Kanjeng Sunan Kalijaga seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan
filosof, seniman, kritis, tolerans, visioner, sensitive.
Sedangkan Ki
Ageng Sela yang kondang namanya lantaran mampu menangkap petir pun pernah
berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga.
Salah satu wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki
Ageng Sela adalah tentang Pacul. Ketika itu Kanjeng Sunan Kalijaga menyuruh Ki
Ageng Sela untuk 'membaca' Pacul.
Dalam menuntut ilmu,
seseorang dituntut untuk menggunakan pikirannya untuk membaca dan memahami
apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang meguru atau berguru pada
orang yang sudah mumpuni dalam hal ilmu rasa, maka dia harus 'menggerakkan'
otaknya untuk memahami apa yang ada di alam semesta ini. Artinya, alam semesta
ini 'dibaca' dan diartikan sendiri apa yang menjadi makna sejatinya.
Pacul atau cangkul adalah salah satu alat yang merupakan
senjata para petani. Senjata ini digunakan para petani untuk mengolah lahan
pertanian. Tampaknya memang sederhana, Pacul. Tapi makna yang terkandung di
dalamnya sangatlah tinggi.
Dari wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela,
Pacul atau cangkul itu terdiri dari 3 bagian. Ketiga bagian tersebut adalah:
Pacul (bagian yang tajam untuk mengolah lahan pertanian), Bawak (lingkaran
tempat batang doran), dan Doran (batang kayu untuk pegangan cangkul).
Menurut wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga, sebuah pacul yang
lengkap, tidak akan dapat berdiri sendiri-sendiri. Ketiga bagian tersebut harus
bersatu untuk dapat digunakan oleh petani. Apa sebenarnya arti dari Pacul,
Bawak dan Doran itu?
* Pacul. "ngipatake barang kang muncul"
menyingkirkan bagian yang mendugul atau bagian yang tidak
rata.
Dari alat Pacul tersebut setidaknya bisa diartikan bahwa
kita manusia ini harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat
yang tidak rata, seperti ego yang berlebih, cepat marah, mau menang sendiri, ingin mempunyai kekayaan yang berlebihan
dengan cara yang tidak baik dan sifat-sifat jelek kita lainnya yang
dikatakan 'tidak rata'.
* Bawak. "obahing awak".
menggerakan tubuh
Maksudnya, kita manusia hidup ini diwajibkan untuk mengerakkan tubuh/bekerja/berikhtiar
untuk mencari rezeki dari
GUSTI ALLAH guna memenuhi kebutuhan hidup. Jangan sampai bermalas-malasan dan meminta-minta belas kasih dari orang
lain.
Disamping itu, arti tersebut juga bukan hanya berarti
mencari rezeki semata, tetapi juga ikhtiar untuk senantiasa "manembah
GUSTI ALLAH tan kendhat Rino Kelawan Wengi" (menyembah GUSTI ALLAH siang
maupun malam).
* Doran. "Dongo marang Pengeran" "Ojo
Adoh Marang Pengeran".
doa yang dipanjatkan pada Gusti Pengeran ALLAH Ta’ala.
Dalam segenap
kegiatan kita, kita jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan/Gusti pengeran Allah
SWT, berdo’a disini secara umum dapat diartikan sebagai ibadah secara
keseluruhan.
Jangan menjauh
dari Gusti Pengeran Allah Ta’ala
Sebagai manusia
kita janganlah menjauh dari Allah SWT, kita wajib senantian ingat dan menyembah
Gusti Pengeran Allah SWT, bukan menyembah yang lain.
Dari ketiga
bagian Pacul tersebut, Pacul, Bawak, Doran, tidak dapat dipisah-pisahkan, kalo
terpisah maka tidak akan berguna lagi. Begitu pula, artinya bahwa manusia
hendaknya mampu untuk menyingkirkan sifat-sifat buruknya, selalu berikhtiyar
bekerja untuk mencari rezeki yang barokah dan tidak melupakan untuk selalu
berdoa dan menyembah kepada Allah SWT
Demikian wejangan
dari Kanjeng Sunan Kalijaga kepada murid beliau, Ki Ageng Sela, semoga dapat
kita ambil hikmah dan tauladan dalam kehidupan kita masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar