SAMPAI kematiannya yang tragis sebagai tumbal
revolusi, lebih dari 20 tahun hidup Tan Malaka dihabiskan untuk merantau
di negeri lain. Dari agen Komintern untuk Asia di Kanton sampai menjadi
free agent bagi dirinya sendiri. Dari seorang pedagog tulen dengan
jaminan finansial hingga hidup merdeka seratus persen. Dan Madilog, buku
yang ditulisnya dalam persembunyian dari Kempetai, polisi rahasia
Jepang (1943), adalah warisannya yang paling otentik.
Tan menginginkan Madilog—singkatan dari Materialisme,
Dialektika, dan Logika—sebagai panduan cara berpikir yang realistis,
pragmatis, dan fleksibel. Inilah warisan perantauannya yang berasal dari
pemikiran Barat untuk mengikis nilai-nilai feodalisme, mental budak,
dan kultus takhayul yang, menurut dia, diidap rakyat Indonesia. Mengapa?
Sebab, Tan berpikir, mulai periode Yunnan sampai imperialisme Jepang,
bangsa Indonesia tidak mempunyai riwayat kesejarahan sendiri selain
perbudakan. Tak mengherankan bila budaya bangsa ini berubah menjadi
pasif dan menafikan sama sekali penggunaan asas eksplorasi logika sains.
Madilog adalah solusinya. Inilah sebuah presentasi
ilmiah melalui serangkaian proses berpikir dan bertindak secara
materialistis, dialektis, dan logis dalam mewujudkan sebuah tujuan
secara sistematis dan struktural. Segala dinamika permasalahan duniawi
dapat terus dikaji dan diuji sedalam-dalamnya dengan menggunakan
perkakas sains; yang batas-batasnya bisa ditangkap oleh indra manusia.
Namun, lebih dari sekadar Barat, Madilog adalah juga
sintesis perantauan dari seorang Tan yang berlatar belakang budaya
Minangkabau. Ini terjabarkan ke dalam dua sense of extreme urgency point
pemikiran Tan Malaka demi membumikan Madilog dalam ranah Indonesia.
Pertama, Madilog lahir melalui sintesis pertentangan pemikiran di antara
dua kubu aliran filsafat, yaitu Hegel dengan Marx-Engels. Hegel dengan
filsafat dialektika (tesis, antitesis, dan sintesis) dengan kebenaran
yang menyeluruh (absolute idea) hanya dapat tercapai melalui
perkembangan dinamis, dari taraf gerakan yang paling rendah menuju taraf
gerakan yang paling tinggi. Semua berkembang, terus-menerus, berubah
tapi berhubungan satu sama lain. Hegel lebih memfokuskan pemikiran bahwa
untuk mencapai kebenaran mutlak, pemikiran (ide) lebih penting daripada
matter (benda).
Sementara itu, bagi Marx-Engels, proses dialektika
ini lebih cocok diterapkan dalam ranah matter melalui revolusi
perpindahan dominasi kelas yang satu ke kelas yang lain sampai tercapai
suatu bentuk kelas yang sebenarnya, yaitu masyarakat tanpa kelas. Jadi
matter bagi Marx-Engels lebih penting daripada ide.
Nah, dalam Madilog, Tan Malaka mencoba mensintesiskan
kedua pertentangan aliran filsafat ini untuk mengubah mental budaya
pasif menjadi kelas sosial baru berlandaskan sains; bebas dari alam
pikiran mistis. Melalui sains, mindset masyarakat Indonesia harus
diubah. Logika ilmiah dikedepankan, pikiran kreatif dieksplorasi dengan
langkah dialektis dari taraf perpindahan gerakan kelas sosial dari
tingkatannya yang paling rendah sampai paling tinggi berupa kelas sosial
baru yang berwawasan Madilog. Inilah proses ”merantau” secara pemikiran
karena berbagai benturan ide yang terjadi.
Kedua, identitas budaya Minangkabau tentang konsep
rantau. Nilai penting konsep rantau dalam budaya Minangkabau adalah
mengidentifikasi setiap penemuan baru selama merantau demi pengembangan
diri. Karakter masyarakat Minangkabau adalah dinamis, logis, dan
antiparokial. Konflik batin khas perantau ditepisnya dengan tradisi
berpikir rasional, didukung dengan basis pendidikan guru, yang
mengharuskan Tan menanamkan cara berpikir yang logis. Sementara itu,
merantau adalah juga mencari keselarasan hidup; yang tersusun dari
dinamika pertentangan dan penyesuaian. Pandangan kebudayaan Minangkabau
yang umum berlaku di masa mudanya membuatnya memahami baik dinamisme
Barat maupun dinamisme alam Minangkabau di dalam suatu cara pandang
terhadap dunia yang terpisahkan (Mrazeck, 1999).
Sebagai sintesis hasil perantauannya, Madilog
merupakan manifestasi simbol kebebasan berpikir Tan Malaka. Ia bukan
dogma yang biasanya harus ditelan begitu saja tanpa reserve. Menurut
dia, justru kaum dogmatis yang cenderung mengkaji hafalan sebagai kaum
bermental budak/pasif yang sebenarnya. Di sinilah filsafat idealisme dan
materialisme ala Barat dan konsep rantau disintesiskan Tan Malaka.
Lembar demi lembar ditulisnya di bawah suasana kemiskinan, penderitaan,
dan kesepian yang begitu ekstrem. Namun Madilog-lah yang menjadi puncak
kualitas orisinal pemikiran terbaik Tan Malaka yang dikumpulkannya dari
Haarlem, Nederland (1913-1919), sampai kelahiran buah pikirnya itu di
Rawajati (1943) daerah sekitar Kalibata Jakarta.
SEJARAH MADILOG
Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta.
Disini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun
1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20
tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog, ialah
lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943
(berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari.
Buku yang lain ialah Gabungan Aslia sudah pula setengah di tulis.
Tetapi terpaksa ditunda. Sebab yang pertama karena kehabisan uang.
Kedua sebab sang Polisi, Yuansa namanya diwaktu itu, sudah 2 kali
datang memeriksa dan menggeledah rumah lebih tepat lagi “pondok’’
tempat saya tinggal. Lantaran huruf madilog dan Gabungan Aslia
terlampau kecil dan ditaruh di tempat yang tiada mengambil perhatian
sama sekali, maka terlindung ia dari mata polisi. Terpeliharalah pula
kedua kitab itu dan pengarangnya sendiri seterusnya dari mata dan
tongkat kempei Jepang.
Lantaran hawa kediaman saya itu sudah agak panas dan bahaya
kelaparan sudah mengintip, maka terpaksalah saya memberhentikan
pekerjaan saya meneruskan menulis Gabungan Aslia. Saya bertualang di
daerah Banten mencari nafkah sambil memperlindungkan diri pula.
Akhirnya saya dapat pekerjaan tetap di Tambang Arang, Bayah.
Disinilah saya mendapat pekerjaan sedikit lebih tinggi dari romusha
biasa, (maklumlah orang tak punya diploma dan surat keterangan!) sampai
menjadi pengurus semua romusha dan penduduk kota Bayah dan sekitarnya
dalam hal makanan, kesehatan, pulang-pergi dan sakit matinya romusha
ribuan orang, dengan perantaraan kantor urusan prajurit pekerja.
Sebagai ketua Badan Pembantu Pembelaan (BPP) dan Badan Pembantu
Prajurit Pekerja (BP3), saya akhirnya sampai dipilih menjadi wakil
daerah Banten ke kongres Angkatan Muda yang dijanjikan di Jakarta,
tetapi tak jadi itu (bulan Juni 1945). Disinilah saya berjumpa dengan
pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, dll. yang sekarang mengambil
bagian dalam pergerakan Persatuan Perjuangan. Juga dengan pemuda lainnya
umpamanya seorang jurnalis yang amat dikenal di sekitar Bayah ketika
itu, tak lebih dan tak kurang dari Bang Bejat, alias Anwar
Tjokroaminoto dan saudaranya. Resan minyak ke minyak, resan air ke air,
kata pepatah.
Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayapnya
pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas
pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi ke Bayah Banten, ikut pergi
mengantarkan romusha ke Jawa tengah dan ikut menggeleng-geleng kepala
memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Di belakang sekali ikut
pula ditangkap di Surabaya bersama pengarangnya, berhubung dengan
gara-gara Tan Malaka palsu………………bahkan hampir saja Madilog hilang.
Baru 3 tahun sesudah lahirnya itu, Madilog sekarang memperkenalkan
dirinya kepada mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang sudah mendapat
minimum latihan otak, berhati lapang dan seksama serta akhirnya
berkemauan keras buat memahamkannya.
TAN MALAKA
Lembah Bengawan Solo, 15 Maret 1946.
------------ next>>

Tidak ada komentar:
Posting Komentar