PENDAHULUAN
IKLIM
Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis
“Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari
tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15,
1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya
menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362.
Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum
bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari
tenggelamnya berabad-abad itu.
11 Juli 1942 petang, saya sampai di Jakarta. Saya meninggalkan
Telokbetong pada 7 Juli. Rupanya sama dengan tanggal Ir Sukarno
meninggalkan Palembang. Tetapi ada perbedaan. Kapal yang saya tumpangi
cuma perahu layar tak lebih dari 4 ton, tua dan bocor walaupun namanya
merdu bunyinya "Sri Renyet’’. Perahu layar ini sama sekali menjadi
permainan angin saja. Kalau angin dari belakang majulah dia. Kalau dari
muka berlabuhlah dia, walaupun dekat karang, kalau dia tak mau
dibalikkan kembali atau ditenggelamkan. Kapal Ir. Sukarno kabarnya
ditarik oleh kapal motor Jepang. Sebab itu walaupun sama waktu berjalan
dan saya dua kali lebih dekat dari Ir. Sukarno ke tempat yang dituju,
saya dua kali selama dia di jalan baru sampai.
Ada lagi perbedaan. Walaupun pembuangan saya dua kali pula selama
pembuangan Ir. Sukarno yang 10 tahun itu dan saya sebetulnya bukan
dikembalikan dengan resmi, melainkan kembali sendiri saya belum boleh
bekerja dengan terbuka. Sedangkan Ir. Sukarno sudah "diberi’’ izin buat
membikin "propaganda’’. Dalam "Sinar Matahari’’ diterbitkan oleh
Kepala Bagian Umum dari barisan propaganda Dai Nippon Palembang dalam
No. 49, Kayobi atau Selasa, 23-6-2602, dalam artikel "Di Barisan
Depan’’ tuan Sukarno menganjurkan pada Rakyat Indonesia bekerja
bersama-sama sekuat-kuat tenaga dengan Dai Nippon. Sebab, hanya dengan
bekerja bersama-sama dengan Nippon, kita akan dapat mencapai cita-cita
kita Indonesia Raya dalam lingkungan Asia Raya’’. Senin 13 Juli (jangan
takut sama angka 13), Ir. Sukarno berjabatan tangan dengan Drs.
Muhammad Hatta pemimpin Nasionalis Indonesia yang setingkat tingginya
dengan Ir. Sukarno sama-sama cerdik pandai, terpelajar, berani, tahan
dan rela menderita kesukaran hidup, yakni sampai Jepang masuk.
Disamping gambar tertulis : “Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta
berjabatan tangan sebagai pengakuan bekerja bersama-sama guna
masyarakat.”
Dengan hampa tangan saya cari tulisan kedua pemimpin tadi yang
bersangkutan dengan persoalan. 1. bagaimana tata negara Asia Raya, 2.
Bagaimana kedudukan Indonesia Raya dalam Asia Raya cetakan militer
Jepang itu, 3. Bagaimana tata negara Indonesia Merdeka sendiri, 4,
5…………ad.infinitum, yakni tidak berhenti seterusnya …………Kesimpulan:
kedua pemimpin nasionalis sudah mulai menjalankan cita-citanya, ialah
di bawah ujung pedang Samurai.
Akhirnya perbedaan yang ketiga. Sedangkan kedua pemimpin tersebut
disambut dengan kegirangan oleh pengikutnya secara resmi, seperti
"bever’’ (berang-berang – catatan editor) yang terkenal tinggal di
lubang yang dibikinnya di bawah air itu, saya masuk mesti memakai
segala anggota keawasan, yang memang sudah terlatih dalam pelarian yang
lebih dari 20 tahun lamanya. Apabila kelak sudah pasti bahwa golongan
(klas) yang saya pertahankan selama ini boleh menjalankan haknya, maka
barulah kelak saya akan meninggalkan "sarang’’.
Tetapi sarang sekarang memang lebih baik tempatnya dari yang
sudah-sudah. Letaknya tidak lagi di Tiongkok atau di tepi tapal batas
Jajahan Belanda, walaupun di Indonesia juga seperti 4 tahun yang lalu,
tetapi di tengah-tengah Rakyat dan kaum yang sebentuk badan dan mukanya
dengan saya dan yang lekas saya bisa mengerti perkataan dan tingkah
lakunya. Tetangga saya tiada lagi cerewet mencampuri, siapa saya, dan
dari mana saya datang sebab bentuk badan, muka dan bahasa semuanya
sama………..
Dari sini saya bisa mempelajari sikap dan perbuatan tentara Jepang,
serta sikap dan perbuatan pemimpin Indonesia Raya dalam lingkungan Asia
raya. Tetapi saya tiada boleh mengharapkan lebih dari mempelajarinya
saja.
Saya kenal Rakyat Jelata Jepang di masa damai. Mereka tahu
membedakan yang buruk dengan yang baik tentang hal yang datang dari
barat. Mereka bersifat berani dan berlaku ramah tamah terhadap bangsa
lain. Tetapi tentara Jepang yang sekarang mengawasi musuh dengan pedang
terhunus, dan sering hilang kesabaran terhadap kaum pekerja bangsa
Indonesia, tiadalah satu organisasi yang patut diajak berembuk tentang
politik yang berdasarkan ke-proletar-an.
Ketua Kota Jakarta (H. Dachlan Abdullah) ini duduk sebangku dengan
saya, ketika belajar di Indonesia dan sering sekamar tidur dan makan di
Indonesia dan Eropa. Drs Mohammad Hatta bukan asing buat saya. Saya
belum bertemu muka dengan Ir. Sukarno. Tetapi perkataan simpati
terhadap saya dulu banyak saya baca. Ketiganya mereka ada disini, dekat
dan kalau saya menemui mereka, saya bisa ambil kembali uang saya yang
dulu tersimpan dalam Bank Belanda (Javasche Bank) sebelum pergi keluar
negeri. Saya bisa longgarkan kehidupan saya, dijumpai keluarga saya yang
masih hidup dan cari kuburan ibu dan bapa yang keduanya meninggal di
waktu saya bertualang. Tetapi tentu susah, mungkin mustahil buat saya
melalui pagar Besi Dai Nippon berkeliling rumah mereka. Seandainya
bisa, tentulah "sarang’’ saya tak akan aman lagi …………..
Begitulah iklim, suasana politik ketika saya mulai melahirkan
"Madilog’’ di atas kertas. Saya berada di tengah-tengah rakyat Jelata
Indonesia, dekat keluarga dan para sahabat. Tetapi keadaan dan paham
saya memaksa saya tinggal sendiri di tengah-tengah masyarakat yang
sering menyebut-nyebut nama, tetapi tak mengenal rupa saya.
Terbitlah mulanya pertanyaan dalam diri saya; buku manakah yang
pertama mesti ditulis yang paling cocok dengan keadaan diri dan luar
diri saya.
Ada tiga buku yang sudah bertahun-tahun saya kandung dalam fikiran, tetapi belum bisa dilahirkan.
- Undang kaum Proletar berpikir, yang sekarang saya namai Madilog.
- Federasi Aslia ialah potongan dari Asia-Australia, yakni Federasi dari segala Negara pada jembatan antara Asia dan Australia dengan kepalanya di Asia dan Australia.
- Beberapa pengalaman saya yang boleh menjadi pengetahuan dan nasehat buat mereka yang suka menerima.
Dalam keadaan biasa, ketiganya boleh dicetak pada satu waktu, yaitu
berdikit-dikit. Karena memang isinya sudang dikandung, Cuma belum
diatur sebab waktu dan tempat selamanya ini tak mengijinkan buat
melahirkan.
Dalam hal menghasilkan buah fikiran, kita juga berjumpa dengan
soal-soal seperti yang dijumpai kalau orang menghasilkan barang
dagangan. Orang tidak saja mesti memikirkan perkara belanja (ongkos)
buat menghasilkan, tetapi juga perkara permintaan orang ramai (demand).
Ongkos boleh saya cari. Di Tiongkok saya mempunyai pencaharian
sendiri. Ketika kapal terbang Jepang sampai di Amoy penghabisan bulan
Agustus 1937, saya mesti tinggalkan "School of Foreign Languages’’ yang
saya dirikan sendiri, yang pesat majunya itu. Saya mesti pindah ke
Selatan, terutama sebab semua murid saya lari dan penduduk Amoy
cerai-berai.
Di Singapura dalam masyarakat Tionghoa dengan nama dan pasport
Tionghoa (sudah tentu di luar pengetahuan Inggris yang asik mencium
jejak saya), saya beruntung bisa memanjat dari sekolah rendah sampai
kepala sekolah menengah tinggi yang tertinggi di Asia Selatan, yaitu
Nanyang Chinese Normal School (NCNS). Disini saya menyamar sebagai Tan
Ho Seng jadi guru bahasa Inggris, sampai sekolahnya ditutup ketika
Jepang masuk. Jadi kalau perkara ongkos saja saya dapat mencetak
buku-buku yang perlu. Pendapatan (uang) saya sebagai guru inggris siang
dan malam lebih dari cukup buat diri sendiri.
Tetapi perkara pembagian ada lain hal. Ini rapat bergantung pada kekuatan di luar diri saya.
Walaupun dari tahun 1925-1935 otak saya seolah-olah lumpuh, karena
kesehatan sangat terganggu, tetapi karena permintaan ramai ada keras,
saya, dalam kesehatan dan keamanan hidup amat terganggu dan terpaksa
saja lari kesana-sini, bisa juga mencetakkan "Naar de Republiek
Indonesia’’, "Massa Aksi’’ dan "Semangat Muda’’. Semuanya perlu buat
nasehat para pergerakan di Indonesia.
Sukarnya perhubungan dan jauh tempat saya, maka sedikit sekali
buku-buku itu sampai di tangan yang mempertanggung jawabkan di
Indonesia. Barangkali 99 % dari semua buku tersebut masih cerai berai
atau lapuk di luar Indonesia. Tetapi di mana sampai, hasilnya ada juga
menyenangkan.
Demikianlah sesudah saya sendiri ditangkap di Hongkong pada
penghabisan tahun 1932 – inilah yang ke-3 kali – dan semua teman
seperjuangan ditangkap di Singapura dan di-Digulkan (diasingkan –
catatat editor) maka perhubungan saya dengan sahabat dan teman
seperjuangan di semua tempat sama sekali terputus. Beberapa kali saya
coba mengadakan perhubungan dengan Rakyat Indonesia dari Singapura,
tetapi semuanya itu gagal. Di Singapura dari tahun 1937 sampai 1942
saya saksikan dan sedihi bagaimana besarnya kesukaran yang dihadapai
oleh Rakyat dan proletar dalam hal mendirikan susunan politik,
terlebih-lebih pula dalam hal mengatur susunan tersembunyi. Jauh
terbelakangnya Indonesia dalam hal mengatur susunan tersembunyi dari
Tiongkok umpamanya.
Saya percaya permintaan kepada buku-buku ada cukup keras serta nafsu
dan keberanian buat mencari atau membagikan buku-buku terlarang cukup
besar, tetapi Rakyat Indonesia belum lagi sanggup mengatasi tamparan
reaksi Belanda. Percumalah kalau buku itu dicetak, walaupun semua alat
pencetak dan ongkos bisa didapat. Berhubung dengan itu terpaksalah saya
mengundurkan maksud saya, bertahun-tahun sampai sekarang.
Banyak Proletar mesin (baca buruh industri – catatan editor) dan
tanah (baca buruh pertanian – catatan editor) di Indonesia dan
kekuatannya yang tersembunyi memang sudah cukup kuat buat merebut
kekuasaan dari imperialisme Belanda. Tetapi didikannya masih sangat
tipis dan tiada cocok dengan keperluan dan kewajiban klasnya di hari
depan. Mereka kekurangan pandangan dunia (Weltanschauung). Kekurangan
Filsafat. Mereka masih tebal diselimuti ilmu buat akhirat dan tahyul
campur aduk. Mereka tiada sadar akan kekuasaan klasnya. Belum insyaf
sendiri, bahwa tak dengan pertolongan proletar mesin, semuanya
percobaan buat merebut dan membentuk Indonesia merdeka adalah perbuatan
sia-sia belaka. Dua puluh tahun dulu saya sudah yakin akan kekuatan
kaum proletar yang tersembunyi itu. Kini tiada kurang malah lebih yakin
dari itu.
Filsafat kaum proletar memang sudah ada, yaitu di barat. Tetapi
dengan menyalin semua buku dialektis-materialisme dan menyorongkan
buku-buku itu pada proletar Indonesia kita tiada akan dapat hasil yang
menyenangkan. Saya pikir otak proletar mesin Indoensia tak bisa
mencernakan paham yang berurat dan tumbuh pada masyarakat Indonesia
dalam hal iklim, sejarah, keadaan jiwa dan idamannya.
Proletar Indonesia mesti setidaknya dalam permulaan ini, mempunyai
pembacaan yang berhubungan dengan pahamnya sekarang, pembacaan yang
kelak bisa menjadi jembatan kepada filsafatnya Proletar Barat.
Saya percaya ada otak di Indonesia sekarang yang lebih terlatih dari
saya dan pena yang lebih tajam dari pena yang berkarat, karena tiada
dipakai lebih dari 10 tahun belakangan ini. Akhirnya ada ahli bahasa
Indonesia yang bisa lebih tangkas merebut jiwa dan semangat Indonesia
dari bahasa saya yang terpendam di luar negeri dalam lebih dari
setengah umur saya.
Tetapi karena otak, pena dan bahasa semacam itu saya belum lihat
keluarnya, maka terpaksalah saya mempelopori. Tentulah saya berharap
akan hati lapang dan sikap menolong memperbaiki dari pihak umum, kalau
berjumpa dengan kesalahan.
PERPUSTAKAAN
Kita masih ingat berapa sindiran dihadapkan pada almarhum Leon
Trotsky, karena ia membawa buku berpeti-peti ke tempat pembuangan yang
pertama di Alma Ata. Saya masih belum lupa akan beberapa tulisan yang
berhubungan dengan peti-peti buku yang mengiringi Drs. Mohammad Hatta
ke tempat pembuangannya. Sesungguhnya saya maklumi sikap kedua pemimpin
tersebut dan sebetulnya saya banyak menyesal karena tiada bisa berbuat
begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu.
Bagi seseroang yang hidup dalam pikiran yang mesti disebarkan, baik
dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang cukup. Seorang
tukang tak akan bisa membikin gedung, kalau alatnya seperti semen, batu
tembok dan lain-lain tidak ada. Seorang pengarang atau ahli pidato,
perlu akan catatan dari buku musuh, kawan ataupun guru. Catatan yang
sempurna dan jitu bisa menaklukan musuh secepat kilat dan bisa merebut
permufakatan dan kepercayaan yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik
dalam polemik, perang-pena, baik dalam propaganda, maka catatan itu
adalah barang yang tiada bisa ketinggalan, seperti semen dan batu
tembok buat membikin gedung. Selainnya dari pada buat dipakai sebagai
barang bahan ini, buku-buku yang berarti tentulah besar faedahnya buat
pengetahuan dalam arti umumnya.
Ketka saya menjalankan pembuangan yang pertama, yaitu dari
Indonesia, pada 22 Maret 1922, saya cukup diiringi oleh buku, walaupun
tiada lebih dari satu peti besar. Disini ada buku-buku agama, Qur’an
dan Kitab Suci Kristen, Budhisme, Confusianisme, Darwinisme, perkara
ekonomi yang berdasar liberal, sosialistis, atau komunistis, perkara
politik juga dari liberalisme sampai ke komunisme, buku-buku riwayat
Dunia dan buku sekolah dari ilmu berhitung sampai ilmu mendidik.
Pustaka yang begitu lama jadi kawan dan pendidik terpaksa saya
tinggalkan di Nederland karena ketika saya pergi ke Moskow saya mesti
melalui Polandia yang bermusuhan dengan Komunisme. Dari beberapa
catatan nama buku di atas, orang bisa tahu kemana condongnya pikiran
saya.
Di Moskow saya cocokkan pengetahuan saya tentang komunisme. Dalam
waktu 8 bulan disini saya sedikit sekali membaca, tetapi banyak
mempelajari pelaksanaan komunisme dalam semua hal dengan memperhatikan
segala perbuatan pemerintah komunis Rusia baik politik ataupun ekonomi,
didikan ataupun kebudayaan dan dengan percakapan serta pergaulan
dengan bermacam-macam golongan. Disini saya juga banyak menulis perkara
Indonesia buat laporan Komintern. Ketika saya meninggalkan Rusia,
memang saya tiada membawa buku apapun, sedang buku peringatanpun tidak.
Pemeriksaan di batas meninggalkan Rusia keras sekali.
Tetapi sampai di Tiongkok dan kemudian di Indonesia, saya dengan
giat mengumpulkan buku-buku yang berhubung dengan ekonomi, politik,
sejarah, ilmu pengetahuan, science (sajans), buku-buku baru yang
berdasar sosialisme dan komunisme. Mengunjungi toko buku adalah
pekerjaan yang tetap dan dengan giat saya jalankan. Nafsu membeli buku
baru, lebih-lebih yang berhubungan dengan ekonomi Asia, membikin kantong
saya seperti boneka yang tiada berdaya apa-apa. Tetapi tiada banyak
bahagia yang saya peroleh. Sebab kelumpuhan otak seperti saya sebutkan
di atas, maka tak lebih dari satu jam sehari saya bisa membaca buku
bertimbun-timbun itu. Saya terpaksa menunggu sampai kesehatan
membenarkan, tetapi rupanya pustaka tak bisa mengawani saya.
Pada perang Jepang – Tiongkok di Shanghai penghabisan tahun 1937,
tiga hari lamanya saya terkepung di belakang jalan bernama "North Su
Chuan Road’’, tepat di tempat peperangan pertama meletus. Dari North Su
Chuan Road tadi Jepang menembak kearah Pao Shan Road dan tentara
Tiongkok dari sebaliknya. Di antaranya di kampung Wang Pan Cho saya
dengan pustaka saya terpaku. Sesudah dua atau tiga hari tentara Jepang
memberi izin kepada kampung tempat saya tinggal berpindah rumah, pergi
ke tempat yang lebih aman dalam waktu 5 menit saja. Saya turut pindah
tergopoh-gopoh. Tentulah pustaka saya mesti tinggal. Ketika saya
kunjungi rumah saya sesudah habis perang yakni sesudah sebulan lamanya,
maka sehelai kertaspun tak ada yang tinggal. Begitulah rapinya
"lalilong’’ alias tukang copet bekerja. Hal ini tidak membikin saya
putus asa. Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk
kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.
Sampai saya ditangkap di Hongkong pada 10-10-1932, saya sudah punya
satu peti pula. Sesudah dua bulan di dalam penjara, saya dilepaskan
buat dipermainkan seperti kucing mempermainkan tikus. Maka dekat Amoy,
saya bisa melepaskan diri. Tetapi dengan melepaskan pustaka saya
sendiri. Pustaka saya, tanpa saya, berlayar menuju ke Foechow. Saya
terlepas dari bahaya, tetapi juga terlepas dari pustaka. Saya berhasil
menyamar masuk ke Amoy dan terus ke daerah dalam Hok Kian
tiga-empat-tahun lamanya, terputus dengan dunia luar sama sekali,
beristirahat, berobat sampai sembuh sama sekali.
Pustaka baru yang saya kumpulkan di Amoy dari tahun 1936 sampai
1937, juga sekarang, juga sekarang terpendam disana, ketika tentara
Jepang masuk pada tahun 1937. Malah dua tiga buku-buku peringatan yang
penting sekali yang bahannya diperoleh dengan mata sendiri, ialah:
catatan penting, buat buku-buku yang sekarang saya mau tulis, mesti
saya lemparkan ke laut dekat Merqui, sebelum sampai di Ranggoon.
Putusan bercerai dengan dua buku catatan itu diambil dengan duka
cita sekali. Tetapi putusan itu belakangan ternyata benar. Duanne
Ranggoon memeriksa buku-buku saya yang masih ada dalam peti seperti
"English Dictionary’’ dengan teliti sekali, malah kulitnya diselidiki
betul-betul. Kantongpun tak aman. Di antara Merqui dan Ranggoon di
pantai laut, disanalah terletak beberapa buku peringatan cukup dengan
rancangan, catatan dan suggesti atau nasehat buat pekerjaan sekarang.
Dalam permulaan 3 tahun di Singapura saya amat miskin sekali. Gaji
yang diperoleh sedikit sekali - enam setengah rupiah sebulan. Dengan
tak ada diploma-Singapura, tak lahir di Singapura, memakai pasport
Tiongkok, walaupun bisa bercakap Tionghoa, tetapi tiada bisa membaca
huruf Tionghoa susah mendapat kerja yang berhasil besar pada perusahaan
Tionghoa. Susah pula mendapat izin mengajar bahasa Inggris dari tuan
Inspektur, sedangkan masyarakat Indonesia tak berarti sama sekali di
bekas kota "Tumasek’’ (nama Singapura sekarang di Jaman Majapahit) Ini
uang buat makan secukupnya saja, pakaian jangan disebut lagi. Masuk
jadi anggota pustaka (Library) tiada mampu. Disini pengetahuan saya
walaupun kesehatan sempurna kembali, cuma bisa ditambah dengan isi
surat kabar, dan pengamatan mata dan telinga sendiri. Tetapi lama
kelamaan atas usaha sendiri saya mendapatkan pekerjaan dan hasil
pekerjaan yang baik sekali.
Seperti saya sebut diatas, akhirnya saya dapat bekerja pada sekolah
Normal Tinggi (Nanyang Chinese Normal School) sebagai guru Inggris dan
belakangan juga sebagai guru Matematika dalam dan luar sekolah
tersebut. Saya mulai kumpulkan catatan buat buku-buku yang mau saya
tulis sekarang. Rafles Library memberi kesempatan dan minat yang besar.
Buku yang paling belakang saya pinjam ialah Capital, Karl Marx. Tetapi
armada udara Jepang tak berhenti datangnya hari-hari. Sebentar-sebentar
saya mesti lari sembunyi. Cuma dalam lubang perlindungan saya bisa
baca Capital, buat mengumpulkan bahan yang sebenarnya saya ulangi
membacanya. Sampai 15 Febuari 1942 saya masih pegang Capital itu dengan
beberapa catatan. Tetapi sesudah Singapura menyerah, semua penduduk
laki-perempuan, tua-muda dihalaukan dengan pedang terhunus kiri-kanan,
dengan ancaman tak putus-putusnya menuju ke satu lapangan. Disini
ratusan penduduk Tionghoa ditahan satu hari buat diperiksa. Disini saya
juga turut menghadapi senapan mesin. Di belakang hari kami mendengar
bahwa maksud tentara jepang yang bermula ialah memusnahkan semua
penduduk Tionghoa yang ada di Singapura. Tetapi dibatalkan oleh pihak
Jepang yang masih mempunyai pikiran sehat dan rasa tanggung jawab
terhadap dunia lainnya.
Sebelum kami dikirim ke padang tersebut, saya sudah maklum bahwa tak
ada pelosok rumah atau halaman rumah yang mesti kami tinggalkan selama
pemeriksaan diri dijalankan, yang kelak akan dilupakan oleh Kempei
Jepang. Sepeninggalan kami rumah tempat saya tinggal diperiksa
habis-habisan. Barang berharga habis di copet.
Sebelum meninggalkan rumah menuju ke lapangan pemeriksaan saya
beruntung mendapat kesempatan menyembunyikan buku Capital ke dalam air.
Di "upper Seranggoon Road’’ di muka rumah tuan Tan Kin Tjan, disanalah
sekarang di dalam tebat (empang) bersemayam buku Capital terjemahan
"Das Kapital’’ ke bahasa Inggris, pinjaman saya, Tan Ho Seng, dari
Raffles Library di Singapura.
Sesudah dua atau tiga minggu Singapura menyerah, saya coba dengan
perahu menyebrang ke Sumatra, tetapi gagal karena angin sakal. Saya
terpaksa mengambil jalan Penang-Medan. Hampir dua bulan saya di jalan
antara Singapura dengan Jakarta, melalui semenanjung Malaka, Penang,
selat Malaka (perahu layar) Medan, Padang, Lampung, selat Sunda
(perahu) dan Jakarta. Di jalan saya bisa beli buku karangan Indonesia.
Di antaranya Sejarah Indonesia, yang mesti saya sembunyikan pula
baik-baik, sebab dalamnya ada potret saya sendiri.
Inilah pustaka saya dulu dan sekarang. Ada niatan buat membeli
sekarang, tetapi banyak keberatan. Pertama uang, kemudian banyak buku
mesti datang dari luar negeri, dan ketiga dari pada dicatat dari satu
atau dua buku lebih baik jangan dicatat atau catat dari luar buku ialah
ingatan sama sekali, seperti maksud saya tentang Madilog ini. Biasanya
buku-buku reference yang dipetik, atau pustaka itu ditulis di bawah
pendahuluan. Biasanya diberi daftar pustaka yang dibaca oleh pengarang.
Tetapi dalam hal saya, dimana perpustakaan tak bisa dibawa, saya minta
maaf untuk menulis pasal terkhusus tentang perpustakaan itu.
Dengan ini saya mau singkirkan semua persangkaan bahwa buku Madilog
ini semata-mata terbit dari otak saya sendiri. Sudah tentu seorang
pengarang atau penulis manapun juga dan berapapun juga adalah murid
dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat
lain. Sedikitnya ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham, bahkan oleh
musuhnya sendiri.
Ada lagi! Walaupun saya tidak akan dan tidak bisa mencatat dengan
persis dan cukup, perkataan, kalimat, halaman dan nama bukunya, pikiran
orang lain yang akan dikemukakan, saya pikir tiada jauh berbeda
maknanya dari pada yang akan saya kemukakan.
Al Gazali pemikir dan pembentuk Islam, kalau saya tiada keliru pada
satu ketika kena samun. Penyamun juga rampas semua bukunya. Sesudah itu
Al Gazali memasukan semua isi bukunya ke dalam otaknya dengan
mengapalkannya. Bahagia (gunanya) mengapal itu buat Al Gazali, sekarang
sudah terang sekali kepada kita.
Pada masa kecil memang saya juga mengapal, tetapi bukan dalam bahasa
ibu, melainkan dalam bahasa Arab dan Belanda. Tetapi ketika sudah
sedikit berakal, saya sesali dan saya bantah kebisaan saya itu. Pada
ketika itu saya sadar, bahwa kebiasaan mengapal itu tiada menambah
kecerdasan, malah menjadikan saya bodoh, mekanis, seperti mesin. Yang
saya ingat bukan lagi arti sesuatu kalimat, melainkan bunyinya atau
halaman buku, dimana kalimat tadi tertulis. Pula kalau pelajaran itu
terlalu banyak, sudahlah tentu tak bisa diapalkan lagi. Tetapi saya
juga mengerti gunanya pengetahuan yang selalu ada dalam otak. Begitulah
saya ambil jalan tengah: padu yang baik dari kedua pihak.
Apalkan, ya, apalkan, tetapi perkara barang yang sudah saya mengerti
betul, saya apalkan kependekan "intinya’’ saja. Pada masa itulah di
sekolah Raja Bukit Tinggi, saya sudah lama membikin dan menyimpan dalam
otak, perkataan yang tidak berarti buat orang lain, tetapi penuh
dengan pengetahuan buat saya.
Buat keringkasaan uraian ini, maka perkataan yang bukan perkataan
ini, saya namakan "jembatan kedelai’’ (ezelbruggece) walaupun tidak
sama dengan ezelbruggece yang terkenal. Buat menjawab pertanyaan siapa
yang akan menang di antara dua negara umpamanya, saya pakai jembatan
keledai saya : "AFIAGUMMI’’.
A huruf yang pertama mengandung perkataan Inggris, ialah (A)rmament.
Artinya ini kekuatan udara kekuatan darat, dan laut. Masing-masing
tentu mempunyai cerita sendiri dan A huruf pertama itu bisa membawa
"jembatan keledai’’ yang lain seperti ALS, ialah susunan huruf pada
perkataan (A)ir (udara), (L)and (darat) dan (S)ea (laut) forces
(tentara). Sesudah dibandingkan perkara Armament diantara kedua negeri
itu, maka harus diuji perkara yang kedua, yakni Finance, terpotong oleh
huruf "F’’. keuangan dsb.
Demikianlah "jembatan keledai’’ AFIAGUMMI ini saja boleh jadi
meminta seperempat atau setengah brosure kalau dituliskan. Dalam
ekonomi, politik, muslihat perang, science dan sebagainya saya ada
menyimpan "jembatan keledai. Kalau buku penting yang saya baca ada
dalam bahasa Inggris, maka "jembatan keledai’’ saya, susunannya tentu
dari permulaan atau sebagian perkataan inggris.
Kalau tidak beratus, niscaya berpuluh ada "jembatan keledai’’ di
dalam kepala saya. "ONIFMAABYCI AIUDGALOG’’ yang berbunyi bahasa
Sanskreta, bukanlah bahasa Sanskreta atau bahasa Hindu, melainkan teori
ekonomi yang bertentangan dengan teori ekonomi Mahatma Gandhi.
Kalau badan saya ada sehat, maka perkataan guru itu biasanya mudah
saya tangkap. Isinya saya ternakkan dan masukkan ke dalam "jembatan
keledai’’. Kalau kertas atau buku peringatan saya umpamanya dibeslah
(disita – catatan editor) di Manila atau Hongkong oleh polisi, maka hal
itu tiada berarti dia tahu membaca perkataan itu, malah sudah pernah
menjadikan mereka pusing kepala berhari-hari, mengira yang tidak-tidak.
Dalam buku yang akan ditulis di belakang hari (kalau umur panjang!)
saya kelak bisa meneruskan cerita "jembatan keledai’’ saya ini. Saya
angap "jembatan keledai’’ itu penting sekali buat pelajar di sekolah
dan paling penting buat seseorang pemberontak pelarian-pelarian.
Bukankah seseorang pelarian politik itu mesti ringan bebannya,
seringan-ringannya? Ia tak boleh diberatkan oleh benda yang lahir,
seperti buku ataupun pakaian. Hatinya terutama tak boleh diikat oleh
anak isteri, keluarga serta handai tolan. Dia haruslah bersikap dan
bertindak sebagai "marsuse’’ (angkatan militer siap gempur – catatan
editor) yang setiap detik siap sedia buat berangkat, meninggalkan apa
yang bisa mengikat dirinya lahir dan batin.
Ringkasnya walaupun saya tiada berpustaka, walaupun buku-buku saya
terlantar cerai-berai dan lapuk atau hilang di Eropa, Tiongkok, Lautan
Hindia atau dalam tebat di muka rumah tuan Tan King Cang di Upper
Seranggoon Road, Singapura, bukanlah artinya itu saya kehilangan
"isinya’’ buku-buku yang berarti.
Tetapi barang yang lama itu tentu boleh jadi rusak. Catatan atau
makna yang saya kemukakan dari pikiran orang lain boleh jadi tiada
cukup atau bertukar arti. Dalam hal ini sekali lagi saya minta maaf dan
simpati.
INGATAN
Kitab ini adalah bentuk dari paham yang sudah bertahun-tahun
tersimpan di dalam pikiran saya, dalam kehidupan yang bergelora.
Disinilah dikerangkakan arti dan daerahnya materialisme, arti dan daerahnya dialektika, serta arti dan daerahnya Logika.
Selain dari pada itu, akan dijelaskan pula seluk-beluk dan
kena-mengenanya materialisme, dialektika dan logika, satu sama lainnya.
Baikpun materialisme ataupun dialektika, bahkan juga logika,
masing-masing mempunyai lapangan dan tafsiran berjenis-jenis.
Materialisme itu bisa ditafsirkan dengan cara yang mekanis secara mesin
mati atau kematian mesin. Malah kaum mistika, kaum gaibpun bisa
mempergunakan materialisme itu, buat memperlihatkan keulungan-sulapnya
atau sulap-keulungannya.
Dialektika yang berdasarkan pikiran dan kegaiban, yang pada
Hegelisme melambung sampai ke puncak, masih terus menerus dipakai
sebagai perkakas buat meluhurkan rohani dan merohanikan keluhuran.
Pemikir borjuis dan pemikir feodal bergantung pada dialektika mistika
itu seperti seekor semut hanyut bergantung pada sepotong rumput yang
diayun-ayunkan gelombang.
Logika memuncak pada ilmu bukti (Science) zaman sekarang dengan
berjenis-jenis cabangnya ilmu itu. Hasilnya berjenis-jenis ilmu itu
meulungkan dan menunggalkan kemanjurannya logika sebagai cara berpikir.
Dengan begitu logika menyilaukan mata para pemakai penonton logika itu
serta melupakan batas dan kelemahannya logika itu.
Sebaliknya pula beberapa kitab yang berdasarkan materialisme
dialektika di Eropa dalam keadaan menantang logika itu, lupa akan atau
sedikit sekali memperhatikan kepentingan logika itu. Buat Timur umumnya
dan Indonesia khususnya, yang sampai pada saat saya menulis kitab ini,
masih gelap gulita, diselimuti macam-macam ilmu kegaiban, maka logika
itu masih barang baru, hangat perlu diketahui dan dipahamkan
bersama-sama dengan dialektika dan materialisme.
Tetapi jangan pula kita sesat karena me-ulung logika dan
menunggalkan logika itu dengan tidak mengenal batas dan kelemahannya.
Dalam kita ini logika dibentuk di dalam iklim dialektik! keduanya,
logika dan dialektika bergantung pada materialisme. Sebaliknya pula
materialisme ini bersangkut paut dengan logika dan dialektika, seperti:
materi, benda itu mempunyai sifat bergerak dan berhenti, takluk pada
hukumnya gerakan, yakni dialektika, serta hukum berhenti, yakni logika.
Sampai lebih dari pertengahan kitab ini, sampai kira-kira ke ujung
bahagian logika, satu bukupun, buat reference – catatan - tiada
dipakai, karena memang tidak ada. Semua catatan dipetik dari ingatan
semata-mata. Di belakangnya saya mendapatkan bermacam-macam buku yang
perlu buat dipetik, dari peringatan tadi, bukunya tiada terdapat di
seluruh Jakarta. Bermula saya sandarkan seluruh isi kitab ini pada
ingatan jembatan keledai semata-mata, karena memang saya tiada berjumpa
dengan buku yang berkenaan. Tetapi sesudah lebih dari seperdua buku
ditulis, saya mendapatkan bahan tulisan yang bisa diperiksa benar
tidaknya sewaktu-waktu, yang bisa dipanjangkan atau dipendekkan menurut
pilihan.
Dengan berlainnya keadaan memilih dan menguji bahan itu sudahlah
tentu isi seluruh buku bukan sifatnya, melainkan bentuknya saja
tidaklah lagi seimbang, harmonis dan tiada lagi sesuara. Walaupun saya
mau merubah, saya tiada berdaya, karena bermacam-macam buku buat bahan
dari bahagian pertama itu, memang tiada bisa didapatkan. Saya mesti
menunggu sampai perang selesai, baru bisa didapatkan beberapa buku itu
…….yaitu kalau ada bahan penting pula fulus.
Tetapi kalau Madilog masih kekurangan bentuk, saya pikir dia tidak kekurangan sifat.
MENINJAU KE MUKA
Baru saya sampai di Jakarta, masuki sebuah toko buku Belanda salah
satu toko buku yang terbesar di Asia Timur ini. Saya mau beli sebuah
buku tentang logika. Di kota besar mana saja di Asia
Timur ini. Di Shanghai atau Manila, Hongkong atau Singapura, gampang
sekali kita dapatkan buku semacam itu. Di toko buku tuapun tak perlu
lama kita mencari buku logika karangan Jevons atau Mill (Inggris) atau
pun Jones (Amerika) dsb-nya. Di Jerman, lebih-lebih rusia, mudah sekali
mendapatkan buku perkara dialektika.
Tetapi dalam toko buku Belanda di ibu kota "Hindia Belanda’’ yang
berpenduduk 70.000.000 jiwa itu, tak ada satupun buku (popular atau
tidak) perkara undang berpikir, logika. Apalagi dalam toko-toko yang
lebih kecil! Satu gambar dari semangatnya suatu negara yang hanya
menghasilkan keju dan bloembollen itu, tetapi terkaya di dunia. Saya
percaya bahwa dalam sekolah tinggi di Belanda dan di Indonesia ada
terkhusus atau tersambil diajarkan logika. Tetapi saya pikir saya tak
jauh dari kebenaran kalau berkata bahwa English speaking nations
(bangsa-bangsa yang berbicara bahasa Inggris terutama Amerika) lebih
mementingkan didikan buat rakyat murba, buat pemuda yang berotak,
tetapi tak mampu, baik dengan jalan Sekolah Tinggi Rakyat ataupun
kursus dan buku popular. Salah satu sifat rakyat Belanda yang terlihat
pada saya adalah sifat demogogisch, ialah sifat berkilah,
sifat suka mempertentangkan perkara kecil-kecil dengan melupakan pokok
yang besar. Tiada heran kalau negara kecil berpenduduk kira-kira
seperdua puluh dari Amerika dan berkeluasan sepertiga ratus tujuh puluh
lima (1/375) dari Amerika mempunyai partai politik lima puluh dua buah
(menurut berita seorang jurnalis Inggeris yang berada di Holland
ketika diserang oleh Jerman (10-5-1940), jadi kira-kira 17 kali
sebanyak partai yang ikut dalam pemilihan di Amerika. Menurut ukuran
Belanda, Amerika itu mestinya mempunyai lebih kurang 1040 partai, baru
ia bsia menyamai Belanda dalam hal percekcokan perkara tetek benger.
Logika, apalagi dialektika, bukanlah ilmu yang dipopulerkan, dijadikan
ilmu umum, dimana raja minyak (Colyn) dan raja tembakau (Cremer)
bersimaharajarela.
Sudah bertahun-tahun saya tak punya buku, tak ada salahnya buat saya
sekarang, sebelum menulis buku "Madilog’’ ini, sebentar mengincarkan
mata pada daftar, isi dan halaman buku-buku yang mengandung dialektika
dan logika. Tetapi sebab toko buku yang terbesar di Asia Timur dan
toko-toko buku nyamuk di Jakarta tak punya satupun buku perkara itu
saya sama sekali disesakkan kepada "Jembatan keledai’’ yang tersimpan
dalam otak saya. Sekali lagi maaf ! Tetapi perlu pula dicatat disini
dalam bibliotheek Bataviase Genootshap, sesudah hampir habis "Madilog’’
ditulis berjumpa juga dengan beberapa buku tentang logika dalam bahasa
Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis.
MADILOG, ialah paduan dari permulaan suku kata : (MA)-TTER,
(DI)-ALECTICA dan (LOG)-ICA "Mater’’ saya terjemahkan dengan
"benda’’,dialektika dengan pertentangan atau pergerakan dan logika
dengan undang berpikir. Paduan dalam bahasa Indonesia tiadalah begitu
enak didengar dan tiada pula membuka pikiran baru seperti "jembatan
keledai’’ saya. Sebab segala kata di atas sudah begitu umum dalam
bahasa negara besar-besar di Eropa, walaupun bahasa cangkokan dari
bahasa Latin dan Yunani, maka tiadalah perlu kita segan mencangkok kata
itu ke dalam bahasa kita.
"Madilog’’ saya maksudkan terutama ialah cara berpikir. Bukanlah
suatu Waltanschauung, pemandangan dunia walaupun cara berpikir dan
pemandangan dunia atau filsafat adalah seperti tangga dengan rumah,
yakni rapat sekali. Dari cara orang berpikir itu kita dapat duga
filsafatnya dan dari filsafatnya kita dapat tahu dengan cara dengan
methode apa dia sampai ke filsafat itu.
Murid yang cerdik juga insyaf, bahwa kalau dia sudah tahu satu cara,
satu undang, satu kunci buat menyelesaikan satu golongan persoalan,
maka tiadalah ia mengapal berpuluh-puluh persoalan atau jawabannya
puluhan atau ratusan persoalan itu, tetapi dia pegang cara atau
kuncinya persoalan tadi saja.
Kebanyakan persoalan bisa diselesaikan dengan logika, undang berpikir saja. Dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan makan minum, pulang pergi, jual beli dan 1001 perkara berhubung dengan pergaulan kita dengan sahabat, anak dan istri, tiadalah kita dipusingkan oleh dialektika.
Kebanyakan persoalan bisa diselesaikan dengan logika, undang berpikir saja. Dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan makan minum, pulang pergi, jual beli dan 1001 perkara berhubung dengan pergaulan kita dengan sahabat, anak dan istri, tiadalah kita dipusingkan oleh dialektika.
Kenyang tiadalah mengandung arti lapar, seperti menurut dialektika.
Kalau si anak menangis, si ibu memberikan air teteknya dengan segera.
Dia tiadalah pikirkan lebih dahulu bahwa pengertian menangis itu
mengandung pengertian tertawa, dan lapar itu ada terkandung pengertian
kenyang. Yang satu sama lainnya tiada boleh dipisahkan, seperti dalam
cara berpikir yang berdasarkan dialektika.
Dalam sekolah rendah atau menengahpun kita berkali-kali bertarung
pada cara berpikir yang berdasarkan logika. Hitungan yang kita mesti
jalankan, pengalaman, experimenten, dalam ilmu alam dan ilmu pisah yang
sang guru lakukan di depan kita, semuanya mengandung logika. Walaupun
dalam dialektika pada satu saat uap itu sama dengan air jadi tiada
berpisah melainkan berpadi, jadi air sama dengan uap tiadalah kita
mengadakan perhitungan atas dasar dialektika ini. Air tetap air buat
kita dan mempunyai sifat air, bukan uap yang mempunyai sifat uap pula.
Tetapi kalau kita mengaji lebih dalam, kalau kita mengaji ada atau
tak-adanya barang, mengaji seluk-beluk, asal dan akibatnya sesuatu
barang, tegasnya kalau kita tenggelam dalam ombak gelora filsafat, ke
dalam persoalan yang berhubungan dengan alam, masyarakat politik, yang
hilang atau timbul, bergerak dan berhenti, pada waktu yang singkat atau
lama, pada perkara yang berseluk-beluk, maka kita tiada bisa sampai ke
ujung dengan perkakas logika semata-mata. Kita mesti memakai
dialektika. Malah dialektikalah yang terutama.
Ahli filsafat yang jawa, ahli politik atau ahli siasat yang cerdas
ahli ekonomi yang sempurna, mesti memakai senjata-pertentangan, seperti
senjata dalam pepatah Indonesia: yang tajam balik bertimbal, kalau tak
ujung pangkal mengena. Ahli filsafat mesti selalu berjalan di antara
kedua kutub, utara dan selatan, ujung dan pangkal, ya dan tidak, ada
dan tak-ada. Sebentar dia bisa cemplungkan otaknya ke dalam ada,
sebentar lagi ke dalam tak ada, dan pada tempat masing-masing memakai
logika, tetapi pada pemandangan jauh mempunyai waktu lama, dia mesti
pikirkan ada itu terletak di kutub tak-ada, tak boleh bercerai satu
sama lainnya.
Si-ekonomis dan ahli politik, sebentar boleh memakai Logika, dalam
menyelidiki beberapa perkara dalam golongan proletar atau kapitalis,
tetapi dalam filsafat masyarakat sekarang, masyarakat kapitalisme, dia
tidak boleh melupakan kedua kutub, kaum modal dikutub utara, kaum buruh
di kutub selatan. Satu sama lain bertentangan, tak boleh dipadu.
Disini dialektika yang merajalela.
Tetapi sebelum kita memilih cara berpikir mana yang terutama kita
pakai, dialektika-kah atau logika-kah, maka haruslah lebih dahulu kita
bertanya kepada diri sendiri, apakah persoalan itu berdasarkan matter,
benda ataukah idea, bayangan pikiran semata-mata, roh semata-mata.
Kalau persoalan itu berdasar atas benda, barang yang nyata yang bisa
diperiksa dengan panca indera anggota yang lima, boleh diperalamkan,
diexperimentkan, barulah persoalan itu kita taruh di bawah pemeriksaan
kita. Segala bukti yang nyata yang bisa diperalamkan itulah yang akan
menjadi premisses, menjadi lantainya undang atau paham yang kita cari
itu.
Sebab itulah kita namakan Madilog karena berdasarkan matter, benda.
Dari penjuru matter inilah kita memandang. Inilah buat kita yang jadi
lantai, yang menjadi tingkat pertama dalam sesuatu penyelidikan. Boleh
jadi resultant atau hasil penyelidikan itu tiada mencukupi atau salah
sama sekali. Tetapi hal ini tidak disebabkan salahnya cara berfikir.
Boleh jadi kepala kita sedang pusing atau bukti belum semuanya
terkumpul atau akhirnya kita salah memakai cara tadi.
Sudah lazim kita dengar dialektika-materialisme atau
historisch-materialisme. Perkataan ini memang cukup tangkas dan selalu
dipakai dalam kalangan Marxisten tetapi nama ini lahir di dunia barat di
antara Marxisten di masa kebanyakan logika, buat menentang sikap yang
terlampau banyak mengutamakan logika. Kita yang lahir di dunia mistika,
mistika Hindu pula, mistika yang tak gampang dikikis, di cuci bersih,
maka sebagai tongkat pertama dalam dunia berpikir, perlulah kita
sekadarnya memajukan logika. Di antara ahli pikir borjuis barat ada
yang menyanggah nama dialektika materialisme dan memajukan
kritis-materialisme, ialah logisch-materialisme, tetapi nama ini sama
sekali melenyapkan dialektika, jadi bertentangan dengan Madilog.
Walaupun dalam bagian badan kita, otak kita itu adalah barang yang
perlu dan penting, hati, jantung, usus, dsb juga penting, tetapi kalau
tak-bertulang belakang kita tak bisa berdiri. Klas tani itu penting,
klas saudagar di dunia sekarang berguna, klas intelek berguna-penting,
tetapi tak-ber-klas pekerja-mesin, Indonesia merdeka pasti tak akan
bisa berdiri dan kalau berdiri tak akan bisa teguh dan lama.
Beginilah paham saya sebelum dibuang keluar Negara lebih dari 20
tahun yang lampau. Di bawah bendera Dai Nippon paham itu tak bertambah
lemah, malah sebaliknya bertambah kuat. Perjuangan nasionalis setelah
robohnya PKI (1927), yang dipimpin oleh kaum intelek sudah lebih dari
pada cukup memberi bukti yang nyata, bahwa perjuangan yang tiada
berdasarkan pekerja-murba tidak akan mendapat Indonesia Merdeka. Sikap
keras terhadap para pemimpin prajurit pekerja, jauh lebih kejam dari
pada sikap yang diambilnya terhadap para pemimpin nasionalis adalah
sikap yang sangat jitu sekali menggambarkan taksirannya imperialisme
Belanda terhadap berbagai golongan Masyarakat Indonesia yang mengancam
dirinya itu.
Paham saya tentang segala golongan di Indonesia, sudah cukup saya
terangkan dalam beberapa brosur, yang saya sebut diatas tadi. PARI,
yang didirikan sesudah hancurnya PKI berdiri atas perhitungan kekuatan
terbuka dan tersembunyi Rakyat Murba dan pekerja Indonesia.
Pentingnya, hidup matinya negara pada dunia kapitalisme dan
imperialisme ini, bergantung pada bermacam-macam hal, persenjataan,
perindustrian, terutama senjata, letak negara, persatuan serta banyak
penduduknya, semangat rakyat, kecerdasan dsb.
Kalau semua hal yang lain bersamaan (letak negara, kecerdasan dan
banyak penduduk dsb), maka dalam satu perjuangan keadaan
perindustrianlah yang akan memberi putusan. Yang kuat perindustriannya,
itulah pihak yang mesti menang. Perusahaan sekarang berdasar atas
Ilmu-bukti (science) dan teknik, pesawat. Pesawat itu bendanya ialah
besi baja dan kodrat atau rohaninya terutama minyak tanah. Kalau tak
ada baja dan minyak, kapal terbang tak bisa naik, tank dan auto tak
bisa lari dan kapal-selam tak bisa maju. Kalau besi dan baja itu tidak
terdapat dalam negara, melainkan pada negara lain, maka buat
menyampaikan maksud imperialismenya negara itu, dia mesti menguasai
semua benda yang penting itu kalau satu negara penuh dengan benda tadi,
tetapi lemah semangat rakyatnya, lemah intelek, tiada bersatu dan
tiada pula merdeka, maka negara itulah yang akan menjadi umpan atau
makanan negara yang gagah perkasa.
Di dunia ini tak ada letaknya negara yang lebih berbahagia dari
letaknya Indonesia. Buat siasat perang tak ada tempat yang lebih teguh.
Barang siapa yang mendudukinya, walaupun hal lain bersamaan, dia mesti
menang perang. Siapa yang tiada mendapat kedudukan itu lambat laun
akan kalah. Lihatlah saja peta bumi. Dulupun hal ini sudah saya
majukan. Besi yang paling banyak dan paling baik sifatnya menurut
laporan dalam Bataviasche Nieuwsblad tahun 1935 (?) – kalau saya tak
lupa - ialah di Indonesia Utara, Filipina. Tambang besi di Malaka dan
Filipina memang sudah berjalan. Sulawesi dan Kalimantan banyak sekali
tanah mengandung besi.
Minyak di Sumatra, Kalimantan, Irian sudah begitu kesohor di seluruh
dunia, tak perlu dibicarakan lebih panjang lagi. Bauksite dan
aluminium keduanya buat melebur baja yang kuat keras sudah dikerjakan
di Riau dan akan dikerjakan di Asahan. Benda perang yang lain-lain,
seperti: timah, getah dan kopra (buat bom TNT yang maha dahsyat itu
minyak kelapalah yang dipakai) didapati di Indonesia lebih dari di
seluruh bagian dunia lain digabung jadi satu.
Sudah pernah seorang pengarang buku di Amerika meramalkan, bahwa
kalau satu negara seperti Amerika mau menguasai samudra dan dunia, dia
mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan. Si Amerika
tadi tiada meramalkan mungkin kelak rakyat Indonesia sendiri menguasai
negaranya sendiri, tak mau menjadi umpan atau makanan negara lain,
seperti lebih dari 300 tahun belakangan ini.
Saya sudah kenal sama tambang besi di Malaka dan Indonesia utara,
Filipina. Baru ini saja saya kagumi tambang minyak yang besar di
Pangkalan bradan, Pelaju dan sungai Gerang. Saya tahu adanya tambang
minyak di Tarakan dan Balikpapan, batu arang di Malaka, Sawah Lunto,
Bukit Assam dsb, tambang timah di Bangka dan Belitung. Saya tahu ratusan
ribu pekerja yang terikat oleh kereta api, tram, mobil, kapal laut dan
udara, pos, telepon, telegram dan radio. Ratusan ribu pekerja pada
bengkel, pabrik besi, kimia, gula, teh, kain, sabun, dan lain-lain.
Pada masa saya berangkat ketika lebih dari 20 tahun dahulu jumlah kaum
pekerja itu sudah 2 atau 3 juta orang. Sekarang sudah tentu lebih dari
itu. Banyaknya dan sifatnya perusahaan dalam 20 tahun belakangan ini
memang sudah bertambah. Begitu juga banyaknya serta sifatnya prajurit
pekerja.
Pekerja di dalam tambang minyak, besi, timah, bengkel dan pabrik dan
pada pengangkutan inilah tulang belakangnya ekonomi Indonesia. Inilah
kaum yang bisa dikerahkan buat menyokong berdirinya dan majunya
Indonesia Merdeka yang sejati dan terus-menerus mempertahankan
kemerdekaan itu. Dekatilah golongan pekerja ini! Masuklah klasnya!
Dengan klas ini bersama dengan golongan lain, maka klas pekerja
seolah-olah akan menjadi klas, sebagai "teras’’ yang
dikelilingi kayu dan kulit, kalau ia terus maju ke muka buat mencapai
kemerdekaan sejati dan mendirikan negara yang cocok dengan kemakmuran
sama-rata dan persaudaraan.
Tetapi tuan mesti kupas masyarakat sekarang, dengan cara berpikir
yang beralasan benda, bukan roh, yang bertentangan, bukan perdamaian,
memakai undang berpikir yang bukan fantastis, bertahyul, sembarangan.
Jelaskan pentingnya benda buat kesehatan kecerdasan, kebudayaan,
kemerdekaan dan kesenangan. Kupaslah pertentangan upah dan untung,
pertentangan proletar dan kapitalis. Pertentangan politik buruh dan
politik majikan dan akhirnya pertentangan kebudayaan kaum pekerja
dengan kebudayaan kaum hartawan yang menganggur itu. Jelaskanlah
kedudukan proletar dalam dunia kapitalisme ini. Peringatkanlah, bahwa
mereka pekerjalah, yang menduduki lantai ekonomi perekonomian
Indonesia. Bangunkanlah semangat kritis – menentang - dalam masyarakat
yang memang berdiri atas beberapa golongan yang bertentangan. Dengan
begitu bangunkanlah semangat menyerang buat meruntuhkan yang lama –
usang – dan mendirikan masyarakat yang baru – kokoh – kuat.
Janganlah dihampiri mereka, pekerja ini dengan "logika mistika’’.
Atau kalau tuan begitu gemar akan logika mistika atau dialektika
mistika tuan berlaku jujur. Jalankanlah akibatnya yang sebenarnaya dari
logika atau dialektika mistika tadi. Bilanglah saja terus terang,
bahwa benda itu tak berarti apa-apa, kalau dibanding akhirat.
Propagandakanlah bahwa benda dan nikmat di akhirat lebih banyak, lebih
lezat dan lebih kekal. Atau cocok dengan filsafatnya Gautama Budha,
katakanlah bahwa benda itu adalah satu rantai, satu karma yang merantai
hidup kita, hidup sengsara ini. Dengan demikian cocokilah dan ikutilah
sikap dan tindakannya beberapa sekte atau mashap mistika, yang mencari
cara yang baik buat membatalkan dunia ini, cara yang baik buat………mati,
yang buat mereka berarti mati-hidup. Bilanglah terus-terang mati lebih
baik dari pada hidup. Berlakulah begitu, supaya teori cocok dengan
praktek, kata dengan laku. Dengan terus terang dan konsekwen bercakap
begitu, kaum pekerja bisa memilih mana yang baik di antara Madilog atau
Logika Mistika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar