Rabu, 22 Januari 2014

Wejangan Sunan Kalijaga pada Ki Ageng Sela : Filsafat Pacul


Kanjeng Sunan Kalijaga seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan filosof, seniman, kritis, tolerans, visioner, sensitive.

Sedangkan Ki Ageng Sela yang kondang namanya lantaran mampu menangkap petir pun pernah berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga. 
Salah satu wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela adalah tentang Pacul. Ketika itu Kanjeng Sunan Kalijaga menyuruh Ki Ageng Sela untuk 'membaca' Pacul.
Dalam menuntut ilmu, seseorang dituntut untuk menggunakan pikirannya untuk membaca dan memahami apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang meguru atau berguru pada orang yang sudah mumpuni dalam hal ilmu rasa, maka dia harus 'menggerakkan' otaknya untuk memahami apa yang ada di alam semesta ini. Artinya, alam semesta ini 'dibaca' dan diartikan sendiri apa yang menjadi makna sejatinya.

Pacul atau cangkul adalah salah satu alat yang merupakan senjata para petani. Senjata ini digunakan para petani untuk mengolah lahan pertanian. Tampaknya memang sederhana, Pacul. Tapi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi.
Dari wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela, Pacul atau cangkul itu terdiri dari 3 bagian. Ketiga bagian tersebut adalah: Pacul (bagian yang tajam untuk mengolah lahan pertanian), Bawak (lingkaran tempat batang doran), dan Doran (batang kayu untuk pegangan cangkul).
Menurut wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga, sebuah pacul yang lengkap, tidak akan dapat berdiri sendiri-sendiri. Ketiga bagian tersebut harus bersatu untuk dapat digunakan oleh petani. Apa sebenarnya arti dari Pacul, Bawak dan Doran itu?

* Pacul.  "ngipatake barang kang muncul"
menyingkirkan bagian yang mendugul atau bagian yang tidak rata.
Dari alat Pacul tersebut setidaknya bisa diartikan bahwa kita manusia ini harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego yang berlebih, cepat marah, mau menang sendiri, ingin mempunyai kekayaan yang berlebihan dengan cara yang tidak baik dan sifat-sifat jelek kita lainnya yang dikatakan 'tidak rata'.

* Bawak. "obahing awak".
menggerakan tubuh
Maksudnya, kita manusia hidup ini diwajibkan untuk mengerakkan tubuh/bekerja/berikhtiar untuk mencari rezeki dari GUSTI ALLAH guna memenuhi kebutuhan hidup. Jangan sampai bermalas-malasan dan meminta-minta belas kasih dari orang lain.
Disamping itu, arti tersebut juga bukan hanya berarti mencari rezeki semata, tetapi juga ikhtiar untuk senantiasa "manembah GUSTI ALLAH tan kendhat Rino Kelawan Wengi" (menyembah GUSTI ALLAH siang maupun malam).

* Doran. "Dongo marang Pengeran"  "Ojo Adoh Marang Pengeran".
doa yang dipanjatkan pada Gusti Pengeran ALLAH Ta’ala.
Dalam segenap kegiatan kita, kita jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan/Gusti pengeran Allah SWT, berdo’a disini secara umum dapat diartikan sebagai ibadah secara keseluruhan.
Jangan menjauh dari Gusti Pengeran Allah Ta’ala
Sebagai manusia kita janganlah menjauh dari Allah SWT, kita wajib senantian ingat dan menyembah Gusti Pengeran Allah SWT, bukan menyembah yang lain.

Dari ketiga bagian Pacul tersebut, Pacul, Bawak, Doran, tidak dapat dipisah-pisahkan, kalo terpisah maka tidak akan berguna lagi. Begitu pula, artinya bahwa manusia hendaknya mampu untuk menyingkirkan sifat-sifat buruknya, selalu berikhtiyar bekerja untuk mencari rezeki yang barokah dan tidak melupakan untuk selalu berdoa dan menyembah kepada Allah SWT
Demikian wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga kepada murid beliau, Ki Ageng Sela, semoga dapat kita ambil hikmah dan tauladan dalam kehidupan kita masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar