Kamis, 23 Januari 2014

Wulang Sunu - Nasehat Mulia Untuk Anak

WULANG SUNU
(NASEHAT MULIA UNTUK ANAK)
Karya ISKS Pakubuwana IV

1
Wulang sunu kang kinarya gendhing,
kang pinurwa tataning ngawula,
(suwita) ing wong tuwane,
poma padha mituhu,
ing pitutur kang muni tulis,
sapa kang tan nuruta saujareng tutur,
tan urung kasurang-surang,
(donya) ngakir tan urung manggih billahi,
tembe matine nraka.
Wulang Sunu yang digubah dalam tembang,
Yang berisi tuntunan dalam berbakti,
mengabdi kepada orang tua,
maka perhatikanlah,
nasehat yang tertulis,
siapa yang tidak menuruti kata-kata nasehat,
akhirnya terlunta-lunta,
di zaman akhir akan mendapat celaka,
kelak matinya tersiksa.

2
Mapan sira mangke anglampahi,
ing pitutur kang muni ing (layang),
pasti becik setemahe,
bekti mring rama ibu duk purwa sira udani,
karya becik lan ala,
saking rama ibu,
duk siro tasih jajabang,
ibu iro kalangkung lara prihatin,
rumeksa maring siro.
Jikalau kamu sudi menjalani,
Nasehat berarti di atas kertas,
Pasti akan baik dalam urusan apa saja,
Berbakti pada ayah ibu
yang dulu kamu …
berbuat baik dan buruk,
dari ayah ibu,
saat kamu masih dalam kandungan,
ibumu lebih menderita dalam prihatin,
dalam menjaga & memeliharamu
3
Nora eco (dahar) lawan ghuling,
ibu niro rumekso ing siro,
dahar sekul uyah bae,
tan ketang wejah luntur,
nyakot bathok dipun lampahi,
saben ri mring bengawan,
pilis singgul kalampahan,
ibu niri rumekso duk siro alit,
mulane den rumongso.

Tidak enak untuk makan dan tidur,
Ibumu selalu mengidamkanmu,
Makan nasi garam saja,
Walaupun hanya minum jamu menyusui,
Menggigit tempurung pun dijalani,
Setiap hari ke sungai,
Pilis (bubuk jamu ditempel di jidat) singgul (bubuk jamu ditempel di kening) dilakoni,
Ibu selalu merawat sejak kamu kecil,
Maka rasakanlah (berimpati)
4
Dhaharira mangke pahit getir,
ibu niro rumekso ing sira,
nora ketang turu samben,
tan ketang komah uyuh gupak tinjo dipun lampahi,
lamun sira wawratana,
tinatur pinangku,
cinowekan ibu nira,
dipun dusi esok sore nganti resik,
lamun luwe dinulang

Makananmu nanti pahit getir,
Ibumu selalu merawat dirimu,
tidurnya sekedar sambilan (tidak nyenyak),
walau harus basah kuyup air kencingmu,
berlepotan tai tetep dijalani,
Bila kamu ingin kencing,
Kencing sambil dipangku (tatur), beralaskan ibumu,
Dimandikan pagi sore sampai bersih,
Bila lapar disuapi
5
Duk sira ngumur sangang waresi,
pasti siro yen bisa rumangkang,
ibumu momong karsane,
tan ketang gombal tepung,
rumeksane duk sira alit,
yen sira kirang pangan nora ketang nubruk,
mengko sira wus (diwasa),
nora ana pamalesira,
ngabekti tuhu sira niaya.

Waktu kau umur sembilan bulan,
Pasti kau bisa merangkak,
Ibumu tetap mengasuh,
Walaupun apa adanya,
Merawat saat kamu kecil,
Bila kau kurang pangan,
Dipenuhi walau harus ngutang,
Kelak bila kau sudah dewasa tiada balas-budimu,
Sungguh kamu menganiaya.

6
Lamun sira mangke anglampahi,
nganiaya ing wong tuwanira,
ingukum dening Hyang Manon,
tembe yen lamun lampus,
datan wurung pulang lan geni,
yen wong durakeng rena,
sanget siksanipun,
mulane wewekas ingwang,
aja wani dhateng ibu rama kaki,
prentahe lakonano.

Bila kelak kamu tetap lakukan,
menganiaya orang tuamu,
bakal dihukum Tuhan,
kelak bila ajal tiba,
akhirnya juga mendapat siksa,
bila orang durhaka kepada ibu,
siksaannya berat sekali,
maka wasiat ku,
jangan berani kepada ibu, dan ayah..anak ku,
perintahnya laksanakan.
7
Parandene mangke sira iki,
yen den wulang dhateng ibu rama,
sok balawanan ucape,
sumahir bali mungkur,
iya iku cegahen kaki,
tan becik temahira,
donya keratipun,
tan wurung kasurang-kasurang,
tembe mati sinatru dening Hyang widhi,
siniksa ing “Malekat”.

Kenapa kamu ini,
Bila diajari ibu bapa,
Ucapanmu sering membantah,
Berlagak sudah mahir sambil membelakangi,
Hindarilah sikap itu anakku,
Tidak baik yang akan kau dapatkan,
Dunia akhiratnya,
Toh akhirnya terlunta-lunta,
Kelak akan mati sebagai seteru Tuhan,
Disiksa “malaikat”.


8
Yen wong anom ingkang anastiti,
tan mangkana ing pamang gihira,
den wulang ibu ramane,
asilo anem ayun,
wong tuwane kinaryo Gusti,
lungo teko anembah iku budi luhung,
serta bekti ing sukma,
hiyo iku kang karyo pati lan urip,
miwah sandhang lan pangan.

Bagi anak muda yang patuh,
Bukan begitu sikapmu,
Dibimbing ibu bapanya,
Sikapnya sopan menghargai,
Orang tuanya sebagai “wakil” Tuhan,
Datang-pergi selalu menghormat,
Seperti itu budi-pekerti yang luhur,
Serta berbakti pada Hyang Suksma, yakni Yang Kuasa mematikan dan menghidupkan,
Termasuk sandang dan pangan.
9
Kang wus kaprah nonoman samangke,
anggulang polah,
malang sumirang,
ngisisaken ing wisese,
andadar polah dlurung,
mutingkrang polah mutingkring,
matengkus polah tingkrak,
kantara raganipun,
lampahe same lelewa,
yen gununggung sarirane anjenthit,
ngorekken wong kathah.

Kelak, bagi pemuda yang sudah salah kaprah,
Banyak bertingkah,
malang melintang tidak karuan,
membiarkan diri dalam kenistaan,
wataknya sombong tinggi hati,
suka memamerkan keelokan tubuhnya,
lagaknya acuh tak acuh,
mudah tersinggung,
meresahkan banyak orang

10
Poma aja na nglakoni,
ing sabarang polah ingkang salah tan wurung weleh polahe,
kasuluh solahipun,
tan kuwama solah kang silip,
semune ingeseman ing sasaminipun,
mulane ta awakingwang,
poma aja na polah kang silip,
samya brongta ing lampah.

Maka jangan ada yang mengalami, tingkah laku nista,
Yang salah pasti bakal menanggung malu, ketahuan boroknya, tak ada yang bisa luput,
setiap sikap lacur,
berlagak ramah pada sesama,
ingatlah..anakku,
jangan sampai mempunyai perilaku lacur,
prihatinlah dalam setiap langkah.
11
Lawan malih wekas ingsun kaki,
kalamun sira andarbe karsa,
aja sira tinggal bote,
murwaten lan ragamu,
lamun derajatiro alit,
aja ambek kuwawa,
lamun siro luhur,
den prawira anggepiro,
dipun sabar jatmiko alus ing budi,
iku lampah utama.

Dan sekali lagi wasiat ingsun..anakku,
Bilamana kalian mempunyai keinginan,
Pertimbangkan dengan cermat,
Jagalah dirimu,
Bila pangkatmu kecil,
Jangan bertingkah (sok) kuasa,
Bila kalian terhormat,
Besikap sabar, bagus dan halus budi pekertinya,
Itulah perilaku utama.
12
Pramilane nonoman puniki,
den taberi jagong lan wong tuwa,
ingkang becik pituture,
tan sira temahipun,
apan bathin kalawan lahir,
lahire tatakromo,
bathine bekti mring tuhu,
mula eta wekasing wong,
sakathahe anak putu buyut mami,
den samya brongta lampah.

Mangkanya jadi anak muda itu
jangan sungkan bergaul dengan orang tua (matang ilmunya),
yang bagus nasehatnya,
bukan kalian bandingannya,
sekalipun batin maupun  lahir,
lahirnya menjaga tata krama,
batinnya mengabdi pada kesetiaan,
itulah wasiatku,
semua anak cucu buyut ku,
kalian terapkan perilaku mulia.


Rabu, 22 Januari 2014

Wejangan Sunan Kalijaga pada Ki Ageng Sela : Filsafat Pacul


Kanjeng Sunan Kalijaga seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan filosof, seniman, kritis, tolerans, visioner, sensitive.

Sedangkan Ki Ageng Sela yang kondang namanya lantaran mampu menangkap petir pun pernah berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga. 
Salah satu wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela adalah tentang Pacul. Ketika itu Kanjeng Sunan Kalijaga menyuruh Ki Ageng Sela untuk 'membaca' Pacul.
Dalam menuntut ilmu, seseorang dituntut untuk menggunakan pikirannya untuk membaca dan memahami apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang meguru atau berguru pada orang yang sudah mumpuni dalam hal ilmu rasa, maka dia harus 'menggerakkan' otaknya untuk memahami apa yang ada di alam semesta ini. Artinya, alam semesta ini 'dibaca' dan diartikan sendiri apa yang menjadi makna sejatinya.

Pacul atau cangkul adalah salah satu alat yang merupakan senjata para petani. Senjata ini digunakan para petani untuk mengolah lahan pertanian. Tampaknya memang sederhana, Pacul. Tapi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi.
Dari wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela, Pacul atau cangkul itu terdiri dari 3 bagian. Ketiga bagian tersebut adalah: Pacul (bagian yang tajam untuk mengolah lahan pertanian), Bawak (lingkaran tempat batang doran), dan Doran (batang kayu untuk pegangan cangkul).
Menurut wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga, sebuah pacul yang lengkap, tidak akan dapat berdiri sendiri-sendiri. Ketiga bagian tersebut harus bersatu untuk dapat digunakan oleh petani. Apa sebenarnya arti dari Pacul, Bawak dan Doran itu?

* Pacul.  "ngipatake barang kang muncul"
menyingkirkan bagian yang mendugul atau bagian yang tidak rata.
Dari alat Pacul tersebut setidaknya bisa diartikan bahwa kita manusia ini harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego yang berlebih, cepat marah, mau menang sendiri, ingin mempunyai kekayaan yang berlebihan dengan cara yang tidak baik dan sifat-sifat jelek kita lainnya yang dikatakan 'tidak rata'.

* Bawak. "obahing awak".
menggerakan tubuh
Maksudnya, kita manusia hidup ini diwajibkan untuk mengerakkan tubuh/bekerja/berikhtiar untuk mencari rezeki dari GUSTI ALLAH guna memenuhi kebutuhan hidup. Jangan sampai bermalas-malasan dan meminta-minta belas kasih dari orang lain.
Disamping itu, arti tersebut juga bukan hanya berarti mencari rezeki semata, tetapi juga ikhtiar untuk senantiasa "manembah GUSTI ALLAH tan kendhat Rino Kelawan Wengi" (menyembah GUSTI ALLAH siang maupun malam).

* Doran. "Dongo marang Pengeran"  "Ojo Adoh Marang Pengeran".
doa yang dipanjatkan pada Gusti Pengeran ALLAH Ta’ala.
Dalam segenap kegiatan kita, kita jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan/Gusti pengeran Allah SWT, berdo’a disini secara umum dapat diartikan sebagai ibadah secara keseluruhan.
Jangan menjauh dari Gusti Pengeran Allah Ta’ala
Sebagai manusia kita janganlah menjauh dari Allah SWT, kita wajib senantian ingat dan menyembah Gusti Pengeran Allah SWT, bukan menyembah yang lain.

Dari ketiga bagian Pacul tersebut, Pacul, Bawak, Doran, tidak dapat dipisah-pisahkan, kalo terpisah maka tidak akan berguna lagi. Begitu pula, artinya bahwa manusia hendaknya mampu untuk menyingkirkan sifat-sifat buruknya, selalu berikhtiyar bekerja untuk mencari rezeki yang barokah dan tidak melupakan untuk selalu berdoa dan menyembah kepada Allah SWT
Demikian wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga kepada murid beliau, Ki Ageng Sela, semoga dapat kita ambil hikmah dan tauladan dalam kehidupan kita masing-masing.