu tidaklah
diambil bulat mentah dengan tiada kritik semata-mata. Tidak saja
Muhammad bin Adullah mengambil pokok besarnya agama Yahudi dan Kristen,
tetapi pada kemudian harinya Yahudi dan Nasrani walaupun resminya tak
mau mengaku terus terang mengambil sifat baru dari Islam. Demikianlah
pada Muhammad SAW “ketunggalan” Tuhan itu ke Esaan Tuhan itu sampai
kepuncak tak ada kesangsian seperti melekat pada agama Nasrani pada
masa Muhamad SAW. Tentangan, terhadap agama Nasrani itu dikeraskan dan
dijelaskan pada satu
Juz yang pendek, tetapi dianggap
terpenting sekali oleh Muslimin: bahwa Tuhan tunggal tak memperanakkan
(Nabi Isa) dan tidak diperanakan (Qul huallahuahad …………….dsb).
Karena Muhammad SAW yang mendapatkan ilham tentangan ke Esaan Tuhan
yang sempurna dan kesamaan manusia dan manusia lain terhadap Tuhan itu
yang masih belum terang benderang buat semua bangsa Yahudi pada zaman
nabi Ibrahim, lebih-lebih pada masa Nabi Sulaiman dan kemudiannya tiada
terang pula pada Kristen, Katolik, Anatolia atau Romawi di masa
Muhammad SAW, tentulah semestinya Muhammad SAW Nabi yang terbesar dan
terakhir
but monotheisme, kalau Albert Einstein menyempurnakan teori
relativity
maka orang tidak berkeberatan menamainya teori itu teori Einstein.
Adakah ke Esaan yang lebih pasti dan persamaan manusia dan manusia
terhadap Tuhan lebih nyata dari pada agama Islamnya Muhammad SAW? Juga
Nabi Isa mengakui dirinya anak Tuhan dimuka Rabbi dan mengakui dirinya
Rajanya Yahudi buat negara 1000 tahun dimuka Pilatus? Adakah salahnya
kalau Muhammad SAW mengaku pesuruh rasulnya tuhan yang terakhir dan
terbesar?
Kepercayaan pada Allah sebagai Tuhannya yang Esa Muhammad sebagai
rasulnya dan persamaannya manusia terhadap Tuhan, belum cukup buat
mempersatukan sekalian suku Arab yang saling seteru sengketa dan
peperangan terus menerus itu. Malah hal itu menimbulkan ejekan
kebencian dan caci makian terhadap Muhammad yang oleh penduduk Mekkah
diketahui sebagai anaknya Abdullah dan Aminah. Sama siapakah mereka
Arab yang galak ganas itu akan takut dan apakah dirinya berbuat baik
didunia ini kalau sesudah mati semua perkara perhubungan dengan manusia
itu berhenti sama sekali? Malah lebih baik jadi orang kuat, kebal,
piawai pendekar, berani, jahat, perampok atau apa saja asal bisa
dapatkan harta buat kesenangan, perempuan buat permainan dan laki-laki
buat hamba sahaya. Di dunia fana inilah messti dicari puncak kesenangan
dengan mendapatkan puncak kekayaan dan kekuasaan, baik dengan jalan
halal atau haram. Demikian satu pemikir luhur merasa perlu keterusannya
hidup. Tidak didunia fana ini melainkan pada dunia baka pada akhirat.
Dengan begitu perlu pula ada jiwa terkhusus yang bertiang dalam jasmani
kita. Jasmani dan jiwa itulah kelak sesudah hari kiamat akan
dibangunkan kembali dari matinya. Jasmani dan jiwa yang hidup kembali
itu akan ditimbang kebaikan dan keburukannya, yang berdosa akan masuk
api neraka dan yang saleh akan masuk surga dikerubungi oleh nikmat tak
terhingga banyaknya ragam dan lezatnya ditempat permai damai diantara
puteri bidadari cantik molek dan manis bagus parasnya, ratusan ribuan
banyaknya yang taat saleh, terutama yang mati sahid akan mendapat upah
yang kekal dan luhur itu. Kalau kita peramati gurun pasir dan gunung
batu Arabia, peramati wataknya Badui sekarang dan gambarkan orang Arab
dan Badui semasa nabi Muhammad maka surganya orang Islam itu surga yang
tidak sejuk dingin seperti Nirwananya Budha atau suci seperti surganya
nabi Isa, maka surga Islam itu kuat seperti kutup Utara menarik jarum
pedoman, sebelum sampai kesurga
djanatunna’im itu, sesudah
Muhammad SAW wafat. Arabia dan Badui yang sudah bersatu itu mendapatkan
surga dunia di Siriya, Mesir, Spanyol, Iran dan India. “Banjirnya para
calon syahid yang mengalir dari Arabia”. Tuhan itu ialah Allah dan
Muhammad itu ialah Rasulnya. Tiada satu negara dan bangsapun beratus
tahun bisa tahan. Begitu cocok surga Islam dan mati sahid dengan
masyarakat dan peragai Arab.
Allah itu menurut Logika tentulah tiada bisa “Maha Kuasa” kalau
tidak segenap umat manusia, segenap jam dan detik dapat menentukan nasib
manusia. Segenap detik dia bisa perhatikan matahari berjalan, bintang
dan bumi beredar, setiap detikpun tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia di
matikan, sebaliknya manusia janganlah takut menghadapi mara bahaya
apapun juga, kalau Tuhan Yang Maha Kuasa itu belum lagi memanggil. Di
dunia Islam, hal ini dinamai takdir Tuhan. Di dunia barat hal ini
dikenal sebagai
pre-destination.
Calvin bapaknya Mazhab
Protestant pada abad ke 17 juga
mengemukakan hal ini. Oliver Cromwell dan tentaranya di Inggris diakui
paling nekat tunggang oleh sejarah Barat, juga mengikut kepercayaan
ini, pun disini tak bisa dibantah pengaruhnya Islam pada dunia Kristen.
Memang pemikir yang ulung
consequent yang mengesakan Tuhan
mesti mengesakan kekuasaannya Tuhan itu. Kalau seketika satu saja
kekuasaan dikurangi dipindahkan pada anaknya seperti pada nabi Isa,
(anaknya Tuhan) atau Maryam, dan sedetik saja kekuasaan si Atom itu
bisa dipegang diluar Tuhan dengan tidak izinnya Tuhan, maka kekuasaan
Tuhan itu tiada absolute sempurna lagi. Walaupun si Atom dalam sedetik
kalau bisa dikurngai maka kesempurnaannya dikurangi pula bukan?
Itulah maka saya anggap bahwa Agama Monotheisme nabi Muhammad yang paling
consequent
terus lurus. Maka itulah sebabnya menurut logika maka Muhammad yang
terbesar diantara nabinya monotheisme. Kaum Kristen boleh memajukan
kedudukan, tingginya kaum ibu maka tingginya kasih sayang dan ta’at
setia pada dasar sebagai pusaka dari Nabi Isa.
Tetapi pada masyarakat Arab dimana perempuan tak bisa diangkat
ketempat yang lebih tingi dari yang dilakukan oleh Muhammad SAW. Tak
sedikit ahli sejarah Barat yang mengakui hal ini kalau lama dibelakang
wafatnya Nabi Muhammad perempuan dikudungi, dibungkus atau
ditimbun-timbunkan kedalam haramnya Sultan atau Muslim kaya raya buat
melepaskan nafsu lelaki, maka itu adalah berhubungan rapat pula dengan
keadaan masyarakat Arab. Perkara kasih sayang Muhammad SAW juga
seperti nabi Isa berhak mempunyai. Nabi Muhammad berada dalam
masyarakat sebesarnya, sebagai pemimpin propaganda, pertarungan
peperangan dan masyarakat.
Sedangkan nabi Isa tinggal melayang diatas langit propaganda saja
tak mengatur peperangan ekonomi, politik ataupun sosial. Sebab itu lebih
gampang memegang dasar kasih sayang itu.
Tetapi Muhammad dengan memaafkan yang dahulunya mau menewaskan
jiwanya, mengubah musuhnya itu menjadi pengikut, hambanya dianggapnya
saudara kandungnya, bukankah pula kaum Kristen sendiri yang mendapat
kedudukan tinggi sekali dibawah itu dengan kaum Nasrani dibawah Romawi
yang berkebudayaan tertinggi pada zaman purbakala itu. Begitu juga
dengan teguh tegap memegang dasar itu nabi Muhammad tidak ketinggalan.
Ketika seluruh Mekkah memusuhi, mengancam jiwanya, dan dalam keadaan
begitu menewaskan harta dan pangkat kalau memperhatikan propagandannya
nabi Muhammad bersabda: Walaupun disebelah kiri ada bintang dan
disebelah kanan ada matahari yang melarang, saya mesti meneruskah
suruhan Tuhan.
Tetapi semua perkara ini yakni
kedudukan kaum isteri dalam masyarkat, belas kasihan kepada semua manusia, taat setia pada dasar sendiri itu,
ada lebih rapat berhubungan dengan masyarakat politik ekonomi, pesawat
dan iklim dari pada dengan kepercayaan semata-mata, hal ini adalah
diluar maksud tulisan ini. Yang dimajukan disini ialah perkara
kepercayaan pada ke Tuhanan umumnya dan ke Esaan Tuhan itu
terkhususnya. Sekali lagi disoalkan disini, bahwa pada Islam ke Esaan
itu tentangan banyak dan sifatnya sampai kepuncak.
Sebab itu pula maka pertentangan dengan ilmu pasti umumnya, madilog
terkhususnya sampai kepuncak pula. Pada permulaan buku ini perkara itu
sudah dilaksanakan Maha Keesaan Dewa Ra. Pembaca dipersilahkan mambaca
bagian itu sekali lagi. Sarinya tulisan itu kalau diperhubungkan dengan
keesaan Tuhan ialah kalau seperseribu detik saja Yang Maha Kuasa itu
membatalkan bumi kita ini menarik matahari dan meletus serta hancur
luluhlah kita kejurusan matahari yang panas terik itu. Kalau sekiranya
seperseribu satu detik saja Yang Maha Kuasa itu bisa membetulkan hukum
tolak tariknya sekalian bintang matahari dan bumi di Alam Raya ini
seperti semua kereta diberhentikan dalam satu kota pada satu saat, maka
kita manusia, hewan dan benda yang sekarang lekat pada bumi ini akan
tarikan bumi akan terpelanting keawang-awang terus menerus terbangnya.
Jadi menurut Madilog Yang Maha Kuasa itulah bisa lebih kuasa dari
hukum alam. Selama Alam ada dan selama Alam Raya itu ada, selama itulah
pula hukum nya Alam Raya itu berlaku. Menurut hukum Alam Raya itu
bendanya itulah yang mengandung kodrat dan menurut hukum itulah caranya
benda itu bergerak berpadu, berpisah, menolak dan menarik dan
sebagainya. Kodrat dan undangnya yang berpisah sendirinya tentulah
dikenal oleh ilmu bukti. Berhubungan dengan ini maka Yang Maha Kuasa
jiwa terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang diluar Alam Raya ini
tidaklah dikenal oleh ilmu bukti, semuanya ini adalah diluar daerahnya
Madilog. Semuanya itu jatuh kearah kepercayaan semata-mata. Ada atau
tidaknya itu pada tingkat terakhir ditentukan oleh kecondongan
persamaan masing-masing orang. Tiap-tiap manusia itu adalah merdeka
menentukannya dalam kalbu sanubarinya sendiri. Dalam hal ini saya
mengetahui kebebasan pikiran orang lain sebagai pengesahan kebebasan
yang saya tuntut buat diri saya sendiri buat menentukan paham yang saya
junjung.
Bagian 4. KEPERCAYAAN TIONGKOK
Sepintas lalu saja! Sebab lantaran sebagian besar dari kepercayaan
itu sudah mendapat penguraian panjang lebar. Kepercayaan itu ialah
Buddhisme, agama Kristen dan Islam. Lagi pula Tiongkok dan
kepercayaannya akan mendapat bagian terkhusus pada buku ketiga, kalau
saya mempunyai kesempatan buat tulis-menulis.
Dunia Tiongkok dengan jiwanya lk 400.000.000 itu oleh dunia luar
diakui sebagai Negara yang memeluk agama Buddha. Tetapi menurut
penglihatan saya, sedikit sekali kehidupan seorang Tionghoa dipukul
rata, diikat oleh kepercayaan dan peraturan Buddhisme, seperti
umpamanya penduduk Siam, Birma dan Selong (Ceylon). Cuma sebagian kecil
saja yang boelh dianggap bisa menghindarkan hawa kepercayaan yang
lebih banyak dan itulah kelak akan saya uraikan sekedarnya. Agama
Kristen masih muda sekali umurnya di Tiongkok. Tetpai dunia luar lebih
mengenal agama ini, berhubung dengan pengikutnya yang paling terkenal
didunia luar. Pertarungan hebat yang akan menentukan hidup matinya
Tiongkok sekarang sebagai Negara dan Bangsa Merdeka, sebagian besar
terletak ditangan pimpinannya Kristen, seperti Soong May Ling yang dunia
luar kenal sebagai isteri Presiden Chiang Kai Sek dan yang memutar
suaminya ke agama Kristen; saudara lakinya Soong Ci Bon salah seoarnag
dari hartawan Tiongkok dan Bankier yang terkenal didalam dan diluar
Tiongkok, saudara perempuannya lagi Soong Ai Ling, isteri bankier besar
dan Menteri Keuangan Tiongkok bernama Kung Liang Shi, lagi saudara
perempuan lebih masyhur di Tiongkok dari keluarganya, ialah Soong
Chiang Ling, janda dari Bapak Republik Tiongkok yang termasyhur pula.
Semuanya paling terkemuka dari masyarakat Tiongkok pada masa pancaroba
diabad ke XX ini. Berhubung dengan itu, walaupun agama Kristen dibanding
dengan seluruhnya penduduk, boleh dikatakan tiada berarti (lk
5.00.000.000), tetapi pengaruhnya Kristen Tionghoa dalam penjelmaan
Tiongkok menjadi muda kembali ini, tidaklah sedikit. Lebih kental
susunannya, lebih pasti kediamannya dan lebih mendalam kepercayaannya,
tetapi paling tiada dikenal didunia luar diantara 3 agama yang masuk ke
Tiongkk itu, ialah agama Islam. Penduduk Tiongkok sebelah ke Barat
laut yang lk 50.000.000 banyaknya itu boleh dikatakan rata dan sempurna
memluk agama Islam. Dilain tempat di Tiongkok, kaum Muslimin
bercerai-berai. Kuranglah diketahui oleh dunia luar, bahwa satria Ma Can
San dan Panglima Perang Pei Soong Ci, terkenal di Tiongkok sebagai
ahli siasat perang nomor satu, ialah Muslimin yang taat. Agama Buddha
itu mendalam dilapisan atas, tetapi tipis masuknya atau tiada masuk
sama sekali kebagian bawah, seperti minyak yang tergenang diatas air.
Tetapi kepercayaan yang mau saya uraikan sedikit disini, adalah tipis
dilapisan atas dan kedalam dibagian bawah, makin kebawah makin dalam.
Kepercayaan ini saya uraikan, karena Rakyat Indonesia masih dalam
keadaan yang serupa. Lagi pula karena pada kepercayaan inilah dengan
tak perlu propagandis dan propaganda Rakyat Jelata Indonesia bertemu
muka dan otak dengan Rakyat Jelata Tionghoa.
Sahibul hikayat yang empunya cerita, seorang Baba menceritakan kepada saya sbb:
Bagai topan dengan hujan lebat disertai pula olah guruh petri pada
suatu hari sedang menjalankan lakonnya. Dua perahu layar, penangkap
ikan terkatung-katung, berputar balik menghindarkan malapetaka, mencari
jalan ketempat berlindung, disalah satu Teluk dikepulauan kecil-kecil
yang bertaburan di keliling Singapura.
Salah satu dari dua perahu layar tadi tiada berdaya lagi menolak
bencana alam semacam itu, terbalik dengan pengemudinya. Yang lain, yang
lebih tentng, lebih cepat dan tahan badai, terkenal di tanah
Semenanjung Malaka sebagai “golek”, sebagai kilat menyusul kawannya
yang malang itu. Pengemudinya dengan tiada memperdulikan gelombang,
hujan dan badai itu, terjun melompat menyelami mangsanya malapetaka
alam itu. Sesudah berapa lamanya timbullah ia kembali kemuka lautan
yang bengis bergelombang itu memikul manusia yang dicarinya. Goleknya
sudah jauh diombang-ambikngkan badai dan gelombang. Tetapi dia adalah
seorang pelaut tulen, dibuai ayunan gelombang lautan Indonesia semenjak
kecilnya. Tulang dan tubuhnya, semangat dan kemauannya tak bisa
ditewaskan begitu saja oleh air tempatnya bermain dimasa kecil dan
tempatnya mencari penghidupan dimasa dewasanya. Dia sampai kegoleknya
dan beruntung pada tempo mencapai letaknya pada salah satu pulau.
Tetapi pulau ini kosong, hujan lebat belum lagi reda serta kawannya
masih dalam keadaan payah. Dia tahu perahu yang karam tadi perahu
Tionghoa, karena bentuknya dan pengemudinya yang ditolongnya itu ialah
seornag Tionghoa. Entah karena sudah kebiasannya, entah karena suruhan
agamanya, entah karena naluri (insticnt) sesama mansuia atau lantaran
sama pencarian hidupnya, dia anggap menolong Tionghoa, yang belum dia
kenal ini sebagai menolong dirinya sendiri. Berkat layaan dengan
susah-payah dengan alat serba sederhana yang ada padanya saja, Tionghoa
tadi akhirnya sadar kembali. Cocok dengan adat Tionghoa Asli dan lebih
cocok pula dengan keadaan hidup dan kemanusiaan, dia menganjurkan pada
penolongnya, supaya dari sekarang mereka mesti aku-mengakui
bersaudara, seperti saudara kandung. Tionghoa dan penolongnya
Indonesia, bernama Datuk Kusu berpegangan tangan, keduanya memandang
kelangit, memanggil bulan dan matahari sebagai saksi, bersumpah sakti
akan mengakui sebagai saudara kandung. Merkea berjanji akan menguburkan
salah seorang yang dahulu meninggalkan dunia fana ini dipulau tempat
mereka berada sekarang. Juga siapa yang mati kemudian akanberbaring
didekat pekuburan yang mati terdahulu.
Demikianlah keduanya hidup tolong-bertolong seperti saudara sampai
akhirnya malaikat maut pertama memanggil Tionghoa. Setia kepada janji
saudara angkatnya, Datuk Kusu menguburkan mayatnya dipulau persumpahaan
tadi. Akhirnya malaikat maut juga memanggil Datuk Kusu sendiri, setelah
dia menderita penyakit penghabisan, pergilah dia mendekati dan
berbaring tiada jauh dari kuburan saudara angkatnya. Dijumpai orang
Cuma tulang belulangnya, lama sesudah dia meninggal.
Seorang nyonya Tionghoa dan familinya yang kebetulan mengunjungi
pulau itu, pada satu malam mendapat mimpi, yang menyuruh dia pergi
kembali kesana menjumpai kuburan Datuk Kusu itu berniat dan berkurban.
Dia lakukan suruhan mimpi itu dan niatnya dikabulkan.
Sesudah itu kuburuan Datuk Kusu dianggap keramat dan pulau itu dinamai pulau Datuk Kusu.
Sampai waktu saya meninggalkan Singapura pada permulaan tahun 1942,
saban minggu dan hari besar penuh sesak semua perahu pengunjung,
terutama terdiri dari perempuan Tionghoa dan Melayu yang menyampaikan
niatnya kekuburuan Datuk Kusu.
Bukankan ini “pujaan arwah nenek moyang” yang terang-benderang?
Inilah kepercayaan Indonesia asli, ketika merantau ke Asia Selatan dan
kepulauan Indonesia, turun dari Mongolia dan Tibet. Inilah kepercayaan
Indonesia yang masih terpendam, yang lebih tebal, kalau kita memasuki
masyarakat Indonesia lebih kebawah. Inilah juga kepercayaan yang lebih
tebal, kalau lebih kebawah kita masuki masyarakat Tionghoa. Lebih keatas
lebih tebal kita saksikan agama Islam, Nasrani dan Hindu di Indonesia.
Lebih keatas lebih tebal kita saksikan agama Buddha, Islam, Nasrani di
Tiongkok. Tetapi lebih kebawah kita masuki masyarakat Rakyat Jelata
Indonesia dan Tiongkok kita saksikan dengan terang nyata kepercayaan
kepada arwah nenek moyang.
Tiadalah pada arwah nenek moyang itu saja si Tionghoa Murba
mengikuti kepercayaan si Indonesia Murba. Ceritakanlah pada Tionghoa,
hantu atau orang jadi-jadian. Pendengar Tionghoa tak akan membantah dan
akan menaruh semua perhatian pada kepercayaan si Indonesia tadi. Tidak
susah bagi si Indonesia buat mengajaknya, lebih-lebih kaum ibunya, buat
pergi mengunjungi kuburan keramat ini, atau beruk atau batu keramat
itu, untuk menyampaikan niatnya: mendapatkan anak umpamanya.
Di Singapura tidak saja Pulau Datuk Kusu yang menerima pujaan itu,
juga satu tempat di tengah pulau Singapura, dekat rumah yang bernama
Rumah Miskin, dan satu lagi tiada jauh dari Rumah Miskin itu.
Kedua tempat itu, ialah kuburan keramat Indonesia juga. Selain dari
pada itu, saya dengar kuburan Sunan Gunung Jati di Cirebon, juga
menerima pengunjung Tionghoa. Gunung Batu diluar kota Padang, yang
didiami sekumpulan beruk (monyet) dengan Rajanya, seperti juga Raja
Beruk dan pengikutnya dekat Banjarmasin, selalu menerima pengunjung
bangsa Tionghoa.
Demikianlah lebih kebawah kita masuk sanubarinya Rakyat Jelata
Tionghoa, makin lebih rapat persamaan kepercayaannya dengan kepercayaan
Rakyat Jelata Indonesia, kebawah demi kebawah. Dibawah sekali dalam
masyarakat Indonesia terdapat Animisme (kejiwaan) tulen,
daemonology
(ke-hantuan) dan dynamisme (kodrat benda) yang terang telanjang
terdapat pada bangsa Indonesia Asli: Batak, Sakai, Dayak dan Igorot
(Filipina). Bangsa Indonesia Asli ini banyak saudara kandungnya
dipegunungan Birma, Siam, Anam, dipulau Hainan dan Formusa, di
pegunungan Propinsi Yunan, Keichow dan Kwantung yang oleh Tionghoa
dinamai Miuo, Iao dsb. Disinilah dasar persamaan Indonesia-Tiongkok.
Pertemuan dipulau Datuk Kusu itu, bukanlah kebetulan saja, melainkan
satu keajian seperti acap terjadi dalam Biology “berbalik ke-asal”.
Kepercayaan pada arwah nenek moyang itu dimasyarakat Tionghoa, tiada
dijumpai pada lapisan bawah saja. Pujaan nenek moyang itu umum sekali
dan setia sekali dilakukan. Didaerah Selatan Tiongkok tiap-tiap tahun
saya saksikan pembersihan dan pujaan kuburan Bapak dan Nenek Moyang,
pada musim bunga.
Syahdan berhubung dengan hal ini, maka tanah kuburan itu sendiri
adalah Tanah suci buat umumnya Tionghoa. Nasib buruk baiknya keturunan
itu dianggap bergantung pada malang mujurnya tanah yang mengandung
tulang-belulangnya nenek moyang itu. Pada kaum intelek Tionghoa pun ada
satu kepercayaan teguh pada majiat dan pengaruhnya tanah dan
tulang-belulang itu. Kepercayaan semacam ini berhubung dengan “hong
shui” (Amoy).
Seorang Jenderal Propinsi yang masyhur juga belum lama berselang
mengirimkan parakawannya mencari kuburan Jendral yang lebih masyhur
dari dia. Kalau kuburan itu bisa didapati, tulang-belulang bapaknya bisa
digali dan dicampurkan dengan tulang-belulang anjing, kemduian
dilempar masuk latu, maka turunnanya, ialah Jendral yang lebih jempol
tadi, dianggap akan tewas dalam peperangan. Entah karena
tulang-belulang itu tak didapati, entah karena lain sebab, saya tahu
Jendral pencari tulang-belulang itu sudah lama tewas dan yang dikenal
sebagai Jendral yang lebih jempol dari dia, memang masih ada dan
dianggap tak kurang dari yang sudah-sudah. Jendral yang lebih ulung ini,
tak kurang dan tak lebih dari Jendral Chiang Kai Sek.
Beginilah menurut “Sumber Hidup” yang saya peroleh tentang masyarakat
yang saya campuri, bukan dilihat dari pinggir saja, dalam lk 20 tauhn
lamanya: pemujaan nenek moyang itu dan kepercayaan pada hantu adalah
tebal sekali melekat pada sanubari Tionghoa.
Dunia luar pada satu pihak mengenal Tionghoa sebagai Negara Buddha.
Tetapi pada lain pihak dia kenal Tionghoa sebagai Negara Kong Cu (Guru
Kung).
Betul sistemnya Guru Kung pernah dijadikan “Staats Kult” (Kebudayaan
Negara), tetapi orang salah kalau menyamakan Guru Kung itu dengan nabi
dan kebudayaannya sama dengan kebudayaan Kristen atau Islam. Sitem
yangdia turunkan ialah
kesusilaan (moral).
Waktu muda saya sudah baca satu perkara dan pemuda cerdas Tionghoa
juga selalu embenarkan kalau saya tanya, apakah perkara itu betul atau
tidak. Ketika salah satu dari muridnya bertanyakan perkara berhubungan
engan Tuhan dan Akhirat itu, maka Guru Kung menjawab: “Dunia ini saja
sudah begitu susah buat diketahui, apalagi dunia baka itu”.
Sikapnya Guru Kung adalah lebih cocok dengan sikap ahli filsafat
seperti Socrates. Keduanya memeriksa masyarakat dan keduanya
berdasarkan senjata akal. Guru Kung menetapkan perhubungan Rkayat dan
Raja, Anak dan Bapak, saudara dan saudara, serta seseroang dengan
sahabatnya. Ia tak pernah menempuh jalan yang gaib seperti tandingannya
(konkuren) Lao Tse (Guru Lao). Walaupun Guru Kung tak sampai kelapang
Ilmu Bukti (Science) lebih dari pada semua pemikir lain di Asia,dia
berdiri atas nyata pasti dan lebih dekat pada dunia Ilmu Bukti dan
peralaman. Cuma perindustrian dan pesawat Tiongkok belum bisa menumpu
dia kelapang
science. Tetapi tiadalah sistemnya, kebudayaannya Guru Kung itu bisa ditaruh pada golongan “kepercayaan” bulat mentah!
Bagian 5. TEORI
RELATIVITY.
Saya coba menterjemahkan teori
Relativity itu dengan teori
Sangkutan Bergerak. Menurut teori ini, maka sesuatu badan tempat
menyangkutkan sesuatu pergerakan, badan mana selama ini dianggap tetap,
tak bergerak, oleh Einstein dianggap bergerak pula. Sebab itu saya
pikir teori itu boleh diartikan atau diterjemahkan seperti diatas.
Belum lama lagi tempo dibelakang, bilamana dunia sopan seseorang
menganggap tidak masuk golongannya, kalau tiada bisa campur
memperbincangkan Teori
Relativity itu. Sekarang tidak begitu
lagi. Entah karena barang baru itu memang menarik hati atau kebanyakan
anggota dunia sopan itu Cuma “rancak dilabuh” saja (mau bagus dipandang
diluar saja). Dan lekas bosan dengan benda berapapun nilainya, atau
sebab semua yang tsb diatas. Tetapi buat dunia berilmu teori
relaivitynya Einstein, tetulah tetapi satu sumbangan, kontribusi, kepada masyarakat. Seperti teori Mehrwert,
Nilai lebihnya Karl Marx dan teori Psycho Analysenya Freud, teori
relativity
mengangkat ilmu dan cara berpikir ketingkat yang jauh lebih tinggi dari
yang sudah-sudah. Kalau ada yang lebih nayta pada abad ke XX ini saja
buat menyaksikan, bahwa kecerdasan dan keorgininalan (perintis) otak
itu bukan semata-mata monopolinya bangsa Arya, maka disini kita jumpai
satu dari contoh yang mencolok mata. Ketiganya para ahli tadi, timbul,
tumbuh dan ……… tumbang dalam masyarakat Jerman, adalah dari bangsa
Yahudi, yang oleh ahli Nazi dianggap sebagai orang Asia, sebagai musuh
masyarakatnya.
Pada permulaann buku ini sudah saya sambilkan uraian Toeri
Relativity
itu dengan cara populer. Maknanya sudah terbungkus dalam sedikit
uraian itu. Tetapi sebagian pembaca barangkali mau mengetahui lebih
dalam. Sebaiknyalah sekiranya saya bisa mendapatkan buku Einstein
sendiri, diantara
Spezialle Relativitat (Terkhusus) dan
Algemeine Relativitat (Umum). Tetapi teori demikian, sudah umum dipakai dan diperbincngkan, tiadalah lagi bertempat pada
authornya
(bapanya) saja. Kita yang sedikit terpelajar ini tahu Ilmu Bintang
secara Euclidius, walaupun bukunya Euclidius sendiri belum pernah kita
lihat, jangankan lagi kita baca, bukan? Walaupun Teori
Relativity belum lagi menjadi pengetahuan umumnya terpelajar, seperti sistem
Euclit,
undangnya Copernicus atau Newton, tetapi para ahli yang berhak,
tidaklah lagi ragu-ragu tentang pokok besarnya teori Relativity itu.
Disini akan diuraikan sedikit tentang sarinya teori itu. Tentulah uraian
saya yang bersangkutan dengan Madilog saja, tiadalah buat mengajarkan
teori itu dan menguraikannya sepreti seorang guru menguraikan sesuatu
perkara kepada muridnya. Pemabca yang giat saya persilahkan membaca
buku yang bersangkutan! Selamat baca! Pembaca yang malang, karena belum
lagi menterjemahkannya, boleh lampaui saja bagian tulisan saya ini …..
sementara waktu!
Bermula buat kependekan kata, maka menurut paham saya sendiri dan
atas tanggung jawab saya sendiri, maka didalam teori Relativity ini,
tercantum juga undang yang sudah kita kenal: perjalanan
thesis, anti-thesis dan
synthesis; pokok perkara, kebatalan dan pembatalan.
Kebetulan dan beruntung sekali saya mendapatkan buku yang
membicarakan teori Einstein degan cara yang hampir cocok dengan
perlakuan undang semacam itu juga. Beruntunglah pula seterusnya
pengarangnya berfilsfaat bertentangan dengan Madilog, karena dia
memandang lakonnya hukum itu berpangkal dipikiran, bukan dibenda.
Bermula diotaknya manusia, kemudian dialam diluar otaknya manusia tadi.
Pekerjaan saya didalam hal ini mudah sekali. Saya mnegikut receptnya
Marx, Cuma membalikkan kakinya pemikir ini dari bawah keatas dan
kepalanya dari atas kebawah. Tetapi sebelum saya main banting balik itu
lebih dulu saya akan meuraikan Teori
Relativity itu.
Buat uraian itu saya mesti mencari bahannya dari buku
Zur Einsteinschen Relativitatstheorie; Erkenntnis Theoritishce Betrachtungen von Ernst Cassier. Artinya: Tentnag teori Sangkutan Bergeraknya Einsten. Pemandangan dan penjuru teori pikiran.
Tetapi cara dan bentuk penguraian itu dilakukan atas tanggungan saya sendiri.
Bermula, maka kemajuannya teori Sangkutan Bergerak itu berasal pada
pertentangan yang terdapa pada pengalamannya dua para ahli, yakni
Fizeau dna Michelson. Hasi lpengalaman dari kedua para ahli itu, adalah
bertentangan dan tiada bisa diperdamaikan. Kedua mencoba menjawab
pertanyaan: Bagaimanakah “cepatnya cahaya” pada “jalan(medium) yang
bergerak”, berbanding dengan “cepatnya” cahaya pada “jalan yang
berhenti” (hening).
Menurut Fizeau cepatnya cahaya itu pada jalan yang bergerak
“bertambah besar”, tetapi Michelson tiada mendapatkan “tambahan” itu.
Sepanjang pengalaman Fizeau, maka cepatnya cahaya diarusnya air,
lebih dari cepatnya cahaya diair tenang. (Jadi pengalaman
berganti-ganti dijalankan pada jalan yang bergerak dan pada jalan yang
berhenti, yakni pada arus air dan pada air tenang). Tambah cepatnya itu,
tiada seluruhnya cepatnya arus ditambahkan pada cepatnya cahaya,
malainkan sebagian saja:
Buat merka yang mau mendalami:
W = cepat cahaya pada arus air.
w = cepat cahaya pada air tenang.
v = cepat arus air.
Pendapatan Fizeau tiadalah: W = w + v, melainkan W = w (1-1/n²-n) + v.
(1-1/n²-n) ialah Breckungsexpotentnya air tadi.
Michelson peralamkan cepat cahaya itu pda bumi dan udara dibumi sebagai jalan yang bergerak terhadap
aether
(satu benda persangkaan) yang disangka tak bergerak (hening).
Sepatutnya pada udara bergerak itu didapat cepat yang lebih dari pada
aether yang hening, tetapi Michleson “tidak mendapat kelebihan itu”.
(Pembaca mesti perhatikan,bahwa Fizeau sebagai penglihat berdiri
diluar arus air, sebagai “jalan yang bergerak” (bewegten Medium).
Perbedaan pendirian kedua para ahli ini memang penting sekali. Dari
perbedaan pendirian sipemandang itu Einstein mencabut undang yang
penting pula.
Tegasnya, sebagai Thesis (pokok perkara):
Fizeau mendapatkan “tambahnya” cepat cahaya pada arus air kalau dibanding dengan cepatnya cahaya pada air tenang.
Sebagai Anti-thesis (kebatalan).
Michelson “tidak” mendapatkan tambahnya “cepat cahaya” itu pada
udara bergerak kalau dibandingkan dengan cepatnya cahaya pada “aether”
yang disangka tenang hening itu.
Dibelakang hasil pengalaman kedua para ahli ini, kita dapati pertentangan dasar, yang terdapat pada Ilmu Mekanika (kodrat) dan
Optisch-Listerik-Magnestisch.
Ilmu Mekanika dipuncakkan pada undangnya Galilei dan Newton. Ilmu
Optisch-listerik-magnetisch dipuncakkan pada formulanya Maxwell dan Hertz.
Formulanya Maxwell dan Hertz tentang elektro dynamika mengandaikan bahwa:
cepatnya cahaya itu ditempat yang kosong, tetap
tak berubah. Cepat cahaya pada tempat itu, V itu, tak memperdulikan
geraknya badan yang dilalui oleh cahaya itu. Tak perduli dari “sistem”
(sangkutan) mana siperalam memandang, atau dari “sumber” mana datangnya
cahaya itu, “nilai” yang didapat tinggal tetap.
Tetapi ketetapan cepat cahaya yang didapat oleh elektro dinamik itu,
buat “semua” sistem itu sama sekali bertentangan dengan dasar
relativitynya para ahli Galilei dan Newton tentang Ilmu Mekanika.
Menurut Galilei Newton, maka semua undang geraknnya sesuatu benda
yang beralku terhadap “Sangkutan K” (Sistem K), ini juga tetap berlaku,
kalau orang pindah pada “Sangkutan K”. (Sangkutan K diandaikan bergerak
sebentuk dengan “Sangkutan K”, yakni “sama berhenti” atau “serata
cepat berjalan”.
Dalam perpindahan dari Sangkutan K ke K itu berlaku formula.
Galilei-Newton: XI = X – vt, Yl = Y, Zl = z;
V itu ialah kecepatan yang tetap dari K terhadap K, sejajar, paralel dengan sumbu K dan X.
Pada formula lama ini jga termasuk penjelmaan tempo t’ = t (penjelmaan t ini tak begitu pasti).
Inilah formulanya ahli mekanika, Galilei-Newton itu. Tetapi formula
mekanikanya Galilei-Newton ini gagal, aklau dilaksankaan pada
Electro Dinamik. Hukumnya
Grundegleichungen Electro
Dinamik itu berubah bentuknya, kalau dipindahkan dari Sangkutan
(koordinasi) s, y, z, t kesangkutan x’, y’, z’, t’, . Hukumnya
Elektro Dynamic itu takluk lagi kepada Undangnya Galilei-Newton.
Hertz yang mencoba mendamaikan undangnya mekanika itu dengan undangnya
Electro Dynamic, dengan peralaman, tiadalah berhasil. Begitulah “Ketetapan cepatnya cahaya” menurut
Elektro Dynamic
bertentangan dengan dasar relativitynya mekanika. Sebagai thesis kita
jumpai teori mekanika itu Electro Dynamik, dengan peralaman, tiadalah
berhasil. Begitulah “Ketetapan cepatnya cahaya” menurut Elektro Dinamik
bertentangan dengan dasar
relativitynya mekanika. Sebgaai
thesis kita jumpai teori mekanika Gelilei-Newton. Sebagai anti-thesis
kita bertemu dengan teori ketetapan cahaya pada Maxwell-Hertz yang
gagal, kalau-kalau dilaksanakan pada formulanya Galilei-Newton. Dari
pertentangan ini ktia akhinrya mendapatkan
synthesis pada teori relativietinya Einstein.
Tetapi sebelum sampai pada Einstein kita mesti lebih dahulu singgah pada Minkofsky dan Laurentz orang Belanda yang ulung.
Galilei dan Newton memang ahli tua dalam mekanika. Tetapi jago
tuapun pada temponya mesti menyingkirkan diri, karena didesak kemajuan
zaman.
Dalam semua perhitungan, maka Gelilei-Newton, masing-masing
mengikutkan perhitungan itu pada benda tetap berhenti. Buat Copernicus
benda tetap berhenti ialah Matahari. Begitulah buat Galilei-Newton
benda-tetap-berhenti ialah Matahari. Begitulah buat Galilei-Newton
benda-tetap-berhenti itu ialah bintang-tetap-berhenti. Pada
benda-tetap-berhenti diawang-awang inilah perhitungan dan undang
gerakannya benda disangkutkan. Disanalah didapati benda yang tetap
berhenti yang dijadikan sangkutan buat segala benda yang bergerak.
Maknanya
realtivity mekanika lama mneurut Galilei-Newton itu
ialah perhitungan yang berdasarkan sangkutan tetap, sangkutan tak
bergerak. Relatief itu artinya juga bersangkutan dengan sesuatu bukan
kesungguhan kesendirian.
Seperti sudah kita uraikan dibagian Alam Raya, maka benda yang tetap
berhenti itu “tak” ada. Kita lihat matahari itu berputar juga
mengelilingi sumbuny asendiri. Begitu juga yang selamanya ini dianggap
bintang-tetap-berhenti, sekarnag diketahui tetap berputar mengelilingi
sumbunya.
Cocok dengan dasar tetap-berhenti itu pula, kita pelajari disekolah
sistem kordinasi, yang saya terjemahkan dengan kata sangkutan tempatnya
satu benda atau titik, diawang-awang di sangka ditentukan oleh 3
dimensi (besaran) ialah panjang, lebar, dan tinggi (x, y, z) seperti
kita ketahui bahwa sesuatu badan itu ditentukan oleh 3 dimensi tadi.
Benda itu disekolah kita pisahkan betul-betul dengan tempo (t). Begitu
juga ruang (space) itu, baik yang ditempati oleh benda ataupun kosong,
bukanlah tempo. Jumlah ruang dan tempo kita ciptakan dengan x, y, z, t.
ini cocok dengan Logika Lama, Logika terpisah; a itu bukan Non a.
Tetapi kata minskofsky, belum seorang juga yang mengingat ruang itu,
dengan tidak mengingat tempo. Sebaliknya tak seorangpun yang mengingat
tempo dengan melupakan tempat. Maknanya ialah, seorang yang mengukur
tempat (ruang), menyangkutkan ukuran tempat (ruang) itu pada tempo,
umpamanya: 6 KM dijalani dalam 1 jam. Seorang yang mengukur tempo,
menyangkutkan tempo iut pada tempat, umpamanya: 24 jam lamanya matahari
itu berputar dari satu titik kembali ke itu titik pula atau 12 jam
lamanya jarum pendek itu beredar dari angka 12 kembali ke angka 12 itu
pula. Begitulah perpisahan pasti diantara tempat dan tempo itu, tak ada
lagi pada jurang perpisahan tempat yang berdimensi 3 itu dengan tempo
yang berdimensi satu itu sudah ditimbun. Ruang dan tempo yang berjumpa
empat (4) dimensi itu pada perhitungan yang tinggi sudah dilebur
menjadi satu “seluk-belukan” seperti x’, x”, x’”, dan x””.
perhatikanlah pada 4 dimensi lama, huru fiut berbeda-beda, ialah x, y,
z, t. tetapi pada 4 dimensi baru, huru fitu x semuanya, Cuma ikutannya
yang berlain-lain: 1, 2, 3, 4. Disini a itu bisa non a, seperti
hukumnya Dialektika. Disini x’,x” x “’ sebagai dimensinya benda dan
ruang, boleh dijadikan sangkutan (sistem)
coordinates. Tetapi
x”“ juga boleh dipakai. Tak ada lagi benda yang tetap, yang tak
berubah, yang boleh dijadikan sangkutan. Baikpun benda dengan 3
dimensinya ataupun tempo dengan satu dimensinya boleh dijadikan
sangkutan x’, x”, x”’, x”“ mesti dianggap sebagai “ikutan” (continue)
saja. Tak ada diantara yang lbeih dari yang lain buat dijadikan
sangkutan, seperti Mataharinya Copernicus atau bintang tetapnya
Galilei-Newton. Teori lama memastikan, menetapkan tiada berubah ruang,
ialah tempat dan tempo pada sesuatu sangkutan yang kita peroleh dengan
ukuran itu (meter, jam, dsb). Tetapi relativity baru mengajarkan bahwa
nilainya ruang atau tempat dan tempo itu berubah. Karena ukurannya,
ruang, atau tempat dan tempo itu berubah. Karena ukurannya, ruang,
tempo dan tempat seperti meter dan jam itu sendiri pada satu sangkutan
sistem tiadalah boelh dianggap tetap dan syah buat semua sangkutan,
dimana sesuatu pengukuran dijalankan, 1 meter pada satu sangkutan
tiadalah 1 meter pada sangkutan lain. Dan 2 jam pada satu sistem
tiadalah 2 jam pada sistem lain (menurut hypothesisnya Laurentz pada
tahun 1904, bahwa sesuatu barang bergerak dengan kecepatan V,
disangkutan pada aether tentang, menjadi lebih “pendek” menurut
perbandingan 1:
Vl -
v²

c²
Begitulah menurut Laurentz, panjangnya, isinya, bentuknya,
kodratnya, hawanya dll sesuatu benda berlainan kalau diukur pada
berlain-lain sangkutan. Persoalan baru yang timbul ialah: Menurut
Undang manakah “penjelmaan nilainya sesuatu” nilai benda dan tempo itu
berlaku kalau pengukuran dipindahkan dari satu sangutan pada sangkutan
yang lain yang gerakannya sebentuk dengan yang pertama (Gleich forniger
tranzlations bewegung). Pada formula manakah bisa didapati ke-Esaan
dari perbedaan itu? Ke-Esaan itu, penjelmaan itu berlaku menurut
formula Laurentz yang termasyhur:
x – vI

x ‘ =
Vl -
v ²
c ²
y ‘ = y
vx

z – t -
c ²

z’ =
Vl -
v ²
c ²
Pada formula Matematika diatas ini kejadian Fisika mendapat
kecocokan. Menurut formula diataslah penjelmaannya nilai,benda dan
tempo berlaku, kalau peralaman dipindahkan dari sangkutan K ke K’, yang
bergerak sebentuk dengan K. semua perbedaan hasil perhitungan, pada
bermacam-macam sangkutan, hilang lenyap, kalau dimasukkan pada formula
Laurentz ini. Seolah-olah perbedaan semua sungai hilangs esudah
bermuara dilatuan. Pada formula Galilei-Newton undangnya
Elektro-Dinamik, yang mengandaikan tetap cepatnya cahaya berpancar,
menerita perubahan, kegagalan. Tetapi para formula Laurentz diatas
Undangnya cahaya itu berpencar mendapat kecocokan. Formlanya
Maxwell-Hertz tiada cocok dengan formulanya Galilei-Newton, formula itu
cocok dengan formula Laurentz. Jadi
relative menurut
pengeritan lama (Galilei-Newton) ialah berhubungan dengan satu
sangkutan tetap berhenti. Relative menurut pengertian baru (Minkofsky,
Laurentz), ialah bersangkutan dengan “sembarang” sangkutan:
sangkut-menyangkutnya masing-masing sangkutan, yakni, tak adanya
sangkutan yang tak bersangkutan.
Syahdan Albert Einsten juga bersangkutan pada Minkofsky-Laurentz dan
ini pada Mawell-Hertz tadi. Teori Enistein itu berdiri atas 3 tiang
yang kita kenal juga pada tulisan terakhir ini.
- Cepat cahaya itu berpancar, pada sembarang sangkutan yang
salah satunya bergerak sebentuk terhadap yang lain, adalah tetap
(constant). Dia (ketetapan) itu tiada memperdulikan gerakan sumbernya
cahaya itu ataupun geraknya sipemandang.
- Pendirian si pemandang, berhubung rapat sekali dengan hasil asli pemandangannya. Hasil
yang diperoleh, kaau sesatu kejadian itu juga dipandang dari berlainan
sangkutan ynag bergerak, berlain-lain pula. (Pada buku “Allgemeine
Relativitat”), undang ini mendapat terjemahan baru. Disini
kecepatan cahaya itu bergantung pada kodrat besar Gravitations potential. Jadi kecepatan cahaya itupun relative bersangkutan pula.
- juga pemeriksaan yang berhubungan dengan ilmu cahaya dan
penglihatan (opties), tiada membuktikan adanya sangkutan yang tetap
berhenti. Ini berarti bahwa tiadalah ada satu sangkutan pun yang
berhak lebih dari yang lain, yang juga bergerak berbentuk atau
(gleichmassig und gradlinig) dengan yang bermula.
Jadi menurut kurung tiga derajat ini, semua hukum alam (tidak saja
undang mekanika) boleh mengambil sembarang sangkutan buat
sipemandangnya. Diantara 2 sangkutan bergerak sebentuk terhadap yang
lain tak ada berhak “lebih”. Ketiga simpulan ini dikutip dari Der
Grosse Brockhaus. Dmeikianlah ringkasnya menurut pemandangan saya
dibelakan pertentangan antara Fizeau, sebagai pokok perkara, dan
Michelson sebagai kebatalan, kita berjumpa dengan Galilei-Newton
sebagai thesis dan Maxwell-Hertz sebagai anti-thesis. Pertentangan itu
diperdamiakan oleh pembatalan kebatalan Minkofsky, Laurentz yang
berpuncak pada Einstein.
Disini ketetapan pancarnya cahaya pada satu kutup menurut
“Spezielle” bukan “Allgemeine Relativitats Theorie” dan ke “tak”
tetapnya sangkutan, bergeraknya sangkutan dan berubahnya ukuran benda
dan tempo pada lain kutub mengadakan “setimbang” seperti “proton dengan
elektron”, K yang sudah kita kenal. Seperti setimbangnya “ketetapan
pancar cahaya” dan “ke-tak-tetapan sangkutan” tempo bertubuh pada
sesuatu kejadian alam.
Tetapi janganlah pula dianggap, bahwa formula Galile-Newton itu sama
sekali asing dari formulanya Laurentz umpamanya. Ahli ulung seperti
Galilei-Newton yang bertachta diatas singgasana Ilmu, berpuluhan
ratusan tahun dengan taida mendapat bantahan berarti, tentulah tiada
bisa sesat sama sekali. Sekarang formula Galilei-Newton boleh dianggap
hal terkecualinya formula Laurentz.
Kalau V diandaikan begitu kecil kalau dibandingkan dengan cepatnya
cahaya V, C dan V2/C2nya formula Laurentz: praktisnya berarti = O
(cocok dengan pemandangan Engels terhadap sejarah), maka teori
Galilei-Newton juga dianggap mesti sebagai “postive result”, hsil yang
pasti. Tadi saya katakan, saya beruntung mendapatkan buku tentang
Relativietitnya Einstein. Buku itu melaksanakan undang Dialektika pula,
walaupun Dialektika
Idealistic. Sekarang, sesudah mendapat
pengalaman pahit, saya mesti ubah persangkaan saya itu. Sekarang saya
rasakan peluh payah saya mencari “bahan” buat teori yang bukan makanan
otak biasa atau otak yang sudah mendapat latihan luar biasa pun, ialah
teori
Relativiteitnya Einstein. Seperti sudah saya bilang banyak pengarang tentang teori itu, yang mengaku tiada sanggup mendefinisikan teori
relativity
itu. Apalagi saya bukan ahli, dengan tergopoh-gopoh buat tulisan
tersambil pula mesti menimbang bahannya teori Einstein dari bangunan
seseorang yang berpandangan idealistis. Bahan yang saya cari, korek
dari bangunannya Cassirer itu, sudah ditaruh, diketam dan disusun
menjadi gudang menurut pemandangan seorang tukang yang idealistis.
Sering bahan itu tak dikenal lagi! Dari bahan itu saya mesti bikin
bangunan yang pendek dan teratur atau sistematis dan mudah dimengerti
pula. Pembaca janganlah gusar kalau ada yang kurang. Melainkan harus
bertambah giat buat mempelajari dari sumber asli atau sumber turunan
yang diakui. Tetapi tiadalah susah menantang pahamnya penulis tadi
tentang filsafatnya teori
relativity itu. Dan inilah pokok
maksudnya tulisan ini tiadalah perlu dan tak pada tempatnya seluruh
langkahnya diikuti. Cukuplah kalau beberapa langkah saja kita ikuti dan
selidiki seluruh silat dan pencaknya cocok dengan beberapa langkah yang
akan saya kemukakan disini, lagi pula langkah yang akan kita selidiki
itu cocok pula dengan silat dan pencak para ahli filsafat idealistis
sejawatnya.
Kata Cassirer:
……………….. pemandangan “teori pikiran” (Erkenntnis Theoritisch!).
- Dimasa itu dimana-mana membawa kita pada paham, bahwa yang
oleh bermacam-macam itu dinamai “benda” (Gegenstand) bukanlah barang
yang selamanya tetap sendirinya, melainkan pada tiap-tiap tempat
lebih dahulu ditentukan oleh “pikiran” (terjemahan bebas halaman
13).
Madilog:
- Pemandangan Madilog dimana-mana membawa kita kepaham, bahwa benda itu tetap, pikiran
manusia yang menterjemahkan benda itu yang menghampiri paham yang
sebenarnya tentang benda yang tetap pasti tadi selangkah demi selangkah
dalam sejarah pikiran yang masih pendek ini.
Kata Cassirer:
- “…………….. juga pengukuruan yang paling mudah (dengan Meter.
K.G, jm dsb) mesti berdasar pada andaian teori yang tentu, pada
dasar (principien) persangkaan (hypothesen) atau bukti nyata (axioma),
yang tiada diperoleh dari dunia yang boleh diperalamkan, melainkan
andaian pikiran (postulate) yang mesti dibawa kepada dunia” (hal
4).
Madilog:
- Pada pemulaan sejarah manusia, ukuran seperti hasta, jengka,
tengah hari, setahun jagung dsb itu langsung mendapatkan undangnya
sendiri, dari badan dan jiwanya ilmu itu sendiri, undang ini merupakan
dasar (principien), persangkaan (hypothesis) atau bukti nyata
(axioma). Pada tingkat ini mulai perlantunan terjadi. Manusia mulai membentuk ukuran
bermula dalam kepalanya, beurpa dasar persangkaan dan bukti nyata yang
baru. Tetapi bagaimana juga semua bentuk pikiran itu mesti cocok
dengan benda-yang-nyata. Semua principien, hypothesis dan axioma mesti dilempar pelantingan, kalau tak mendapatkan dasar pada peralaman.
Kata Cassirer:
- Bukanlah dasar dan jam dan ukuran benda, melainkan dasar dan
andaian pikiran yang sebetulnya dan pada titik terakhirnya yang jadi
perkakas pengukur (Hal 20).
Madilog:
- Bukanlah dasar dan andaian pikiran “ansich” sendirinya yang
sebetulnya dan pada titik terakhir yang jadi perkakas pengukur.
Melainkan dasar dan andaian pikiran yang bisa disyahkan oleh peralaman dan alam.
Kata Cassiner:
- “Teori relativity mengajarkan kepada kita bahwa buat sampai
kekejadian alam yang sebenarnya dan tunggal, maka nilainya ruang
dan tempo yang kita peroleh dan dengan pengukuran pada satu sangkutan,
tiadalah bisa dari mana perhitungan itu dijalankan”. (Lihat 3 hal
28).
Madilog:
- Menurut teori relativity lama ialah pahamnya
Galilei-Newton, maka nilanya pengukuran yang didapat pada satu
sangkutan dianggap hasil yang tunggal dan umum-sahnya, akrena pada
masa Galilei-Newton, sangkutan pada matahari tetap dan (bintang
tetap) itu dianggap tetap tunggal dan umum sahnya. Tetapi menurut
peralaman dan pengetahuan baru, maka matahari dan bintang yang dianggap
tetap itu sendiri, tetap bergerak. Demikianlah pula sangkutan pada
Matahari yang selamanya dianggap tetap, tunggal dan sah itu,
sendirinya takluk pada pergerakan.
Sekarang sembarang sangkutan mesti disangkutkan pada sangkutan lain. Jadi
teori sangkutan tetap, bertukar menjadi
teori sangkutan bergerak.
Pikiran zaman baru berhubungan dengan masyarakat baru menciptakan
teori itu bermula dalam kepala manusi, tetapi ciptaan itu memang
bayangan keadaan alam yang sebenarnya dan mesti disahkan oleh alam dan
peralaman.
Kata Cassirer:
- “Sekarang kita akui, dimana “ketetapan” (Konstanten) yang
sebetulnya dan terakhir, dimana letaknya sumbu (angelpunkte)
berputarnya semua kejadian. Dia itu bukannya benda yang ada, yang
sebagai sangkutan yang terpilih diantara yang lain-lainnya,
seperti sangkutan matahari buat Copernicus dan bintang tenang
tetap buat Galilei-Newton (hal 117).
Madilog:
- Sekarang kita akui dimana “ketetapan” (Konstanten) yang
sebetulnya dan terakhir, dimana letaknya sumbu berputarnya semua
kejadian alam. Dia itu “tetap” benda sebagai sangkutan, tetapi
bukan sangkutan yang terpilih, melainkan sembarang sangkutan,
karena tiap-tiap sangkutan itu berada dalam pergerakan.
Kata Cassirer:
- “Yang sebetulnya tak berubah itu, tak pernah sesuatu benda,
melainkan Cuma perhubungan dasar dan sangkutan yang berseluk-beluk
(funktionale anhangigkeiten) yang dalam Matematika dan Physika kita
ciptakan dengan formula.”
Madilog:
- Perhubungan dasar dan sangkutan yang berseluk-beluk yang
dalam matematika dan Fisika kita ciptakan dengan formula, yang olah
Idealis dianggap sebetulnya “tak berubah” itu, ialah gambaran
perhubungan serta seluk-beluknya benda dalam gerakannya yang tak
putusnya itu, pada tingkat pengetahuan manusia yang terakhir ini.
Kata Cassirer:
- Atom itu diandaikan oleh Demokrit (dalam pikirannya) sebagai
benda alam yang tetap dan terkecil, lama sebelum pikiran
mendapatkan jalan buat membuktikannya. Sebenarnya pembuktian itu, dalam
arti yang pasti baru pada pemrulaan Kimia modern dijalankan,
sebagai penglaksanaan hukum “multiple Proposition”. (Undang
Dalton, yang sudha kita kemukakan pada permulaan buku ini).
Madilog:
- Memang Demokrit, ialah seorang madilogis yang paling
sederhana tetapi paling jitu, diempat penjuru alam, pada zaman hidupnya,
malah dimasa lk 2500 tahun sesudahnya. Karena tanggapan tepat caranya Demokrit berpikir, maka dia bisa menyelami Atom, ialah benda terkecil itu lk 2500 tahun sebelumnya benda terkecil tadi disaksikan dengan teropong.
Bukanlah satu atau dua perkara lain saja yang berhubungan rapat
dengan Relativitynya Einstein dalam buku “Zur Einsteinschen” …… itu,
yang bisa ktia ambil contoh, buat diuji dengan batu ujian filsafat.
Perkara “ruang dan benda”, perkara “benda dan kodrat”, perkara “kodrat
berat dan cepat bertambah”, perkara “Matematika Euclid ………..” Semuanya
menarik hati, penting buat kecerdasan, dan tiada susah memahamkan dan
menguraikannya.
Tetapi apa boleh buat, buku ini sudah terlalu lebih panjang dari
yang dimaksud bermula. Lagi pula dengan dan nyanyinya Caassirer
tehradpa persoalan semua perkara diatas sama seja. Seprti pada contoh
diatas, ialah tentang teori
Relativity, Cassirer, seperti kawannya yang lain-lain memajukan pikiran sebagai asal pembentuk semua
axioma, postulate, hypothesis
dan teori itu, demikianlah dalam semua pula Cassirer lupa menantang
lawannya, ahli filsafat, materialis, yang disindir, dicemohkan dengan
perkataan filsafat berdasarkan “kenyataan keanak-anakan” (naif
dinglichen) “benda keanak-anakan” (naif sinnlichen).
Teori Relativity membatalkan dasarnya
Geometry Euclid, yakni
ukuran tetap, tongkat yang tetap panjangnya pada semua tempat dan
tempo serta membenarkan “sangkutannya” ahli Matematika Gausz yang
berdasarkan garis melengkung.
Formula
Gausz maka linien-elements (garis unsur) menurut Konitunya
Euclid
menjadi hal terkhurus. Semasa kejadian itu menurut Cassirer ialah
berbentuk otak, bikinan pikiran. Bukanlah bayangan (abbild) kejadian
alam dalam otak manusia. Filsafaat yang begini, menurut Cassirer
keanak-anakan, naif.
Fisika menurut teori
Relativity juga membuktikan kebenarannya keadaan didalam ruang kalau kita bersandar pada 4 dimensinya
Non-Euclid. Begitu juga jumlah 3 sudut dalam segitiga itu menurut
Geometry Non Euclid
tidak 180º. Semuanya ini menurut Cassirer bukan hasilnya bayangan
benda atau kejadian alam dalam otak manusia, melainkan pikiran
semata-mata.
Cassirer bersibodh saja atau melupakan bahwa
axioma, hypothesis atau teori itu pada satu tingkat kemjuan kebudayaan, mesti bersandarkan pada alam dan peralaman.
Tidak saja tongkat yang bergerak itu menderta kependekan menurut
formula laurentz, mesti cocok dengan alam dan peralaman, tetapi
perintis
Non Euclid yang pertamapun mencoba menguji Teori ke Praktek.
Labatschefsky menguji kebenaran “ruang” menurut paham
Non Euclid
itu. Dia ambil segi-tiga E, E, S. sebagai lantai E, E, dari segi-tiga
tadi dia pakai garis tengah (diamterinya) lingkaran yang diedari oleh
bumi dikeliling matahari dalam setahun (Erdsahn). Puncak segi-tiga tadi
ialah bintang Sirius.
Peralaman Labatschefsky membenarkan ruang yang beralasan Non Euclid.
Tetapi kalau lingkungan itu diandaikan Oº, maka dasar Euclid juga
berlaku. Jadi dasar Euclid menjadi hal terkhusus.
Jadi dasarnya Matematika
Non Euclid itu tiadalah timbul semata-mata dalam otaknya seseorang pemikir belaka dengan tiada memperdulikan riwayatnya
Science sama sekali. Kemudian tidak pula dasar, yang berupa
axioma, hypothesis dan
postulate
itu, diambil begitu mentah-mentah saja oleh para ahli lain. Melainkan
diuji lebih dahlu dengan alam dan peralaman. Baru kalau cocok dengan
alam dan peralaman, disyahkan ……….. buat sementara waktu. Apabila besok
atau lusa didapati dasar baru, yang cocok dengan alam dan peralaman
pula dan lebih jitu dari yang sudah-sudah, maka dasar baru inilah pula
yang diaku buat sementara waktu lagi. Dsar yang penghabisan, ungugl,
tunggal dan tetap tak ada dalam Dunia dan Masyarakat yang tetap
bergerak ini. Yang tetap tak berubah itu ialah ketetapan berubah. Cuma
otak beku dari satu Masyarakat beku yang bisa mengakui ketetapannya
“tak berubah” itu. Dan Pengakuan tetap tak berubah itu memangnya
menandakan kebekuan sesuatu Masyarakat itu pula.
Einstein sendiri yang menurut Cassirer sendiri membaca
copy bukunya Cassirer itu “rupanya”
bisa diperdayakan.
“Rupanya” Einstein membenarkan pendiriannya idealis Cassirer itu.
Walaupun dalam Physika Einstein berpendirian materialis, tetapi dalam
filsafat rupanya berpendirian filsafat resmi, ialah filsafat borjuis.
Bukan Einstein saja yang bersikap begitu.
Dicatat oleh Cassirer beberapa kalimatnya Einstein yang penting
berbunyi: “Sesuatu pengertian itu nyata (existiert) kalau ia memberi
kesempatan buat dibuktikan”.
“Tiap-tiap penerangan (paham tentang kejadian alam baru cocok dengan
teori pikiran, apabila dalam penerangan tadi tak ada yang lain masuk
kedalamnya, meliankan segala perkara yang nyata” (Beobachtbare
Elementen).
Diatas saya tulisakan, bahwa Einstein “rupanya” membenarkan
filsafatnya Cassirer yang beralasan idealistis itu. Saya belum pernah
membaca filsafatnya Einstein sendiir. Tetapi akibatnya dua kalimat yang
diatas saja dengan tepat dan langsung membawa Einstein kebarisan
materialis. Menurut kedua kalimat diatas, maka paham atau pengeritan
yang nyata dan benar menurut
Science itu, ialah paham atau pengertian yang berdasarkan yang nyata, artinya yang bisa dipancainderakan. Ini cocok dengan Madilog.
Bagaimana juga paham Einstein yang disimpannya dalam otaknya itu, seperti
Scientist
lain dalam masyarakat Borjuis dia mesti menganggap paham filsafat dan
agama resmi (opisil). Einstein juga menerima upah kerjanya dair
pemerintah Jerman, ialah pemerintah Rakyat Kristen. Paham Einstein yang
sebebarnya yang terpendam dalam otaknya itu boleh jadi muncul keluar,
ia mesti muncul keluar, kalau seandainya Einstein bekerja dalam
Masyarakat Russia Komunis. Disini tidak saja ia tak pelru takut
membiarkan pahamnya, kalau materialistis itu keluar dari batas giginya.
Malah hal ini akan mendapatkan penghargaan dan kehormatan besar dari
pemerintah disana. Materilis atau tidak, kebangsaan Einstein menjatuhkan
dia dari
singgasana pengetahuan, dan melemparkan dia keluar Negara Jerman yang lama dan banyak menerima jasanya sebagai ahli Fisika dan Matematika.
Scientist Dunia pernah dengan resmi mengaku keulungan Einstein. Pada Teori
Relativitynyalah boleh dibilang
Science Zaman sekarang berpuncak.
Syahdan maka kalau kita kaji dalam semua “caranya” ilmu ini
berjalan, maka kita berjumpakan banyak persamaan dengan caranya Logika
dan Dialektika yang berdasarkan Materialistis dengan Madilog.
Kita cantumkan buat penghabisan artinya Madilog, ialah “cara
berpikir yang berdasarkan Materialisme Dialektika dan Logika, buat
mencari akibat yang beridri atas bukti yang cukup banyaknya dan cukup
diperalamnkan dan diperamati”. Begitu saya tulis pada kira-kira
pertengahan buku ini (hal ….) ialah seblum saya mendapatkan dua kalimat
Einstein diatas yang dicatat oleh Cassirer tadi.
Kalau diingat pula bahwa buat Dialektika A itu boleh Non A, bukan
lagi seperti dalam Logika A itu tetap A, kalau kita peringatkan pula
Undang Dialektika itu berlaku dalam keadaan yang mengandung 1. tempo, 2.
pertentangan, 3. gerakan, 4. perkara seluk beluk dan akhirnya kalau
kita jumpai dalam teori Relativity itu berkali-kali hampir dalam semua
hal berlaku A itu boleh Non A,
ya itu boleh
tidak,
sangkutan ini boelh, sangkutan itu boleh, sembarang sangkutan, akrena
semua sangkutan itu bergerak, dsb ….. pendeknya kalau Madilog kita
bandingkan dengan Teori Relativity itu, maka boleh kita simpulkan:
- Dasar Teori Relativity, bahwa semua sangkutan itu bergerak adlaah cocok dengan Madilog.
- Pergerakan semua sangkutan itu pada penghabisan kaji,
tiadalah terdapat pada pikiran manusia, seperti kata Cassirer & Co,
tetapi pada benda di Alam Raya, dimana semua benda takluk pada
gerakan.
Boleh dikatakan selalu Cassirer bersandar pada ahli Filsafat Kant.
Seperti sudah kita bilang, Kant, tidak terus lalu (konsekuwen) seperti
Hume. Kant berhenti setengah jalan, selslu terganggu oleh rintangan
benda ia, pikiran ia “wenn und aber” kalau dan tetapi. Filsafatnya Kant
bukanlah filsafat buat bertarung. Begitu juga Cassirer, berhenti
ditengah-tengah jalan.
Yang ditentangnya rupanya filsafat Materialisme lama, yang mekanis,
seperti didaerah L Mettoi dsb. Cassirer tak pernah mengemukakan paham
materialis yang dialektis, seperti Marx-Engels & Co. buat materialis
lama memang tak ada perlantunan. Semua pikiran itu ialha gambaran dari
yang nyata, dari benda. Tak pernah pikiran tadi melantun dan membentuk
kebendaan. Materialisme mentah itulah yangdikatakan bersifat
keanak-anakan oleh Cassirer. Dalam hal menentang materialisme mentah
itu Cassirer bersifat mentah pula: Ia pulangkan semua pada otak sebagai
sumber dari segala dasar pikrian dan peralaman.
Tetapi kalau dengan langsung dia bertanyakan, manakah yang dahulu dan mana yang kemudian,
pikiran itu ataukah
benda dan
kejadian (alam),
maka seperti gurunya Kant dia juga memakai “wenn und aber”, aklau dan
tetapi. Kata Cassirer pikiran dan benda semacam itu menjadi, “komplex”
sulit. Tak ada yang bisa menjawab dengan pasti
ya atau
tidak.
Jawabnya Cuma satu moment,s atu saat saja, seperti A itu boleh juga
tidak A. Buat ahli Fisika seperti Newton (terusannya Cassirer) tempat
dan tempo itu ialah barang yang nyata yang bisa diperalamkan. Tetapi
buat ahli filsafat seperti Bergson semuanya itu ialah barang impian
(fiction) dan buah pikiran semata-mata (abstraktion). Buat Cassirer
baikpun benda nyatanya Newton, ataupun buah pikirannya Bergson itu,
Cuma
moment, Cuma saat, yang mengalir yang tak bisa ditentukan mana yang dulu mana yang kemudian, mana yang betul, mana yang salah.
Disini Cassirer berlaku seperti Dialektis! Tetapi malangnya
Cassirer, dia tiada bersandar atas benda dan sejarah. Pertanyaan mana
yang dahulu dan mana yang kemudian, pikiran manusiakah atau benda dan
kejadian alamkah, ialah persoalan yang pasti yang bisa pula dijawab
dengan pasti. Disini ya ini Cuma berarti ya, dan tidak itu berarti
tidak. Disini A itu bukan Non A, karena persoalannya adalah pasti.
Science sudah menentukan hampir pasti, bahwa sejarah bumi
kita ini saja ada lk 3000 á 4.000.000.000 tahun lamanya. Sejarah
manusia dengan otak sebagai sarang pikirannya Cuma lk 500 atau 600
tahun.
Dengan pasti bisa ditanya dengan pasti pula oleh dijawab oleh
kanak-kanak pun: “Manakah yang dahulu dan manakah yang kemudian pikiran
atau kejadian Alam”. “Manakah yang dahulu teori Copernicus (hidup pada
tahun 1473 – 1543) atau Alam Raya?
Disini Cassirer tak bisa lari bersembunyi dibelakang “wenn und
aber”, ataupun Dialektika impian, ialha Dialektika Idealistis ………..
S I S A
Perkara 1. KEAJAIBAN ANGKA 0
“Dunia fana ini saja belum engkau ketahui. Apalagi dunia baka!”, kata Guru Asia, yang paling jujur dimata saya: Guru Kung.
Yang dekat, yang sudah diketahui itulah yang menakjubkan penulis
ini. Kejadian, kemuliaan dan kebesaran itu, buat saya ialah barang yang
sudah diketahui, atau mungkin bisa diketahui banyak dan sifatnya.
Keajaiban itu buat saya mestinya barang atau perkara yang mengandung
pengetahuan. Pengetahuan itulah buat saya pangkal serta ujung
keajaiban. Tak ada barang yang menakjubkan saya kalau barang itu belum
sedikitpun saya ketahui. Sebaliknya berapapun kecilnya barang yang
sudah diketahui itu, menakjubkan saya. Anak panahnya Seri Rama, yang
bernama Gondewati, yang bisa menjelma menjadi Naga atau jembatan,
menggelikan hati saya. Boleh juga menerbitkan kemarahan, karena
kepercayaan pada kesaktian semacam itu, yang bisa diperoleh manusia,
pada urat akarnya memadamkan semua hasrat dan minat terhadap Ilmu
Bukti. Kesaktian satu Nabipun, yang dipercaya bisa membawa terbang
melayang atau menghidupkan orang mati, tiadalah perkara yang
menimbulkan rasa ketakjuban saya. Malah sebaliknya! Bahkan semut kecil
yang mempunyai oragnisasi menjadi kukuh, setiap tempo dan tempat bisa
menarik perhatian saya dan menimbulkan bermacam-macam perasaan dan
pikiran yang hidup, dinamis.
Saya persilahkan tuan sebentar duduk bermenung! Ciptakan teropong
100 inchi (2,55 M) yang bisa melihat kesemua penjuru alam 500.000.000
tahun sinar jauhnya itu!
Saya katakan ciptakan! Karena kebanyakan diantara tuan tentulah tak
berkemujuran bisa melihat apalagi memakai teropong semacam itu!
Tuan pikirkanlah bahwa 1 tahun sinar bejalan melalui
6.000.000.000.000 mil. Bisakah tuan menggambarkan antara yang dilalui
oleh Sinar dalam 500.000.000 tahun yakni 500.000.000 kali
6.000.000.000.000 mil itu?
Dengan teropong tadi tak terpermanai banyaknyabintang, matahari,
bumi dan bulan yang bisa disaksikan. Daerah kita ialah alam matahari
dengan 9 buminya yang terutama. Tetapi Alam Matahari ini Cuma sebagian
kecil sekali dari Alam Bintang kita, yang bisa dilihat oleh teropong
raja tadi. Dalam Alam Bintang kita adalah 100.000.000.000.000 bintang,
matahari, bumi dan bulan, tetapi bukan satu saja Alam Bintang diruang
Alam Raya. Teropong tadi menyaksikan 100.000.000 Alam Bintang
(universes) 33 (o). menurut Ahli, rapatnya bintang pada tiap-tiap Alam
Bintang itu dipukul rata sama. Jadi tiap-tiap Alam Bintang yang
100.000.000.000 itu pukul rata mempunyai 100.000.000.000 bintang pula.
Bisakah tuan menggambarkan 100.000.000 kali 100.000.000.000 banyaknya
bintang, matahari, bumi dan bulan.
Tuan panggillah dihadapan tuan, Achmad dan Darmo. Dua pemuda teguh
tegap. Suruhlah berpegangan tangan. Darmo berputar mengelilingi Achmad
yang berputar mengelilingi dirinya sendiri, sambil memandang mukanya
Achmad.
Achmad menarik Darmo dan sebaliknya Darmo menarik Achmad. Kedua
berputar mengelilingi sumbu. Dengan begitu mereka mengadakan setimbang,
yakni setimbang dalam bergerak atau pergerakan yang setimbang. Begtiu
juga lakunya matahari dan bumi kita, Alam Matahari kita dan Alam
Bintang kita dsb. Tetapi jangan tuan lupa, bahwa, keadannya Achmad dan
Darmo tarik-menarik itu atau menarik dan menarik itu karena menarik
menuju satu penjuru sama dengan menolak dipandang dari penjuru
bertentangan, bahwa kodratnya Achmad dan Darmo itu bergantung pada
banyak dan sifat tulang dan dagingnya mereka pada masa-zatnya.
Begitulah kodrat matahari, bintang, bumi dan bulan yang 100.000.000 kali
100.000.000.000 juta itu bergantung pada jumlah zatnya. Jumlah zat
(massa) matahari kita saja sudah 332 kali jumlah zat bumi kita. Jumlah
zat Alam Bintang kita saja menurut perhitungan ahli sudah
160.000.000.000 kali jumlah zat matahari atau 332 kali 160.000.000.000
jumlah zat bumi kita. Jadi jumlah zatnya 100.000.000 Alam Bintang itu
lebih kurang 100.000.000 kali 332 X 160.000.000.000 kali zat bumi.
Menurut Ilmu Bukti sekarang maka kalau kodratnya proton kodrat
elektronnya 1 ons batu arang bisa ditpertempurkan, dan satu sama
lainnya binasa-membinasakan (neutralixing), maka kodrat yang bisa timbul
adalah 100.000 kodrat kuda. Sekarang saya persilahkan tuan
menggambarkan berapa kodrat kuda yang tersimpan dalam bumi kita,
matahari kita, Alam Bintang kita yang berjumlah zat sama dengan 332
kali 160.000.000.000 jumlah zat bumi kita, dan akhirnya kdorat yang
tersimpan dalam 100.000.000 Alam Bintang atau
Universe itu menjadi 100.000.000. kali 332 X 160.000.000.000.000 zat bumi.
Tuan kita tuan betul-betul duduk berhenti bermenung diatas kursi
menggambarkan angka diatas tadi. Sebenarnya tuan dengan kursi, rumah dan
tanah yang tuan duduki itu dengan bumi kita ini tak pernah berhenti.
Dalam satu tahun bumi kita mengedari matahari pada lingkaran yang
panjangnya 937.000.000 KM itu. Jadi kita dan bumi kita terbang
mengelilingi matahari dengan kecepatan 2.560.000 KM satu hari. Belum
lag isepatah kata di sebutkan, ialah dalam satu detik maka bumi kita
sudah terbang 18 mil. Masa dulu sampai zaman Galilei, Newton, matahari
itu dianggap berhenti. Tetapi ilmu sekarang menghitung kecepatan
matahari itu mengelilingi pusatnya ialah dekat bintang SAGITARIUS, di
Alam Bintang kita dalam 225.000.000 tahun.
Tuan ingat barangkali kalimat dalam buku contoh Indonesia, berbunyi:
bintang dilangit yang tidak tepermanai banyaknya! Pasti tuan tak bisa
menghitung bintang itu karena banyaknya dan karena rapatnya. Tuan tentu
menggeleng-gelengkan kepala, kalau mendengarkan ahli berbicara, bahwa
pertempuran bintang dan bintang itu boleh dikatakan perkara mustahil.
Tuan tentu bertanya dalam diri sendiri: Bisakah peredaran silang kilat
itu berlaku dengan rapi? Tuan mesti tahu bahwa karena jauhnay para
bintang itu dari kita, maka kelihatannya rapat dan kecil. Tetapi tuan
masih ingat, bahwa antara kita dan matahari kita, yang rupanya dekat
dan besarnya sedikit lebih besar dari kuwe ambon itu, adalah kira-kira
149.000.000 KM. Bintang yang paling dekat pada matahari kita ini,
adalah 25.000.000.000.000 mil, jauh antara satu alam bintang besar dan
alam bintang lain adalah 1.000.000 tahun sinar. Pada antara besar dan
alam kosong diantara bintang dan bintang itulah juta-jutaan badan
diruang alam itu, melakukan peredarannya menurut kodratnya
masing-masing. Sepanjang perhitungan Sir Jean Jeans, maka pertempuran
bintang dan bintang yang sebenarnya itu mungkin terjadi sekali dalam
600.000.000.000.000.000 tahun. Hal ini tak boleh jadi mengurangkan
tidur atau nafsu tuan makan, tetapi angka ber-0-nya Sir Jean boleh tak
bisa tuan gambarkan dalam pikiran.
Saya persilahkan tuan mendengar dan bermenung. Beberapa barisan
angka ber-0, yang sudah bersaf-saf, dimata tuan. Tuan tak bisa
menghitung sendiri banyaknya bintang dilangit itu. Malah taun tak bisa
menggambarkan semua bilangan itu dengan pikiran. Saya sendiripun tak
bisa. Pasti Sang Ahli sendiri juga tak bsia menggambarkan dalam
otaknya. Dalam hal ini barangkali kita Cuma duduk percaya saja pada
kebenaran perhitungannya.
Tetapi percaya dan percaya ada dua macam. Ajaib dan ajaib pun ada
dua macam. Pertama, percaya dan kagum atas sesuatu yang berdasarkan
bukti perhitungan dan Logika. Yang lain percaya dan kagum atas sesuatu
yang tiada berdasarkan bukti ataupun perhitungan dan Logika.
Kalau saya tanakan pada tuan berapakah orang dikepulauan Indonesia
yang sama banyak rambutnya? Tak mengerankan kalau tuan jawab t i d a k
ada. Dan seorangpun tuan tak bisa menghitung rambut penduduk Indonesia
yang 70.000.000 itu, walaupun perhitungan itu dijalankan semur hidup.
Tetapi perhitungan Logika bisa memberi keyakinan. Pertama tuan mesti
meandaikan banyak rambut yang paling sedikti pada satu kepala.
Umpamanya satu orang, jadi selainya orang gundul sama sekali. Kedua,
tuan mesti taksir berapa banyaknay rambut satu kepala yang paling
tinggi 100.000 kah? Terlalu banyak, kata tuan. Saya tambah lagi jadi
1.000.000. sekarang kita kumpulkan mereka yang berbeda-beda rambutnya
dari 1, 2, 3, ……..sampai 1.000.000 jadi kita peroleh satu golongan
terdiri dari 1.000.000 orang. Diantara 1.000.000 orang ini tak ada dua
orang yang sama-banyak rambutnya. Masih tinggal 70.000.000 – 1.000.000 =
69.000.000 yang belum diperiksa.
Kita bikin golongan kedua yang seorang berbeda banyak rambutnya
dengan yang lain. Kita dapati golongan kedua terdiri dari 1.000.000
orang pula. Begitulah buat 70.000.000 penduduk Indonesia kita dapati 70
golongan yang dalam masing-masing golongan berbeda-beda banyak
rambutnya.
Tetapi sekarang kita bandingkan golongan dengan golongan, yang
masing-masing terdiri dari 1.000.000 orang, dan berambut berbeda-beda
dari 1, 2, 3 …. Sampai 1.000.000 orang. Pda tiap-tiap golongan yang
jumlahnya 70 golongan itu, kita dapati 70 orang yang tak sama mempunyai
1 rambut, 70 orang pula yang berambut 2, 70 orang pula yang berambut 3
…..sampai 70 orang yag berambut 1.000.000. jadi dalam 70 golongan
adalah 70 x 70 = 4900 orang yang bersamaan rambut.
4900 orang yang sama banyak rambutnya ini kita peroleh dengan
“andaian”
yang seburuk-buruknya. Saya sendiri belum pernah berjumpakan orang
Indonesia yang berambut satu. Yang berambut 100 pun jarang didapat.
Kalau minimum (yang paling rendah) tadi, 1 tadi, kita naikkan jadi 100
maka kita memperoleh lebih dari 4900 yang bersamaan rambutnya. Puteri
Sokawali pun saya pikir tak cukup 1.000.000 banyak rambutnya. Cobalah
tuan cabut rambut tuan sampai 100.000 banyak rambutnya. Cobalah tuan
cabut rambut tuan sampai 100.000! Kalau tuan belum lagi gundul paling
sedikitnya sudah amat botak. Kalau maximum (yang paling tinggi) tadi
diturunkan, maka kita tentu melipat yang 4900 tadi. Lagi pula tentulah
lebih dari 70 orang yang sama-sama berambut 10.000, 9.000, 8.000, dsb.
Dalam hal ini angka yang kita peorleh berlipat ke 4900 lebih banyak
pula. Tetapi seandainya sebelum perhitungan Logika ini dijalankan dalam
ini angka yang beroleh perlipat 49000 ialah banyak pula.
Tetapi seandainya, sebleum perhitungan Logika ini dijalankan, saya
katakan, bahwa di Indonesia, di Jawa, malah di Jakarta saja mestinya
banyak orang yang sama rambutnya tentulah tuan tak percaya.
Begitu juga sifatnya kepercayaan yang ktia tumpahkan pada seorang
ahli dari Ilmu Bukti. Kalau tiada percaya, bukanlah kita tiada percaya
sama sekali seperti tiada percaya kepada seribu satu impian yang datang
dari kaki Gunung Himalaya. Kalau kita tak percaya pada perhitungan ahli
Bintang Barat umpamanya, maka kata percaya itu mengandung arti s i l a
p, yakni salah andaian (postulate), salah dasar (axioma), salah
pangkal (premis), salah persangkaan (hypohtesis), salah teori atau
undang, salah penglaksaan atau salah perhitungan. Semua kesalahan ini
besok atau lusa bisa dibetulkan atau diperkecil.
Kalau pada permulaan cerita, Arjuna yang mahasuci dan mahasakti, dari Kitab yang unggul kita baca, bahwa Sang Arjuna bisa
bersembunyi dalam subang bidadari, tetapi pada akhir cerita, Sang Arjuna tadi mesti menunggu
mulutnya
Raja manimantaka terbuka, buat dipanah, karena lima bagian badannya
raja Manimataka ini kebal, maka kita berjumpa dengan aliran pikiran,
yang bertentangan dengan common sence dan Logika pikiran sehat dan
undang berpikir. Orang sehat pikiran mesti bertanya: kenapa Sang Arjuna
tak sembunyi dalam roti martabaknya Raja Manimataka saja
............... Kemudian ya, kemudian sesudah mati, martabak itu
ditelan-sungkahkan oleh Manimataka itu Sang Arjuna dengan Panah Pasupati
dan laskar yang bisa disihirnya itu, bersorak-sorak atau menari
hula-hula, dari rangkungannya sampai keujung ususnya. Apa guna bagi
balatentara sebanyak itu, senjata lengkap buat pertarungan serupa
mati-matian seperti manusia biasa! Sambpai berkali-kali Sang Arjuna
mesti semedi? 1001 pertanyaan bisa dibikin, tetapi tak satu pun jawab
bisa masuk akal. Anak-anak atau orang dewasa yang dididik dengan cerita
keanak-anak,
nonsense, omong kosong boleh percaya, rusak
binasa kecerdasan inteleknya oleh cerita yang dipuja semacam itu. Hal
ini sudah lama dan sangat menyedihkan hati saya, karena hal ini
bergentung dengan politik semangatnya sebagian besar Rakyat Hindustan
dan Negara muridnya, ialah Indonesia. Cerita Hindu semacam ini, Ramayana
dan Mahabarata, yang jadi bahannya wayang itu tidaklah senilai dan
segolongan dengan cerita Arab 1001 malam. Bangsa Arab tidaklah lemah,
goblok bertahyul dan menganggap cerita itu sebagai kiasan saja ........
tak 1/1001 diantara cerita 1001 malam itu yang menjadi kepercayaan dan
haluan hidupnya Arab.
Keulungan cerita 1001 malam walaupun berasal dari Hindustan, terletak
kepada ketinggian pikiran yang bisa melayang. Buat bangsa Arab dan
Eropa, juga Tionghoa, yang berdiri dengan dua kakinya ditanah pada
dunia sebenarnya, dunia bukti, perlayangan pikiran itu, adalah satu
pertengahan .......... buat tamasya ketaman impian, fantasi, seperti
jasmani perlu olah raga, sport atau pelantunan sesudah mengerjakan
pekerjaan berhasil, begitu juga pikiran perlu beristirahat, dilayangkan
sesudah bekerja rapi teratur dan berdasarkan bukti. Bukanlah 1001
malam atau fairytales, cerita peri dan bidadari yang lain-lain itu
dianggap sebagai hasrat yang murni yang bisa didapat dengan jalan
semedi (tapa), yang mengambil hampir seluruh tenaga, pikiran dan tempo,
dengan hasil yang hampa.
Perkara 2. JIWA.
Tuan anggap jiwa itu seperti sesuatu yang terpisah, tunggal,
sendirinya, sesuatu anugerah yang diterima oleh manusia saja, akhirnya
sesuatu anugerah yang bulat sempurna. Ada diantara tuan yang percaya,
bahwa kalau seseorang mati, maka jiwa itu meninggalkan jasmani dan
melayang-layang dialam ini, seolah-olah seekor burung yang tak
bersarang. Ada pula diantara jiwa itu yang masuk kedalam badannya
binatang. Seperti harimau dan buaya. Ada pula yang percaya, bahwa jiwa
itu bersama-sama dengan jasmaninya orang mati tadi, berhenti-lena,
seperti dalam badannya orang tidur, menanti-nanti panggilan malaikat
sesudah hari kiamat. Kemudian pada sesuatu pengadilan akhirat akan
ditimbang kebaikan dan keburukan seseorang yang bersalah akan
dilemparkan kedalam api neraka, sedangkan yang baik akan dimasukkan
kedalam surga buat selama-lamanya. Ada pula yang percaya, bahwa jiwa
itu berpindah-pindah dari satu badan demi satu badan menurut kebaikan
atau keburukan seseorang didunia fana ini. yang berbuat baik, jiwanya
berpindah kejasmani manusia yang berkasta lebih tinggi kekasta yang
tertinggi dan akhirnya berada disamping atau lebur dengan maha jiwa,
Atman. Dia tak akan kembli lagi kedunia fana, kedunia rantai, kedunia
belenggu yang jahanam ini. yang berbuat buruk, jwianya akan berpindah
kebadan yang rendah demi rendah, dari kasta Paria, kasta terkutuk itu
sampai ke-anjing, babi, kera,atau ular, kodok, cacing dan sebagainya.
Tetapi dimanakah dan bilakah tuan berjumpa dengan sesuatu kodrat yang
t e r p i s a h dari benda, dan tiada menerima s i f a t – nya dari
sesuatu benda? Bukankah kodrat listrik: tersimpan oleh benda kimianya,
magnit pada besi beraninya, uap dan air mendidihnya, hidup pada
tumbuhan atau hewan dan jiwa pada manusia? Pernahkah tuan berjumpa
cahaya listrik, kalau tak ada awan dalam pabriknya, kodrat uap, kalau
tak ada air mendidihnya, hidup pada kayu mati atau pada bangkai
binatang atau jiwa pada mayat. Bisakah tongkat ditangan tuan berakar,
berdaun dan berbunga, dapatkah bangkai anjing tuan menggonggong atau
mencium kaki tuan, mayat anak tuan senyum dan memeluk leher tuan?
Sudahkah tuan pikirkan, dimana tempatnya, atau mestinya bertempat surga
atau neraka itu di Alam Raya kita ini? Pasti dalam daerah pemandangan
yang jauhnya 500.000.000 tahun sinar, atau 500.000.000 kali
600.000.000.000 mil, baik kepenjuru ats atau kebawah, kiri atau kanan,
muka atau belakang, Surga Loka atau Neraka itu tak akan terlihat dan
pasti tak akan kelihatan berapapun majunya perkakas memandang. Apakah
yang tuan maksudkan dengan hari kiamat itu pertempuran bintang dan
bintang atau bumi dan bintang? Kalau begitu, tuan tunggulah, tunggulah
dengan jiwa-lena itu 600.000.000.000.000.000 tahun lagi ...........
kalau terjadi pula.
Seseorang ahli Ilmu Bukti, bertumbuk dan bertentangan fahamnya, kalau
ia andaikan kodrat benda, hidup tumbuhan dan hewan serta jiwa manusia
itu, masing-masing dianggap satu anugerah yang tak
perduli-memperdulikan; satu anugerah yang tiba-tiba diberikan pada
masing-masing yang menerimanya dengan bulat sempurna. Ahli Ilmu Bukti,
mesti anggap kodrat hidup dan jiwa itu sebagai tingkat kemajuan, dari
jutaan tahun, yang terbawa oleh benda yang berhubungan dengan dalam
jutaan tahun itu pula; sebagai perubahan benda mati menurut undangnya
dialektika dan logika, dalam jutaan tahun sampai ketingkat yang hidup
dari sini sampai ketingkat manusia. Ada masa dan syaratnya benda hidup
dan benda mati itu tak bisa dipisahkan. Berhubung dengan itu, kodratnya
benda mati dan hidup atau jiwa itu tak pula bisa dipisahkan, melainkan
berseluk-beluk: yang satu mengandung yang lain: tingkat yang rendah
maju tumbuh ketingkat yang lebih tinggi dan tertinggi.
Jiwa itu pada zaman sekarang, malah dahulu pun sebelum zaman sekarang
tiadalah lagi sesuatu yang gelap sama sekali! Tuan juga sudah
mendengar dan barangkali sekali sudah mempelajari ilmu jiwa,
psychologie, jiwa itu sudah ditentukan oleh tiga corak, ialah:
Akal, perasaan dan
kemauan.
Dengan akal diketahui sifat dan banyaknay sesuatu barang.
Buruk-baiknya sesuatu kelakuan manusia, indah jeleknysa sesuatu barang,
senang susahnya sesuatu pekerjaan dll. Disaksikan oleh perasaan apabila
tuan hendak mencapai sesuatu maksud, maka tuan memuja kemauan tuan.
Sudah tentu akal, perasaan dan kemauan itu berseluk-beluk, karena
ketiganya itu bersumber dijiwa juga. Tidaklah tuan ingin mengetahui
sesuatu barang atau hal dan memakai akal dan pikiran, kalau barang atau
hal itu, tiada mempengaruhi perasaan buruk-baik, indah-jelek atua
senang-susahnya tuan. Tidaklah sebaliknya sesuatu barang atau hal
menyusahkan tuan, kalau tuan sama sekali tiada mengetauhi seluk-beluknya
barang atau hal itu. Akhirnya kemauan tuan dengan semangat hidup atau
mati, hendak mencapai sesuatu idaman, mustahil bisa timbul dan
bertambah kuat-kokoh kalau tidak disertai perasaan yang mendalam masuk
kehati sanubari tuan dan pengetahuan cukup tentang idaman itu sendiri
dan jalan mencapai idaman itu.
Sekarang saya bertanya: pernahkah tuan pusing kepala, sakit perut,
atau sakit gigi? Pertanyaan ini kecil rupanya, tapi besar akibat
jawabnya.
Seandainya tuan ditimpa salah satu dari penyakit yang belum boleh
dikatakan berbahaya ini, bisakah tuan dengan akal itu mempelajari teori
Pythagoras apalagi teori
RELATIVITY dari Einstein
dengan seksama seperti biasa? Bisakah tuan dengan perasaan itu kagum
indahnya awan berarak atau bulan purnama raya dengan waringin-songsang;
masih giat dna masih kuat kukuhkah kemauan tuan melanjutkan perlombaan
lari, berenang atau berjalan dari Jakarta ke Bogor itu?
Kalau seandainya ubkan semacam penyakit saja malah sakit kepala, gigi
dan perut, sekali jalan menggoda tuan bertambah naik atau bertambah
turunlah kecerdasan, perasaan dan kemauan tuan terhadap beberapa
perkara diatas tadi dan tiadalah susah menggambarkan wajah muka tuan,
kalau pengakit tiga serangkai tdi ditambah pula dengan demam panas atau
penyakit yang berbahaya seperti kolera dan
pest. Dalam hal
ini bagaimanapun kerasnya iman tuan atau manjurnya mantera yangtuan
sebutkan, pasti akal, perasaan, kemauan, trimurti, jiwa tuan itu berada
dalam antara a d a dan t i a d a.
Diatas kita saksikan penglaksanaan yang dahulu pernah kita uraikan
ialah Jalan Perubahan Bersama (Comitant Variation). Perubahan (sebab)
disertai perkataan (akibat). Perubahan keadaan jasmani disertai oleh
perubahan jiwa. Makin sakit jasmani itu makin sakit pula jiwa itu.
Sebaliknya dalam keadaan jasmani yang baik, barulah bisa diperoleh jiwa
yang sehat: Otak yang terang benderang, perasaan yang halus mulia
disertai hati gembira dan kemauan seperti baja, (Pada masing-masing
orang tentulah hal ini berlaku menurut pembawaan (aanleg) masing-masing
orang pula!).
Nyatalah pada contoh diatas terikatnya tersimpannya Jiwa itu pada
Jasmani tiadalah jiwa itu satu benda yang lepas dari jasmani dan tiada
memperdulikan hal ihwal jasmani itu. Sakit senangnya jasmnai berarti
sakit senangnya jwia itu pula. Betul pula tetapi tiada s e l u r u h n y
a, Cuma sebagai berlantunan, sakit jiwa terutama sakitnya perasaan itu
mempengaruhi jasmani pula. Rusuh remuknya hati tuan, malah seekor
anjingpun ................ karena kehilangan yang dicinta sayangi bisa
menghilangkan nafsu tidur dan makan minum tuan dan akhirnya menimbulkan
penyakit atau membawa tuan kepintu kubur.
Kalau sekiranya hal yang pilu sedih ini terjadi, bisakah tuan
berjumpakan jiwa yang tuan cintakan tadi atau bisakah tuan menjumpai
kembali kami, yang tuan tinggalkan? Bisa, kata setengah orang!
Tetapi malang y a n g s e t e n g a h o r a n g cuma mendengarkan
dari lain orang pula, Cuma percaya pula; atau tertipu oleh tukang sulap
yang bisa melakukan pada semua tempat, dan tempo dan bisa bergelangan
mata orang banyak dan bersuluhkan bulan dan matahari.
Saya persilahkan tuan sebentar memperingati tiga kemungkinan yang
dimajukan pada permulaan buku ini (halaman .......). Berhubung dengan
tiga kemungkinan itu, maka menurut Dewa Ra (atau mahakuasa itu) tak
bisa lebih dan tak bisa pula kurang kuasanya dari alam dan kodrat alam.
Kalau diuji dengan Logika kita terpaksa mengakui bahwa Maha Kuasa itu,
dalam hal ini di
Egypte ialah Dewa Ra, sama diri (selfsim) dengan Alam dan Kodratnya.
Saya ulang: Yang Mahakuasa itu sama diri (idealistic) dengan alam dan
kodratnya, seblaiknya alam dan kodrat itu sama diri dengan yang
Mahakuasa. Buat sebentar saya mohonkan kepada tuan, buat sebentar saya
minta tuan mendengarkan akibat yang mengenai pengakuan, andaian yang
diatas ini. kalau ktia andaikan Yang Mahakuasa itu ialah Atman dan
Kodratnya, maka pertama sekali sungugh banyak paham lama tentang Alam
dan Kodratnya, yang tiada cocok lagi dengan pengetahuan zaman sekarang
tentang Alam dan Kodratnya itu. Paham Lama itu mesti kita buangkan dari
otak yang dewasa dalam masyarakat kita dan tak boleh dimasukkan lagi
kedalam otak muda lemah, pemuda dan pemudi kita, didikan masyarakat
mesti berdasarkan yang nyata, yang pasti, yang cocok dengan ilmu dan
peralaman. Cuma dengan jalan itu kita bisa mendapat kemajuan jasmani dan
rohani dalam semua lapangan. Betul pula semua kemajuan jasmani dan
rohani dalam semua lapangan itu mestinya yang cocok dengan pengetahuan
yang pasti tentang Alam dan Kodratnya.
Bukanlah sekali-kali dimaksudkan bahwa kita mesti menista dan
merendahkan pemikir ahli filsafat, yang sudah memberi jawaln dan
petunjuk kepada masyarakat berabad-abad lamanya sampai kita menaiki
tingkat masyarakat yang sekarang. Sebaliknya kita mesti teruskan memuji
jasa mereka dengan sepatutnya, seperti pujian yang dikirimkan pada
arwah nenek moyang kita yang berjasa besar.
Semua kekurangan mereka yang kita saktikan sekarnag bukanlah
disebabkan kekurangan kejujuran dan kecapakan, melainkan kekurangan
perkakas dan jasa berpikir, kekurangan sejarah, yang juga berarti
kekuasaan.
Bukanlah pula dimaksudkan bahwa kita sekarang mesti mencuci maki dan
menghinakan pemimpin rohani masyarakat kita yang sekarang dengan tiada
memandang bulu dan warna. Ktia mesti akui penuh, bahwa masih banyak
tiada semuanya diantara pemimipn rohani masyarakat kita zaman sekarnag,
yang walaupun banyak mengandung pengetahuan yang tiada lagi cocok
dengan zaman, mereka berhati jujur, tulus, dan ikhlas, beriman,
beribadat dan mengajarkan kepercayaan nya itu dengan sungguh dan lurus
hati. Sekali-kali mereka ini tiada pantas menerima penghinaan atau
upatan usaha dan jasa mereka selama ini mesti diakui penuh.
Tempat mereka pada masyarakat dan kebudayaan baru mesti ditentukan
kembli, tetapi sudah tentu mereka mesti menyesuaikan diri dengan
masyarakat baru itu. Seperti sebaliknya pula masyarakat baru itupun
mesti menyesuaikan diri pada mereka yang berjasa pada masyarakat yang
lama itu.
Kalau kita kini mengakui, bahwa yang Maha Kuasa itu sama diri dengan
Alam Kodratnya, maka ktia mesti pula akui bahwa jiwa itu, bukanlah
sesuatu yang terpisah, tunggal, sendriinya sesuatu anugerah
yangditerima oleh manusia saja; akhirnya sesuatu anugerah yang bulat
sempurna melainkan kita mesti mengakuui: jiwa itu ialah berpadu dengan
Alam dan Kodratnya; jiwa itu ialah terbawa oleh sarinya Alam dan
Kodratnya; akhirnya jiwa manusia itu ialah hasil kemajuan Alam dan
Kodratnya. Alam dan Kodrat yang berkemajuan. Malah paham kita manusia
tentang jiwa itu takluk pula pada undang evolusi (kemajuan).
Kalau begitu, bersama dengan berhentinya jasmani kita bergerak,
bernafas, mencernakan, menyelenggarakan darah dengan jantung, mengotak
dsb ........ dengan begitu berhentilah pula kita berjiwa, bernyawa,
yakni berpikir, merasa dan berkehendak.
Bukannya dimaksudkan jasmani yakni darah daging, tulang-belulang
kita, sama sekali musnah, hilang lenyap. Tak ada benda yang hilang
lenyap di alam ini.
Benda yang disangka hilang itu Cuma bertukar bentuk.
Tak sedikitpun, tak seatompun jasmani kita hilang dialam ini. dalam
kuburan, tanah jasmnai tuan dan badan saya, jasmani raja atau rakyat,
kapitalis atau proletar, alim atau bangsat, bertukar bentuk menjadi
air, tanah, logam dan garam. Tetapi air, garam dan tanah logma itu tak
akan tetap tinggal disana. Air tadi akan menguap keudara, naik disiisap
tumbuhan atau bercampur dengan air lain mengalir ke sungai atau perigi
tuan. Garam dan tanah logam (minerals) tadi akan diisap pohon dan
bunga atau bercampur dengan air yang mengalir ke sungai, kelaut atau
keperigi tuan. Boleh jadi sekali airnya jasmaninya si Alim atau bangsat
sudah dalam cangkir atau kendi tuan atau sudah sama sekali lebur dalam
darah dan daging tuan sendiri. dengan begitu maka darah daging si alim
atau bangsat tadi sudah berleburan jwia pula dengan tuan. Kalau tidak
dengan langsung air jasmani si alim atau bangsat tadi masuk kedalam
perigi atau cangkir tuan, tentu dengan memutar, bagian jasmaninya sampai
juga pada tuan.
Daging dan tulang sumsumnya, alim atau bangsat, budiman atau bajingan
itu, membentuk zat yang dibutuhkan betul oleh tumbuhan. Barangkali
jeruk atau air kelapa yang tuan idamkan dari semenjak matahari turun
tadi, yang tuan bermula makan dan minum pembuka puasa tuan, banyak
mengandung zat aslinya si budiman atau bajingan tadi.
Tuan najiskan, tuan haramkan babi atau anjing! Bisakah tuan jamin tak
ada zat aslinya babi itu masuk ke dalam jasmani atau rohani tuan.
Siapa tahu, sayur yang tuan makan itu langsung atau memutar sudah
berpadu dengan zat asli dan kodratnya si babi atau anjing itu.
Atau lembu, atau kambing yang tuan anggap halal itu sudah berpadu
dengan zat aslinya si babai atau anjing dengan perantaraan daun rumput
yang dimakannya sehari-hari, udara yang dinafaskan atau air yang
diminumnya.
Pasti tuan tak bisa tahu bahwa tikar sembayang tuan itu boleh jadi
sekali tak lain melainkan penjelmaan zat aslinya si bangsat atau babi,
malah surat suci tuan sendiri tak bsia menghindarkan diri dari
kenajisan karena kertas dan tintanya berasal dialam raya juga.
Kemahakah tuan mau cari yang suci bersih? Adakah yang suci bersih dalam
Alam Raya yang bergerak berpadu berpisah bercampur dengan tak
putus-putusnya itu? Bisakah satu mahcluk hidup dengan yang suci itu?
Sekuntum bunga yang cantik sekali berurat pada benda yang manusia
anggap paling kotor. Benda yang paling harum itu hanya satu bentukan
saja dari benda yang paling busuk. Yang mulya hanya satu bentukan dari
yang hina, yang halal dari yang haram. Harus mulia dan halal itu
mendapat arti begitu, kalau dipandang dari satu penjuru. Begitu juga
busuk, hina dan haram mendapat arti begitu, kalau dipandang dari
penjuru lain, manusia mengambil penjuru memandang itu ialah dari
penjuru kemanusiaan.
Alam Raya sendirinya tiada mempunyai penjuru kemanusiaan itu, dalam
gerakan Alam Raya yang dialakukan dalam tempo dan pada tempat dalam
keadaan yang berseluk-beluk; pada sangkutan yang bertentangan hina itu
bisa mulia busuk bisa harum, suci itu bisa najis, adil itu bisa zalim,
Cuma manusia dari satu penjuru pada satu tempo dan satu kelas bisa
menciptakan yang indah sendirinya yang mulia semata-mata dan adil
sendirinya. Demikianlah juga jiwa manusia itu Cuma salah satu dari
bentuk kodrat yang terambil dalamgerakannya cita-cita masa itu. Riwayat
gerakan itu pada bumi kita sudah sampai ketingkat dimana mansuia dan
jiwa yang penting buat manusia bisa ada. Kelak ada temponyabumi kita
membatalkan adanya manusia dan jiwanya itu. Tetapi pembatalan itu
bukanlah diadakan oleh zat atau kodrat yang diluar alam serta kodratnya
itu.
Pembatalan itu Cuma akibat dari gerakan dan undang gerakan alam itu
sendiri, tetapi seandainya manusia punah dari bumi kita ini, yang karena
sesudah jutaan tahun iklim disini memustahilkan hidupnya manusia, maka
boeh jadi sekali banyak bumi lain yang kelak akan sampai ketingkat
sejarah bumi kita. Dengan begitu akan berlaku pula hukum kemajuan yang
sudah berlaku pada bumi kita ini, zat asli berbentukkan tumbuhan,
tumbuhan berbentukkan hewan, dan akhinrya hewan berbentukkan manusia.
Manusia dan jwia itu jumpa hasil dari kemajuan alam, tetapi betul pula
kemajuan bahwa alam itu pada satu tingkat bisa juga dibentuk oleh
manusia dengan jiwanya.
Perkara 3. PENGERTIAN BURUK-BAIK DAN IMAN (MORAL AND FAITH).
Kalau diikhtisarkan tulisan yang paling belakang ini, maka saya
peroleh bahwa manusia itu termauk ke-Alam Raya dan sebagian dari Alam
Raya itu ialah manusia, jiwa manusia ialah hasil kemajuan kodrat alam.
Dipandang dari penjuru kemanusiaan sebagain kecil dari kodrat Alam itu,
ialah jiwa manusia. Jasmani itu termasuk kezatnya Alam Raya. Sebagian
kecil dari zatnya Alam Raya itu ialah
jasmani, jasmani dan jiwa itu termasuk kedalam zat dan kodratnya Alam Raya.
Sebagian kecil, dari zatnya dan kodratnya Alam Raya itu ialah jasmani dan jiwa.
Pada tingkat pertama sekali Zat dan Kodratnya Alam Raya membentuk
jasmani dan
rohani (Jiwanya manusia). Tetapi pada tingkat masyarakat yang berkebudayaan tinggi manusia dan jiwanya itu melantun membentuk
Zat dan
Kodrat Alam.
Pada Zatnya Jasmani memperhentikan peranggotaannya. Jasmani berhenti
menjadi jasmani (manusia), pada saat itu juga jiwa berhenti menjadi
jiwa. Didalam tanah badan kita luntur hancur, rusak binasa sebagai
badan, menurut hukumnya Kimia dan kodrat Alam. Zat badan kita kembali
ke Alam Raya, udara, air, tanah, tumbuhan, hewan dan manusia. Persamaan
dengan itu Jiwa dahulunya itu kembali kebentuk kdorat Alam, kodrat
hidup dan
jiwa.
Pada tingkat pertama sekali Alam Raya membentuk jiwa manusia dan
jiwanya. Pada tingkat alam yang ber-manusia, perhentian Jiwa seseorang
itu berarti permulaan
kodrat, hidup, dan
jiwa baru: Benda, Tumbuhan, Hewan dan Manusia.
Perhentian kodratnya benda, perhentian hidupnya tumbuhan dan hewan
itu, semuanya boleh memperkukuh atau meneruskan jiwanya manusia
(makanan manusia).
Pada tingkat pertama sekali pada satu bumi, bisa ditentukan awalannya
Jiwa, yakni pada saat Alam Raya membentuk manusia. Pada masa bumi
sudah mengandung manusia ini, maka awalnya Jiwa berarti benda-mati
(dalam jasmani ibu) dari
akhir-nya Jiwa berarti
awal-nya
benda, yang mati dan yang hidup dalam Alam Raya. Pada tingkat ini
sudah tak ada awal dan tak ada akhir lagi, diantara Jiwa dan Benda.
Pada tingkat yang hidup itu yakni manusia, hwan dan tumbuhan itu,
musnah dari bumi kita, maka akhirannya Jiwa berarti awalnya Benda.
Tetapi akhirnya Benda tiada lagi berarti awalnya Yang Hidup. Boleh jadi
sekali, kisahnya Yang Hidup itu akan dimulai lagi, kalau sekrang belum
lagi dimulai, tentulah disalah satu dari puluhan ribuan bumi di Alam
Raya ini.
Hampir tidak berani saya meneruskan ikhtisar diatas ini. Dikiri kanan
dimuka dan dibelakang, diantara yang hidup dan yang mati saya melihat
sikap mereka yang kehilangan kesabaran, mengancam atau memprotes
terhadap tulisan saya yang senonoh ini. Riuh rendah saya dengarkan
teriak yang boleh dibulatkan dengan: kalau begitu akhirnya (jiwa)
manusia, apa gunaya pengeritan dan buruk-baik dan pekerjaan yang baik?
Kalau orang tiada lagi berpengharapan, mendapat upah,
selambat-lambatnya di Akhirat, dimanakah lagi tempat bersandarnya iman
dan kukuh kuat? Kalau orang tiada lagi takut pada hukuman
selambat-lambatnya diakhirat, pada siapakah orang akan takut berbuat
jahat?
“Pengertian buruk-baik tak akan berguna! Iman untuk berbuat baik dan
kehilangan sendi”, beginilah sari bertimbun-timbun keberatan yang
dimajukan oleh para pemikri ahli filsafat, pemimpin, alim ulama, yang
betul-betul jujur dan sungguh terhadap keyakinan dan pekerjaan, serta
terhadap diri dan masyarakatnya. Diantara mereka ada yan gsudah
berjanggut ptuih panjang dan bertahun-tahun menjalankan keyakinannya.
Bahkan tentang tentang buruk-baik itu dengan iman sekeras baja tiada
semuanya pula menajalankan keyakinannya. Semata-mata karena takut akan
hukuman mereka atau mengharapkan upah disurga. Bahkan ada pula diantara
mereka yang dalam batinnya mengakui kebenaran
S c i e n c e, dan menganggap hukuman Neraka dan Upah Surga itu, Cuma sebagai momok dan gula-gula semata-mata.
Mereka menganggap pengetahuan tentang buruk-baik itu saja tak cukup
kuat buat melarang berbuat yang baik dan menarik kejurusan berbuat
baik. Hukumpun saja mereka anggap tidak memadai. Mereka bertanya:
Akan cukup kuatkah iman seorang pemimpin dalam satu masyarakat
terhadap dasar yang mulia dan pekerjaannya serta terhadap dirinya
sendiri dan mereka dibawah pimpinannya.
Akan cukup kuatkah iman seorang
Scientist, memakai
pengetahuannya Cuma semata-mata buat kebaikan masyarakat? Bukan buat
menguntungkan dirinya sendiri, ya, malah sebaliknya kalau perlu baut
meruguikan atau mengurbankan dirinya sendiri?
Akan cukup kuatkah iman seorang insinyur, memakai pengetahuan yang
paling baik dan alat yang paling kuat kokoh? Tiadakah dia akan berlaku
sebaliknya, kalau hal ini perlu buar dirinya sendiri, mencelakakan atau
merugikan masyarakat?
Akan cukup kuatkan iman seorang dokter, terhadap perempuan muda
remaja cantik molek? Tiadakah dia akan lantingkan sumpahnya, karena
sumpah itu omong kosong belaka, karena buat dia Tuhan dan Akhirat itu
berarti seperti si Pengupah dan Penghuum lagi?
Akan cukup kuatkah iman seorang hakim, tehradpa undang yang mesti dia
terjemahkan dan jalankan dengan jujur buat keperluan masyarakat?
Dalam umumnya akan cukup kuatkah iman seorang menantang kesusahan,
kesakitan, ya, kematian ......... dan terus pula menjalankan
kewajibannya?
Tiap-tiap orang yang sedikit berpengalaman dalam masyarakat bisa
meluaskan pertanyaan semacam ini kelapangan ekonomi, dagang, didikan,
olah raga, rumah tangga dsb, kearah perhubungan majikan dan buruh,
penjual dan pembeli, sahabat dan sahabat, malah kawan dan lawan,
ibu-bapak dan anaknya, laki dan isteri ..................... dll.
Bertimbun-timbun pertanyaan yang timbul yang berhubungan dengan
kelilingan zaman dan pengertian buruk-baik itu, karena hilangnya Tuhan
dan neraka serta surga taida bisa diselesaikan, dengan kemahiran kata
saja, apalagi dengan tolakan tangan beserta lima jarinya. Persoalan
semacam itu mesti dikaji dalam-dalam, terutama dengan memperhatikan
suasan tempat timbulnya.
Malangnya kita dengan agama baikpun dalam arti luas ataupun menurut
ahli mendalam, kita tidak bisa memperoleh jawab yang memuaskan sama
sekali.
Dalam arti luas, menurut azas segala agama yang besar didunia,
pengikutnya mesti berbuat baik dan menjauhi yang buruk. Dalam garis
besarnya pengertian buruk-baik itu sudah terikat oleh 10 perintah Nabi
Musa (ten commondments). 10 Perintah itu tidak saja dijunjung tinggi
oleh agama Yahudi, Nasrani dan Islam, tetapi dalam pokok artinya juga
oleh agama Hindu, Buddha atau
Concentrisme dan filsafatnya
Kongcu. Tak ada diantaranya yang menyuruh pengikutnya menyanggah atau
mempermainkan menyuruh mencuri atau membunuh anggota masyarakatnya
sendiri atau menyuruh berzina dan pekerjaan lain yang merusakkan
kesehatan, kesetiaan, laki-bini atau ketentraman umum. Malah diantara
kepercayaan yang dinamai tahyul pun banyak didapati pengertian
buruk-baik yang mulya sekali. jadi tiadalah satu diantara beberapa
agama besar itu yang berhak mengatakan, bahwa agama B tiada bisa
menanam iman yang teguh, atau sebaliknya. Semua agama memerintahkan
berbuat baik, dan menjauhi yang buruk. Walaupun begitu, dalam smeua
gaama kita dapati pemimpin yang menjerumuskan, dokter yang menyakitkan,
insinyur yang merubuhkan, scientist yang menggelapkan
.......................... dan alim ulama yang bisa memasukkan diri dan
pengikutnya kedalam neraka.
Tak ada agama besar yang luput dari perbuatan yang ia sendiri kutuki.
Yang tiap orang yang agak kritis, mata terbuka dan berpengalaman bisa
memberi contoh bertimbun-timbun.
Dalam arti mendalam, arti terkhsus yakni arti yang diutamakan oleh
salah satu agama Nasrani umpamanya, oleh c i n t a pada sesama manusia.
Tetapi c i n t a apakah yang kita jumpai baik diantara Negara Serani
Barat dan jajahan Timurnya. Diantara kapitalis dan proletar, kita
peroleh yang sebaliknya dari yang dialamkan oleh agamanya, ialah agama
Buddha yang menghususkan organisasinya pendeta yang tiada boleh kawin
itu mempunyai sejarah yang bertentangan dengan yang diutamakan itu
pula. Di sinipun iman itu pecah, ditempat yang tak boleh pecah yang
sengaja dilarang buat dipecah, ditampat yang diandaikan kukuh. Contoh
tak perlu dimajukan, tak perlu pergi ke Korea, Negara Buddha yang
paling jauh dari kita itu, dimana kesucian perempuan itu tinggi sekali.
Pergilah tuan ke Singapura saja, tanyakanlah pada Tionghoa peranakan
sejarahnya beberapa rumah berhala disana. Yang dimaksudkan ialah sejarah
pendeta Buddhis, yang dilarang kawin itu, terhadap perempuan.
Iman itu pecah pada tempat dia tak boleh pecah. Yang memecah iman itu
ialah mereka yang dianggap tak akan memecahnya. P a g a r y a n g m
e m a k a n t a n a m a n, kata pepatah kita. Kalau insinyur itu tak
menjalankan suruhan Agama dan Kitabnya, tiadalah berapa mengherankan,
karena lebih lekas seseorang bisa percaya, yang seekor kodok bisa
tertawa, dari seorang insinyur zaman sekarang bisa percaya pada b i k i
n a n A l a m, dalam 6 hari menurut Kitab Injil itu. Menurut Logika
kalau satu saja diantara beberapa perkara yang dianggap benar,
dibelakangnya kelihatan salah, maka semuanya perkara itu boleh jadi
salah, tiada benar. Kalau satu saja diantara beberapa perkara yang
selamanya dianggap benar, Firmannya Tuhan, dibelakangnya nyata
bertingkah dengan Ilmu Bukti tak benar. Tidaklah pula mengherankan,
kalau seorang dokter yang mestinya paham akan teori evolusinya Darwin,
pecah imannya, kalau iman itu berdsarkan d o n g e n g Adam dan Siti
Hawa dalam Kitab Injil. Tak mengherankan kalau seorang pendeta Katholik
pecah imannya, kalau Nabi Daud sendiripun bisa pecah imannya terhadap
si cantik molek walaupun ketika itu Nabi Daud sudah cukup tua berbini
dan beranak. Apalagi kalau iman yang pecah itu boleh dibulatkan
kembali, dosa itu bisa ditebus dengan mengeluarkan kemenyesalan dan
tobat.
Jadi perkara pengertian buruk-baik dan pecah iman, yang menjadi
keberatan buat mereka yang jujur, berpengalaman itu, terdapatnya sampai
sekarang ini pada golongan yang memajukan keberatan itu sendiri; pada
golongan yang beragama sendiri; pada yang percaya akan gunanya Tuhan
sebagai Penghukum dan Pengupah. Walaupun mereka tahu akan buruk-baiknya
sesuatu pekerjaan, hukuman upahnya sesuatu pekerjaan kelak di Akhirat,
walau mereka sendiripun sadar akan kewajibannya sebagai pemimpin,
golongan mereka sendiri tak bisa memegang imannya. Dengan begitu
sebetulnya pokok ini, walaupun beberapa diantaranya yang berlaku jujur
tak berhak lagi memajukan perkara teguh atua lemahnya iman itu.
Semenjak Revolusi Komunis 1917 di Russia, pengertian buruk-baiknya
dan iman itu oleh partai yang memimpin Rakyat di sana, tiada lagi
didasarkan pada Hukuman dan Upahnya Tuhan di Akhirat. Seperti dunia
mengetahui Rusia yang diangkat oleh Partai Komunis dari kerubuhannya
dibawah Pemerintah Tsar, yang masih menderita bermacam-macam kelemahan,
dalam hal teknik, ekonomi dan sosial pada permulanannya bisa
menggagalkan serangan beberapa Negara. Iman yang keras itu tiada
terdapat pada 140 juta orang Russia, tetapi Cuma pada lk 6000 orang
Komunis, ya, barangkali kurang dari itu. Inisyur, dokter, direktur yang
dipekerjakan pada permulaan Komunis memerintah itu 89 % bukanlah
Komunis, melainkan yang bersimpati sama Komunis. Pada tahun 1922 – 1923
ketika Rusia saya kunjungi tak ada saya melihat pengertian buruk-baik,
yang tiada bisa diperbaiki, diperkokoh. Sesudah perpecahan
Stalin-Trotzky (1926-1927) dan kemudian, saya tak lagi mengetahui
keadaan Soviet Russia yang sebenarnya. Tetapi bagaimanapun juga boleh
jadi sekali Partai Komunis yang memimpin Soviet Russia sekarang, masih
tidak berdasarkan, takut pada hukum Neraka dan mengharapkan Surga di
Akhirat itu. Lagi pula bisa dipercaya kebanyakan insinyur, dokter,
direktur perusahaan dan profesor seksrang tidak berdasarkan semacam itu
pula. Dengan iman yang tiada lagi berdasarkan takut di api Neraka dan
harapan akan Surga itu, Soviet Russia sampai sekarang (21 Maret 1943)
sudah hampir dua tahun menahan serangan Nazi Jerman, Negara yang
terkuat di dunia sekarang. Sedangkan Perancis yang dianggap sebelum
perang besar kedua ini, Negara yang terkuat didunia, dengan Garis
Maginot dan bantuan Inggrisnya, sebelumnya dirubuhkan oleh Jerman dalam
14 hari saja. Pun Nazisesme tidak lagi berdasarkan takut pada Neraka
dan harapan Surga itu.
Jadi teranglah sudah, bahwa lemah teguhnya iman itu tiadalah
semata-mata bergantung kepada ketakutan dan pengharapan sesudah hari
kiamat itu. Jangan dilupakan, bahwa perkara yang penting pula dalam
menentukan teguh atau lemahnya iman itu ialah masyarakat kita sendiri. A
r t i dan G u n a n y a masyarakat, terselip dalam hati seseorang
anggotanya, puji dan upatnya sesuatu masyarakat terhadap anggota atau
pemimpinnya, sejarah yang melanjutkan perbuatan keji dan mulya
seseorang anggota, sangat mempengaruhi paham perasaan dan perangai
seseorang.
Sedangkan pergaulan hewan saja bertimbun-timbun memberi contoh kepada yang mengerti dan bijaksana dan sudi menerima kiasan.
Semut yang kecil itu sudah kita ketahui kesetiaan dan ketaatan
masing-masing terhadap kawannya. Semacam semut itu pula di Afrika,
berlaku seperti laskar yang paling kukuh, bermuslihat tinggi serta
beropsir, bersedadu yang masing-masing siap menjalankan kewajibannya,
sampai nafas terakhir. Dengan begitu mereka bisa menewaskan hewan yang
paling gagahpun, bahkan raja binatangpun.
Buat keselamatan masyarakatnya, Raja Beruk dewi-rimba, Panti yang
masyhur di Minangkabau itu, berdiri dimuka, menantang tembak atau
senapan, buat keselamatan anak, bini dan temannya.
Ibu ayam hitam saya, berhari-hari pulang dengan perut kempis. Semua
makanan pulang kelembuai anaknya yang penuh sesak, meskipun anaknya
kekenyangan dan perutnya sendiri kosong, makanan yang saya berikan
padanya itu masih diberikannya kepada anak-anaknya. Penyakit kenyang
akhirnya menimpa dirinya, sampai kepalanya tak bisa diangkatnya lagi
dan kakinya tak berdaya menyokong badannya, walaupun nafasnya sudah
berkurang-kurang, dengan suara sayup semakin sayup dia terus jawab
suara anaknya yang memanggil. Sampai nafas terakhirnya. Hidupnya
seolah-olah Cuma buat anaknya saja. ....................
Tambahlah sendiri, oleh tuan contoh ini dengan kejadian dikeliling
tuan. Hewan cukup memperlihatkan iman buat menjalankan kewajiban
kesetiaan pada masyarakat umumnya. Dan kecintaan kepada anak
terkhususnya. Sejarah kita manusia berasal pada sejarah Hewan itu,
tentulah pula membawakan sifat yang mulya buat mempertahankan dan
memajukan masyarakat.
Kalau didikan sekolah disandarkan dengan langsung pada masyarakat dan
Alam Raya, maka pengetahuan yang perlu bagi pemuda dan pemudi kita,
pengetahuan yang berdasarkan nyata sah dan mulia, bisa tertanam dengan
kukuh. Kalau pengetahuan itu dikeraskan pula oleh kemegahan bahasa dan
kesusasteraan, oleh kesenian dalam arti sehatnya; oleh olah raga yang
berdasarkan ilmu kemauan dan menimbulkan iman yang tebal tabah. Kalau
masyarakat kita tiada lagi berdasarkan isapan dan tindasan, memberi
kesempatan pada sembarang orang yang cakap, maka didikan tadi akan
mendapat lantai masyarakat yang subur dan kukuh. Yang terakhir tapi
terkhusus artinya kalau sejarah kita dijadikan dasar masyarakat serta
sebaliknya masyarakat kita didasarkan pada sejarah, pada pujian dan
pujian bagi yang berbuat baik sreta upatan dan kutukan pada yang berbuat
busuk, maka sejarah akan menjadi dimensi yang terpenting dalam
kehidupan kita, dan sebaliknya kehidupan kita akan menjadi salah satu
dari dimensi yang terpenting dalam sejarah manusia, malah sejara
alampun.
Walaupun jawab saya sudah begitu panjang, saya yakin, masih banyak
diantara tuan yang mengeleng-gelengkan kepala, sebab tiada lain
melainkan karena tuan tiada cukup beriman menantang musuh atau malaikat
maut dan sungguh percaya dan takut kejut pada Neraka itu, pada Azabnya
Tuhan.
Sekali lagi tetapi buat terakhir!
Kalau tuan yang menantang musuh atau malaikat maut itu seorang
Kristen, tiadalah cukup semangat yang tuan bisa peroleh dari peringatan
pada sikap Nabi Isa diatas palang gantungan? Saya maksud ialah
sikap tahan – jujur?
Kalau tuan yang menantang musuh dan malaikat maut itu seorang Islam
sejati, tiadakah akan cukup kuat tuan peringatkan pada sikap Muhammad
SAW dalam bermacam-macam bahaya. Yang saya maksud juga
sikap tahan jujur sebagai sikap Nabi Isa.
Kalau tuan seorang yang jantan, belumkah cukup tuan bangunkan segala
kodrat yang ada dalam badan sedniri dengan perkataan yang jitu dan
pemusatan pikiran yang kental kokoh?
Tuan ingatlah jago yang sudah berlumur darah itu, yang tak berdaya
berdiri lagi itu, kalau dihadapan kembali pada musuhnya terus
menantang.
Azab api Neraka?
“Dimanakah tempatnya Neraka itu?”, tanya saya.
“Itu Kekuasaan Tuhan”, jawab tuan.
“Apa bahannya api Neraka yang menyala terus-menerus itu?”, tanya saya pula.
“Itu kekuasaan Tuhan!”, jawab tuan.
“Bagaimana bisa, mayat juta-jutaan kafir dan Islam yang sudah puluh
ribuan tahun hancur luluh dan lebur dalam tanah udara, air, tumbuhan,
hewan dan manusia (Islam dan kafir), bangsat itu bisa digenap bulatkan
kembali”, tanya saya.
“Itu kekuasaan Tuhan”, jawab tuan pula.
Banyak lagi pertanyaan yang saya mau dan bisa majukan, tetapi saya sudah tahu jawaban tuan.
Semua jawab tuan itu berada di luar Madilog. Tetapi semuanya jawab itu saya akui buat meneruskan pembicaraan kita.
Sekarang saya peringatkan pada tuan satu hal yang terpenting, yang
tuan sendiri juga ketahui dan muliakan, junjung tinggi setinggi langit.
Hal ini ialah sifatnya Tuhan, sebagai Pengasih-Penyayang yang tiada
ada taranya di Alam Raya dan tiada batasnya. Jadi kalau tuan andaikan
kasihnya Tuhan itu 13 kali sekasihnya Nabi Isa, maka angka 13 itu saya
perbanyakkan saja dengan 13 buat Tuhan. Kalau hasil perhitungan itu
tuan perbanyak pula dengan 13, maka hasil perbanyakan tuan itu akan
saya lipatkan 13 kali pula. Demikianlah seterusnya, sampai tiap-tiap
orang yakin apa artinya Maha Kasih tiada berbatas itu.
Sesudah tuan yakin akan arti Maha-Kasih itu, maka saya minta permisi
sebentar buat menyimpang. Tetapi sungguhpun menyimpang, baliknya kesana
juga. Dua tiga bulan lamanya sesudah bangsa Belanda Jatuh kekuasaan
dan derajatnya di Indonesia, saya tamasya di Indonesia melalui beberapa
tempat. Dengan bermacam-macam golongan Indonesia, saya bercakap-cakap.
Umumnya mereka suka melihat runtuhnya imperialis Belanda, tetapi tak
sedikit yang kasih melihat nasib dirinya Belanda. Saya catat saja
perkataan saudara kecil di Sarulangan pernah memasuki satu perkumpulan
kebangsan, yang tidak jinak. Setelah dia menurut ceritanya melihat
pertama kali satu gerobak penuh, sesak dengan Belanda tawanan yang
berpakaian ceelana pendek saja, dengan suara rendah dan kepala menekur,
mata melayang ................ “Hina hatinya”, saudagar kecil dari
Sarulangun yang pernah jadi anggota perkumpulan kebangsan tadi. Kalau
beberapa bulan saja lebih dahulu seseorang mengeluarkan perkataan
simpati pada Belanda, tentu s a u d a g a k e c i l ini akan
menganggap orang itu berdiri dibarisan lawannya: seorang yang tiada akan
dibawanya sehilir-semudik.
Kembali kepada Tuhan terhadap mahluknya!
Bisakah tuan percaya, yang Maha Kasih itu akan ketinggalan oleh saudagar kecil dari Sarulangun itu?
Percayakah tuan, bahwa Yang Maha Kasih itu, sampai hati melihat
mahlukNya yang dijadikan sebesar gunung itu berteriak menjerit-jerit
dimakan api neraka, yang maha panas itu pula bertahun-tahun,
berabad-abad dan berjuta-juta tahun?.................... Baka?
....................?
Saya percaya, saudagar kecil dari Sarulangun tadi jangankan lagi 1
menit, 1 detikpun tak akan sampai hati melihatkan sesamanya manusia
dibakar! Melihat muka pucat takut dashyat saja, pasti akan
berlipat-ganda, tak berbatas pengasihnya Yang Maha Kasih kepada
Makhluknya sendiri.
Sadarkah tuan akan pertentangan Logika, yang selalu terpendam dalam
kepala tuan terhadap yang tuan anggap adalah beberapa sifatna Tuhan?
Karena kekurangan kecerdasan berpikir atau keduanya, maka Yang Maha
Pengasih itu tuan turunkan menjadi Maha Kejam! Dan Yang Maha Kejamlah
yang mengasihi tuan!
Perkara 4. SENI – SESAT
Seni-sesat! Bukan kesesatan Seni!
Sudah sampai saya kebagian terkahir. Sungguh lama sudah saya
memaksakan pemusatan pikiran pembaca. Sebab itu tiadalah salahnya kalau
sekarang saya sajikan makanan otak yang enteng, sebagai iseng-iseng.
Sesudah kerja keras kita perlu melancong makan angin. Sesudah berbicara
kita perlu berkecikak, berfoya-foya. Sesudah bermenung, berpikir
putar-balik, perlu tertawa, buat melepaskan yang selamnnya ini
terkandung! Tetapi iseng-isengpun, melancong atau tertawapun, ada
mengandung beberapa arti yang buruk, yang baik dan diataranya yang
buruk dan baik itu. Yang kita cari tentulah yang baik. Sesduah makan
daging kita makan buah, buat pembantu perut yang sedang kerja keras.
Sesudah memikirkan atua membicarakan perkara yang berat-berat, maka
kita pergi melihat Charlie Chaplin. Sesudah kerja keras, kita makan
angin, buat menguatkan urat yang kendor dan mengendorkan yang tegang.
Senipun dalam arti luasnya seharusnya buat memperkuat jasmani,
pikiran, perasaan dan iman. Kemauan kita. Bukan sebaliknya seperti
candu merusak dada, pelesir jauh malam merusak kesehatan, obrolan tak
karuan merusak persaan dan kehormatan. Dengan begitu tiadalah Seni bisa
dipisahkan dari Hidup. Seni mesti berdasar atas Hidup! Sebaliknya
Hidup Manusia harus pula berdasarkan Seni.
Semua cabang penghidupan serta semua cabang pengetahuan dan idaman
masyarakat itu mesti diketahui, sebelumnya seni dalam arti sempurnanya
bisa diuraikan. Pekerjaan itu diluar maksud buku ini. sebab itu saya
bilang seni sesat artinya
boleh jadi sesat, karena
kekurangan pemeriksaan dasarnya, yang dalam dan luas itu. Tapi sudah
tentu seni itu sendirinya, bukan barang yang sesat tiada berguna, malah
sebaliknya.
KEPUNCAK GUNUNG SEMERU!
Kalau kemakmuran dan kecerdasan Indonesia kelak sudah membenarkan juga kepuncak gunung Kerinci, kepuncak gunung Kinibalu!
Disana Teropong Raya menanti kita! Tuan layangkanlah pemandangan tuan ke Alam Raya!
Lihatlah bulan itu, panakawannya bumi kita! Dulu boleh jadi bermanusia
dan berhewan seperti bumi kita sekarang! kini hanya mempunyai
tumbuhan. Lihatlah lain kali kemari beramai-ramai. Teroponglah sekali
lagi, perhatikanlah nanti perubahan warna! Adakah manusia disana.
Itu Venus! Adakah manusia disana. Kalau belum, sudah adakah hewan?
Kalau belum pula, sudah adakah tumbuhan?
Tumbuhan, hewan dan manusiakah yang tuan cari? Banyak lagi bintang,
banyak lagi matahari! Malah banyak lagi bumi di Alam ini. Nah, itu
Universe Alam Bintang kita! bisakah tuan menghitung bintangnya? Bisakah
tuan menghitung Alam Bintang kita? Ajaib! Ajaib!
Ajaib! Apakah yang dibalik semua Alam Bintang itu? Ruang? Alangkah
besarnya ruang! Adanya ujung adakah pangkalnya? Memang pikiran manusia
itu selalu menentukan dan mencari ujung pangkal. Buat Alam Raya sendiri
ujung itu bisa menjadi pangkal dan pangkal itu bisa menjadi ujung!
Sadarkah tuan, bahw atuan bergerak beredar mengelilingi matahari itu
sambil bergerak mengelilingi sumbu bumi kita? Alangkah teraturnya
peredaran beberapa bumi mengelilingi matahari itu? Lebih menakjubkan
pula peredaran Alam Matahari kita mengelilingi Alam Bintang kita.
Semuanya bergerak tak ada yang tetap berhenti.
Taka da kecelakaan, akrena tak ada pertempuran bintang dan bintang.
Siapakah mansinisnya, yang menyelenggarakan peredaran itu? Siapakah
insinyurnya, yang menciptkan sekalian bintang, juta-jutaan bintang, yang
silang siur beredar diruang Alam dengan tak berhentinya itu?
Benda dan Kodratnya! Kodrat dan Bendanya! Keduanya tak bisa
dipisahkan, diceraikan. Benda kodratnya itu, benda dan gerakannya itu
berlaku menurut undang yang tetap. Tetap buat semua tempat dan tempo
dan tak pernah mungkir Benda dan Kodratnya serta undangnya itu bisa
diketahui, diuji, dilaksanakan, dan dipakai oleh manusia buat
kehidupannya, kekuasaan dan keulungannya ............
Hei cucuku! Maukah engkau terbang ke bulan? ke-Mars? ke-Venus?
Kuat sehatkanlah badanmu! Pelajarilah semua ilmu yang nyata!
Kuatkanlah dan berkurbanlah buat masyarakatmu, masyarakat semua
manusia! Teguhkanlah imanmu! Kendalilah lebih dahulu kodrat didalam
dirimu! Tentu kelak engkau sanggup mengendali kodrat diluar dirimu itu.
Barulah engkau sampai pada kesopanan yang sebetulnya, yang sempurna
yakni pengendalian kodrat didalam dan diluar diri buat masyarakat.
Kalau engkau belum bisa menyampaikan idamanmu jangan lupa
menyampaikan idaman itu pada anak cucumu, pada saat engkau akan kembali
kedunia, yang bukan fana atau baka, melainkan fana-baka, senantiasa
berubah-bergerak!
KETAMAN RAYA!
Ke-Alam Kecil kita! Disini sungatu atau danau bersambung dengan
bukit, lembah, hutan rimba dan gunung. Semuanya menggambarkan
kepermaian Indonesia, khatulistiwa! Tak ada duduk, air, diseluruh dunia
yang ketinggalan. Semua jenis yang hidup dilaut, hawa yang panas,
sedang ataupun sejuk. Bermacam-macam bentuk, warna, tabiat dan
kasiatnya buat manusia.
Lihatlah ikan yang hidup berserikat itu! Berduyun-duyun mereka
pulang-pergi, mencari makanan atau menghindarkan musuh. Adakah
pemimpinnya yang senantiasa siap buat memberi tanda bahaya atau alamat
adanya rezeki? Pelajaran yang pasti dan dalam buat kita manusia,
lebih-lebih buat yang muda.
Perhatikanlah pula ikan buas itu! Alangkah tangkas badannya. Kuncung
lancip, badan itu seolah-olah segenap waktu siap buat dilayangkan
dengan tangkas cepat mengejar mangsanya. Itu ahli auto-mobil, tersenyum
melihat ikan buas tadi melayangkan badannya, abrangkali dia mendapat
ilham, untuk membikin auto yang lebih lucung, lancip, streamlined,
tangkas cepat menyelam udara yang menghambat larinya itu. Ahli kapal
terbang tafakur. Barangkali model kapal terbangnya yang akan keluar
akan sebentuk dengan ikan buas yang baru menyambar mangsanya dengan
kecepatan yang mengagumkan. Ahli kita tadi memang sudah lama memikirkan
bentuk kapal terbang buat mengelilingi dunia dalam beberapa jam saja.
Orang selalu menertawakan dia dan menggelari dia tukang mimpi, tetapi
dia tak perdulikan ocehan, olokan orang. Malah dia menjawab, dia mau
pindah terbang ke bumi lain, mencari masyarakat yang lebih cerdas,
lebih halus perasaan budi pekerti, dan lebih tebal kemauannya.
Nah itu, lihatlah penduduk laut yang tebal tabah keberanian dan
kemauannya itu. Salju dan es itu memang dibikin buat dia. Namanya
Singa-Laut. Memang dia singa dalam sifat bertarung; lihatlah telinga
dan seluruhn badannya! Penuh dengan bekas luka. Kulitnya sudah
robek-robek seprti pakaian pengemis. Tetapi disekelilingnya ramai sesak
perempuan dan anak-anaknya yang mengecap kesentausaan sebagai hasil
kegagahan dan kesatriaan suami, bapak dan pemimpin ini. kenalan saya
seorang guru dengan para muridnya sedang asyik menerangkan bangunan
singa-laut ini menurut ilmu, tentang makanan, sifat dan tabiatnya.
Katanya kepada saya, dengan mata bercahaya murni, dia manu menerangkan
beberpaa buku kanak-kanak yang sama sekali berdasarkan Hidupnya Hewan.
Kanak-kanak, memang suka fantasi, impian, katanya. Tetapi fantasi dan
fantasi ada dua katanya pula. Ada yang merusakkan ada yang memperbaiki
dan memajukan. Apa gunanya dipakai cerita menusia yang beralasan
kegaiban, omong-kosong, dusta, beracun!
Cerita ini bisa kelak menjadi tahyul, penyelimut kecerdasan, sebab
cerita manusia. Tetapi kejujuran pada masyarakat, semangat
tolong-menolong,
melompat sama patah, menyuruk sama hilang,
semangat berkurban dan banyak lagi sifat yang lain-lain yang kita
dapati pada hewan itu, ialah bukti yang nyata. Anak-anak gemar
mendengar ceritanya dan menyaksikan kebenarannya. Yang fantasi, tetap
juga tiada sama sekali ialah hewan itu bisa berpikir, berembuk dan
berkata-kata seperti kita manusia, tetapi fantasi semacam ini tidak
menarik kelembah sampai kegaiban atau tahyul, malah sebaliknya. Kalau
mereka jadi dewasa, mereka mungkin akan tertarik oleh ilmu yang
mempelajari naluri (instinct), kebiasaan dan tanda bermacam-macam suara
yang dipakai oleh tiap-tiap jenis hewan buat memberi tanda keamanan dan
bahaya, kesukaran, kecintaan, kerinduan, keuletan, kemenangan dan
sebagainya.
Kita tinggalkan Alam Air ini. Kita sekarang berada dibukit dan lapang
datar, dilembah dan gunung, dihutan dan rimba. Bermula kita saksikan
bermacam-macam tumbuhan. Ada yang sudah kita kenal di Indonesia ada yang
belum. Ada yang kita tanam ada yang liar. Ada yang sduah kita ketahui
kokoh kuatnya untuk dibikin rumah, kendaran, perkakas, ada yang belum.
Ada yang kita ketahui khasiatnya sebagai makanan, ada yang mengandung
racun.
Lihatlah berjenis-jenis gandum diseluruh dunia dari padi kita sampai
ke padi dari Taiwan dan semua gandum dari semua benua. Ramping
lemah-lembut pokoknya. Ia menunduk kalau ditiup angin topan, makin
berisi makin merunduk rangkai buahnya. Pada jenis tumbuhan inilah
sekarang terletaknya makanan manusia yang terutama. Berapakah jauhnya
pikiran melayang, kalau kita saksikan, kata yang sakti buat Indonesia
asli:
padi.
Kagumilah warna, segala warna dari berjenis-jenis bunga itu! Warna
padi yang ketinggalan. Sambukanlah warna itu, dengan langit kita yang
selalu bertukar-tukar pula, dengan warna langit yang sayup kelihatan
dibelakang danau itu.
Kalau warna bunga-bungaan, langit, danau dan gunung Indonesia itu
pada malam bulan terang, dikunjungi oleh manusia sehat jasmani dan
rohaninya, yang berlantai pada masyarakat yang sehat pula badan dan
jiwanya ........................... maka ...........................
adakah surga yang lain dan lebih indah dari ini?
Tunggu! Disana ada satu Laboratorium besar! Disana diperiksa dan
diperalamkan bermacam-macam tanah, logam, jutaan tumbuhan dan hewan. Di
cari logam, yang lebih kokoh, tumbuhan yang baru dan kuat kayunya buat
perkakas. Lebih besar khasiatnya buah atau daunnya buat makanan.
Khasiat zat daunnya atau kulitnya atau uratnya buat obat-obatan. Yang
diketahui beracun diperiksa zatnya. Dicampur dengan zat lain buat obat
atau makanan. Tumbuhan yang tahan penyakit dicangkokkan pada tumbuhan
sekeluarga yang sering musnah karena penyakit tadi. Tampang yang kurang
baik ditukar dengan tampang yang bisa tumbuh lekas, lebih banyak
mengandung zat yang baik dan tahan bencana alam.
Hewan diperbaiki keturunannya: yang kecil diperhentikan turunannya
buat masyarakat yang lemah diperkuat, yang kurus dipergemuk, yang
selama ini disangka tak boleh dimakan, diupayakan supaya boleh dimakan,
dipakai buat obat daging, tulang atau kulitnya. Semuanya jauh kebawah
teropong pemeriksaan dan ilmu.
Tetapi hari sudah petang! Baik kita terus berjalan menuju ketaman
bintang yang didatangkan dari seluruh Indonesia dan seluruh dunia itu!
Tak ada binatang yang ketinggalan; besar kecil, buas, jina, yang
didaratan ataupun diudara. Sudah agak penat kepala kita, sesudah
mengagumi bagian taman yang dibelakang kita. Besok atau lusa akan kita
teruskan kunjungan kita disini, skearnag kita Cuma perhatikan satu dua
bintang saja!
Cucu saya menarik jari saya kepenjuru anjing meraung-raung. Kami
sampai kesana melihat seekor anjing berguling-guling, melompat serta
menjilat kaki, tangan dan pakaiannya seorang tuan.
Kami bertama kenapa anjing ini meraung-raung? Siapakah yang memukul dia?
“Bukan dipukul”, sahut tuan tadi. “Anjing ini memang saya besarkan
dari kecil sekali, dia belum pernah saya tinggalkan. Sebagai satu
peralaman mempunyai salah satu maksud, tiga hari yang lampau dia
sengaja ditinggalkan disini. Tetapi menurut kata penjaga apa saja
dikasihkan kepadanya dia tolak. Rupanya sungguh air diminumnya rasa
duri, nasi dimakan rasa sekam. Baru ini saya kembali kesini menjumpai
dia! Karena sukarianya tuan sudah dengarkan suaranya tadi, dan taun
lihatlah pakaian dan kulit kaki dan tangan saya bekas kukunya
................”/
“Kalau kesetiaan, ketaatan dan iman manusia semacam ini”
............... kata penghabisan tuannya anjing, ............. yang
haram itu.
Kami tinggalkan tuan ini, menuju ketempat orang berkerumun! Saya dan cucu mujur juga, walaupun tersepit-sepit sampai kedekat
seorang-orang utan,
Penjaga menceritakan, bahwa selang beberpaa hari saja anaknya Orang
Hutan ini mati. Semenjak ini ibunya yang mati terus-menerus mogok
makan. Makanan apapun disajikan dia tiada mau melihat, jangankan
meraba! Sekarang dia menyusui anaknya kedunia baka ............
Seolah-olah bergantung cucu saya pada bibirnya penjaga, ketiga
mendengarkan cerita yang sedih itu. Sebelumnya dia mau bertanyakan ini
dan itu, tetapi rengkungannya sudah sesak, tak bisa berbicara dan
matanya basah.
Hari sudah malam!
Saya mesti bujuk cucu saya dengan berbagai akal buat kembali pulang.
Kami lalui berjenis-jenis binatang yang terbang dan menjalar, yang
pandai memanjat dan melompat. Melihat seekor ular yang buruk warna
kulit dan bangun tubuhnya, akhinrya sesudah begitu laam dia takjub,
memikirkan nasib ibu orang hutan tadi cucu saya berkata. “Apa guna ular
jahanam ini dipelihara. Baik dibunuh saja!”.
“Tak ada yang suci sendirinya, dan tak ada yang jahanam sendirinya!”
Sahut seorang ahli, yang kebetulan mau pulang pula. “Ditaman Raya ini”,
katanya seterusnya “kita ciptakan, sebisa-bisanya bumi kecil, tetapi
besar artinya, karena jauh sejarahnya. Disini mesti didapat segala ada,
dahulu dan sekarang. Kalau bisa segala yang akan timbul. Tumbuhan dan
hewan yang ada dahulu, Cuma sedikit sekali yang bisa kita kumpulkan
disini. Tetapi yang ada sekarang diseluruh dunia taida berapa yang
ketinggalan. Dan semua jenis ini yang ada ditaman ini tiadalah akan
dimusnahkan, tetapi sekali-kali tiada akan dimusnahkan yang satu atau
lebih jenis atau hewan tiada lagi akan berlaku pada yang ada ditaman
Raja kita seperti zaman dahulu itu.
Ilmu pengetahuan sudah bisa membatalkan kebanyakan dari bencana alam
yang bersimaharajelela pada zaman otak belum berlatih, perasaan masih
sederhana dan kemauan masih mentah itu. Dari yang ada sekarang lusa
timbul yang baru! Ilmu dan Peralaman kita sehari demi sehari memberi
pengharpaan besar! Yang lebih kuat, lebih berkhasiat, lebih berguna,
lebih cepat tumbuhnya dan lebih lama umurnya dari pada yang ada
sekarang, mungkin, boleh jadi, dan bisa diperoleh. Yang baru ini akan
menimbulkan yang lebih baru pula!
“Tetapi ular itu, buruk rupanya, tak ada khasiatnya dan busuk tabiatnya”, sahut cucu saya.
“Semua itu dipandang dari penjuru kemanusaian”, jawab ahli tadi
dengan senyum-sambil,meraba kepala cucu saya dan memandag muka saya. “
Yang ada sekarang”, akta ahli tadi seterusnya, “
berasal dari yang ada dahulu, dan yang akan datang, berdasarkan pada
yang akan sekarang Missinglinknya,
gelangrantainya Darwin yang hilang itu banyak menyedihkan
Science! Kita sedikitnya bisa juga mengharap supaya para ahli cucu ciick kita jangan lebih banyak lagi mendapatkan
missing-link
itu!” Sambil melepaskan tangan kanannya dair kepala cucu saya,
memandang kebulan dan mulai megintip dari puncak gunung, menyinari
danau dengan pancaran warna yang bergemilang sedap lemas, dia
mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Taman Raya ini termasuk
kedalam Sejarah Alam Raya, tetapi Cuma sebagian kecil sekali. sejarah
Alam Raya itu mengandung Taman Raya ini!”.
KE-MESIN.
Dimasa Dunia belum lagi aman!
Beberapa Negara Industri sudah berdasarkan sosialisme dan komunisme.
Tetapi bertentangan dengan itu ada pula beberapa Negara yang
berdasarkan kapitalisme yang muda kuat. Diantara kedua jenis dasar
Negara itu didapati dasar perantaraan, setengah kapitalistis dan
setengah sosialistis. Pada beberapa Negara ini pertarungan kelas seru
sengit berlaku.
Negara Indonesia berdasarkan sosialistis yang tiada berdasarkan
imperialisme dan kapitalisme lagi sudah beberapa lama berdiri tegap.
Daerahnya Negara ini tidak lagi dalam arti sempitnya sekarang, tetapi
sudah memeluk sebagian besar dari Benua Asia Selatan, yang sekarang
cerai-berai yang dinamai Birma, Siam, Annam, Malaka, Indonesia Sempit,
kepulauan Filipina dan Australia Katulistiwa. Nama resminya Negara Baru
ini ialah
Federasi Aslia rapat dengan Australia dingin.
Pusat perindustrian yang dimaksudkan ialah industri-jiwa,
heavy-industry,
bukanlah satu. Yang terpenting adalah empat: (1) menurut keperluan
diplomasi dan strategi keempat arah di dunia yang belum aman ini; (2)
menrut adanya bahan dan kodrat mesin seperti adanya air mancur, arang
atau minyak; (3) menurut perhubungan lalu lintas; (4) menurut adanya
kaum pekerja dan lain-lainnya. Empat industri dicocokkan dengan 4
syarat tersebut diatas.
Saya dengan beberapa pemuda/pemudi mengunjungi pusat industri yang
terpenting di Aslia, kalau tidak didunia. Letaknya adalah segaris dengan
sumbu, dengan Katulistiwa, yang kira-kira ditentukan
oleh garis Bonjol-Malaka. Sumbu ini pada zaman purbakala mendapat
perhatian penuh dari pihak Negara yang langsung atau membelit
mempersatukan Indonesia Raya. Keduanya kerajaan besar, Sriwijaya dan
Majapahit memusatkan strategi pada sumbu ini. Pusat ini jadinya
memenuhi syarat pertama strategi dan diplomasi.
Tiada mengherankan! Sumbu ini meguasai dua Benua dan dua Samudera
terbesar dihari depan. Dengan artinya tenkik dan ekonomi zaman sekarang
sumbu ini mendapat jiwa yang bagus, lebih kukuh dari yang sudah-sudah.
Logam besi, alumunium dan
bauxite buat pembajaan besi biasa,
timah buat keperluan industri ketentaraan, arang, listrik (air mancur)
serta minyak tanah buat kodrat mesin, kayu dan lain-lain bahan semuanya
Bahan buat Industri-jiwa (heavy industry) (sebab memang penting buat
mempertahankan Indonesia seluruhnya) berada dalam keadaan yang luar
biasa; banyak, baik dan berdekatan!
Karena pentingnya sumbu-Dunia ini, maka sudah lama Federasi Aslia
menggali terowongan, yang menyambung Sumatera dengan Semenanjung
Malaka. Kota Malaka sendiri sekarang dengan satu kota dihadapannya di
Sumatera sudah menjadi pangkalan kapal perang yang terutama, buat
menguasai Selat Malaka. Dengan begitu menguasai dua Benua dan Dua
Samudera! Beberapa terusan yang memperhubungan sungai besar, ialah Siak
dan Kampar, sudah digali. Juga kedua sungai ini sudah diperdalam dan
dibentuk tebingnya. Perhubungan sepanjang sumbu Bonjol-Malak itu
kendaraan diatas dan dibawah air, serta diudara berjalan tiada
berhentinya! indsutri tadi dengan kereta lori dan kapal. Begitu juga tak
berhentinya bermacam-macam kendaraan, tak putus-putusnya lalu-lintas
siap mengangkut bahan atau barang, serta kaum pekerja yang terutama
datang dari pulau Jawa.
Ketika kami dari atas bukit mengagumi bumi yang permai dan langit
yang jernih, mataharinya mulai naik serta memancarkan sinar yang
sehat-segar, yang paling muda diantara kami, berlari menuju ke tebing
jalan kereta, menelungkup berama-ramai. Tetapi dengan giat gemetar,
melambaikan kedua tangannya kepada kami memanggil dengan teriak. Kami
lari ketempatnya! Salah satu pemuda, mahasiswa, ketika kami semua masih
hening takjub melihat kereta api, panjang, naik bukit menuju ketempat
kami, dengan suara lemah menggeletarkan kira-kira: “Perhatikanlah induk
mesin itu! Alangkah keras kerjanya! Asap nafasnya berbual-bualan:
Keringatnya kurasa panasnya! Dengarlah puputnya memberi pengawasan.
Ketepi-ketepi, aku lari! Jangan lariku terganggu! Berapa ribu kilo
barang kuangkut lari! Beberapa ratus jiwa dibelakangku. Perempuan,
lelaki, pemuda pemudi, kanak-kanak dan bayi. Ketepi-ketepi, teriakku
sekali lagi. Bahayamu adlaah noda bagi diriku. Keselamatan semua aku
tanggung, jadi mesti kutepati. Saat menit terlambat menghilangkan
namaku. Abangku masinis langsung bertanggung jawab. James Watt nama
nenekku! Cepat cakap dan aman sentosa inilah semboyanku! Kesempurnaan
inilah hari depanku.
Ditanah datar dibawah kami sudah kelihatan rumah berjejer-jejer
mengelilingi tanah lapang. Inilah rumah, kaum pekerja, berbentuk baru
dan cocok dengan ilmu hawa udara dan cahaya matahari. Selainnya dari
pada rumah yang menjaga dan memajukan kesehatan pekerja,
ditengah-tengah tiap-tiap rombongan rumah didapati tanah lapang buat
bermacam-macam sport dari bermacam-macam usia, gedung yang tinggi ialah
sekolah yang cukup mempunyai alat buat bermain, bertani, bertukang dan
berteori. Gedung yang paling besar, paling tinggi dan paling bagus itu
ialah tempat bermusyawaratannya kaum pekerja tempat membaca buku dan
surat kabar dan kadang-kadang dipaku buat kotbah (lecture).
Akhirnya kami sampai pada salah satu pabrik besar. Disini kelihatan
mesin yang paling baru dan paling kokoh cakap. Hasilnya berlipat ganda
dari yang sudah-sudah. Permatilah gunting raksasa itu! Baja keras dan
tebal itu diguntingnya seperti adik saya menggunting kertas. Hampir
pecah anak telinga kita mendengar martil yang 125 ton (125.000 kg) yang
dijatuhkan dari temapt yang 6 meter tingginya itu. Baja sebesar
benteng itu kalau ditempatnya jadi tipis seperti emping. Amatilah
gergaji listrik itu melayani papan waja itu, seperti pandai besi pada
zaman Majapahit memotong-motong bambu .......... Disini dibakar mesin
buat pabrik gula, kopi, karet dsb, mesin buat pabrik kain, sepatu,
sikat gigi dsb; mesin buat kapal, kertas,
auto, kapal dsb. Jadi pabrik ini ialah pabrik “mesin buat bikin mesin”,
machine making machine. Yang terpenting sekali ialah mesin buat membikin pertahanan Negara senapan mesin, meriam, kereta kebal, kapal silam dan
aero-engine,
mesin udara. Tetapi selalu dirombak, dilebur dibentuk kembali menurut
pemeriksaan dan pendapatan baru! Tiada jauh dari pabrik ini didapati
satu laboratorium Raya yang selalu mencari susunan mesin yang baru dan
kodrat mesin yang lebih
efficient dari yang sudah-sudah. Semboyannya pabrik-raya ini “Cakap demi cakap”,
more and more efficiency.
Hak-diri dan perseorangan (private ownership and
individualism!) sudah tak dikenal lagi dalam pabrik ini. semua mesin
bahan dan kodrat mesin ini dipunyai masyarakat Aslia. Klas Kapitalis
dan proletar, golongan buruh halus dan kasar sudah lama hilang lenyap.
Kaum pekerja otak dan tangan, pekerja menurut pembawaan masing-masing,
dan masing-masing mendapat upah melebihi keperluan masing-masing.
Memang Aslia itu kaya, raya! Dengan ilmu dan teknik sebaru-barunya,
pemujaan harta benda terserah pada masyarakat, penghasilan dan
pembagian hasil berdasarkan tolong-bertolong upah dan kehidupan diatur
menurut rencana-pergaulan (social-planning), hasil perusahaan senantiasa
berlipat ganda, melimpah-limpah laksana danau dimusim hujan
.
Saya terpaksa menarik pemuda dan pemudi keluar meninggalkan pabrik
tadi. Mereka tak putus-putusnya bertanyakan ini itu, meloncat kesini
dan kesitu. Setelah keluar pabrik ini, mereka bersikeras mau
mengunjungi bermacam-macam pabrik lainnya, terutama pabrik yang bikin
aero-engine
itu. Tetapi hari sudah petang. Mereka bersikeras mau bermalam disana
saja. Sebetulnya saya kekurangan alasan buat membantah mereka.
Untunglah terdengar dengungan mesin kapal terbang yang hendak
berangkat. Mereka berhamburan melompat keluar pabrik, menuju kelapangan
terbang sedikit jauh diluar kota pabrik ini.
Mereka bergerak berjalan cepat, bersorak menyanyi bersama-sama;
Sudah dilangit kami melintas
Terbang melayang kebumi lain
Namun akal pantang tewas.
Asal masyarakat terus menjamin.
KE TAMAN MANUSIA
Maluku (is)
het verleden,
Java (is) het heden,
Sumatera (is)
de toekomst.
Kata Belanda! Artinya itu:
Kebesaran Indonesia dahulu ter-
Letak di Maluku; sekarang
Jawa nanti di Sumatera
Apakah yang dimaksud Belanda dengan “Kebesaran?” Tentulah bukan
kebudayaan! Kalau dipandang dari penjuru kebudayaan, maka simpulan tadi
mesti disusun: Sumatera yang pelopor; Jawa yang sekarang; dan hari
depannya Indonesia, boleh jadi sekali kembali ke Sumatera.
Sebelum zaman Majapahit, tak bisa disangkal, bahwa Sumateralah dengan
kerajaan Sriwijaya, sebagai pemimpin politik, yang menjadi pusat
kebudayaan. Sekolah tinggi berdasarkan Buddhisme, di ibukota Sriwijaya,
tidak saja menjadi obornya Buddhisme di Indonesia, tetapi pada satu
masa boleh dikatakan buat seluruhnya dunia yang beragama Buddha.
Dharmakitri di Sriwijaya diakui sebagai ahli Buddhisme yang terbesar
pada zamannya. Yah Hien dan I-Ching; keduanya ahli Tionghoa tentangan
agama Buddha, dan diakui oleh dunia Barat juga sebagai Ahli Sejarah
Timur yang besar, lama tinggal di-ibu kota Sriwijaya buat mempelajari
Buddhisme. Pada masa Sriwijaya masih dipuncak kekuasaan dan Buddhisme di
Hindustan sedang turun, maka besar sekali pengaruhnya Sriwijaya atas
sisa politik dan kebudayaan Buddhisme yang masih tinggal di Hindustan.
Sesudah Sriwijaya turun dan sunyi senyap, maka pusat kebudayaan
(Hinduisme-Buddhisme) berpindah ke Jawa. Sampai sekarang Jawa tetap
pegang kehormatannya sebagai pusat kebudayaan Hindu-Jawa itu.
Walaupun sekali lagi Sumatera berlaku sebagai pelopor dengan membawa
Islam ke-Jawa – ingatlah nama-nama Falatehan Jakarta dan Sunan Gunung
Jati – tetapi kebudayaan yang dilaksanakan dan dimajukan oleh bangsa
Indonesia masih berpusat di Jawa. Kebudayaan masa dahulu kala yang bisa
dianjurkan keluar Negara, yang bisa mengenangkan hati seluruhnya
Rakyat Indonesia pada masa sekarang, ialah: kebudayaan Jawa. Yang saya
maksud dengan kebudayaan, kultur, ialah perkendalian atas dunia diluar
dan dalam diri manusia. Perkendalian atas “dalam diri” itulah yang
memuncak di Jawa.
Tetapi mesti ada peringatan, bahwa perkendalian itu berdasarkan
idealisme, kegaiban dalam filsafatnya dan kerajaannya dalam politik
(politiknya). Duduk sama rendah, tegak sama tinggi, tak didapati kalau
dalam Masyarakat Hindu-Jawa.
Kalau dasar semacam ini, dasar kerakyatan ini akan dijadikan ukuran,
maka kita mesti menoleh kemasyarakat Minangkabau pada zaman luruhnya.
Kita mesti pelajari makna undang yang dipusatkan oleh dua
Ketumanggungan dan Perpatih. Keduanya ahli undang ini berdasarkan
kerakyatan, tetapi yang pertama dianggap conservative. Walaupun
kesusasteraan dan seni seperti tari dan nyanyi di Minangkabau disana
terbelakang dari Jawa, tetapi teknik dan ekonomi sekali-kali tak
ketinggalan oleh Jawa. Malah dalam teknik perairan Minangkabau melebihi
Jawa dan Bagian Asia lainpun.
Dalam perkara kebudayaan tadi bukanlah Maluku yang jadi pelopor, perintis, jalan kebudayaan. Bukanlah “Maluku”
het verleden, melainkan Sumatera. Cuma kalau dipandang dengan kaca mata
shopkeeper,
yakni tukang warung, maka kehormatan itu terletak didadanya Maluku.
Memang Maluku dengan cengkeh dan palanya pernah menarik bangsa Eropa ke
Indoenesia dan mengisi penuh kantongnya bangsa Barat itu. Dengan
hilang celupnya pala dan cengkeh itu, dan naiknya celup gula dan kopi.
Maka dari penjuru matanya tukang warung juga “kebesaran” sekarang itu
berpindah ke Jawa. Sebetulnya, sesudah kira-kira tahun 1927, pada waktu
mana export dari Sumatera sudah lebih dari setengahnya export seluruh
Indonesia “
Kebesaran sekarang” itu sudah berpindah
dari Jawa ke Sumatera, yakni dipandang dari kaca-mata tukang warung
juga. Dengan begini sebetulnya nujumnya tukang warung tadi, bahwa “
Sumatera itu ialah hari Depan, sudah berlaku”.
Memang Sumatera dengan besarnya hampir 3 ½ X Jawa; dngan banyak dan
besar serta dalam sungainya yang mengalir ke Samudra Pasific dengan
segala ragam bahan logamnya yang sempurna banyak dan sifatnya; dengan
letaknya yang tiada taranya didunia ini; dan akhinrya tetap tiada
terkurang pentingnya, dengan kemajuan Ilmu dan Pesawat Zaman sekarang
yang bisa menukar rawa-rayanya Sumatera sebelah Timur menjadi taman-raya
............... maka tak ada diantara kepulauan Indonesia yang
berbahagia seperti Sumatera. Apalagi kalau Sumatera itu dikembarkan
(terowongan) seperti pada zaman purbakala dengan Semenanjung tanah
Malaka.
Jepang dengan mata tajamnya, seperti mata burung elang sudah sadar
akan arti Sumatera/Malaka dalma arti perindustrian dan peperangan
(strategy). Bagaimana juga akhirnya peperangan ini (sekarnag Maret, 28,
1943) bagaimana juga akhirnya nasib Indonesia dalam hal politik,
tetapi pasti perindustrian di Sumatera/Malak tak akan bisa dihambat
majunya. Perkara tenaga tidak menjadi persoalan yang tetap tak bisa
diselesaikan. Sumatera/Malaka sekarangpun sudah hampir dua kali
penduduk Australia yang besarnya 15 kali sebesar Sumatera/Malaka itu.
Lagi pula Jawa lebih dari cukup mempunyai
reserve, bantuan tenaga. Dalam sejarah perindustrian didunia, kita saksikan
Bukannya tempat yang pindah mencari orang (tenaga), melainkan sebaliknya
buruh yang pindah mencari tempat
(perindustrian). Dengan begitu perindustrian Indonesia pada hari depan
akan berpusat di Sumatera/Malaka, seperti pada tulisan terakhir kita
sebutkan di Sumbu Bonjol/Malaka. Akhirnya tetapi tiada pula terkecil
artinya pada tingkat penghabisannya, bukan kebudayaan semata-mata yang
menentukan ekonomi (perindustrian dsb), melainkan ekonomilah yang
menjadi alat adanya dan yang membentuk kebudayaan. Dengan Industri Jiwa
Indonesia kelak akan berpindah ke Sumbu Bonjol/Malaka, maka
lambat-laun kebudayaan akan berpindah, ya, berpindah kembali kesana.
Demikianlah Sumbu Bonjol/Malaka itu kelak akan menjadi sumbu
kebudayaan.
Tetapi sekarang sumbu kebudayaan itu masih di Jawa. Dengan majunya
pertanian dan industri kecil, menengah dan sebagian dari industri besar
di Jawa dan rapatnya penduduk sekarang dan dihari depan, maka Jawa akan
tetap buat beberapa lama memegang kedudukan tertinggi dalam kebudayaan
Indonesia itu! Lagi pula kaum cerdas (intelek) dan pekerja kasar dan
halus akan berpusat di Jawa.
Republik Indonesia sempit, tetapi dengan hati lapang, sudah lama
membentuk Taman-Manusia, hampir pada tiap-tiap pulau di Indonesia.
Cocok dengan kekuatan pulau dalam hal ekonomi, maka tiap-tiap pulau
sudah memilih dan membangunkan Taman-Manusia masing-masing atas dasar
yang sama buat seluruh Indonesia. Baik semangatnya atau teknik dan
seninya semua bangunan itu sudah ditetapkan oleh komisi Taman-Manusia
dan dibenarkan oleh Majelis Permusyawaratan Indonesia. Taman-Manusia
yang dianggap menjadi modal, contohnya terdapat di Jawa.
Kesini kamu pergi bertamasya! Tram listrik Gunung yang kami kendarai.
Kata seorang penumpang pada sayat tak lama lagi tram naik gunung ini
akan dijalankan oleh korat kawahnya gunung Merapi yang banyak dipulau
Jawa ini. saya sahuti pula kalau begitu nanti tak saja terowongan yang
bisa mempertautkan kembali Jawa/Sumatera, tetapi juga
ferry-raya
yang pulang-balik di Selat Sunda akan dijalankan oleh kodrat kawahnya
Gunung Krakatau. Jadi nujumnya Joyoboyo akan berlaku sebaliknya. Jawa
bukannya akan msunah dari muka bumi ini malah sebaliknya akal manusia
bisa diperbesar dan mempertaukan kembali dengan saudara kandungnya.
Impian kami terpaksa diputuskan, karena sudah berhenti dimuka pintu
gerbang yang permai sekali. pemandangan disekelilingnya menakjubkan
serta memberi ilham yang tak bisa dilupakan! Kami masuki pintu gerbang
itu, bermula kami memandang padang penuh dengan gedung yang
indah-indah, bermacam-macam tugu, dikelilingi oleh berjenis-jenis pokok
kayu serta bunga-bungaan yang berbagai-bagai warna dan bau. Sesayupnya
mata memandang kedepan, kekiri dan kekanan kelihatan bukit
mengelilingi. Dikaki, dipinggang dan dipuncak bukit barisan berkeliling
padang tadi, kelihatan patung besar kecil yang kadang-kadang
memancarkan kembali sinar matahari.
Alangkah permainya pemandangan disini! Tetapi sebentar saja kepala
kami yang penuh ilham tadi, dengan hati yang takjub hening-hening itu
terharu. Dimuka kami ada satu tugu panjang bujur sangkar. Didepannya
ada satu patung besar, menundukkan kepalanya, dengan muka yang tak bisa
digambarkan dengan satu perkataan, sebagian berupa sedih-pilu,
sebagian berupa menyesal dan sebagian berupa marah ............. kami
lekas mengerti maksudnya patung ini. sesudah kami menghampiri tugu
bujur sangkar itu. Didepan huruf baja tertulis:
TUGU PERINGATAN MANUSIA NAJIS
PENGHIANAT NEGARA, PENJUAL RAKYAT
KUSTA MASYARAKAT!
Puluhan, ya ratusan namanya dan gelarnya manusia najis yang
dituliskan disemua sisi Tugu Raya ini. yang baru diantara mereka
mempunyai gambaran. Dengan tulisan baja pula disebutkan asal, pangkat,
pekerjaan, dan perbuatan masing-masing terhadap Rakyat Indonesia dimasa
lampau. Yang masuk golongan manusia najis No. 1 ialah mereka yang
dengan langung membantu penjajah penindas, penghisap atau pembunuh
Rakyat Indonesia. Golongan yang kedua ialah mereka, yang dengan tak
langsung membantu musuh Indonesia (hand-en spandiensten verrichten).
Golongan yang ketiga ialah mereka, yang masuk kedua golongan tersebut
diatas, tetapi mengecap kesenangan bersama-sama dengan musuh Rakyat,
merugikan Rakyat. Ada lagi satu golongan yang namanya tertulis pada satu
kubu tertutub dibelakang kubu najis, mereka tiada masuk golongan
najis, tetapi berjuang tehradap masyarakat. Golongan ke-empat itu ialah
mereka yang bermata tetapi tak melihat, bertelinga tetapi tak
mendengar, berotak, tetapi tak berpikir, berperasaan tetapi berpeluk
tangan, bermulut tetapi mungkin .................... manusia tak
berguna terhadap masyarakat, masuk tak genap, keluar tak ganjil.
Sebagian besar dari muka tiap-tiap sisi kubu najis tadi belum lagi
ditulis. Rupanya pemerintah Republik menunggu pelamar najis yang baru.
Hati kita yang terharu itu ditambah kusutkan pula oleh pengaruhnya
suara burung semacam burung hantu yang bertebangan dikeliling tugu itu,
terutama disekitar Golongan Manusia Najis No. 1. Bunyi burung itu
seolah-olah berarti: jauhilah, jauhilah semangat manusia najis ini.
bunyi itu dicampuri pula oleh baunya bunga-bunga yang dikenal di
Indonesia dengan nama tahi-ayam.
Entah dari mana seorang putri, murid sekolah menengah terkenal
sebagai seorang radikal, mendapatkan barang yang tak bisa disebutkan
namanya disini ........... tetapi ia sudah siap hendak melemparkan
barang itu kesatu nama yang sampai ke Digul terbau busuknya. Untunglah
penjaga lekas datang mencegah ...........................!
Pemuda/pemudi diantara kami terutama pula yang sudah mengerti,
berperasaan halus terlatih, keras hati dan jujur, sudah lama kehilangan
kesabaran dan mendesak meninggalkan kubu manusia najis ini dan menuju
kelereng gunung.
Kami menuju kesebelah kana! Disini terdapat pemikir dan pahlawan
Indonesia. Manusia berjasa kepada Indonesia dalam lebih kurang 2000
tahun ini.
Tetapi walaupun cukup banyak kubu dan patung pada barisan bukit ini,
kebanyakan benda peringatan manusia berjasa ini terdiri dari tugu.
Tetapi pada tugu peringatan ini segala naa orang tiada lagi dikumpulkan
seperti pada manusia najis tadi. Tiap-tiap orang mempunyai satu tugu
besar atau kecil menurut jasanya terhadap masyarakat. Tugu peringatan
ini didapati dikaki bukit, cukup indahnya! Dilereng bukit kita temukan
beberapa patung pemikir dan pahlawan Indonesia. Di puncak bukit kita
lihat Cuma satu dua patung! Tetapi lebih indah dari yang sudah-sudah.
Sebagian besar dari lapangan dilereng dan puncak bukit masih kekosongan
patung, tetapi penuh dengan pohon dan bunga yang cantik danburung yang
merdu nyanyinya.
Lama komisi Taman manusia tadi, memutar-balikkan perkara dasar yang
mesti dijadikan pedoman buat mengatur kedudukan penduduk Indonesia
Almarhum yang besar berjasa.
Persetujuan tak mudah didapat. Karena, walaupun sebagian besar dari
anggotanya berdasarkan Sosialisme dan Internasionalisme, tetapi diantara
anggotanya banyak juga yang berjasa besar terhadap Indonesia Muda,
sedangkan mereka berdasarkan kebangsaan semata-mata. Pihak ini
mendesak, sedikitnya buat satu keturunan di depan, supaya kebangsaan
itu, dalam arti menurut ilmu kebangsan, diberi perhatian, terhadap
keluar Negara perlu dipropagandakan dengan “bukti dan perbuatan, bahwa
bangsa Indonesia, warna coklat penduduk hawa panas itu, bukanlah masuk
bangsa yang malas, penakut dan bodoh, seperti selalu dikemukakan pada
beberapa abad dibelakang ini. terhadap kedalam Negara, perlu dengan
seni dan propaganda dihilangkan Inferiority Complex”-nya, yang merasa
dirinya rendah, yang dimungkinkan oleh Hinduisme dan didalamkan oleh
Imperialisme Barat.
Berhubung dengan aliran Internasionalisme sehat dan Nasionalisme sehat
dalam pemerintahan dan komisi tadi, yang keduanya berurat pada Rakyat
Jelata, maka pada tiap-tiap pembicaraan tentang seseorang Almarhum
berjasa timbullah bermacam-macam persoalan. Diantaranya ialah Almarhum
ini akan dimasukkan ke taman manusia bagian nasinal ataukah
internasional; penjajah mentahkah dia atau bermaksud murni terhadap
masyarakat dan bangsa asli Indonesia; melawan musuh dengan pikiran dan
semangatkah atau dengan perbuatan; apakah Birma Siam dan Annam sekarang
juga akan dimasukkan kegolongan bangsa Indonesia atau Filipina dan
Malaka saja; yang terpenting ialah orang Besar ini berdasarkan
kerakyatankah atau
kerajaan.
Berhubung dengan beberapa dasar pilihan yang diatas ini, maka Hayam
Wuruk dan Gajah Mada, walaupun kedua patungnya besar sekali, tetapi
mukanya tiadalah terang, karena ditutupi oleh semacam cahaya yang
mengaburkan seluruh badannya, apalagi kalau siang hari. Lama sekali
komisi Taman Manusia mempelajari dan berembuk tentang asal-usul, asas
dan perbuatannya kedua Almarhum besar ini. kebesaran mereka tentu bulat
dan cepat mendapat persetujuan. Dipandang dari penjuru semangat,
kecerdasan dan kecakapan dalam politik mereka dianggap luruh sekali.
Tetapi kebangsaan mereka, Hindu tulenkah atau setengah Hindu. Setengah
Hindu itu mesti dianggap kasta calon surga, sedangkan bangsa Indonesia
Asli, seperti di Bali pada abad ke-20 ini mesti diangagp sebagai Sudra,
kasta nasjis? Apakah perlunya kasta Brahma atau kasta Hindu itu,
dilayani dengan bahasa Kromo atau Kromo Inggil oleh bangsa Indonesia
Asli, sedangkan kasta Hindu melayani kasta Sudra itu dengan Ngoko.
Banyak diantara anggota yang tak bisa menahan marahnya dan mengusul,
supaya Hayam Wuruk dan Gajah Mada itu dilenyapkan saj dari sejarah
Indonesia. Golongan ini menyamakan hayam Wuruk itu dengan Jan
Pieterzoon Coen dan Deandels. Mereka bertanya, guna apakah begitu banyak
darah bangsa Indonesia di Jawa dan seberang dicucurkan? Karena tak
satupun daya upaya menakluk Hindu itu, kata mereka, yang mencoba
mengembangkan kebudayaan Majapahit itu dengan sungguh, ikhlas dan
langsung diantara Rkayat seberang sehingga samapi Rakyat Batak, Kubu,
Dayak, Toraja dsb tak sedikitpun mendapat manfaatdari peperangan yang
diulungkan, diwayangkan dan didongengkan itu. Ada yang menuduh, bahwa
Hayam Wuruk dan Gajah Mada en Co-lah yang menanam atau memperdalam
inferiority complexnya Rakyat Jawa, yang terbanyak di Indonesia, yang
patut menjadi pemimpin seluruh Indonesia terhadap Imperialisme Barat,
tetapi gagal berkali-kali dalam pimpinannya itu. Banyak anggota yang
menganggap Hayam Wuruk dan Gajah Mada seperti pemimpin kasta asing,
berurat dimasyarakat Indonesia seperti bendalu berurat dipokok langsat.
Akhirnya diputuskan supaya patungnya ditaruh dibagian Indonesia,
dibesarkan tetapi dikaburi .............. artinya sejarahnya kurang
jelas!
Patungnya Hang Tuah, Diponegoro, Imam Bonjol, dan Teuku Umar tidak
begitu besar tetapi terang sekali. ada tak adanya darah asing, yang
sendiri mengaku superior, ulung, pada para pahlawan ini tak menjadi
persoalan lagi. Tak ada diantara anggota, yang memandang campur darah
asing itu satu kekuatan asal. Campur darah itu bersemangat dan bersikap
samarata terhadap darah Indonesia Asli. Mereka semuanya pahlawan Islam
yang tak mengenal kasta dan kutuknya kasta Sudra atau Paria. Meskipun
begitu diantara nasionalist sehat dan internasionalist ketika
menentukan besarnya patung ke-empat pahlawan pada empat negara
(masyarakat) di Indonesia tadi timbul juga persoalan seperti: Kalau
Diponegoro jaya, dan bisa mendirikan kerajaan Jawa dan akhirnya
Indonesia, akan dia tetapkankah perbedaan bahasa yang dipakai diantara
satu penduduk dan penduduk di Indonesia itu? Umumnya wakil Indonesia
yang muda memandang perbedaan bahasa yang melemaskan lututnya si Kromo
itu sebagai najis Hindu yang mesti dikikis habis-habis! Batinnya mereka
juga setuju, bahwa tak ada diantara 4 satria yang menantang
imperialisme Barat tadi dengan usaha mati-matian, yang berpikiran baru.
Disangka, bahwa paling baiknya Indonesia akan mendapat persatuan teguh
kembali dan satu Raja yang Adil. Tetapi semua Sejarah di Asia ataupun
Indonesia menyaksikan bahwa seorang raja adil itu mungkin dan sekali
sendiri atau mempertahankan Raja Dalim. Tetapi persoalan semacam itu
tinggal akademis, sesuatu, “kalau” saja. Komisi akhinrya memutuskan,
supaya para pahlawan penantang imperialisme tadi mendapat patung yang
sedang besarnya. Sejarah pertarungan mereka ditulis dengan huruf emas,
Hang Tuah, penantang Portugis dengan taktik gerilyanya dilaut,
mendapatkan perhatian lebih dari yang sudah-sudah. Karena semuanya
anggota komisi setuju bahasa hari depannya Indonesia terletak dilaut!
Hampir kepuncak kita berjumpakan beberapa patung yang menarik hati,
seperti patung Dr. Cipto Mangunkusumo, Muhammad Husni Thamrin dll.
Sudahlah tentu Thamrin mendapat sokongan besar, dari bekas borjuis
besar. Mereka mengemukakan “inteleknya” Thamrin dengan melupakan dasar
ekonomi dan politik yakni kapitalisme Bumiputera dan berkompromis
dengan kapitalisme Asing. pembantu Cipto memajukan politik, kesangsian
Dr. Cipto diantara hinduisme dan modernisme yang akhirnya mengadakan
akibat yang tiada dikendalikannya sendiri, tetap sebelum matinya.
Kebanyakan borjuis kecil membantu Cipto. Kaum Internasional besar
mengalah, mengingat tingkat sejarah Indonesia pada masa itu. Dengan
begitu nasinalist bisa mendirikan tanda peringatan buat pemimpin
nasionalist yang berjasa.
Dipuncak bukit kita lihat dua patung: Dr. Jose Rizal (baca Hose) dan
Andreas Bonifacio. Mereka ditaruh dilapangan dipuncak bukit. Belum ada
penduduk Indonesia-Sempit sampai kesana. Memang sampai waktu Jepang
masuk, Indonesia-Sempit, tak mempunyai nasionalist yang bersejarah
seperti Huaroz atau Rizal, Dr. Sun Yat Sen atau Tilak. Belum ada
penduduk Indonesia Sempit yang sampai kesana. Tidak saja Rizal dianggap
pelopor dan Satria kemerdekaan Filipina, tetapi juga satu dokter yang
masyhur di Asia Timur, ahli bahasa, yang mengenal lebih baik dari 13
bahasa tua dan baru, seniman yang mendapat pengakuan Interansional,
biologist yang mendapat tumbuh-tumbuhan dan hewan baru, pengarang buku
yang membawa dirinya kebawah hujan peluru sebagai hukuman dari
pemerintah Spanyol.
Bonifacio sampai sebagian besar maksudnya, seperti belum tercapai
oleh orang Indonesia lain. Dia bapaknya Katipunan, partai Revolusioner,
yang bermula menaikkan bendera kemerdekaan menentang tentara Spanyol
yang lengkap senjatanya itu dengan bola ditangan dan berhasil ¾
mengusir Sapnyol ................. sampai jiwanya ditewaskan oleh
penghianat kawan seperjuangan.
Diantara wakil proletar ia di Komisi kita tadi, banyak yang memajukan
supaya Bonifacio dimasukkan ke-Taman Indonesia bagian internasional
saja. Pihak ini memajukan bahwa Bonifaciolah yang pertama kali, tidak
saja di Filipina, tetapi diseluruh Indonesia, ya, diseluruh Asia yang
berasal, berpendidikan proletaris, dan menyusun proletar. Lebih dari
Dr. Rizal maka Bonifacio mengerti kekuatan proletar dan akhirnya
mengerti akan politiknya Amerika yang masuk menyerbu. Sampai pada saat
matinya, dia tetap memegang dasar kemerdekaan dan tak mau kompormis
dengan bangsa asing yang hendak masuk mencampuri politik Filipina.
Juga ada diantara anggota komunis yang mau menempatkan patung Dr.
Rizal ditaman manusia bagian internasional itu. Mereka memperingati
dokter ini, walaupun berusia 36 tahun sudah memperlihatkan sinar
otaknya, tidak pada satu lapangan ilmu saja, tetapi pada bermacam-macam
lapangan. Mereka memperingatkan kata Russell, bahwa “universal genius:
maha cerdas dalam segala ilmu itu, tidak terdapat dibangsa lain,
melainkan pada Malay Race, diantara bangsa Indonesialah. Clefford juga
mengaku kecerdasan luar biasa dari dokter muda bangsa Indonesia tulen
ini! Jadi kata mereka, para anggota komisi tadi tak ada halangannya
kalau Dr. Rizal berdiri sejajaar dengan Ariestoteles ataupun Descrates
yang juga universal genius tetapi tidak dalam bahasa atau seni seperti
Dr. Rizal.
Tetapi menurut pendapatan pihak yang mau menaikkan derajat bangsa, menghilangkan
inferiority complex
baiklah keduanya Jose Rizal dan Andreas Bonifacio ditaruh sebagian
dalam daerah nasinal. Dalam hatinya semua anggota juga mengakui bahwa
keduanya orang besar Indonesia itu meskipun cukup buat Indonesia dan
Asia, tetapi belum cukup buat seluruh dunia. Mereka tiada meninggalkan
teori atau dasar yang baru buat
science dan masyarakat umumnya.
Putusan yang diambil ialah menaruh patungnya Dr. Rizal dan Bonifacio
kebagian Indonesia dengan mukanya menghadap bagian Internasional!
Bukan main cantik warnanya dan merdunya suara burung yang diperlihara
disekitar dua Almarhum besar ini. karangan bunga yang bertimbun-timbun
ditaruh di kaki kedua patung itu. Desas-desus suara kekaguman
pengunjung, membawa pikiran dan idaman putra dan putri Indonesia tinggi
melayang keangkasa ............melebihi kecerdasan Jose Rizal dan
ketunggangan Bonifacio.
Kami sekarang menuju ke bukit sebelah kiri, kebukit internasional.
Seorang pemuda bertanya, kenapa besaran dunia itu patungnya ditaruh
sebelah kiri. Tidakkah lebih cocok kalau ditaruh disebelah kanan.
Jawabnya, maksud kiri itu, ialah hari-depan. Internasionalisme sehatlah
dan diujudkan oleh Republik Indonesia dan kelak oleh Federasi Aslia.
Seorang pemuda berkecikak menanyakan: “Kalau saya mati, dimana nanti
saya ditaruh?” Disana, kata seorang, menunjuk ke kubu najis kalau kamu
berlaku seperti mereka. Digolongan nasionalis-besar, kalau kamu berbuat
baik kepada masyarakat Indonesia. Digolongkan internasional kalau
engkau betul-betul meninggalkan teori baru untuk ilmu bukti dan dasar
baru buat sembarang masyarakat didunia! Tetapi kalau manusia masa saja
tetapi cukup buat jadi contoh teamn sejawatmu, karena sebagian
pelajaran engkau belajar dengan sungguh, sebagai guru engkau mengajar
dengan giat, tetapi pekerja engkau tak pernah dapat celaan, sebagai
pemikir, dokter, insinyur atau ahli undang dsb engkau dengan teliti
menjalankan kewajibanmu, maka engkau akan bersemayam di desa, kota,
atau daerahmu, di catat ditugu atau dipatungkan menurut jasamu! Tak ada
nama pad amasa depan yang akan dilupakan, dosa yang akan didiamkan atau
jasa yang tiada akan dicatat. Perkataan para Nabi, bahwa tak ada
perbuatanmu yang tidak diketahui dan dituliskan Tuhan Yang Maha
Mengetahui dan mencatat segala dosa dan jasamu buat selama-lamanya.
Jadi awasilah segala perbuatanmu!
Kami akhirnya sampai ketugu besar! Tugu ini penting sekali dan
didirikan atas usulnya internasionalist dalam komisi kaum nasionalist
yang selalu mengembar-gemborkan Diponegoro dan Imam Bonjol itu,
seolah-olah tak suka ikhlas, menyebut puluhan nama yang meringkuk dan
mati dalam bui, buangan atau gantungan Imperialisme Barat, seolah-olah
mereka Amlarhum ini dianggap bukan lagi bangsa Indonesia yang berjaasa
tehardap masyarakat Indonesia. Sebetulnya nama Indonesia, baik nama
Negara atau orangnya, dalam pergerakan Indonesia lk 35 tahun
dibelakang, sebelum Jepang masuk, tercantum dalam surat kabar asing di
Singapura atau Shanghai, London, atau New York, ialah nama yang
berhubungan dengan keributan 1926, disebabkan pengaruhnya PKI.
Orang boleh bertemukan nama Dahlan seumpamanya pemimpin Komunis di
Jakarta diruang surat kabar Bangkok atau Hongkong, London atau New
York. Tetapi carilah nama-nama seperti Dr. Sutomo atau Dr. Wahidin
umpamanya. Orang bisa ketemukan nama partai PKI dalam surat kabar
didunia luar Indonesia. Berhari-hari, berkolom-kolom surat kabar diluar
negeri dikawati dengan nama pemimpinnya yang berhubung dengan kejadian
di Jawa dan Sumatera pada tahun 1926 itu. Tetapi carilah nama Budi
Utomo atau lain-lain kumpulan intelek di dunia luar! Pendeknya
Indonesia sebagai bangsa yang masih berjiwa, yang masih bisa memprotes,
tiadalah dikenal oleh Negara lain, diabad ke-20 ini, kalau tak ada
keributan 1926 itu dan pemimpinnya.
Satu anggota mengemukakan bahwa pemogokan buruh kereta api pada tahun
1922 lebih besar artinya buat kesadaran rakyat dalam politik dari 1001
pidato kaum intelek yang disertai tempik sorak tak karuanitu! Komisi
mengakui, bahwa para pemimpin PKI almarhum patut dipatungkan, sudah
lebih dari sepatutnya diperingati nama dan sejarah pendeknya para
pemimpin dan pengikutnya almarhum seperti Subakat, Dahlan, Ali Archam,
Haji Misbah, Sugono, Dirya dll.
Demikianlah nama diatas disertai oleh puluhan nama pahlawan yang
bersemangat dan berhaluan baru serta bersejarah, pendeknya tercantum
pada tugu besar ini. Dimuka tugu besar ini berdiri patung tak begitu
besar, seperti seorang muda remaja, berbadan sehat, kukuh, bermuka
penuh dengan pengharapan kegiatan dan kesucian pikiran. Patung ini
menghadap kekiri, kebagian Taman Manusia internasional, mengaruk
kepuncak bukit, namanya tak ada. Dibawahnya tertulis dengan tulisan:
Enyahlah segala macam isapan, tindasan dan kecongkakan!
Hiduplah persamaan manusia dan manusia serta bangsa dan bangsa.
Hiduplah kemerdekaan berpikir buat ilmu pesawat dan seni!
Perlahan kami mendaki gunung. Karena semua berjalan menengadah keatas
melihat patung yang indah berseri-seri dan takut jatuh tertarung.
Tak ada yang berbicara keras! Walaupun tadi sudah merasa lelah,
sekarang kaki dan badan seolah-olah mendapat seburan dari nenek moyang
manusia yang dipatungkan dimuka kami.
Berseri-seri patungnya pembentuk agama manusia, seperti Zarathustra,
Musa, Isa, Buddha ....... diantaranya pemdua ada yang bertanyakan
Muhammad. Dengan cepat dijawab: Tidak boleh dipatungkan! Itulah tugu
peringatannya. Disana engkau kelak boleh baca dasarnya Islam dan
sejarah pendeknya Muhammad SAW. Nabi Muhammad melarang menyembah
patung, sebab dengan begitu orang akan melupakan azas dan perbuatan.
Jawab satu pemuda pula, tetapi gambaran badan dan mukanya nabi, bisa
mengeluarkan minat pula! ......... “Dimana patungnya Maha Guru Kung?”
tanya seorang pula. Jawab: dia sebetulnya bukan pembentuk dasar
masyarakat dengan agama, melainkan dengan filsafat. Dia ditaruh antara
pembentuk agama dan filsafat.
Lihatlah disana patung yang indah mulia dari filsafat dunia Barat dan
Timur! Disana ada ahli filsafat baik pun idealist ataupun materialist,
berdasarkan Logika atau Dialektika.
Perhatikanlah tiga serangkai yang menjadi urat aslanya pikiran zaman
sekarang. Socrates, Plato, Aristoteles! Pada jejeran lain Heraklit,
Demokrit dan Epikur. Disana Ibu Rusjdi, Wakidi, disana David Hume,
Hegel .......... disana sapa? ............ banyak lagi.
Kami berjumpakan banyak pemudi berkeliling patungnya Omar Khayam,
penyair Arab yang masih menggetarkan tali perasaannya putra dan putri.
“Penyair” yang sedih sayup, tetapi langsung, lancip, tepat mengenai
hati percintaan “kata seorang putri”. Penyair buat segala bangsa dan
masa kata seorang putra! .......... Disana penyair Li Po, Shakespeare,
Goethe, Pesjkin .......... ya siapa lagi ............
Sebelah keatas lain golongan dari besaran dunia!
Science!
Galen dari Yunani, Sena dari Arab Asli, besaran tentangan Fisika,
seperti Archimedes, Pascal, buat Kimia: Dalton, Mendelief, Mosky
........... Matematika Poincare, Gaus, Einstein ....... Ilmu Bintang:
Copernicus, Galilei, Newton, Einstein ....... Biology: Darwin, Mendel
........ Listrik: Faraday, Edison, Ohm .......Seniman .......! Pujangga
..............! Diantaranya sudah ada scientist dan pujangga dari
Jepang dan Hindustan. Cukup lengkap dengan teori, dasar yang
memusingkan kepala.
Salah seorang memandang kebawah, kekaki bukit dan dengan suara
seolah-olah tercengang bertanya: “Kenapa patung Alexander Julius Caesar
dan Napoleon ditaruh dibawah sekali? Patung Bismark Cuma sedikit lebih
tinggi? Itu patung Abraham Lincoln kenapa lebih tinggi tempatnya dair
Napoleon?
Napoleon betul manusia paling ulung dalam hal kecerdasan, watak dan
kemauan! Betul pula dia telah mempersatukan Eropa yang cerai-berai.
Tetapi dia terlampau cinta pada Ilmu perang dan peperangan. Semua
keulungannya Cuma buat hawa nafsunya sendiri. Persatuan Eropa itu
dilakukan tidak dengan setujunya Rakyat Negara yang dipersatkan. Lagi
Eropa Raya itu terutama buat kebesarannya sendiri buat namanya sebagai
penakluk, sebagai Alexander dengan tak memperdulikan air mata dan darah
yang mengalir serta jiwa yang melayang. Bismark juga begitu. Tetapi
Abraham Lincoln tak boleh dijejerkan dengan Napoleon. Sifatnya Lincoln
berlainan.
Akhirnya mereka, walaupun sudah lelah sampai juga kepuncak bukit.
Jauh kelihatan sinar yang terlantun dari patungnya para Nabi. Pada
dataran yang sama tinggi didapati patung para pembentuk masyarakat
baru.
Komisi disini berhati lapang! Perbedaan muslihat kaum Sosialis dan
Komunis tiadalah disini menjadi halangan buat mengaku jasa
masing-masing pada masa dan masa yang berlainan. Diakui jasanya pemikir
borjuis seperti Rousseau, Voltaiere dan Montesque dimasa revolusi
borjuis utopis seprti Saint Simon, Fourir dan Robbert Owen, pemimpin
seperti Roberspierre, Danton dan Blanqui. Sosialist seperti lassalle,
Hilferding dan Kautsky. Bapak sosialisme ialah Karl Marx dan Engels,
serta pengikut besarnya seperti Lenin, Trotsky, Rosa Luxemburg, dan
lain-lainnya sudah tentu mendapat perhatian luar biasa terutama dari
pemuda yang bekerja pada industri besar dan kecil.
Seorang pemuda sedang memanjat hendak mencium mukanya Marx dan memeluk Engels, tetapi dibatalkan oleh penjaga ramai.
Disekitarnya patung Lenin kita melihat seekor pelanduk yang sedang
bermain-main dengan pemuda dan pemudi yang kebetulan hari ini datang
bertamasya kemari dari Pusat Perindustrian Jiwa. Pelanduk ini memang
berumah tak jauh dari patungnya Lenin. Matanya hewan ini
cemerlangmenandakan kecerdasan yang maha tangkas. Sikapnya seolah-olah
mengukur kekuatan lawannya dan dengan sabar menanti tempo, bilamana dia
bisa menghancur-luluhkan musuhnya dengan memakai segala kelemahan
musuh itu, walaupun musuhnya seorang Raja Hutan. Memang Indonesia
menuju kecerdasan, dengan ketetapan hati serta kesabaran pelanduk,
menentang kesusahan atau musuh.
Hewan dan bunga-bungaan serta Sang Burung mengelilingi para pemikir
dan pahlawan Masyarakat Baru ini, yang terpilih dari seluruh dunia.
Warnanya semua mahluk dan tumbuhan disini menyegarkan mata kami
kembali. Nyanyi burung seolah-olah mengangkat diri keangkasa.
Pemandangan jauh sayup kalau disertai perkakas teropong, menyaksikan
kecakrawala lautan yang selalu diliputi awan! Kesanalah jalan yang akan
ditempuh oleh kepulauan Indonesia menuju kesemua penjuru alam untuk
bekerja bersama-sama dengan semua Negara dan semua bangsa dimuka bumi
ini, buat mengadakan masyarakat baru atas:
Kemerdekaan, Kemakmuran dan
Persamaan sejati.
Meninggalkan Taman Manusia ini tiada dibolehkan melalui Pintu Gerbang
Masuk, yang berdekatan dengan Tugu manusia najis itu. Pemerintah
menjaga supaya kesan yang suci yang diperoleh dari pemandangan
kebesaran nasional dan internasional tidak dikeruhi oleh perasaan jijik
kecil yang ditimbulkan oleh peringatan pada manusia najis. Kita keluar
melalui pintu besar yang lain.
Dimuka pintu keluar kami berjumpa dan bercakap-cakap sebentar dengan
bekas Maha Guru dari Sekolah Tinggi Negara. Tiadalah bisa kami lupakan
isi perkataannya bekas Maha Guru yang masyhur itu.
Arti katanya: “Dari masa sekarang tak ada lagi perbuatan Yang Baik
atau Yang Buruk dari seseroang, yang tak akan dikenal dan diperingati
oleh masyarakat buat selama-lamanya. Dengan begitu artinya fana dan
baka, surga dan neraka, dijasmani dan rohanilah, dibentuk oleh Taman
Manusia ini”. Demikianlah perkataan para Nabi pada masa dahulu.
Ada kalanya semua pengetahuan didasarkan dan diasalkan pada sesuatu
yang berpikiran dan berperasaan dan berkemauan seperti kita manusia.
Gurun dan hujan umpamanya diasal dan didasarkan pada Hantu dan Dewa,
yang bersifat kemanusiaan. Tetapi sekarang tak ada lagi para terpelajar
yang mengendaki Hantu dan Dewa itu sebagai dasar dan asal. Cukuplah
sudah buat otak kita
hukum alam sebagai asal dan dasar.
Demikianlah juga pada kalanya, manusia dan moralnya diasal dan
diakhirkan pada sesuatu, pada Yang Maha Kuasa, yang dalam hakekatnya
juga mengandung sifat kemanusiaan. Tetapi dari masa sekarang sudahlah
cukup buat otak dan hati kita, kalau manusia dan moralnya itu diasal
dan diakhirkan pada masyarakat dan
hukumnya masyarakat itu sendiri.
Buruk dan baik itu, ialah buruk dan baik buat masyarakat itu sendiri.
Asalnya masyarakat itu sendiri, dari pergaulan antara manusia dan
manusia dalam masyarakat itu sendiri. Perbuatan yang baik mendatangkan
akibat yang baik. Perbuatan yang buruk menimbulkan akibat yang buruk
pula buat masyarakat itu sendiri. Contoh ini boleh diambil dari segala
bangsa dan sejarahnya segala bangsa, dan sejarahnya segala bangsa itu
dibumi ini. Hukum buruk dan baik, boleh dipetik dan dibentuk dari
sejarahnya segala bangsa dan Negara yang dulu dan sekarang. Dengan
begitu manusia dan moralnya sudah berdasarkan Bukti, sduah nayta dan
peralaman, dan bisa berdiri atas kakinya sendiri. dan kakinya itu
berada dalam masyarakat Manusia serta moralnya. Tak perlu lagi Hantu
atau Dewa sebagai awal dan akhirnya manusia dan moralnya. Malah Hantu
dan Dewa itu menemui akhirnya pada
manusia dan
moralnya yang
nyata, yang berdasarkan
masyarakat.