Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Makna Tembang Macapat

TRIWIKRAMA

Triwikrama adalah tiga langkah “Dewa Wisnu” atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam melakukan proses penitisan. Awal mula kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan Tuhan namun masih berada di alam sunyaruri yang jenjem jinem, dinamakan sebagai zaman kertayuga, zaman serba adem tenteram dan selamat di dalam alam keabadian. Di sana roh belum terpolusi nafsu jasad dan duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh “setan” (nafsu negatif). Dari   alam keabadian selanjutnya roh manitis yang pertama kali yakni masuk ke dalam “air” sang bapa, dinamakanlah zaman tirtayuga. Air kehidupan (tirtamaya) yang bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa kemudian menitis ke dalam rahim sang rena (ibu). Penitisan atau langkah kedua Dewa Wisnu ini berproses di dalam zaman dwaparayuga. Sebagai zaman keanehan, karena asal mula wujud sukma adalah berbadan cahya lalu mengejawantah mewujud menjadi jasad manusia. Sang Bapa mengukir jiwa dan sang rena yang mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia berproses di dalam rahim sang rena dari wujud badan cahya menjadi badan raga.  Itulah zaman keanehan atau dwaparayuga. Setelah 9 bulan lamanya sang Dewa Wisnu berada di dalam zaman dwaparayuga. Kemudian langkah Dewa Wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan segenap jiwa dan raganya. Panitisan terakhir Dewa Wisnu ke dalam zaman mercapadha. Merca artinya panas atau rusak, padha berarti papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga sebagai Madyapada, madya itu tengah padha berarti tempat. Tempat yang berada di tengah-tengah, terhimpit di antara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum kelahiran dan gaib setelah ajal.

KIDUNG PANGURIPAN

“SAKA GURU”

Nah, di zaman Madya atau mercapadha ini manusia memiliki kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai pembawaan unsur “setan”, setan tidak dipahami sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda iman, melainkan sebagai kata kiasan dari nafsu negatif yang ada di dalam segumpal darah (kalbu).  Mercapadha merupakan perjalanan hidup PALING SINGKAT namun PALING BERAT dan SANGAT MENENTUKAN kemuliaan manusia dalam KEHIDUPAN SEBENARNYA yang sejati abadi azali. Para perintis bangsa di zaman dulu telah menggambarkan bagaimana keadaan manusia dalam berproses mengarungi kehidupan  di dunia selangkah demi selangkah yang dirangkum dalam tembang macapat (membaca sipat). Masing-masing tembang menggambarkan proses perkembangan manusia dari sejak lahir hingga mati. Ringkasnya, lirik nada yang digubah ke dalam berbagai bentuk tembang menceritakan sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia sebagai sebuah perjalanan yang musti dilalui setiap insan. Penekanan ada pada sifat-sifat buruk manusia, agar supaya tembang tidak sekedar menjadi iming-iming, namun dapat menjadi pepeling dan saka guru untuk perjalanan hidup manusia. Berikut ini alurnya :

1. MIJIL

Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati.

2. MASKUMAMBANG

Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang tua bahagia tak terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapa melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si ponang menangis dan demam hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya malam dan siang agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuannya mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.

3. KINANTI

Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.

4. SINOM

Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.

5. DHANDANGGULA

Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa juga belum, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat sikapnya  menjadi jera. Tak mau mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri sendiri, orang tua dan keluarga. Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak dewasa sering bikin orang tua ngelus dada. Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya.

6. ASMARADANA

Asmaradana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin hidup lantaran gema asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka meniru tindak tanduk sang gurulaku, yang sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku namun pandailah  memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi akan memburu dirimu. Salah-salah gagal menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.

7. GAMBUH

Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti.  Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada  yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.

8. DURMA

Munduring tata krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal  banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya, dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dst.  Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus  menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspadha.

9. PANGKUR

Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada  tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna.  Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa.  Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi bathang..!!

10. MEGATRUH

Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali.  Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin namun tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia. Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa, sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan neraka menganga di depan mata. Di saat ini manusia baru menjadi saksi mati, betapa penyakit hati menjadi penentu dalam meraih kemuliaan hidup yang sejati. Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling benar, apapun tindakanya ia merasa paling pintar,  namun segala keburukannya dianggapnya demi membela diri.  Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!

11. POCUNG

Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.

Tak terasa bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri dibungkus dengan kain kafan.  Sentuh sana sentuh sini tak ada yang mengerti. Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi. Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa sudah bahagia dan senang kok masih ditangisi. Ketemunya para kadhang yang telah lama nyawanya meregang. Dalam dimensi yang tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada lagi rasa lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah sadar..oh jasad ini telah mati. Yang abadi tinggalah roh yang suci.

Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh kanan dan kiri  semua bikin gelisah hati.  Seram mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian terasa meradang. Walau mengerang tak satupun yang bisa menolongnya. Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak pernah luput menimbang kebaikan dan keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar, yang dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan, yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut Tuhan.  Malah-malah yang suka menuduh  menjadi tertuduh. Yang suka menyalahkan justru bersalah. Yang suka mencaci dan menghina justru orang yang hina dina. Yang gemar menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli, nastiti, dan ngati-ati. Jangan suka menghakimi orang lain yang tak sepaham dengan diri sendiri. Bisa jadi yang salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu tidak nyasar menjadi memedi.

12. WIRANGRONG

Hidup di dunia ini penuh dengan siksaan, derita, pahit dan getir, musibah dan bencana. Namun manusia bertugas untuk merubah semua itu menjadi anugrah dan bahagia. Manusia harus melepaskan derita diri pribadi, maupun derita orang lain. Manusia harus saling asah asih dan asuh kepada sesama. Hidup yang penuh cinta kasih sayang, bukan berarti mencintai dunia secara membabi-buta, namun artinya manusia harus peduli, memelihara dan merawat, tidak membuat kerusakan bagi sesama manusia lainnya, bagi makhluk hidup dan maupun jagad raya seisinya. Itulah nilai kebaikan yang bersifat universal. Sebagai wujud nyata hamemayu hayuning bawana, rahmatan lil alamin.

Jangan lah terlambat, akan mengadu pada siapa bila jasad sudah masuk ke liang lahat (ngerong). Wirangrong, Sak wirange mlebu ngerong, berikut segala perbuatan memalukan selama hidup ikut dikubur bersama jasad yang kaku. Keburukannya akan diingat masyarakat, aibnya dirasakan oleh anak, cucu, dan menantu. Jika kesadaran terlambat manusia akan menyesal namun tak bisa lagi bertobat. Tidak pandang bulu, yang kaya atau melarat, pandai maupun bodoh keparat,  yang jelata maupun berpangkat, tidak pandang derajat seluruh umat. Semua itu sekedar pakaian di dunia, tidak bisa menolong kemuliaan di akherat. Hidup di dunia sangatlah singkat, namun mengapa manusia banyak yang keparat. Ajalnya mengalami sekarat. Gagal total merawat barang titipan Yang Mahakuasa,  yakni  segenap jiwa dan raganya.

Jika manusia tak bermanfaat untuk kebaikan kepada sesama umat, dan kepada seluruh jagad, merekalah manusia bejat dan laknat. Pakaian itu hanya akan mencelakai manusia di dalam kehidupan yang sejati dan abadi. Orang kaya namun pelit dan suka menindas,  orang miskin namun kejam dan pemarah, orang pandai namun suka berbohong dan licik, orang bodoh namun suka mencelakai sesama, semua itu akan menyusahkan diri sendiri dalam kehidupan yang abadi. Datanglah penyesalan kini, semua yang benar dan salah tak tertutup nafsu duniawi. Yang ada tinggalah kebenaran yang sejati. Mana yang benar dan mana yang salah telah dilucuti, tak ada lagi secuil tabirpun yang bisa menutupi. Semua sudah menjadi rumus Ilahi.

Di alam penantian nanti, manusia tak berguna tetap hidup di alam yang sejati dan hakiki, namun ia akan merana, menderita, dan terlunta-lunta. Menebus segala dosa dan kesalahan sewaktu hidup di planet bumi. Lain halnya manusia yang  berguna untuk sesama di alam semesta, hidupnya di alam keabadian meraih kemuliaan yang sejati. Bahagia tak terperi, kemana-mana pergi dengan mudah sekehendak hati. Ibarat “lepas segala tujuannya” dan “luas kuburnya”. Tiada penghalang lagi, seringkali menengok anak cucu cicit yang masih hidup di dimensi bumi. Senang gembira rasa hati, hidup sepanjang masa di alam keabadian yang langgeng tan owah gingsir.

sumber : sekarlangit

Minggu, 09 Maret 2014

Kejawen (Wikipedia)

Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat dimana keberadaanya ada sejak orang Jawa (Bahasa Jawa: Wong Jawa, Krama: Tiyang Jawi) itu ada. Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf Jawa.

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi (lit. "Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan") dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. "Bersatunya Hamba dan Tuhan"). 

Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

  1. Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
  2. Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
  3. Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
  4. Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)

berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap tuhannya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti : Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya.

Etimologi

Seorang petapa Jawa sedang bersamadhi di bawah pohon beringin di era Hindia Belanda 1916.
Kata “Kejawen” berasal dari kata "Jawa", yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah "segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan)". Penamaan "kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan berkehidupan yang mulia), Kejawen sebagai agama itu dikembangkan oleh pemeluk Agama Kapitayan jadi sangat tidak arif jika mengatasnamakan Kejawen sebagai agama dimana semua agama yang dianut oleh orang jawa memiliki sifat-sifat kejawaan yang kental.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa, laku olah sepiritualis kejawen yang utama adalah Pasa (Berpuasa) dan Tapa (Bertapa).

Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah"). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep "keseimbangan". Sifat Kejawen yang demikian memiliki kemiripan dengan Konfusianisme (bukan dalam konteks ajarannya). Penganut Kejawen hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin.

Simbol-simbol "laku" berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Simbol-simbol itu menampakan kewingitan (wibawa magis) sehingga banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan kejawen dengan praktik klenik dan perdukunan yang padahal hal tersebut tidak pernah ada dalam ajaran filsafat kejawen.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

Hari-hari penting
Sultan Agung Mataram dianggap sebagai filsuf peletak pondasi Kejawen Muslim yang kemudian sangat mempengaruhi upacara-upacara penting terutama yang paling nampak adalah penanggalan dalam menentukan hari-hari penting. Hari-hari penting kejawen tidak lepas dari "Kelahiran - Pernikahan - Mangkat" (kematian), yang ketiganya adalah kehidupan dalam tradisi Jawa. Orang Jawa akan mendapatkan nama pada ketiga peristiwa tersebut, yaitu nama saat kelahiran, nama saat pernikahan, nama saat mangkat (nama kematian dengan menambahkan "bin"/ "binti" nama orang tua dibelakang nama kelahiran). Semua hari-hari penting itu ditetapkan sesuai Kalender Jawa yang memiliki Primbon sebagai aturan-aturan dalam menentukan hari penting dan tata caranya. Berikut adalah hari-hari penting dalam Kejawen :

  1. Suran (Tahun Baru 1 Sura).
  2. Sepasaran (upacara kelahiran) dan Aqiqah bagi muslim.
  3. Mantennan (Pernikahan dengan segala upacaranya).
  4. Mangkat (Upacara Kematian) - Mengirim Do'a (Kanduri, Wirid, Ngaji) 7 Hari, 40 Hari, 100 Hari, 1000 Hari, 3000 Hari.
  5. Megeng Pasa - Tanggal 28 dan 29 Bulan Ruwah (Bulan Arwah) Yang digunakan untuk mengirim Do'a kepada yang telah mangkat (berangkat) terlebih dahulu, juga waktu Munjung (mengirim makanan lengkap nasi dan lauk kepada orang yang dituakan dalam keluarga) untuk mengikat silaturahmi.
  6. Megeng Sawal - Tanggal 29 dan 30 Bulan Pasa Yang digunakan untuk mengirim Do'a kepada yang telah mangkat (berangkat) terlebih dahulu, juga waktu Munjung (mengirim makanan lengkap nasi dan lauk kepada orang yang dituakan dalam keluarga) untuk mengikat silaturahmi bagi yang tidak ada kesempatan pada Megeng Pasa.
  7. Riadi Kupat (Hari Raya Kupat) - Tanggal 3, 4 dan 5 Bulan Sawal (Bagi orang tua yang ditinggalkan anaknya sebelum menikah).

Karena filsafat kejawen juga beragama, hari besar agama juga merupakan hari penting kejawen. Berikut ini adalah beberapa hari penting tambahan untuk kejawen muslim :

  1. Hari Raya Idul Fitri
  2. Hari Raya Idul Adha.
  3. Hari Raya Jum'at.
  4. Muludan (Maulid Kanjeng Nabi Muhammad, S.A.W.)
  5. Sekaten (Syahadatain)

Para penganut kejawen sangat menyukai berpuasa dalam ajaran islam karena dianggap sama dengan ajaran leluhurnya selain juga tafakur yang dianggap sama dengan bertapa.

  1. Pasa Weton - berpuasa pada hari kelahiranya sesuai penanggalan jawa.
  2. Pasa Sekeman - Puasa pada hari senin dan kamis.
  3. Pasa Wulan - Puasa pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 pada setiap bulan Kalender Jawa.
  4. Pasa Dawud - Puasa selang-seling, sehari puasa-sehari tidak.
  5. Pasa Ruwah - Puasa pada hari-hari bulan Ruwah (Bulan Arwah).
  6. Pasa Sawal - Puasa enam hari pada bulan Sawal kecuali tanggal 1 Sawal.
  7. Pasa Apit Kayu - Puasa 10 hari pertama pada bulan ke-12 kalender jawa.
  8. Pasa Sura - Puasa pada tanggal 9 dan 10 bulan Sura.

Selain puasa diatas kejawen juga memiliki puasa biasanya untuk menggambarkan kezuhudan (kesungguhan) dalam mencapai keinginan, jenis puasa tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Pasa Mutih - puasa ini dilakukan dengan jalan hanya boleh makan nasi putih, tanpa garam dan lauk pauk atau makanan kecil dan lain-lain, serta minumnya juga air putih.
  2. Pasa Patigeni - puasa tidak boleh makan, minum dan tidur serta hanya boleh dikamar saja tanpa disinari cahaya lampu.
  3. Pasa Ngebleng - puasa tidak boleh makan dan minum, tidak boleh keluar kamar, boleh keluar sekedar tetapi sekedar buang hajat dan boleh tidur tetapi sebentar saja.
  4. Pasa Ngalong - puasa tidak makan dan minum tetapi boleh tidur sebentar saja dan boleh pergi.
  5. Pasa Ngrowot - puasa yang tidak boleh makan nasi dan hanya boleh makan buah-buahan atau sayur-sayuran saja.


Kitab dan teks utama
Kejawen tidak memiliki Kitab Suci, tetapi orang Jawa memiliki bahasa sandi yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan mempercayai ajaran-ajaran Kejawen tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat), kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu Tata Krama (Aturan Hidup Yang Luhur) untuk membentuk orang jawa yang hanjawani (memiliki akhlak terpuji), hal-hal tersebut terutama banyak tertuang dalam karya tulis sebagai berikut :

  • Kakawin (Sastra Kuna) - merupakan kitab sastra metrum kuna (lama) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang berjumlah 5 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa Kuno dan Bahasa Jawa Kuno
  • Babad (Sejarah-Sejarah) - merupakan kitab yang menceritakan sejarah nusantara berjumlah lebih dari 15 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa Kuno dan Bahasa Jawa Kuno serta Aksara Jawa dan Bahasa Jawa
  • Serat (Sastra Baru) - merupakan kitab sastra metrum anyar (baru) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang terdiri lebih dari 82 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan Huruf Pegon
  • Suluk (Jalan Sepiritual) - merupakan kitab tata cara menempuh jalan supranatural untuk membentuk pribadi hanjawani yang luhur dan dipercaya siapa saja yang mengalami kesempurnaan akan memperoleh kekuatan supranatural yang berjumlah lebih dari 35 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan Huruf Pegon
  • Kidungan (Do'a-Do'a) - sekumpulan do'a-do'a atau mantra-mantra yang dibaca dengan nada khas, sama seperti halnya do'a lain ditujukan kepada tuhan bagi pemeluknya masing-masing yang berjumlah 7 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa
  • Primbon (Ramalan-Ramalan) - berupa kitab untuk membaca gelagat alam semesta untuk memprediksi kejadian. ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa
  • Piwulang Kautaman (Ajaran Utama) - berupa kitab yang terdiri dari Pituduh (Perintah) dan Wewaler (Larangan) untuk membentuk pribadi yang hanjawani, ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa

Naskah-naskah diatas mencakup seluruh sendi kehidupan orang Jawa dari kelahiran sampai kematian, dari resep makanan kuno sampai asmaragama (kamasutra), dan ada ribuan naskah lainya yang menyiratkan kitab-kitab utama di atas dalam bentuk karya tulis, biasanya dalam bentuk ajaran nasihat, falsafah, kaweruh (pengetahuan), dan sebagainya.

Kejawen (Suara Merdeka)

Kejawen, pembentukan katanya berasal dari kata Jawi (artinya adalah Jawa, tetapi dalam tingkat bahasa yang halus/ tinggi) diimbuhi ke-an, menjadi kejawian (seperti pembentukan kata “kasepuhan“). Kata kejawian ini, dengan keluwesan “lidah orang Jawa”, meluruh menjadi kejawen .

Kejawian atau kejawen memiliki arti yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawi atau Jawa (dalam hal ini orang Jawa), dalam segala sendi kehidupan.
Kejawen = Kultur Jawa
Kejawen memiliki kedekatan arti dengan kultur Jawa, yang berarti juga melingkupi bagaimana seorang Jawa itu bertingkah polah menjalani hidup.
Karena berupa kultur, kejawen juga melingkupi pola pikir serta sikap dan pola kehidupan. Sehingga orang Jawa yang memiliki pola pikir serta sikap dan pola kehidupan yang tidak sesuai dengan kultur Jawa akan dianggap sebagai orang yang tidak Jawa (tidak “njawani“).

Pola-pola seperti andhap asor (santun), tepa slira (tenggang rasa), menghormati orang lain, guyub dan suka menolong, bersahaja, hidup dalam harmoni, serta mendekat dengan alam termasuk di dalamnya. Orang Jawa yang egois, kasar/ arogan, dan lupa dengan asal usulnya akan dianggap sebagai orang yang tidak “njawani“.

Pembentukan diri agar memiliki pola pikir serta sikap kehidupan sebagai orang Jawa, dilalui dengan berbagai pola kehidupan tertentu, misalkan lelaku prihatin (untuk menempa diri agar kuat dan peka) dalam kehidupan sehari-hari.

Kejawen, Ritual, Klenik, dan Penyelewengan-penyelewengan itu
Namun, pola hidup ini tidak identik dengan ritual. Orang yang ingin hidup bersahaja hanya perlu menerapkan kebersahajaan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak perlu dilalui dengan ritual tertentu yang berpeluang menjadi topeng kepalsuan. Ritual berbagi rejeki untuk saling membantu, hanya akan menjadi kepalsuan bila dalam kesehariannya dikenal sebagai orang yang pelit dan kikir.

Justru ritual-ritual yang palsu seperti ini pada dasarnya bukan asli Jawa, melainkan bawaan dari budaya asing melalui asimilasi budaya Hindu, Budha, dan Islam. Bahkan budaya Kristen pun ikut-ikutan berasimilasikan dan mengaku sebagai budaya Jawa, dan dapat dilihat di berbagai wilayah di sekitar Magelang atau Kediri.

Ritual-ritual hasil asimilasi ini yang seringkali tidak dipahami “filsafat dan ilmu”-nya oleh orang Jawa, sehingga terjadilah ritual-ritual tanpa ilmu yang akhirnya menjadi klenik.

Tanpa landasan pemahaman ilmu dan filsafat yang melatarbelakanginya, pehamanan akan bergeser. Jika ingin menempa diri agar kuat dan peka, maka pemahaman atas “kuat” ini menjadi bermacam-macam. Lelaku prihatin yang awalnya agar menjadi kuat dalam menjalani hidup (kuat mental, kuat jiwa, kuat spiritual, kuat keyakinan, kuat dalam niat dan kemauan, sembada, kuat dalam pengendalian diri, dan seterusnya), termasuk kuat dalam arti fisik (kekuatan olah ragawi dan kekuatan hasil olah kanuragan), kemudian bergeser hanya satu sisi saja, misalkan hanya dipahami kuat dalam arti olah kanuragan. Akhirnya, proses lelaku yang dijalani pun menjadi berbeda niatnya, dan lahirlah klenik.

Ketika hidup bersama alam, ditemukan adanya keseimbangan dan kehamonisan, dan ini yang kemudian menjadi landasan dalam tatanan kehidupan, hidup yang harmonis. Dalam usaha untuk memahami kehidupan, masyarakat Jawa menemukan bahwa kehidupan itu tidak lepas dari hidup bermasyarakat. Sehingga, penghormatan atas hadirnya individu lain, kesantunan, dan hidup saling membutuhkan adalah syarat untuk harmoni dalam masyarakat. Sikap hidup yang sesungguhnya menggambarkan adanya sikap egaliter dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Namun, ada beberapa hal yang kemudian dipahami secara salah. Hamonis kemudian dipahami secara salah menjadi antikonflik. Menghormati orang lain dipahami secara salah menjadi rendah diri yang berlebihan dan penjilatan kepada yang lebih berkuasa atau berharta.

Peka berarti harus memahami segala sesuatu yang tidak biasa, agar kemudian bisa mawas diri. Ketika ada suatu kesalahan yang dilakukan, dan orang-orang di sekitarnya justru diam, harus bisa dipahami bahwa sikap diam itu adalah cara agar pelaku kesalahan menjadi peka atas apa yang telah dilakukannya. Mendiamkan ini adalah upaya untuk memperkecil konflik. Jika tidak peka, maka hal itu dianggap sebagai hal yang menyakitkan bagi orang lain. Semacam “kebangetan banget, sih. Kok tidak sadar juga”. Untuk mereduksi konflik, sering kali orang Jawa bersikap: “ngalah, ngalih, ngamuk”. Pertama kali adalah mengalah, mendiamkan agar tidak terjadi konflik yang tidak perlu. Jika masih belum sadar, maka “ngalih”, menghindari, agar emosi tidak merusak suasana. Kemudian, jika masih belum sadar, langkah tegas diperlukan untuk itu, walau tidak harus berari “mengamuk”.

Pemahaman yang salah terhadap hal ini juga sering terjadi, dan dikenalah orang Jawa secara salah sebagai orang yang pendiam, tetapi pendendam. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa dibalik sikap yang rendah hati dan menghormati, tersimpan pula sifat kasar dan ganas. (Mungkin pada dasarnya orang Jawa memang kasar dan ganas, dan oleh sebab itu ada kejawen untuk meredam dan mengarahkan)

Dalam mawas diri dan pembentukan kepekaan diri, dikenal ada istilah “guru sejati”. Guru adalah yang dianggap mampu mendidik dan mengarahkan, dan guru yang harus bisa mendidik dan mengarahkan adalah diri pribadi. Guru sejati menjadi semacam “alter ego” yang mengawasi dan melakukan pengarahan terhadap “alter ego” yang lain. Dalam klenik, guru sejati hanya dipahami sebagai pembentukan “sosok lain”, yang kemudian bersinggungan dengan “raga sukma”, maupun kemunculan “kembaran” di tempat lain pada saat bersamaan.

Kepekaan diasah dengan usaha untuk bisa ikut merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh yang lain. Kebersahajaan (meninggalkan kemewahan) dan lelaku prihatin (merasakan lapar dan kesusahan hidup), merupaan upaya untuk itu. Namun, kemudian muncul ritual-ritual, seperti bertapa dan berbagai jenis puasa (ngebleng, pati geni, mutih, ngrowot, dan seterusnya), yang jelas-jelas merupakan asimilasi dari budaya asing. Karena sebenarnya lelaku itu adalah keseharian, bukan ritual. Ritual yang dilakukan secara rajin, tetapi dalam keseharian masih bergelimang kemewahan dan tidak peduli akan kesusahan hidup yang dialami yang lain, hanyalah berupa topeng kepalsuan, dan tidak akan mengupayakan kepekaan.

Kepekaan diasah pula dengan mendekatkan diri dengan alam, agar bisa menangkap tanda-tanda yang diberikan oleh alam. Salah satu hasil mengasah kepekaan ini adalah “ilmu titen“, yang “niteni“, meneliti, mencermati berbagai tanda-tanda. Ilmu titen ini akan menjadi klenik, jika hanya didasarkan atas hitung-hitungan saja, sedangkan tanda-tanda alam tidak lagi dicermati.

Hal yang praktis dalam “titen” ini adalah, orang Jawa biasanya memetakan posisi dalam arah mata angin. Sehingga wajar jika menjelaskan posisi dalam arah mata angin (“lor“/ utara, “kidul“/ selatan, “wetan“/ timur, dan “kulon“/ barat) dan bukan dalam arah kiri atau kanan. Misalkan untuk lokasi rumah, maka bisa dijelaskan menjadi: dari perempatan terminal, ke utara, kemudian ada belokan, ke barat sedikit terus ke utara lagi. Sayangnya, seringkali jika tidak paham arah mata angin, maka akan merasa bingung dan disorientasi lokasi.

“Titen” yang lain, adalah memahami waktu tanpa bantuan jam. Jika pada siang hari hal ini dapat dilakukan dengan bantuan matahari, maka di saat malam hari pemahaman waktu dilakukan dengan mencermati kondisi alam dan isinya, misalkan perilaku binatang, perilaku orang-orang, perubahan suhu, angin, atau cuaca. Akan sangat kelihatan ketika berada di wilayah yang jauh dari keramaian. Jam 8 malam biasanya bayi/ anak kecil sudah tidur, jam 10 malam angin mulai reda (bila ada obor penerangan, api dan asap mulai lurus ke atas), jam 2 pagi suhu udara mulai turun secara signifikan, dan seterusnya.

Untuk urusan bercocok tanam, karena sangat ditentukan oleh musim, perubahan-perubahan kondisi alam menjadi hal yang dicermati, misalkan untuk memperkirakan kedatangan musim hujan, musim angin digunakan sebagai tanda, dan jika musim angin sudah mulai reda, maka musim hujan akan segera tiba. Musim kemarau biasanya ditandai dengan perilaku hewan “gareng pung“, sebagaimana orang Jepang menandai musim semi berdasar perilaku cenggeret, hewan yang sejenis. Pendanaan-penandaan musim ini kemudian diwujudkan dalam sisem kalendar, dan Jawa adalah salah satu dari sedikit suku bangsa di dunia yang memiliki sistem kalendar sendiri (walau pada perkembangannya mengalami asimilasi dengan budaya lain), selain bahasa dan tulisan tersendiri. Namun, jika hanya menyandarkan diri pada perhitungan-perhitungan, dan tidak lagi mencermati tanda-tanda alam, maka terlahirlah lagi klenik, ritual-ritual yang meninggalkan filosofi dan ilmu yang melandasinya.

Mendekatkan diri dengan alam adalah upaya untuk mengasah kepekaan juga, agar mampu hidup harmonis dengan alam dan untuk keperluan-keperluan praktis, misalkan untuk orientasi lokasi, orientasi waktu, dan keperluan pertanian.

Kejawen dan Perkembangan Jaman: Asimilasi, Egoisme, atau Politik?
Dalam banyak sisi, kejawen selalu berkembang & menyesuaikan diri, mulai dari era prapengaruh budaya asing, era kedatangan suku bangsa asing yang membawa berbagai budaya dan teknologi (budaya Hindu & Budha, Cina, Timur Tengah dan Asia Kecil, Islam, serta bangsa barat dan Kristen), hingga pengaruh budaya global saat ini. Pun, kultur tidak hanya sebatas pola pikir dan tingkah laku, melainkan juga produk dari kultur itu sendiri, misalkan bahasa, tulisan, sastera, dan ilmu-ilmu lainnya. Konon, orang Jawa tidak akan mengenal berbagai peralatan dan teknologi bertani (bahkan bajak), jika tidak ada pengaruh dari Cina.

Nah, jika sedari dahulu kejawen terasimilasi, tetapi tetap berciri khas Jawa, budaya Hindu tapi Jawa, Budha tapi Jawa, orang Cina tapi Jawa, Islam tapi Jawa, Kristen tapi Jawa. (Catatan mengenai Islam tapi Jawa dan bukan Arab, bisa dilihat di sini). Sehingga, bukan tidak mungkin pada era ini kejawen akan bisa bertahan seperti sebelumnya: modern tapi Jawa.

Walau perkembangannya, tidak hanya budaya asing yang berpengaruh, melainkan juga kepentingan-kepentingan politik, mulai dari raja-raja Jawa (yang negatif: ekseklusivitas, rasis, nonegaliter; yang positif: lahirnya ilmu-ilmu baru kejawen di berbagai bidang), penjajah (yang suka memutar balik fakta sejarah, karena takut budaya lokal jika nantinya maju), hingga yang sangat sangat khas dari seorang Suharto (sebagaimana penjajah, dan suka senyum, yang dapat diartikan sebagaimana diamnya orang Jawa: kayak gitu kok ndak nyadar-nyadar, to). Mungkin, dari seorang Suharto dunia mengenal kejawen , tetapi juga melalui seorang Suharto dunia tidak mengenal apa sesungguhnya kejawen .

Kejawen adalah cara untuk berpola pikir, bersikap, dan berpola hidup sebagaimana seharusnya orang Jawa, dan tidak sama dengan klenik. Memahami kejawen tanpa memahami kehidupan manusia dan dan memahami alam akan menjadi klenik.

Rabu, 22 Januari 2014

Wejangan Sunan Kalijaga pada Ki Ageng Sela : Filsafat Pacul


Kanjeng Sunan Kalijaga seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan filosof, seniman, kritis, tolerans, visioner, sensitive.

Sedangkan Ki Ageng Sela yang kondang namanya lantaran mampu menangkap petir pun pernah berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga. 
Salah satu wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela adalah tentang Pacul. Ketika itu Kanjeng Sunan Kalijaga menyuruh Ki Ageng Sela untuk 'membaca' Pacul.
Dalam menuntut ilmu, seseorang dituntut untuk menggunakan pikirannya untuk membaca dan memahami apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang meguru atau berguru pada orang yang sudah mumpuni dalam hal ilmu rasa, maka dia harus 'menggerakkan' otaknya untuk memahami apa yang ada di alam semesta ini. Artinya, alam semesta ini 'dibaca' dan diartikan sendiri apa yang menjadi makna sejatinya.

Pacul atau cangkul adalah salah satu alat yang merupakan senjata para petani. Senjata ini digunakan para petani untuk mengolah lahan pertanian. Tampaknya memang sederhana, Pacul. Tapi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi.
Dari wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela, Pacul atau cangkul itu terdiri dari 3 bagian. Ketiga bagian tersebut adalah: Pacul (bagian yang tajam untuk mengolah lahan pertanian), Bawak (lingkaran tempat batang doran), dan Doran (batang kayu untuk pegangan cangkul).
Menurut wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga, sebuah pacul yang lengkap, tidak akan dapat berdiri sendiri-sendiri. Ketiga bagian tersebut harus bersatu untuk dapat digunakan oleh petani. Apa sebenarnya arti dari Pacul, Bawak dan Doran itu?

* Pacul.  "ngipatake barang kang muncul"
menyingkirkan bagian yang mendugul atau bagian yang tidak rata.
Dari alat Pacul tersebut setidaknya bisa diartikan bahwa kita manusia ini harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego yang berlebih, cepat marah, mau menang sendiri, ingin mempunyai kekayaan yang berlebihan dengan cara yang tidak baik dan sifat-sifat jelek kita lainnya yang dikatakan 'tidak rata'.

* Bawak. "obahing awak".
menggerakan tubuh
Maksudnya, kita manusia hidup ini diwajibkan untuk mengerakkan tubuh/bekerja/berikhtiar untuk mencari rezeki dari GUSTI ALLAH guna memenuhi kebutuhan hidup. Jangan sampai bermalas-malasan dan meminta-minta belas kasih dari orang lain.
Disamping itu, arti tersebut juga bukan hanya berarti mencari rezeki semata, tetapi juga ikhtiar untuk senantiasa "manembah GUSTI ALLAH tan kendhat Rino Kelawan Wengi" (menyembah GUSTI ALLAH siang maupun malam).

* Doran. "Dongo marang Pengeran"  "Ojo Adoh Marang Pengeran".
doa yang dipanjatkan pada Gusti Pengeran ALLAH Ta’ala.
Dalam segenap kegiatan kita, kita jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan/Gusti pengeran Allah SWT, berdo’a disini secara umum dapat diartikan sebagai ibadah secara keseluruhan.
Jangan menjauh dari Gusti Pengeran Allah Ta’ala
Sebagai manusia kita janganlah menjauh dari Allah SWT, kita wajib senantian ingat dan menyembah Gusti Pengeran Allah SWT, bukan menyembah yang lain.

Dari ketiga bagian Pacul tersebut, Pacul, Bawak, Doran, tidak dapat dipisah-pisahkan, kalo terpisah maka tidak akan berguna lagi. Begitu pula, artinya bahwa manusia hendaknya mampu untuk menyingkirkan sifat-sifat buruknya, selalu berikhtiyar bekerja untuk mencari rezeki yang barokah dan tidak melupakan untuk selalu berdoa dan menyembah kepada Allah SWT
Demikian wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga kepada murid beliau, Ki Ageng Sela, semoga dapat kita ambil hikmah dan tauladan dalam kehidupan kita masing-masing.

Sabtu, 28 April 2012

Kebatinan Kejawen

Tak uwisi gunem iki
Niyatku mung aweh wikan
Kabatinan akeh lire
Lan gawat ka liwat-liwat
Mulo dipun prayitno
Ojo keliru pamilihmu
Lamun mardi kebatinan

terjemahan;
Saya akhiri pembicaraan ini
Saya hanya ingin memberi tahu
Kabatinan banyak macamnya
Dan bisa sangat membahayakan
Maka itu berhati-hatilah
Jangan sampai kamu salah pilih
Kalau ingin belajar kebatinan

Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua – (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan atau kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula dan Gusti ( jumbuhing kawula Gusti )/pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.
Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik dan jujur, beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap.Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang melalui rasa hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti – hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, tidak perlu diragukan bahwasanya kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang mengandung nilai-nilai universal. Pandangan kejawen bisa memberikan sumbangan kepada perdamaian dan kemakmuran dunia.

Lakukan Dengan Santai
Beberapa pembaca mendapatkan bahwa keterangan yang singkat padat mengenai kejawen, seperti yang sudah diutarakan diatas, yang terdiri dari : kawruh ilmu umum dan pengalaman-pengalaman beberapa piyayi sepuh sebagai hal yang sangat menarik. Beberapa orang menghargai tujuan dari ajaran spiritual ini, tetapi katanya sulit atau berat untuk dilaksanakan, seorang piyayi sepuh memberikan nasehat yang sederhana : lakukan dengan santai.

Kejawen itu kawruh ilmu yang fleksibel, pertama-tama kamu diminta untuk memahami, jangan paksakan diri, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kiranya tidak sulit bagimu untuk menjadi orang jujur. Sebagai tuntunan moral dan kehidupan, kamu diwajibkan untuk selalu bersyukur kepada Gusti, Tuhan yang maha kuasa yang telah memberimu kesempatan hidup didunia ini.
Sebagai orang yang bertanggung jawab, kamu mempunyai kewajiban :
  1. Bekerja dengan patut untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri dan keluarga
  2. Peliharalah baik-baik kesehatan ragamu, sehingga kamu juga akan mempunyai pikiran dan jiwa yang sehat. Merawat raga dengan baik itu sangat penting untuk semua aktivitas lahir dan batin.
  3. Mempunyai budi luhur.
Dengan melakukan kewajiban-kwajiban diatas, akan lebih mudah bagimu untuk menyumbang kepada masyarakat, orang lain, negara dan dunia.

Hubungan dengan Tuhan
Biasa orang berkata, bahwa bahwa hubungan dengan Tuhan itu persoalan pribadi. Itu benar, karena hanya dirimu sendirilah yang tahu, bagaimana hubungan dengan Tuhan, apakah itu biasa-biasa saja, mendalam atau tulus.Mungkin saja kamu sendiri tidak tahu atau mungkin kamu berusaha untuk memahami Tuhan, atau sama sekali tidak perduli, yang penting kamu percaya kepada adanya Tuhan.
Apakah sudah cukup dengan mengatakan bahwa kamu percaya kepada Tuhan ? orang bijak akan menjawab “ Tidak, itu tidak cukup “. Dalam hatimu, kamu mangagungkan asmaNYA, dan hal yang paling baik kamu memuja Tuhan.

Kamu boleh menyebut Tuhan dalam bahasamu sendiri atau seperti yang diajarkan oleh agama atau kepercayaanmu, supaya merasa lebih dekat kepada Tuhan. Orang itu mempunyai yang berbeda-beda, ada orang yang selalu mumuji Tuhan sejak masa-masa kanak-kanak, ada yang ingat Tuhan hanya pada waktu mengalami kesulitan, sakit atau menghadapi masalah pelik.
Sebagai pegangan umum, kamu boleh berdoa kepada Tuhan setiap saat, dimanapun, dan dalam keadaan apapun. Tetapi untuk menjadi lebih dekat kepada Tuhan, kamu diwajibkan untuk mempunyai waktu khusus untuk menyembahNYA.

Siapkan dirimu, bersih jiwa raga, ditempat yang bersih dan tenang, bisa dikamar bisa diluar rumah, ataupun ditempat-tempat suci, katakanlah doamu dan kehendak baikmu kepada Gusti kang paring nugroho – Tuhan Yang Maha Pengasih yang memberimu kenyamanan, dengan semua kehendak dan perbuatanmu yang baik, Tuhan akan memberikan kepadamu kehidupan yang nyaman bagimu dan keluargamu. Para penghayat kejawen melakukan doa, biasanya pada malam hari sebelum tidur.

Pada siang hari mereka bekerja menunaikan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Persiapkanlah dirimu, berada sendirian dikamar, badan dalam keadaan rilek, dengan hati yang tenteram, kamu boleh duduk bersila dilantai atau duduk santai dikursi, katakanlah doamu yang khusuk, katakanlah permohonanmu dengan jelas dan dengan sepenuh hati. Jangan malu-malu untuk memohon ampun atas segala kesalahanmu kepada Tuhan dan berjanjilah untuk tidak membuat kesalahan lagi.

Apabila kamu tidak letih, kamu bisa melakukan latihan spiritual dengan memusatkan seluruh perhatian kepada Tuhan, dengarkanlah suara nafasmu dengan penuh perhatian, tarik nafas, keluarkan nafas secara perlahan-lahan selama lebih kurang 10 menit. Lalu dengan perasaan yang tenteram pergilah tidur, besuk kamu bangun pagi-pagi dengan badan yang fit dan pikiran yang jernih, siap untuk bekerja.
Lakukanlah ini secara teratur, sampai kamu merasa bahwa itu sama sekali tidak merupakan beban bagimu. Itu kewajiban yang kamu kerjakan dengan senang hati, kamu bisa menambahkan waktu dari latihan pernafasan menjadi 15 atau 20 menit atau lebih, tetapi ingat, jangan memaksakan kemampuan ragamu. Apabila kamu masih mempunyai waktu dan tidak capai pergilah keluar rumah, berdirilah dibawah langit kira-kira selama 5 menit untuk menghirup udara bersih, tetapi bila keadaannya tidak memungkinkan, misalnya karena hujan, cuaca buruk dan lain-lain, bukalah jendela untuk beberapa saat atau berdiri di balkom rumah itu sangat bagus menentramkan pikiran dan hatimu.

Sebisa mungkin itu lakukan dengan teratur pada waktu kamu sehat, oleh karena itu menjaga kesehatan itu penting, komsumsilah makanan yang berkualitas baik dengan lebih sedikit daging, lakukan olah raga atau senam secara teratur, bekerjalah dengan baik, beristirahatlah yang cukup lalu sediakan waktu untuk beberapa menit untuk berdoa dan melakukan latihan spiritual, dengan begitu kamu akan mempunyai keseimbangan hidup, kamu mempunyai hidup normal dan pada waktu yang bersamaan kamu lebih dekat kepada Tuhan.

Orang Baik dan Sehat
Dengan cara melakukan cara hidup seperti diatas, kamu menjdi sehat secara fisik dan mental, dalam keadaan lebih baik. Dalam pekerjaan kamu menjadi lebih produktif, dalam keluarga kamu menjadi lebih baik, kamu hidup dengan bahagia, kamu menjadi lebih bijak, orang yang suka menolong orang yang membutuhkan pertolongan.
Biasanya secara normal latihan pernafasan itu baik untuk kesehatanmu, itu membuat jantungmu lebih kuat dan badanmu dalam kondisi yang lebih baik.

Latihan pernafasan atau yang lebih serius disebut meditasi atau dalam Jawa disebut Semedi, baik juga untuk pikiran dan perasaanmu, itu akan membuat kamu lebih sabar dan kamu akan mampu mengontrol dengan lebih mudah segela kehendak. Kamu berada dalam jalan yang benar, kalau kamu merasa seperti itu, artinya kamu adalah orang baik dan sehat, kamu adalah aset berharga untuk keluargamu dan masyarakat, artinya itu sempurna lanjutkanlah lakumu dengan penuh percaya diri.

Kamu hidup dijalan yang baik dan benar, diberkahi oleh Tuhan, kamu sehat mempunyai pikiran yang logis, dan jiwa yang bersih, kamu selalu berdoa dan melakukan meditasi. Kamu menghendaki untuk memperdalam ilmu spiritualmu supaya lebih dekat kepada Tuhan, untuk mengetahui rahasia hidup.
Sekarang, kamu siap untuk menumbuhkan rasamu, itu tidak sulit, lakukanlah terus meditasi denganposisi ( patrap ) yang sama yang enak buat kamu, kamu akan memperbaiki kualitas dari latihan pernafasan, kalau tidak “ tarik nafas “ dan “ keluarkan nafas “ sekarang menjadi :
•    Tarik nafas, pelan, tenang
•    Tahan nafas, untuk beberapa saat
•    Keluarkan nafas, pelan, tenang
Fokuskan pandangan ke pucuk hidungmu, dengarkanlah baik-baik suara nafasmu, ini supaya kamu tidak memikirkan hal lain. Cobalah untuk mengkonsentrasikan pikiran rasa kepada Tuhan Yang Maha Agung.
Lakukan itu dengan santai untuk 10, 15 atau 30 menit kalau tidak capai dan ada waktu., kerjakan itu setingkat demi setingkat dan jangan pernah memaksakan diri.

Latihan ini menumbuhkan roso sedikit demi sedikit, bersamaan dengan tumbuhnya roso, cipta juga akan tumbuh, ketika cipta lebih kuat, keinginan baik akan terealisir. Sementara itu sedikit demi sedikit roso akan menjadi roso sejati, roso sejati ini adalah pemberian dzat yang suci, kamu mempunyai itu namun kamu harus menumbuhkannya. Secara spiritual, roso sejati bisa menerima sasmita ( pesan ) dan dawuh atau ( perintah ) yang selalu benar dari hidupmu yang sejati. Jadi latihan itu bisa merupakan latihan untuk cipta dan pada saat lain untuk roso, sekali lagi lakukan dengan sikap santai, jangan memaksa diri, lalu pergilah keluar rumah untuk mengirup udara segar seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, inilah cara yang efektif untuk membantu menumbuhkan roso.

Latihan Keheningan utk menwujudkan layar makrifat 3 tahap.
i.    Hening Raga
ii.    Hening Rasa
iii.    Hening Jiwa
Itu semua untuk menunjang kemudahan dalam mempelajari ilmu trawangan dan meraga sukma.Bila latihan sudah dikuasai dengan baik,anda langsung boleh melatih ilmu trawangan.Bagi yang berbakat akan langsung boleh,bagi yang kurang berbakat perlu puasa untuk mengasah ilmu trawangan dengan amalan khusus.Bagi seorang muslim dan penganut ilmu batin puasa sering di lakukan.Disini menjalani puasa bukan sekedar tidak makan dan tidak minum selama waktu yang di tetapkan.Tetapi berpuasa haruslah dari lahir sampai batinnya.Batinnya memupuk rasa sabar,tawakal dan menjahui rasa tamak,iri hati ,sombong,cemburu,jahat,dengki,dan sebagainnya,agar sempurna puasa kita.Tak ada gunannya kita berpuasa sekian hari,tetapi batin kita penuh dengan hawa nafsu,dendam dan kebencian….

ROH IDOFI
(Roh ilofi) ;adalah Roh yang sangat utama bagi manusia.Roh Idofi juga di sebut Johar Awal Suci Karena Roh inilah maka manusia boleh hidup. Bila Roh tersebut keluar dari raga maka, Manusia yang bersangkutan akan mati.Roh ini sering di sebut sebagai :nyawa:, Roh Idofi merupakan sumber dari Roh-Roh lainnya.Kalau saja Roh Idofi ini keluar dari raga manusia.Pastilah Roh-Roh lainya pun akan turut serta.Tetapi sebaliknya kalau salah satu Roh dari Roh yang lelapan itu keluar,maka Roh idolfi akan tetap tinggal,dan manusia itu akan tetap masih hidup. Alamnya Roh Idofi berupa cahaya (NUR) terang benderang dan rasanya sejuk tenteram.Tentu saja kita boleh menjumpainya bila sudah mencapai tingkat INSAN KAMIL.

ROH RABBANI
Roh yang di kuasai dan di perintah oleh Roh Idofi.Alamnya Roh ini ada di dalam cahaya (NUR) kuning diam tak bergerak. Bila kita berhasil menjumpainya maka kita tak mempunyai kehendak apa-apa.Hatipun terasa tenteram,tubuh pun tak merasakan apa-apa.

ROH ROHANI
Roh ini pun juga di kuasai dan di perintah oleh Roh Idofi.Kerana adanya Roh Rohani ini, maka manusia memiliki kehendak dua rupa.Kadang-kadang suka sesuatu,tetapi di lain waktu ia tak menyukainnya. Roh ini mempengaruhi perbuatan baik dan perbuatan buruk. Roh Rohani inilah yang menempati pada 4 jenis nafsu,yaitu;
1.    Nafsu Luwamah (Aluamah).
2.    Nafsu Amarah.
3.    Nafsu Sufiah.
4.    Nafsu Mullamah atau mutmainah.
Kalau manusia di tinggalkan oleh Roh Rohani ini, maka manusia itu tidak mempunyai nafsu lagi, sebab semua nafsu manusia itu Roh inilah yang mengendalikanya. Maka, kalau manusia sudah boleh mengendalikan Roh Rohani ini dengan baik, ia akan hidup dalam kemuliaan. Roh Rohani ini sifatnya selalu mengikuti penglihatan yang melihat. Dimana, pandangan kita tempatkan, disitu lah Roh Rohani ini berada. Sebelum kita dapat menjumpainya, terlebih dahulu kita akan melihat bermacam-macam cahaya (Nur) bagai kunang-kunang. Setelah cahaya -cahaya ini menghilang, baru muncul lah Roh Rohani itu.

ROH NURANI
Roh ini di bawah pengaruh Roh Idofi. Roh Nurani ini mempunyai pembawa sifat terang. Karana adanya Roh Ini menjadikan manusia yang bersangkutan menjadi terang hatinya.Kalau Roh Nurani meningalkan tubuh maka orang tersebut hatinya menjadi gelap dan gelap fikiranya.Roh Nurani ini hanya menguasai nafsu Mutmainah sahaja. Maka bila manusia mendominasikan Roh ini maka nafsu mutmainah akan menonjul, mengalahkan nafsu-nafsu yang lain.
Hati orang tersebut menjadi tenteram, prilakunya pun baik dan terpuji.Air mukanya bercahaya ,tidak banyak bicara, tidak ragu-ragu dalam menghadapi sesuatu, tidak protes bila di timpa kesusahan suka sedih bahagia dan derita di pandangnya sama.

ROH KUDUS (ROH SUCI)
Roh yang di bawah penguasaan Roh Idafi juga. Roh Ini mempengaruhi orang yang bersangkutan mau memberi pertolongan kepada sesama manusia, mempengaruhi berbuat kebajikan dan mempengaruhi berbuat ibadat sesuai dengan ajaran agama yang di anuti.

ROH RAHMANI
Roh di bawah kekuasaan Roh Idofi pula.Roh ini juga di sebut Roh Pemurah.Karena di ambil dari kata RAHMAN,yang artinya pemurah.Roh ini mempengaruhi manusia bersifat sosial,suka memberi.

ROH JASMANI
Roh juga di bawah kekuasaan Roh Idofi.Roh ini menguasai seluruh badan dan urat syaraf manusia.Karena adanya Roh jasmani ini maka manusia dapat merasakan adanya rasa sakit,lesu,lelah,segar dan lain-lainnya.Bila Roh ini keluar dari tubuh,maka di tusuk jarum pun tubuh tidak tersa sakit.Kalau kita berhasil menjumpainya,maka ujudnya akan sama dengan kita,hanya berwarna merah.
Roh Jasmani ini menguasai nafsu amarah dan nafsu hewani.Nafsu hewani ini mempunyai sifat dan kegemaran seperti binatang,misalnya;malas,suka setubuh,serakah,mau penting diri sendiri dan lain sebagainya.

ROH NABATI
Roh yang mengendalikan perkembangan dan pertumbuhan badan.Roh ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi.

ROH REWANI
Roh yang menjaga raga kita.Bila Roh Rewani keluar dari tubuh maka orang yang bersangkutan akan tidur.Bila masuk ke tubuh orang akan terjaga.Bila orang tidur bermimpi dengan arwah seseorang,maka Roh rewani dari orang bermimpi itulah yang menjumpainnya.Jadi mimpi itu hasil kerja Roh Rewani yang mengendalikan otak manusia.Roh Rewani ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi.Jadi kepergian Roh Rewani dan kehadirannya kembali di atur oleh Roh Idofi.Demikian juga Roh-Roh lainnya dalam tubuh, sangat dekat hubungannya Roh Idofi.